
Aku ceritain aja semuanya, aku nggak mau pusing sendirian. Apalagi waktu kita makin menipis di hutan ini.
Aku ngambil ranting, terus aku sibak tanah dari dedaunan kering. Aku sempet melihat kain itu dan mencoba menghafal apa aja yang tertulis disana.
Sreeeek.
Sreeek.
Sreeek.
Aku bikin sebuah lingkaran, dan aku gambar setiap detail yang ada pada kain milik pak Karan.
"Kamu yakin?" tanya Ridho.
"Ya, aku nyoba buat nginget semua simbol yang ada di kain itu. Dan ini artinya, kembalikan ke tempat semula sebelum malam bulan purnama," aku nunjukin sebuah kalimat yang ditulis dengan huruf yunani.
"Emang kamu tau darimana kalau ini artinya..."
"Ada seseorang yang memberitahu," aku nyerobot.
"Siapa?"
"Itu nggak penting. Karena semua misteri cincin ini ada dibalik nama pemiliknya,"
"Maksudnya Ilena Jessalyn?" tanya Ridho.
"Ilena Jessalyn? ah, ya! kenapa aku nggak kepikiran sih, Dho?" mataku membulat, dan mengeluarkan hape dari dalam saku. Dan ketika aku melihat tak ada satupun sinyal, aku kembali lemas.
"Kenapa, Va?"
"Aku lupa kalau disini nggak ada sinyal kamfret! baru aja aku mau nyari tau tentang Ilena,"
"Kenapa nggak nanya langsung aja sama anaknya?" ucap Ridho.
"Pak Karan?"
"Ya iya, pak Karan. Dia pasti tau seluk beluk mengenai ibunya," kata Ridho.
"Iya, nanti aku coba tanya sama dia..." aku menghembuskan nafas perlahan.
Lalu aku duduk diatas tanah sedangkan Ridho cuma nekuk salah satu kakinya di tanah. Aku nunjuk sebuah gambar spade yang berjumlah 8 biji dengan ranting kayu yang aku pegang.
"Dho, aku pernah denger dari seorang teman yang ahli dalam permainan kartu, kalau spade atau sekop ini bisa juga melambangkan kematian atau kegelapan yang ada di dalam diri manusia. The cursed ring, cincin terkutuk. Kayaknya kutukan yang ada di cincin ini nggak akan pernah terputus seperti garis di angka 8. Kutukan ini akan terus berlanjut entah sampai kapan," mataku berembun.
Ridho menawarkan bahunya buat aku bersandar, numpahin air mata dugong yang udah lumayan nggak bisa ketahan lagi.
"Jangan nyerah, kita pasti bisa keluar dari tempat ini. Makanya satu-satunya harapan kita cuma Karla, dia yang bisa dapet petunjuk dari neneknya..."
"Tapi apa dengan semua yang terjadi dia masih mau ngebantu aku, Dho?"
"Pastilah, masuk ke hutan ini juga resiko buat dia. Jadi mau nggak mau dia harus bantu kita buat bersama-sama keluar dari hutan ini,"
"Semoga..."
__ADS_1
Dan seketika cincin di tanganku bergetar dan mengeluarkan sensasi panas yang membakar, "Aaawhhhh! panas!"
Dengan segera aku melepaskan cincin itu dari jari manisku.
"Kenapa, Va?"
Belum sempat aku menjawab, angin kencang berhembus menggoyangkan pohon-pohon yang ada disini. Ridho melindungiku, dia nyembunyiin kepalaku di dadanya.
"Kita pergi dari sini," ucap Ridho. Aku menyimpan cincin ke dalam saku celana beserta hape yang nggak guna sama sekali.
"Ayo, Va!" Ridho mengajakku berdiri dan baru aja kaki kita napak tanah, ada seseorang yang menarik aku menjauh dari Ridho.
"Ridhoooooooooo!" aku teriak.
Ridho berbalik, "Revaaaaaaaaaa!" dia berusaha mengejar aku yang ditarik mundur, tanganku terjulur ke depan berusaha meraih tangan Ridho.
Dan sekarang aku dibawa melayang, perlahan kakiku yang super menawan ini terangkat ke atas, "Aaaaaaaaaarkkkhhhh!" aku dibawa naik ke atas.
"Hey! turunin Reva!" Ridho tereakan kayak orang bego.
"Ridhooo, tolongin aku, Dhooooo! arrrgkkkk lepasiiiin!" aku berusaha memberontak walaupun ngeri juga kalau tiba-tiba aku diterjunin dari atas sini.
Dan mbak kun yang lagi nangkring di dahan pohon dengan manjahhh pun cuma senyum sambil ketawa, "Hihihihi..."
