Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Jangan Esmosi


__ADS_3

"Pak Karan?" aku mengernyit.


"Boleh saya masuk?"


"Ada siapa, Va?" tanya mama dari dalam.


"Ehm, ada---"


"Karan? ayo sini masuk, masuk...?!" mama tiba-tiba aja udah ada di ruang tamu aja dan mempersilakan orang ini buat masuk.


"Ehm," adek sepupu cuma berdehem dan gerakin dagunya, minta aku buat kasih dia akses buat masuk.


"Ya ampun Reva, gimana Karan bisa masuk kalau kamu di depan pintu seperti itu?" ucap mama.


Aku cuma bisa geser dengan pasrah, sementara adek sepupu sekilas tersenyum dengan manisnya.


"Sudah lama ya nggak ketemu, gimana kabar kamu, Nak?" tanya mama.


"Baik, Tante..."


"Sini masuk ke dalem aja, udah sarapan belum? tante masak nasi goreng spesial loh," mama mrepet aja nggak ada titik komanya.


Pak Karan nggak ngejawab apa-apa, dia cuma ngikutin mama ke arah meja makan.


Aku menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan, "Sabar Reva. Jangan esmosiiii," aku mencoba menyabarkan diri.


Aku ikutin kemana tadi adek sepupu jalan.


"Tidak perlu repot-repot, Tante..." ucap adek sepupu.


"Nggak, Tante sama sekali nggak repot kok. Oh ya, kamu sudah tau kabar kehamilannya Reva?" mama ember bocor.


"Mamaaa?!" aku gelengin kepala.


"Loh kenapa? Nak Karan ini kan keluarga kita juga, jadi nggak apa-apa dong kalau dia tau. Jadi nanti anak kamu kan panggil nak Karan itu 'Om' ya?" mama mrepeeeet kemana-mana lagi sedangkan aku nggak enak banget ngedengerinnya.


"Kamu cobain nasi gorengnya, tante buatin teh dulu..." ucap mama yang ngasih satu piring nasi goreng ke depan pak Karan.


"Terima kasih, Tante..."


Mau nggak mau aku narik kursi dan nemenin nih orang sarapan.


Nggak lama mama nyodorin satu cangkir teh yang masih panas.


"Reva, kamu temenin Karan sarapan, mama mau siap-siap ke supermarket, bahan makanan sudah habis," ucap mama ke aku.

__ADS_1


"Karan, tante tinggal dulu ya..." kata mama sama adek sepupu.


"Iya, Tante..."


Mama meninggalkan kita berdua di meja makan. Sedangkan aku, cuma menunggu apa yang bakal diomongin sama adek sepupu.


Aku liat nih orang antara niat nggak niat makan nasi gorengnya.


"Niat makan nggak, kalau nggak--"


"Ibu hamil tidak baik marah-marah, nanti tensinya naik," kata pak Karan lempeng.


"Ada apa kesini pagi-pagi?"


"Karena kamu tidak ke kantor," sahut adek sepupu sambil melahap makanan yang ada di piringnya.


"Kan aku udah bilang kalau aku udah nggak mau lagi---"


"Terus maunya apa?" tanya pak Karan.


"Ya kan aku bilang mau balikin, lagian aku lagi nggak bisa sering-sering berangkat ke kantor," kataku.


Dia taruh sendok dan garpu di piringnya dengan mode silang, yang berarti makannya udahan. Nggak cuma itu, pak Karan juga nyeruput dulu tuh tehnya yangasih ngebul, beuuh kok aku yang ikutan tiup-tiup, fiuuuh!


"Udah deh, aku mau balikin semuanya. Lagian aku juga nggak becus kan?"


"Aku melakukan itu bukan karena kamu nggak becus, tapi cuma pengen perusahaan itu bisa berkembang dengan cara bekerjasama dengan perusahaan lain yang lebih besar dan kuat. Tapi kalau kamu pengen supaya aku tidak ikut campur, aku akan lakukan itu. Asalkan kamu masih mau memimpin perusahaan," jelas pak Karan.


"Nggak, nggak. Lagian aku udah capek, aku mau fokus jadi ibu rumah tangga," aku cari alesan lain.


"Kamu nggak berubah, tetap keras kepala," kata pak Karan.


