Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ditemukan


__ADS_3

Daritadi ngobrol sama Ridho aku jadi lupa nanya, ini siang atau malem, yak? apalagi ini pak Karan dateng beuuh auto puyeng kepala aing dengerin mereka berdua bakal ribut mulu.


"Makan dulu," kata pak Karan.


"Ini siang apa malem ya?" aku nanya mereka berdua.


Baik pak Karan dan Ridho pun akhirnya saling menatap.


"Va? ini berapa?" tanya Ridho dia nunjukin kelima jarinya.


"5 lah!"


"Oh, aku kira kamu udah agak rabun. Kok bisa-bisanya nanya ini siang apa malem. Emang nggak ketauan itu matahari udah nongol daritadi?" kata Ridho.


"Ini sudah siang, kamu makan. Karena sebentar lagi kamu harus keluar dari hutan ini!" kata adek sepupu yang mau nyuapin aing bubur tapi dicegah mas pacar.


"Biar saya saja. Bapak nanti repot," ucap Ridho yang ngerebut sendok plastik dari tangan pak bos dan dengan lembut nyuapin aku.


Aku yang emang udah laper pun langsung mangap tanpa ada perlawanan.


"Heh, ini saya yang buat!" ucap pak Karan.


"Tapi buat Reva kan? Reva kan pacar saya," ucap Ridho yang menghindar saat tangan pak Karan mau nyamber sendok yang dipegangnya.


Definisi keukeuh mempertahankan tahta sebagai satu-satunya calon suami 1, beuuuh aku jadi terhuraaaa.


"Tapi Reva kan--"


"Adik sepupu Bapak, kan? iya saya tau itu. Tidak lama lagi kita juga akan jadi saudara, kalau saya menikah sama Reva..." kata Ridho langsung ke point inti.


"Kamu pasti haus, minum dulu!" kata mantan bos.


"Jangan, masih panas! nanti bibir kamu melepuh!" kata Ridho.

__ADS_1


Aduh lama-lama kok aing jadi puyeng beneran ya ini.


"Kalau kalian ribut terus, aku jadi susah buat nelennya! sini aku makan sendiri, mending kalian keluar aja deh..." aku ngerebut bubur dari tangan Ridho dan gelas dari tangan pak Karan.


"Udah sanaaaa..." kataku menunjuk pintu keluar dengan dagu.


Dan kedua pria ini mau nggak mau ya keluar dari tenda. Saat tenda dibuka, hawa sejuk langsung terasa menyambar pori-pori.


Kupretnya lagi mereka berdua nggak ada yang nutup tendanya lagi. Emang ini tenda bukan sembarang tenda, ini tenda dibagun agak tinggian jadi nggak ada tuh acara bungkuk-bungkukan segala kalau di dalem. Emang kalau punya duit apa aja jadi nyaman ya.


Aku mulai melahap makanan yang dibawain sama adek sepupu yang galaknya nggak abis-abis. Apapun kalau lagi laper itu rasanya enak, apalagi minum teh panas tenggorokan langsung anget sampai ke lambung.


Karena perdebatan dua makhluk ganteng tadi, akhirnya aku sedikit melupakan mbak Sena. Kalau aku inget gimana kejadian waktu itu, aku jadi ngerasa bersalah karena aku nggak bisa nyelametin dia. Aku letakkan gelas dan mangkok di bawah dekat kasur angin yang lagi aku duduki.


"Maafin aku ya, Mbak! aku telat datengnya..." ucapku


Lagi sendu-sendunya, aku denger kedebag-kedebug di luar. Kayak ada rame-rame gitu. Karena penasaran, aku pun keluar dari tenda.


"Aaawhhh!"


"Letakkan disini!" perintah pak Sarmin.


Aku makin penasaran, apa sih yang sedang terjadi di luar sana. Dengan susah payah aku berdiri dan sontak ngeliat ke kaki. Karena yang aku inget kan kakiku lagi luka, tapi pas aku liatin baik-baik. Nih kaki princess nggak ada masalah, bocel juga nggak ada gengs. Cuma kepala aja nih yang masih nyut-nyutan.


