
Bu Wati ini orangnya kalem dan keibuan. Beda banget sama Karla pokoknya. Dia ngebukain pintu kamar anaknya yang super lenjeh itu.
"Nak Reva istirahat dulu, nanti jam 8 atau jam 9 pagi kita baru ke rumah neneknya Karla..." kata bu Wati yang nganterin aku sampai ke depan kamarnya Karla.
"Iya, Bu. Maaf saya ngrepotin terus..." ucapku, namun bu Wati malah tersenyum.
"Ibu tinggal dulu, ya?" ucap bu Wati.
Aku masuk ke dalam kamar yang selalu bersih padahal aku yakin kalau Karla jarang pulang ke rumah ini. Aku taruh tasku di deket kaki ranjang, dan mulai rebahan di kasur.
"Badanku pada sakit semua, ya ampuuuun! arrghhh"
Rasanya enak banget kepala ditaruh di atas bantal. Bantalnya adem, enak. Sambil tiduran aku iseng buka hape. Dan banyak chat dari siapa saudara-saudara sebangsa dan setanah airrrrr?
Yap!
Dari adek sepupu yang pengen nge-klaim aing sebagai istrinya. Kalau Ridho tau bisa ribut mereka. Ah, emang resiko jadi wanita yang mempesona di segala suasana emang begini. Harus menghadapi para pria yang ngebet keukeuh mengaku kalau aku merupakan tulang rusuk mereka yang hilang, aseek!
Ridho ada di kamar tamu, dan aku yakin dia udah molor daritadi.
Oke, kembali ke hape.
Pak Karan nanyain aku dimana, ini chat ternyata dari jam 10 malem. Terus ada lagi chat yang nanya kalau ngapain aku duduk di halte sama Ridho. Dia sempet missed call tapi kayaknya nggak kedengeran sama aing. Karena ini hape posisinya aku taruh di dalam tas dan deringnya kecil pula.
Masih untung orang yang semalem sama aku tuh Ridho, coba kalau pak Karan?
Udah bisa dibayangin kalau kita bakal terjebak di bus hantu itu, dan udah pasti dibawa para makhluk itu sampe ke alam antah berantah. Dan ujung-ujungnya hilang dari peradaban untuk yang kedua kalinya. Ogah banget!
Aku belum ada niatan buat bales chat atau telpon pak Karan. Karena aku masih ngantuk pake banget.
"Merem bentar ah!" aku mulai memejamkan mata dan terbuai dengan rasa kantuk.
.
.
Dan tau nggak? sekarang aku ngerasa jadi tamu yang nggak tau diri banget. Soalnya, pas aku disuruh istirahat ternyata bu Wati itu malah sibuk di dapur buat nyiapin sarapan buat aku sama Ridho.
Aku mencium aroma masakan yang bikin perut kruyukan pas aku mau ke kamar mandi.
"Hmm, jadi laper," gumamku.
Dan nggak sengaja aku papasan sama ayang yang ternyata udah seger, dengan rambut yang basah. Dia keluar dengan kaos dan celana pendek.
"Baru aja mau aku ketok kamar kamu, Va!" ucap Ridho sambil gosok-gosok kepala pakai handuk.
__ADS_1
Beuh, kok kegantengannya nambah 75% kalau rambutnya abis sampoan begini sih. Astaga!
"Vaaaaaaaa!" Ridho ngerutin keningnya.
"Eh, iya. Aku udah bangun.Ini mau mandi, untung kamu udah keluar, jadi aku nggak perlu antri!" kataku.
"Ya udah aku ke kamar dulu, mau ganti baju..." ucap kangmas yang sekarang jalan menuju kamarnya.
"Sejak kapan sih dia jadi ganteng begitu? perasaan dulu biasa-biasa aja!"
Pas aku mau ke kamar mandi aku ketemu sama bu Wati yang udah selesai masak.
"Mau mandi Nak Reva?" tanya bu Wati.
Aku pindahin anduk yang aku sampirin di pundak kiri ke pundak kanan.
"Iya, Bu..."
"Nanti selesai mandi, kita sarapan bareng ya?" kata bu Wati yang sedang menata rantangan. Mungkin akan dibawa saat mengunjungi neneknya Karla yang kalau ngomong pedesnya ngalahin cabe setan.
"Kalau begitu, saya mandi dulu, Bu..." ucapku sambil nganggukin kepala sopan.