"Kamu juga,"


Udah aku panggil kamu kamu aja, saking esmosinya.


Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, "Ya sudah, kalau itu keputusan kamu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kamu harus ingat. Perusahaan itu milikmu sampai kapanpun, aku tidak akan mengambil kembali apa yang sudah aku berikan. Termasuk hatiku," ucapnya.


"Ya sudah, jangan terlalu banyak pikiran dan jaga kesehatanmu dan ... ehm, dan calon bayimu. Aku pergi..." lanjutnya, dia mengelus sekilas kepalaku.


Tatapannya beda, nada bicaranya pun beda. Aku cuma bisa nyenderin punggung di kursi dan melihat sosok pria dingin itu melenggang pergi keluar rumah.


.


.

__ADS_1


.


Seharian aku gabut banget, nggak ada yang bisa aku kerjain. Ini itu nggak boleh, semua serba nggak boleh. Tontonan di tivi nggak ada yang menarik, mama lagi pergi ke supermarket. Aku pengen ikut tapi, kata mama aku di rumah aja. Takut kecapean, nanti bisa pingsan. Kalau pingsan, malah nanti yang ada nyusahin orang.


"Hadeuh, emang ya. Ngantor capek, di rumah tiduran terus nggak ada kerjaan juga capeeek, hemmm. Aku bosen?!" aku senderin punggung di sofa.


Drrrttt?!!


Ada telfon dari nomor baru.


"Siapa?" gumamku.


Aku angkat, sengaja aku kerasin volume speakernya, " Haloooo?"


"Halo, ini saya, Dera Prasetyo. Anda dimana? saya sudah menunggu 10 menit dan anda tidak muncul juga di kantor," ucapnya, nyebelin.


"Kemungkinan saya tidak akan datang kesana. Jadi lebih baik anda pulang saja. Oh ya, untuk seterusnya semua yang berkaitan dengan kerjasama itu, akan ditangani langsung oleh pak Karan Perkasa. Karena beliau yang memimpin perusahaan itu sekarang. Selamat siang--" aku dengan tegas.


"Tungu?! jangan tutup telfonnya,"


Aku mengernyit, heran, "Ada apa lagi nih orang sombong?" aku dalam hati.


"Apa ada yang ingin anda sampaikan, Tuan?" aku mencoba merendah.


"Ehm, bisa kita bertemu. Ada hal yang ingin saya katakan,"


"Katakan saja disini, Tuan. Kalau berhubungan dengan perusahaan silakan anda--"


"Saya ingin meminta maaf atas sikap saya tempo hari," ucapnya, agak janggal ditelinga.


"Ehm, tidak perlu meminta maaf, Tuan..." aku sengaja terus manggil dia 'Tuan' sebagai bahan sindiran.


"Jangan begitu, Nona. Bisakah kita bertemu?"


"Maaf, Tuan. Tapi saya sedang sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi mungkin lain kali. Selamat siang?!" aku nutup telepon secara sepihak.


Nggak mungkin pria sombong seperti dia ucluk-ucluk minta maaf tanpa sebab. Nggak mungkin banget. Pasti ada hubungannya sama pak Karan.


"Orang sombong kayak dia, minta maaf pasti ada maunya," kataku yag nggak mau ngerewes urusan kantor lagi.


Sadar diri aja lah, ilmuku belum nyampe buat mimpin perusahaan. Daripada pusing berkepanjangan, mending aku di rumah berperan jadi istri yang baik buat kangmas. Masalah rejeki, pasti ada aja lah nanti. Dan sampai saat ini aku belum ngomong sama mama perkara aku balikin tuh sumber penghasilan.


Mencari uang sendiri emang enak. Bisa beli ini itu tanpa harus mikir karena duit yang keluar duit kita sendiri. Dan suami nggak berhak buat marah. Tapi kalau harus berhadapan dengan orang yang suka banget ngeremehin, hati aku tuh capek. Gimanapun keselnya harus tetep pasang wajah ramah dan sok manis gitu.


"Nanti Reva pasti cerita, Mah. Kalau waktunya udah tepat. Untuk sementara ini, biar kayak gini aja dulu, aku pengen hidup tenang," aku bergumam sendiri.

__ADS_1


__ADS_2