Ya udah dengan sekuat tenaga, aku keluar dari tenda. Dan bener aja hawa dingin langsung nyapa kulit mulus aing. Beberapa orang berkumpul di satu titik yang sama. Mereka kayak lagi ngeliatin sesuatu yabg aku juga belum tau apa itu.


"Dhoooo?" aku panggil Ridho yang kebetulan berdiri membelakangiku.


Ridho yang dipanggil pun nengok ke belakang dan memisahkan diri dari mereka yang terlihat sangat sibuk.


"Ada apaan, Dho?" tanyaku.


"Kamu di dalem aja. Udara lagi dingin," kata Ridho yang buka jaketnya dan nutupin ke aku.

__ADS_1


"Beri ruang agar wanita ini bisa menghirup oksigen lebih baik!" kata pak Sarmin.


Aku ngeliat mbak Luri lagi melakukan satu pertolongan pada seorang wanita yang tertidur diatas tandu.


"Siapa itu, Dho?" aku mulai mendekat.


Ridho nggak ngejawab, dia cuma gerakin dagunya seakan bilang kalau aku diauruh liat sendiri aja. Gimana sih, tadi nyuruh jangan keluar tenda sekarang aku nanya malah disurih liat sendiri, labih nih calon imam.


Feelingku ini banyak orang kayak gini nih kerjaan dari adek sepupu.Yang ngirim banyak pasukan buat dateng kemari. Selangkah demi selangkah aku mendekat.


Pak Karan yang menyadari aku jalan kayak siput pun berusaha membantu. Kangmas yang melihat itu kalah cepat, karena tanganku udah dipapah sama mantan bos yang super galak ini.


Perlahan aku nglepasin tangan pak Karan, aku mendekat dan semua oeang kayak ngasih jalan.


"Mbak Senaaaa?" pekikku. Aku nutup mulutku sendiri, nggak percaya dengan siapa yang ada di depan mataku sekarang.


Orang yang aku cari ternyata bisa ditemukan, tapi dalam keadaan luka dimana-mana. Mungkin dia terjatuh atau gimana aku nggak ngerti.


"Pak haji...?" aku melihat ke arah pak Sarmin.


"Apa dia masih?" aku ragu buat ngelanjutin ucapanku.


Pak Sarmin mengangguk, dan itu aja udah cukup bikin hatiku lega. Akhirnya mbak Sena bisa ditemukan dengan selamat.


"Alhamdulillah, Mbaaak! Mbak Sena bisa bertahan, Mbaaak..." aku pegang kedua pipinya yang pucat.


Meskipun perkenalanku dengan mbak Sena itu terbilang singkat, tapi nggak tau kenapa aku kayak punya kewajiban buat nolongin dia. Ya walaupun dengan itu aku juga ngerepotin banyak orang, tapi lagi-lagi aku sangat bersyukur di satu fase kehidupanku aku bisa berbuat baik. Pasti keluarga mbak Sena bakalan seneng banget kalau tau anaknya udah ditemukan dengan keadaan selamat.


Pak Sarmin menyuruh semua orang untuk memberi jarak. Ridho mendekat dan berdiri di sampingku.


"Kita nggak bisa tawar menawar dengan maut. Tapi kalau Allah sudah berkehendak, tidak ada yang mustahil, jika belum saatnya pasti akan selalu ada pertolongan. Dan kita harus percaya itu," ucap Ridho bikin hati adem. Aku ngangguk, dan menyeka air mata yang belum sempet menetes.


Mbak Sena sekarang di bawa ke dalam tenda setelah dirasa pernafasannya sudah normal. Aku yang masih lemah dan tak beradaya ini pun ngikutin dia sampai ke dalam.

__ADS_1


"Kamu istirahat. Tubuh kamu masih lemah!" kata pak Karan yang tiba-tiba nongol.


...----------------...


__ADS_2