Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Aku yang bersandar di bahu pak Karan sekilas melihat anak kecil. Anak kecil yang memberi aku clue waktu itu. Dia bersembunyi di balik pohon besar, aku nggak ngerti apa yang ingin dia sampaikan yang jelas aku lagi lemes.


"Ada apa?" tanya pak Karan yang kayaknya sadar kalau aku lagi ngeliatin sesuatu.


"Nggak ada, Pak..." aku gelengin kepala. Percuma juga aku tunjukin tuh bocah kan udah ngumpet lagi.


"Minum, Va..." Ridho datang membawa botol air minum. Dia duduk di depanku dan mengabaikan tatapannya pak Karan.


Aku membenarkan posisi duduk dulu biar nanti nggak keselek. Ridho bantu aku buat minum, dan itu nggak lepas dari mata si Karla.


"Kamu masih kuat jalan?" tanya Ridho setelah aku selesai minum. Dia ngusap kepalaku.


"Iya," ucapku, aku nggak mau buang waktu.


"Hem, ehem!" pak Karan berdehem, tapi Ridho cuek aja tuh. Duh kalau begindang aing merasa jadi cewek yang begituuuuh sempuuurrrrnaaaaah.


Sesaat aku mikir, luka yang ada di wajahku ini kayaknya ada agak lembab gitu, tapi nggak mungkin lah ya luka gores begitu aja bisa ngebuat aku jadi lemes kayak gini. Kayak orang yang habis kehilangan banyak darah.


Tiba-tiba aja Karla mendekat, "Ada pesan buat kamu!"


"Pesan?" aku mengernyit.


"Dho bisa geser?" tanya Karla, Ridho pun berdiri, dia duduk di sebelah kiriku sedangkan pak Karan ada di samping kananku.


Sekarang Karla duduk di depanku, dia menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya di pelipisku, dan satu tangannya mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk kapsul bening yang seperti terisi sesuatu, seperti pasir. Dia memegang liontin itu, sambil mengucapkan sesuatu yang aku nggak ngerti apa itu. Mungkin sejenis mantra.


"Pejamkan mata," ucap Karla. Aku pun menurut, aku memejamkan mata, dan kini aku mendengar seseorang berbisik di telingaku.


"Jangan biarkan dia melukaimu, walaupun dengan ujung kukunya sekalipun. Energimu sudah terserap olehnya. Ingat, jangan biarkan batu merah itu sepenuhnya berubah warna menjadi hitam, jika itu sampai terjadi. Maka makhluk itu akan bertambah kuat berkali-kali lipat, bahkan dia bisa membawa kalian semua ke alamnya," ucap yang aku yakini itu nenek Karla.


Lalu aku membuka mata setelah Karla menurunkan tangannya. Aku menoleh pada Ridho.


"Ada apa? katakan?" Ridho reflek nanya, dia kayaknya bisa ngebaca raut wajahku yang tegang.


Aku mengeluarkan cincin dari saku, aku memperlihatkan batu merah yang setengahnya sudah berwarna hitam.


Aku pun mengatakan apa yang dikatakan nenek Karla pada mereka semua.


"Seperti yang pernah kamu katakan, jika kamu terluka maka warna hitam di cincin itu semakin bertambah. Itu artinya, kamu harus hati-hati, jangan sampai dia menyentuhmu ataupun melukaimu," ucap pak Karan padaku yang membuat Ridho terperangah.

__ADS_1


"Apa benar seperti itu, Va?" tanya Ridho.


"Ya," aku cuma bisa jawab itu.


Ridho sedikit memutar badanku ke arahnya, dia mau menyentuh plester yang menutupi luka ku.


"Mau apa?" aku menjauhkan kepalaku dari tangan Ridho.


"Udah nurut aja, Va! aku cuma mau ngecek," ucap Ridho yang maksa ngebuka plester.


"Buat apa kamu lakukan itu!" pak Karan mencoba mencegah Ridho.


"Ck, sebaiknya anda jangan mengganggu, Pak!" kata Ridho.


Ridho tetep keukeuh, di buka plester yang menempel di pipiku.


"Astaga," ucap Ridho.


Pak Karan yang kepo pun bergeser dan melihatku dari depan.


