Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Tamu Siapa?


__ADS_3

Entah siapa yang nyebar undangan, ini kok tamu jadi bejibun kayak gini. Dan tatanan dekorasi semuanya hebring. Kembang ada dimana-mana, kita hampir kelelep diantara hamparan bunga indah dan menawan.


"Please ini yang dateng semua manusia, kan?" bisikku pada Ridho.


"Perlu banget di cekin satu-satu?" tanya Ridho.


"Aku nggak ngundang siapa-siapaa, woy?! tapi ini yang dateng kok banyak banget?!" ucapku yang emang bingung.


"Kalau penasaran banget kita turun terus liatin kaki mereka satu-satu," Ridho ngasih ide yang nggak banget.


"Ada usul yang lebih koplak nggak dari yang tadi disebutin?" kataku melirik suami sinis.


"Ya kan kita udah biasa ketemu sama mereka-mereka, ya udah sih. Mau gimana lagi? udah nasib. Yang penting nggak ganggu dan nggak ngusilin tamu yang lain," kata Ridho.


Mau turun, tapi males juga. Terus untungnya apa kalau aku emang dari sekian banyak tamu ternyata tamu yang nggak ada undangannya. Yang penting catering aman, udah lah cukup.


Sekilas, aku liat ada tamu-tamu yang berwajah pucat, ya kayak orang kurang darah alias anemia.


"Kayaknya yang disana, aku nggak kenal deh..." aku bisikin ke Ridho sambil nunjuk perempuan yang pakai gaun warna biru, dengan memakai kaos tangan berwarna putih. Dandanannya jadul banget, kek orang yang lagi kondangan di tahun 90'an.


"Mau kenalan?" ucap Ridho yang juga matanya ke arah tamu-tamu yang lagi pada nikmatin jamuan.


"Aku cuma ngomong, Ridhoooo..."


"Kita udah sah jadi suami istri secara agama dan negara loh. Masa panggilnya masih Ridha Ridho aja. Kupingku pengen denger yang lembut-lembut, Va..." kata Ridho.


"Hem, iya ... Mas," ucapku lirih.


"Apa tadi? bilang apa? coba ulangi?"


"Iyaaaaa mazzzzeehhhhh?!!"


"Nah gitu dong, kan lebih apa ya. Lebih enak didenger gitu," kata Ridho.


Ridho ngajak aku turun dari pelaminan byat nyapa beberapa orang, kerabat dan saudara. Apa yang kita lakuin ternyata diikutin sama Ravel dan Dilan. Mereka juga turun panggung.


"Selamat ya, Neng. Akhirnya kawin juga. Tante kira kamu mau jadi perawan tua, loh?!" ucap salah seorang kerabat jauh dari pihak mama, yang mulutnya aing pengen kruwes-kruwes. Kalau nggak inget dia lebih tua umurnya, udah aku gibas deh.


"Heheh, iya..." aku cuma bisa jawab seadanya.


"Mana dapetnya ganteng begini. Kalian kenal dimana? coba aja kamu kenal anak tante duluan, pasti udah dari jaman kapan udah tante jadiin suami eh, mantu!" kata tante Nita.

__ADS_1


"Tapi dari dulu saya ngincernya Reva, Tante. Ini juga jatuh bangun dapetinnya, maklum banyak saingan," kata Ridho.


Astaga, ada yang punya lakban apa lem korea nggak. Bisa nih di tutup gitu mulutnya si tante Nita, biar nggak nyerocos bae. Mas bojoku emang paling the best lah, bisa bikin tuh orang kicep dan ngeloyor pergi.


"Dasar nyebelin?!" gumamku melihat si tante udah nggak tau kemana.


"Sabaaar," ucap Ridho.


"Sabar sih sabar, cuma kan nggak etis banget dia ngomong kayak gitu," aku udah keburu kesel.


Ridho udah nggak nyautin lagi, dia ngerangkul pinggangku buat jalan menyapa tamu yang lain. Sesuai prediksiku, yang aku temui kadang berpenampilan aneh, mereka berpakaian kayak bukan dari jaman yang sama.


Dan bener aja habis resepsi, mama bingung kenapa tamu undangannya membludak. Aku dan Ridho yang tau kalau yang dateng malam ini campuran antara manusia dan makhluk ghoib pun diem aja, no comment lah.


