Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Hantu Kebaya Kuning


__ADS_3

Sebenernya kata-kata 'Nona' yang meluncur dari mulutnya Ridho tuh bikin hati nggak nyaman, dia kayak setengah nyindir nggak sih?


"Suka-suka saya, dong! kantor juga kantor saya!" aku nglepasin tangan dari handle yang kerasa dingin.


Wuzzzzz!


Ada sesuatu yang kayaknya lewat di belakangku. Suasana lorong ini sepi, karena udah masuk waktu maghrib, rata-rata karyawan juga udah pada balik dari jam 5 sore. Aku nengok dan mengusap tengkukku yang merinding.


"Baiklah, sepertinya anda tipe wanita pekerja keras yang bekerja sampai lupa waktu. Kalau begitu saya permisi," ucap Ridho.


Vangke emang nih orang , dia ngomong gitu pasti dia udah tau nih ada syaithonirrojim yang barusan lewat tadi.


Ridho balik badan dan berjalan menuju lift, sedangkan aku yang males juga kalau jam segini digangguin makhluk astral pun setengah berlari mengikuti kemana Ridho pergi.


Ting!


Lift terbuka dan aku masuk gitu aja mendahului cowok yang lagi males banget aku temui. Ridho pun masuk dengan langkah santai. Sementara ada satu sosok pria dengan pakaian lusuh berdarahnya lewat sekilas di depan lift yang hampir tertutup. Pandangannya kosong melompong jalan gitu aja, bikin aku agak ngefreeze untuk sekian detik.


"Huuuufhhh," aku menyeka keringat yang ada di pelipis saat lift tertutup.


Baru kali ini aku ngeliat penampakan di kantorku sendiri. Karena sejujurnya, makhluk yang bisa aku lihat hanya para makhluk yang mempunyai energi yang kuat. Kalau yang masih ecek-ecek, aku paling cuma merinding dan nggak nampak secara visual.


Lift tertutup, ngebawa aku dan Ridho turun ke bawah. Ridho nengok bentar liat aku.


"Kenapa liat-liat?" tanyaku super judes. Tapi lagi-lagi dia ngebalesnya cuma pakai senyuman.


Lalu dia ngelirik ke salah satu sudut yang ada di lift ini, aku pun ngeliat ke belakang. Dan nggak ada apa-apa.


"Nggak mempan mau nakut-nakutin aku!" aku ngedumel dalam hati sambil ngebuang muka.


Dep!


Dep!


Lampu lift agak kedap-kedip. Aku jadi kayak de javu gitu. Sontak aku mepet ke dinding besi, "Hhhh ... hhhhh,"


Ridho yang melihat itu, narik aku, "Nggak apa-apa, itu cuma kerjaan dia!" kata Ridho yang ambigu banget nyebut kata 'dia' yang berarti dalam hal ini seseorang yang nggak nampak secara nyata.


Aku bukan khawatir masalah makhluknya, aku cuma takut kalau kejadian lift macet terulang lagi.


Karena aku sibuk ngawasin lampu, aku nggak sadar kalau badanku nempel sama nih orang. Tangannya dia nih, tau-tau aja di pinggangku.

__ADS_1


"Tangannya ya tolong dikondisikan!" aku singkirin tangan Ridho.


Dan Ting!


Pintu terbuka. Aku duluan yang keluar dengan perasaan yang lega. Besok aku bakal minta tuh lift di maintainance biar nggak dap dep kayak gini lagi.


"Malam, Bu..." ucap Satpam yang kebetulan berpapasan sama aku.


"Malam juga, Pak..." aku tersenyum tipis sambil berjalan ke arah keluar diikuti satu makhluk nyata yang terbang dari masa lalu.


Sampai di depan, aku mesen taksi online. Soalnya kan mobilku dibawa Arlin dan belum dibalikin.


"Jam segini jam-jam sibuk. Naiklah, biar saya antar!" kata Ridho nawarin tumpangan.


Aku yang pakai rok pendek menjadi sasaran nyamuk, "Ihh..." aku gejug-gejukin kaki.


"Saya antar, disana mobilnya..." ucap Ridho sambil nunjukin dimana mobilnya berada.


"Atau mau saya?" Ridho naik turunin satu alisnya.


