
Dalam kilasan balik itu Belevia melihat seorang pria bersama seorang wanita, mereka mengenakan pakaian pengantin. Sepertinya mereka telah mengikat janji suci. Belevia meneriakkan nama kekasihnya, kue yang ada ditangannya udah nyungsruk duluan.
Aku melihat Belevia menarik rambut si pengantin wanita, namun tangannya langsung ditepis pria yang bernama Karel. Pria yang memang sangat mirip dengan pak Karan. Ya kan ada yang bilang kita mempunyai 7 kembaran di dunia ini, nah tuh pak Karan udah ketemu satu kembarannya. Tinggal 6 lagi berarti, Pak. Oh ya, si Karel ini bilang kalau wanita itu lagi hamil anak dia. Belevia yang shock, mendadak jatuh.
Dan...
Pak Karan menarikku untuk segera lari dari hotel itu, sebelum kilas kenangan itu hilang bersamaan dengan tubuh Belevia yang perlahan memudar.
"Ngapain nontonin cerita orang!" pak bos galaknya kumat.
"Tanggung lagi seru, Paaak! penasaran,"
"Ini bukan saatnya kamu untuk penasaran!"
Braaaaak!
Sesuatu jatuh dari atas.
"Awas!" pak bos ngelindungi kepalaku dari reruntuhan bangunan.
Dan hotel yang kita lihat sangat mewah pun sekejap berubah menjadi bangunan tua.
"Kita harus keluar dari sini," pak bos mengajakku buat berdiri, menghindar dari puing-puing bangunan yang mulai berjatuhan.
"Aaakh!"
"Kamu kenapa, Va?" pak bos nanya.
"Bapak nginjek kaki saya, Pak!" aku menunjuk ke bawah. Kaki pak bos yang ukurannya nggak kira-kira nginjek kaki ku yang imut kayak kaki cinderella.
"Sudah jangan banyak bicara. Ayo cepat, jalan!" pak bos ngangkat kakinya, dan tangannya melingker di pundakku minta dipapah.
__ADS_1
"Minta maaf kek, dasar es batu!" aku bergumam nggak jelas.
Dan sekarang aku memapah pak bos, suwer ini kebalik. Harusnya aku yang di gendong ala brydal style, terus di belakangnya bangunan pada keteplak ketepluk jatuh, dengan gagahnya pak Karan ngelindungi aku buat keluar dengan selamat, ditambah adegan dramatis nengok bareng ke belakang gitu nyaksiin bangunan runtuh. Harusnya dia bisa tahan sakit, dong. Hancur sudah moment berharga ini.
"Dengan ini saya nyatakan anda 1000% tidak romantis bapak Karan Perkasa," aku ngedumel dalam hati. Perkara nggak digendong dan malah disuruh nuntun dese keluar dari hotel yang perlahan mulai ambruk.
Ya udahlah, aku anggap aja kita impas, karena aku yang udah nyuruh hantu yang sempet iseng di kamarku, buat pindah dan gangguin pak Karan yang ada di kamar sebelahku. Tapi kan aku nggak expect kalau bakal begini jadinya, ya. Ah, lagian hantu di kamarku belum tentu juga si Belevia, bisa jadi yang lain. Apapun itu semoga pak Karan nggak denger pengakuan dosaku tadi, ya.
Brrrrraakkkkk.
Braaaaaakkk.
Aku dan pak Karan sudah di luar hotel saat terdengar suara gemuruh yang lebih kencang dari dalam bangunan itu. Dan kita pun merinding melihat penampakan asli hotel yang kita singgahi. Angkerrr gaes.
"Beruntung kita masih bisa selamat," kata pak Karan saat melihat bangunan hotel itu berubah mengenaskan.
"Iya, Pak. Aku kira kita akan jadi cover majalah yassin, Pak. Awwwwh," aku ngerasain sakit di tulang belakangku, dan jidatku juga. mendadak senut-senut.
Langit masih gelap, aku dan pak Karan buru-buru masuk ke dalam mobil. Pak Karan duduk dengan masih meringis kesakitan, "Arrrgh!"