"Kok banyak banget yang dateng ya, Va?" ucap mama saat kita semua berada di dalam lift menuju kamar yang kita pesan.


"Tamunya Ravel sama Dilan kali," aku nyeletuk.


Dilan yang dituduh pun angkat bicara, "Nggak, Mah. Cuma temen deket aja tadi yang dateng, sama sodara dan kerabat. Itu juga nggak dateng semua kok,"


"Iya, aku juga cuma temen deket..." imbuh Ravel.


"Terus tamunya siapa? kamu, Reva?" tuduh mama.


"Lah terus? kenapa kayak membludak gitu ya?"


Aku dan Ridho saling pandang.


"Ya udah sih, Mah. Yang penting catering aman, nggak kurang.Nggak usah dipikirin amat!" kataku yang berbarengan dengan bunyi lift, tanda bahwa kita sudah sampai di lantai tujuan.


Kita semua keluar dan masuk ke kamar masing-masih sesuai jatahnya.


"Hadeeeeuuh, bisa nggak sih kita hidup tenang tanpa adanya makhluk-makhluk ghoib itu?" aku otomatis ngedumel saat masuk ke dalam kamar dan pintu udah di tutup.


"Nggak bisa kayaknya," Ridho nyuaulin dan tiba-tiba meluk aku dari belakang.


"Kenapa nggak bisa?"


"Karena, kayaknya aura kamu yang mengundang mereka buat mendekat. Kamu kayak punya magnet tersendiri, Reva. Aku aja pengennya nemplok terus sama kamu," ucap Ridho yang mencium pipiku dari samping.


Aku yang diperlakukan seperti itu cuma bisa mematung. Dia memutar badanku, dan menarik pingganggu mendekat bahkan kayak nggak ada jarak lagi diantara aku dan Ridho.

__ADS_1


"Berhenti mikirin para makhluk ghoib itu, sekarang waktunya mikirin aku, kamu dan dedek bayi..." ucap Ridho.


Mendengar kata dedek bayi, aku merasa tergelitik. Kita baru aja nikah, dia udah mikir sejauh itu.


"Kenapa?" tanya Ridho.


"Nggak apa-apa, cuma kok kamu mikirnya udah sampai bayi ajah," kataku.


"Emangnya kamu nggak pengen punya anak?" tanya Ridho.


"Ya pengen, tapi nggak dipikir sekarang juga..."


"Ya nggak sekarang juga, sekarang fokus sama adonannya aja, Sayang..." ucap Ridho yang berbisik di telingaku. Dia membuai aku dengan perlakuan lembutnya.


Sampai akhirnya ada bell yang terdengar lagi ketika lagi seru-serunya perang congor. Awalnya Ridho keukeuh nggak mau ngebuka pintu takut kena prank sama etan. Tapi bell nggak berhenti di pencetin, bikin ganggu juga.


"Astagaaaa, siapa lagi coba? nggak ngerti sikon banget sih?!!" Ridho ngelepasin aku dan berjalan ke arah pintu.


Dan pas dibuka.


"Ravel?" gumam Ridho.


"Mbak Reva mana, Mas?" suara Ravel, dia nyerosol masuk ke dalam.


"Astaga, ngapain juga dia kesini?" Ridho ngejambak sendiri rambutnya.


"Kenapa sih, Mas? emangnya aku nggak boleh--?" Ravel mau nyerocos rapi segerapa aku stop.


"Ada apa, Vel?" tanyaku


"Ehmmm, aku ... ehm, malam ini aku..."


"Aku apa?" alisku naik satu.


"Aku bobok disini, ya?" ucap Ravel lirih.


Aku ngeliat kangmas, bingung sama yang diucapin Ravel. Gimana caranya dia mau tidur disini.


"Kan kamu punya kamar sendiri," kataku, sementara Ridho pegangin kepalanya yang udah cekot-cekot.


"Ehm, aku ... aku nggak biasa satu ruangan sama Aa. Aku takut terjadi sesuatu," ucap Ravel.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kan? aku tidur disini?" lanjut Ravel.


"Yassssaalaaaaammmm," seru Ridho yang udah nggak tahan sama kelakuan adekku.


__ADS_2