"Ya udah, cepetan!" aku ngeloyor jalan ke mobilnya Ridho. Aku nggak mau dia gendong aku kayak waktu di cafe. Orang macam Ridho bisa aja ngelakuin hal edun, dia ngilang aja bisa apalagi cuma ngangkat aku ke dalam mobil?


Jadilah kita semobil lagi, aku nggak tau apa rencana dia. Ngilang kemudian nongol lagi. Dulu pergi gitu aja nggak peduli, sekarang perhatian lagi.


"Sebenernya apa yang kamu rencanakan?" tanyaku sinis. Aku sengaja duduk di kursi belakang. Udah kayak bos yang disetirin ama supirnya.


"Apa? tidak ada, Nona. Anda jangan berburuk sangka," ucap Ridho, yang masih dengan bahasa sok formal.


Nggak tau langit lagi ikutan galau kayak aku atau gimana, yang jelas geledek dar der mulu daritadi.


"Kayaknya mau hujan," ucap Ridho.


"Nggak ada yang nanya! nyetir aja yang bener!"


"Jangan marah-marah mulu, ntar cepet tua!" Ridho nyeletuk lirih. Tapi aku masih denger kata-kata itu dari mulutnya.


Dan kata-kata Ridho seakan menjadi doa yang dikabulkan semesta, hujan turun di tengah kemacetan kota.


Mobil yang emang udah dingin karena ac mobilmya joss banget, sekarang beryambah dingin. Aku peluk badanku sendiri, udah kayak di kutub ini mah.m, sama kayak hatiku yang udah membeku buat orang yang pakai jas hitam di depanku.


Dia ngelirik lewat kaca spion, dan ngebuka jasnya.

__ADS_1


"Pakailah," ucapnya yang nutupin kakiku pakai jasnya itu.


"Nggak usah!" aku ambil dan lempar lagi tuh jas ke orangnya yang lagi ngelongok ke belakang.


"Ya sudah saya peluk aja biar nggak kedinginan!" kata Ridho setengah mengancam.


"Jangan macem-macem! saya bisa teriak, biar kamu digebukin orang!" aku balik ngancem.


"Makanya pakai!" Ridho ngelempar lagi jasnya. Sekarang dia balik lagi duduk di kurainya dengan tenang, dan sekarang mulai injek pedal gas.


Makin lama hujan makin deras, aku aja sampai nggak begitu jelas ngeliat jalanan.


Dan pas kita ngelewatin daerah yang lumayan sepi, samar-samar ada perempuan berkebaya kuning tiba-tiba aja muncul, nyebrang gitu aja


Cyiiiiiit!


Ridho langsung nginjek rem. Aku aja sampai kedorong kedepan.


"Awwwwh, bisa nyetir nggak sih?!" aku ngomel. Padahal aku tau tadi ada yang lewat.


Tapi nggak tau kenapa aku tuh bawaannya kesel mulu sama Ridho. Padahal waktu aku tau dia ngeghosting aku sampai tidur nggak nyenyak, makan pun nggak doyan. Tapi giliran dia muncul, bukannya aku seneng tapi aku malah gondok terus bawaannya.


"Ada yang lewat tadi! nggak kejedot, kan?" tanya Ridho spontan. Tapi aku males ngejawab.


Aku juga sempat terkejut, kok ya tiba-tiba ada yang lewat di depan mobil yang lagi jalan.


Secara akal sehat, nggak mungkin banget kan ada orang ujan-ujan keluyuran di jalan udah gitu pakai kebaya, sanggulan. Udah kayak orang yang abis kondangan.


Dugh!


Dugh!


Dugh!


Ada yang mengetuk jendela mobil di samping kananku. Guooobloooknya aku pencet tuh tombol buat nurunin kaca jendela.


"Boleh saya menumpang?" ucapnya sambil tersenyum memamerkan giginya yang hitam dan cairan merah yang mengalir dari kepalanya, membasahi wajahnya yang bercampur tetesan air hujan.


"J-jalan, Dhooooo! cepeeeeettt!" aku geplak tuh pundak Ridho.


"Astaghfirllaaaaaahhh!" seru Ridho yang kaget karena aku nyerosol dari jok belakang ke jok depan.

__ADS_1


__ADS_2