Dan pak Karan langsung tancap gas mobilnya, sedangkan aku agak ketar-ketir soalnya dia kayak nahan sakit banget, beberapa kali dia pegangin kepalanya. Ya gimana, dia udah bonyok duluan sebelum aku dateng kan, udah berapa kali dia dibanting kayak bola pingpong begitu, ternyata hantu Belevia salah orang. Kan bengek, ya.
"Pak, Bapak kalau nggak kuat mending nggak usah nyetir. Aku telfon Ridho aja, biar dia jemput kita..." aku masih keinget si kamfret. Ya gimana, aku cuma bisa nyetir bom-bom car. Kalau mobil beneran apalagi mobil mahal kayak gini ya aku nggak bisa.
Baru aja aku mau nelfon Ridho, tapi aku baru sadar kalau disini nggak ada sinyal. Dan itu berarti aku nggak bisa minta bantuan orang sama sekali.
"Bagaimana?" pak bos nanya.
"Sinyalnya tewas, Pak!"
Pak Karan menghentikan mobilnya di tempat yang kira-kira aman menurut dia. Tapi menurutku ini tempat sama sekali nggak aman, nyeremin iya.
__ADS_1
"Va, kamu ke belakang, ambilkan baju saya," pak bos nyuruh.
"Nggak berani, Pak! takut..."
aku ngeri kalau disuruh lompat lagi ke belakang. Apagi Aku melihat sekarang sudah pukul 1 dini hari.
"Lebih seram kalau saya yang turun lalu ada setan yang muncul, duduk di kursi ini dan bawa kamu pergi. Jadi jangan banyak alasan, ayo cepat,"
"Ya ampun, Pak. Dalam keadaan kayak gini Bapak bisa-bisanya nakutin saya,"
"Tadi kan kamu sudah kenalan dengan macam-macam makhluk, harusnya kamu sudah mulai terbiasa melihat yang seram-seram!"
"Ya, harusnya begitu. Karena anda juga nggak kalah nyereminnya kayak setan-setan itu!"
Setelah nyeletuk kayak gitu aku langsung lompat ke belakang ngambil kemeja di koper dan balik lagi buat ngasihin tuh baju buat pak bos.
"Senyebelin-nyebelinnya Ridho dia nggak bakal kayak gini ke aku, apalagi kalau aku baru aja ngalamin kejadian yang hampir bikin koit," aku masih aja inget sama Ridho.
Aku inget waktu aku ditarik sama setan di kantor terus dia coba nolongin aku. Aku yakin kalau Ridho itu walaupun suka bikin darah tinggi tapi anaknya care banget. Kalau nggak gitu nggak mungkin dia mau jemput aku di rumah pak Karan waktu aku bilang aku digangguin setan di sana. Dan terakhir dia tetep ngikutin aku yang ngeloyor pergi dari rumah pak Karan setelah insiden banting helm.
Aku sedih, kenapa aku kejebak dengan pak Karan di tempat serem kayak gini. Kenapa nggak sama Ridho aja. Coba aja Ridho ngajak ketemu sama biyungnya Karla tanpa ngajak anaknya, kan nggak jadi kayak gini juga. Aku nggak bakal nyasar ke rumah nenek itu, aku nggak bakal setuju di jemput pak Karan dan aku pasti udah ada di kontrakan dengan selimut tebel ngebungkus badan, tidur dengan nyenyak sambil mimpi indah.
"Reva?" suara pak Karan menyadarkan aku dari lamunan nggak jelas ini.
"Eh ... iya, Pak. Bentar lagi nutup kopernya," ucapku bohong, aku ambil salah satu kemeja dan balik lagi ngelompat buat sampai ke depan.
Setelah aku duduk di kursi ku, dia membuka satu persatu kancing bajunya. Dalam sekejap kemejanya yang sempat terkena darah sudah terbuka.
Dan ternyata aku melihat beberapa luka di bagian wajah pak bos.
"Ada kotak P3K di dalam mobil?" tanya ku, pak bos menunjuk laci yang ada di dashboard dengan dagunya.
__ADS_1
...----------------...