Dasar setan nggak beradab bukannya bantuin malah tambah nakutin.
"Ridhoooooooo, aku takuuuuuut!" aku dibawa naik ke atas.
Badanku dilempar ke batang pohon, dan sebelum aku terjun bebas si setan biadab ini menangkapku dari depan dan bawa aku lagi ke atas.
Brrukkk!
Bruuuuk!
Brukkkkk!
Punggungku di banting ke batang pohon beberapa kali, tulang belulangku sakit tiada tara
Dan pelakunya tentu aja si hantu kuku panjang yang nggak pernah sampoan sekian abad. Baunya tetep sama, bikin orang mual.
"Aaaarrrrghhkk, le-pas!"
"Revaaaaaaa! bertahan, Vaaaaa!" Ridho lagi-lagi teriak.
"Kau ingin mengembalikan cincin itu ke tempatnya, hah?"
"S-siapa bilang? ng-nggak kok! emhhh, mau aku j-jual di toko mas, biar bisa jadi horang kayah," jawabku bohong sambil malingin wajah.
"Kau tidak akan menemukan kolam di balik air terjun itu! tidak akan kubiarkan semudah itu kau mengembalikannya!" dia mencengkram kuat leherku, sementara angin kencang terus saja menggoyangkan pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang ada disana.
Aku lihat Ridho lagi duduk bersila di bawah sambil komat kamit, aku nggak ngerti itu manusia kamfret lagi ngapain yang jelas leherku udah makin sakit, "Rrrhhhhhkkkkk!"
"Aku tak menyangka akan mendapatkan dua jiwa sekaligus, salah satu keturunan dari Ilena dan kau wanita yang lahir tepat di malam bulan purnama! kau tau? tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkanmuuu! hahahaha!"
__ADS_1
Dan kukunya yang tajam, dia goreskan di wajahku yang mulus ini, "Aaaaaaakkkkkkh, perih, bego!"
Dan ketika dia akan melakukannya lagi tiba-tiba saja dia memekik, kesakitan "Aaaaaaaaaaakkkkkhhhhhhh!" dia melepaskan aku begitu aja.
Braaaaaakkkkk
Aku nyungsruk enak di tanah, "Aaarrkkkh!" aku jatuh dengan posisi telungkup.
"Revaaaa!" Ridho lari menghampiriku dan menopang badanku.
"Syukurlah, kamu nggak apa-apa!" kata Ridho sambil nyingkirin rambut dari wajahku.
"Aaakhhh, perih!" aku ingin menyentuh pipiku tapi ditahan Ridho.
"Jangan disentuh, nanti kita obatin. Sekarang kita balik ke tenda..." ucap Ridho, dia mengecup keningku sekilas.
"Naik ke punggungku," Ridho menepuk bahunya.
"A-aku masih bisa jalan..."
"Lama! nanti keburu dia dateng lagi, kalau di tenda kita aman. Karena di tenda itu udah ada mantranya, makhluk kayak tadi nggak bakal bisa ngeliat kita. Ayo, cepet!" Ridho maksa aing buat nemplok di punggungnya.
"Aaarghhh!" Ridho mulai berdiri dengan menggendongku di belakang.
"Tumben entengan, Va!" kata Ridho.
"Jarang makan," aku jawab ngasal.
Aku bersembunyi di balik punggung Ridho, sementara pria yang menjadi incaran karet nasi warteg ini terus jalan menyusuri hutan belantara.
Aku ngeliat beberapa makhluk yang tersenyum bahkan berusaha menyentuhku, "Dhooooo..."
"Diem, anggap aja nggak ada. Mereka cuma bisa gangguin kayak gitu..." kata Ridho enteng. Aku liat ada beberapa pohon yang diikat, dengan benang tali berwarna kuning.
"Dhooo?"
"Ya..." jawab Ridho sambil terus berjalan.
"Banyak pohon yang diiket..."
"Aku yang buat, buat tanda. Biar nggak nyasar..." jawab Ridho.
"Jadi kamu udah pernah kesini?"
"Ya, tadi pas nyariin kamu. Tapi aku denger kayak ada suara air terjun makanya aku milih kesini dulu. Lain kali jangan pergi sendirian, kamu nggak tau seberapa bahayanya hutan ini..." kata Ridho yang membenarkan posisi gendongannya.
"Ya itu juga karena..."
"Nggak perlu dibahas. Nggak penting, yang jelas kita harus ke tenda buat nyusun rencana selanjutnya. Kita nggak boleh buang-buang waktu," ucap Ridho.
Dan aku ngerasa Ridho yang dulu udah balik lagi, Ridho yang biasa aku repotin. Tanpa sadar, satu senyuman terbit dari bibirku yang seksoy ini.
...----------------...
__ADS_1