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya pak Karan yang terkejut. Sementara aku bingung, sebenernya ada apa dengan muka ku.


Sementara wajah Karla meringis melihatku. Aku sekarang jadi tontonan ketiga orang yang ada di hadapanku.


Pas cermin kecil udah di tangan, Ridho mencegah tanganku.


"Nggak usah diliat," ucap Ridho.


"La, ambilkan plester baru!" Ridho nyuruh Karla.


"Yaa," Karla jawab agak males gitu.


Aku melihat pak Karan, dia cuma menggeleng. Ah, tapi aku udah terlanjur penasaran. Aku singkirin tangan Ridho dan mengangkat cermin.


"Yaaa ammmmpun! nggak mungkiiiin!" mataku terbelalak saat melihat luka ku semakin parah.


"Kenapa jadi kayak gini, huaaaa..." aku panik. Ridho ngerebut kaca dari tanganku, dan dia menghapus pipiku yang banjir air mata.


"Jangan nangis, nanti kena lukanya malah perih," kata Ridho.

__ADS_1


"Hey, itu cuma luka. Dan masih bisa disembuhkan," ucap pak Karan niatnya mungkin nenangin tapi kesannya malah marahin.


"Kok Bapak malah marahin saya sih, Pak?" aku ngomong sambil nangis.


"Va, nggak usah lebay! nih plesternya," kata Karla yang pengen banget aku sumpel mulutnya pakai sendal jepit. Dia kasih aku plester.


Pak Karan berdiri, menjauh dari aku dari Ridho.


"Perjalanan kita kira-kira masih jauh atau sudah dekat?" tanya pak Karan pada Ridho sambil melihat ke sekeliling.


"Sebentar lagi, Bapak bisa dengarkan suara aliran air terjun. Itu berarti kita sudah semakin dekat dengan tempat itu..." Ridho ngejawab, sambil tangannya ngambil plester dari tanganku. Sekarang dia buka plester itu dan tempelin ke muka aing.


"Tapi hari sudah senja, apa tidak berbahaya jika kita meneruskan perjalanan?" tanya pak bos.


"Kita nggak punya banyak waktu, kita jalan sebisanya dulu aja. Habis itu kita cari tempat yang buat pasang tenda," kata Ridho yang buru-buru banget pengen nemuin air terjun itu.


"Kita jalan sekarang," ucap Ridho.


"Ayo, Va. Semakin lama kita di hutan ini semakin bahaya, aku yakin kita udah deket banget," lanjut Ridho.


Gimana pun Ridho yang memimpin perjalanan ini, jadi kita harus nurut sama dia. Lagian bener juga, aku nggak mau ketemu lagi sama sosok itu. Ridho sekarang lagi ngomong sama Karla, kayaknya mereka mau nentuin arah perjalanan. Aku nggak ngerti, soalnya itu urusannya si Ridho aja udah soal nyari jalan. Aku mah jadi makmum aja, makmumnya Ridho maksudnya.


Kalau pak Karan mah, pakai sarung aja belum tentu bisa. Peace ya, Pak.


Kita semua akhirnya kembali berjalan menyusuri hutan belantara, urutannya kini berubah. Aku dibelakang Ridho, yang bawa tas super gede. Sedangkan Karla diurutan ketiga, sedangkan pak Karan paling belakang.


"Kamu nggak berat, Dho? bawa gituan?" aku nanya sama Ridho sambil jalan.


"Nggak, tas ini nggak lebih berat dari kamu, Va!" jawab Ridho.


"Kamu pengen aku karungin, Dho?"


"Kawinin aja gimana, Va? jangan karungin, kalau karungin mah beras biasanya, Va..." Ridho nyeletuknya kok ya sampe ke hati aku ya, ehek.


"Ati-ati ntar ada yang cemburu," aku nyindir.


"Sa ae nih tutup panci!" kata Ridho.


Matahari bentar lagi tenggelam, dan Ridho belum ada tanda-tanda nyuruh kita istirahat. Tapi aku denger suara air yang deres banget.

__ADS_1


"Alhamdulillaaaaahhhh, ya Allah!" teriak Ridho tiba-tiba.


...----------------...


__ADS_2