Seorang Reva itu nggak pernah mandi dengan tenang selama ini. Ada aja gangguannya, tapi untuk kali ini tidak pulgosooooh. Airnya dingin, dan enak banget ketika diguyuri ke badan.
Nggak mau dikira pingsan di kamar mandi, aku pun segera menyudahi acara mandi. Aku kembali ke kamar untuk tancap lenongan yang harus aku irit-irit secara sekarang aku belum berpenghasilan.
"Ayo nambah lagi nasinya Nak Ridho, Reva..."
"Ini saya sudah nambah satu centong, Bu..." ucap Ridho.
"Kita disini malah ngrepotin ya, Bu?" ucapku.
"Tidak merepotkan sama sekali Nak Reva. Ibu malah seneng, ada temennya. Makan jadi enak kalau bareng-bareng seperti ini daripada harus makan sendirian. Bingung mau masak apa, mau makan apa. Kalau seperti ini kan jadi semangat buat nyiapin makanan..." jelas bu Wati.
Emang ini biyungnya Karla baiknya puooool banget. Karla kalau nggak naksir Ridho sebenernya anaknya baik, nggak pelit juga. Tapi berhubung kita ada saingan dalam urusan hati, ya udah jadi hubungan yang tadinya baik jadi renggang.
Seleaai makan aku bantuin bu Wati buat berea-beres meja makan dan nyuci perkakas yang abis dipakai, walaupun bu Wati nyuruh aku buat duduk aja. Tapi nggak enaklah, kalau bu Wati bersih-bersih sedangkan aku cuma ngeliatin.
"Ini rantangau dibawa ke rumah nenek, Bu?" tanyaku.
"Iya, betul Nak. Ibu siap-siap dulu, ya? rantangnya kamu bawa ke ruang tamu aja, dan bilang sama Nak Ridho kalau sebentar lagi kita akan ke rumahnya nenek..." ucap bu Wati seraya pergi ke kamarnya untuk berganti baju.
Aku bawa rantang yang yang anget itu ke ruang tamu. Sekalian aja aku ketok kamar yang ditempati kangmas.
"Dhooooo?" suaraku agak kenceng biar yang di dalam bisa denger.
__ADS_1
Krieeet!
"Ada apa, Va?" tanya Ridho yang udah rapi.
"Katanya bentar lagi kita mau ke rumah nenek Darmi," ucapku.
"Oh gitu, bentar aku ambil hape sama dompet!" kata Ridho.
"Aku tunggu di ruang tamu," ucapku, Ridho ngangguk.
"Iya sayang..." kata Ridho.
Beuuh, kan kan kan dipanggil sayang lagi. Berasa ada listrik yang bikin cenat-cenut di hati, beneran dah.
Oke lah aku taruh rantang di meja di ruang tamu, dan aku balik ke kamar buat ambil tas kecil yang isinya dompet sama hape. Emang sengaja aku bawa tas kecil begitu supaya gampang kalau mau pergi-pergi.
Tas udah dislempangin di bahu, aku nunggu bentar di ruang tamu yang sengaja aku buka pintunya. Nggak lama datanglah Ridho dan juga bu Wati.
"Kita kesananya naik apa, Bu?" tanyaku.
"Cukup jalan kaki saja, tidak begitu jauh kok!" jawab bu Wati.
Setelah mengunci pintu, bu Wati mengajak aku dan Ridho buat jalan menyusuri jalan kampung yang masih adem. Coba kalau di kota, jam 8 atau jam 9 pasti udah kenyang asap knalpot kendaraan. Apalagi suara bising dari klakson dari para pengendara yang nggak sabaran.
"Masih jauh, Bu?" aku nanya soalnya kaki mulai gempor gaes.
"Sebentar lagi..."
Ridho yang paham aku yang jarang olahraga kni udah mulai capek pun berbisik.
"Mau aku gendong pakai cukin?" tanya Ridho.
,
"Emangnya aku bayi?"
"Hahahahaha, sabar. Bentar lagi sampai!" kata Ridho.
"Daritadi juga bentar lagi bentar lagi tapi nggak nyampe-nyampe!" aku setengah berbisik.
Kita mulai masuk ke jalan dengan pohon yang besar persis kayak hutan. Kan aku pernah tersesat di daerah sini kalau nggak salah.
Dan nampaklah sebuah rumah tua yang dulu pernah aku singgahi tanpa sengaja.
"Itu dia rumahnya!" ucap bu Wati nengok ke belakang sekilas.
__ADS_1
...----------------...