
Dan pas aku buka pintu ternyata di kasur bertebaran kelopak mawar merah yang membentuk sebuah hati yang lumayan besar.
Warna merah pada kelopak bunga kontras sekali dengan sprei putih yang terpasang di ranjang.
Aku menutup pintu dan berjalan mendekat, namun saat masuk tadi ada seperti angin yang lewat, tapi rasanya sedikit berbeda.
Ah, malam jumat kan udah berakhir! nggak ada tuh agenda mas dan mbak etan pada ngumpul malam sabtu. Kecuali mereka lagi pada gabut terus pengen nongki-nongki bareng, pikirku.
Mengabaikan segala hawa yang nggak enak itu. Aku menelisik setiap inci ruangan ini. Ternyata bukan cuma ada taburan bunga di ranjang, tapi juga di lantai. Kelopak mawar putih yang menambah kesan romantis pada ruangan yang sebagian besar berwarna coklat kayu.
"Ck, buang-buang duit aja tuh orang!" aku ambil beberapa kelopak bunga yang tersebar di bawah.
"Dia pengen aku bau kembang apa gimana sih? dimana-mana ada kembang!" kataku.
Dan di atas sebuah meja depan sofa ada satu papper bag, "Apaan, nih?"
Penasaran aku pun ngebuka tuh tas yang terbuat dari kertas. Dan aku jereng, dijembreng tuh kain yang ternyata dress berwarna putih tulang.
"Dia pengen aku cosplay jadi mbak kunti atau mbak wewe ombel?" ucapku ketika melihat dress yang panjangnya menutupi mata kaki.
Dan ternyata buka cuma dress, disitu juga ada bakiak, elah bukan bukan. Ada heels yang nggak terlalu tinggi, ya sekitar 5 sentian yang tersimpan rapi dalam box.
"Nggak sekalian gitu dia kasih juga kacamata kuda sama segitiga serbagunanya sekalian?" aku taruh barang-barang tadi di atas meja.
Rambutku yang hari ini lurusan kayak jalan tol, pengen segera dapet jatah air anget. Kepala udah nyut-nyutan juga ngadepin sikap Ridho yang absurd dan makin berani itu. Berani buat tiam-tium seenaknya.
Oke lah demi hape dan dompet bisa balik lagi, aku turutin dulu maunya si cebong ini. Aku mandi, biar wangi. Lagian badan udah nggak nyaman walaupun seharian ini aku nggak kena sinar matahari, tapi tetep aja risih. Awal masuk kamar mandi, aku menelisik setiap sudut mastiin nggak ada benda yang mencurigakan.
"Jaman sekarang kita harus waspada, kali aja ada kamera yang nyempil disini," ucapku sambil mata liat sana sini.
__ADS_1
Setelah yakin semua aman terkendali, barulah aku mulai basahin badan pakai air.
Hidupku yang udah mulai tenang dan woles dengan segala macam gangguan, akhirnya terusik kembali, udah gitu aja terus sampai kucing bisa nyirih.
Itu pintu kamar ada yang buka, padahal aku jelas inget udah aku kunci loh pintunya. Tapi lupain aja, anggap aja nggak denger apa-apa. Karena sekarang kepalaku beneran lagi enak banget di gerujug air anget cenderung panas. Badan yang capek berasa rileks lagi. Nggak mau tanganku keriput karena kelamaan mandi, aku pun segera keluar dan ganti baju.
Rambut digerai dengan dress putih tanpa make up, aku ngaca ngeliat wajahku secara detail.
"Masih cantik seperti biasanya!" aku muji diri sendiri.
Dam di dalam papper bag itu ada minyak nyong-nyong, canda monyong. Ada minyak jelantah, eh bukan juga. Yang bener itu, minyak wangi, baunya soft banget. Sejauh ini aku suka.
"Pinter juga milihnya," aku narik satu sudut bibirku menyemprotkan parfum di titik-titik nadi. Katamya parfum akan beryahan lama jika disemprotin di daerah atau bagian tubuh tertentu.
Aku duduk di tepi ranjang, terus aku lemparin diri ke atas tumpukan kelopak bunga.
"Berasa kek putri-putri jaman baheula nggak sih?" aku memejamkan mata nikmatin tanganku yang menyentuh kelopak-kelopak bunga yang lembut.
Badanku yang semula nempel kasur mendadak melayang, aku membuka mata. Ternyata salah satu makhluk yang menyebalkan yang bernama Ridho yang ngelakuin itu, "Ck, ngapain disini? bukannya pintunya aku kunci?" tanyaku dengan jarak yang sangat dekat.
Dia nunjukin kartu aksesnya, "Nyuri kamu, buat diajak makan di luar..." katanya sambil nyingkirin beberapa helai rambut yang nempel di pipiku. Bisa jadi tadi yang buka pintu juga perbuatan nih makhluk, bukan para syaithon yang biasanya keluyuran tengah malem.
"Ck, nggak usah gendang-gendang juga keles! emang situ mbok jamu?" aku minta diturunin.
"Turunin, nggak?" aku cakar pipinya. Lecet dah tuh.
"Sekarang kamu gahar banget, Va..." Dia nurunin aku dan ngelus-ngelus pipinya yang perih.
"Aku udah laper, ikut aku!" Dia main narik tanganku.
__ADS_1
"Ihhh, jangan main tarik napa? aku masih nyeker tau, nggak?" ucapku, dan nyoba buat lepasin genggaman tangan kangmas, eh. Bukan kangmas ih, tapi Ridho. Panggilan kadaluarsa jangan diinget-inget haroooooommm.
Ridho akhirnya lepasin tanganku juga, dia nyuruh aku duduk di tempat tidur, sementara dia ambil box sepatu yang sempet aku buka beberapa saat sebelum aku mandi. Dia ambil heels warna putih dan dia jongkok di depanku. Dia pasangin satu-satu heels itu buat aku pakai.
"Selesai!" Ridho berdiri dan ngajak aku pergi.
Malem-malem gini, dia ngajakin makan di outdoor.
Satu meja disiapin buat kita, dengan lilin yang bikin suasana makan malam ini sukses mengusing konsep ramang-remang hemat listrik.
Ridho udah ganti baju juga, outfitnya senada sama warna dressku sekarang. Kita mulai menikmati semua makanan yang tersedia. Menggiurkan, tapi aku harus jaga berat badan.
"Kamu makannya dikit? makanannya nggak enak?" tanya Ridho ngeliat piringku.
"Nggak usah protes deh, kan perjanjiannya aku cuma nemenin kamu makan. Abis ini cepet anterin aku balik!" kataku.
"Kamu nggak kangen sama aku, Va? atau udah ada yang---"
"Atau udah ada orang lain yang ngisi hati kamu?" lanjutnya.
"Ngajakin aku kesini tujuannya mau nanya kayak gini doang, iya?" ucapku.
Nggak tau hawanya kok ya pengen nyakar-nyakar Ridho, pengen nimpuk dia, pengen ngelampiasin semua kemarahan aku ke dia dengan cara apapun itu.
"Aku tau kamu itu kecewa sama aku,"
"Syukur kalau tau!" aku nyeletuk sambil nyeruput minuman yang dibuat dari air kelapa.
"Makanya, aku ngajakin kamu kesini ..
__ADS_1
karena aku pengen jelasin semuanya. Aku tau ini udah terlambat, tapi ... paling nggak kamu bisa tau apa yang sebenarnya terjadi. Dan kalau kamu masih nggak berubah pikiran, seenggaknya aku udah berusaha, dan aku akan mencoba ikhlas..." kata Ridho sendu, dia pegang tangannku.
"Nih, orang kesambet setan mana sih? ngomongnya nglantur!" batinku nanggepin ucapan Ridho tadi.