
Ngelewatin satu malam ini rasanya berat banget. Takut ngecewain mama dan kangmas. Tapi disatu sisi aku juga takut, dan kalau iya beneran hamil terus aku gimanaaa? perut gede, jalan engep, dan pastinya akan banyak keluhan lain.
Mungkin karena setresnya, aku nggak bisa tidur. Bolak balik kebangun terus, selilas-kilas aku liat ada bayangan hitam di balik tirai di jendela.
"Nggak, ah. Aku pasti salah liat," aku nyoba ngeyakinin diri sendiri kalau tadi aku cuma salah liat aja. Karena selama di rumah ini aku nggak pernah dapet teror dari makhluk halus, paling mentok pada mojok di teras rumah. Tapi nggak ada yang berani masuk.
Aku tidur lagi, dan mencoba masa bodo amat.
Paginya, aku deg-deg ser mau tes kehamilan pakai alat yang kemarin dokter Verlitha kasih.
"Gimana kalau hasilnya nggak sesuai ekspektasi?" aku nanya Ridho yang kini pegang kedua bahuku.
"Kalau nggak sesuai ekspektasi ya tinggal coba lagi, Sayang? kita masih punya banyak waktu. Jadi sekarang, kamu masuk dan coba tes pakai alat ini," ucap kangmas.
Dan ya, pas aku mau test. Aku ngeliat bercak darah di segitiga bermudaku.
"Kan apa aku bilang," aku langsung pesimis.
"Malah tau-tau dapet," gumamku sambil pegang testpek yang belum digunain.
"Gimana aku bilang ke Ridho, akunyakin dia kecewa..." aku mulai bimbang buat keluar.
Apa mungkin Allah akhirnya ngasih jawaban kayak gini karena semaleman aku terus aja galau nggak jelas. Menimbun ketakutan yang nggak berdasar.
"Maafin aku..." ucapku saat aku buka pintu.
"Maaf? maaf kenapa?"
"Hasilnya..." aku ragu buat nerusin.
"Hasilnya nggak jelas, burem. Mungkin, aja nggak hamil," kataku nyari alesan.
"Oh, aku kira apaan. Ya udah kita perjelas lagi aja di ruang dokter ya? tenang aja, apapun hasilnya aku siap kok," kata Ridho.
"Sekarang kamu mandi, kita ke dokter sekarang," lanjut Ridho, dia nyuruh aku masuk ke kamar mandi lagi.
__ADS_1
Di dalem, aku mandi sambil menggalau. Tapi mending dokter aja yang jelasin, aku liat wajahnya Ridho agak-agak nggak tega gitu.
Pagi ini, Ridho ijin ngantor siang. Rencananya kan hari ini harusnya kita mau liburan, tapi karena semalem aja ada insiden pingsan jadilah aku lupa dengan semua rencana ynag udah aku susun sedemikian rupa. Aku juga belum bilang mau ngajak liburan kangmas kemana. Pokoknya rencana liburan belum dibicarain sama Ridho sama sekali. Makanya dia belum bilang mau cuti.
"Kenapa?" tanya Ridho saat kita ada di dalam mobil.
"Nggak apa-apa. Cuma takut ngecewain kau sama mama,"
"Nggak lah, Sayang. Namanya anak itu kan titipan dari Allah. Nah, kalau Allah belum ngasih kesempatan itu ya udah, kita nikmatin dulu suasana berdua kayak gini. Itung-itung pacaran setelah menikah. Kan lebih seru loh," kata Ridho.
"Kamu nggak usah banyak pikiran, kita cuma bisa usaha, tapi Allah yang menentukan semuanya," lanjutnya.
Adem banget nggak seeeh dengerin suami kita yang rada sengklek ini bicara begitu bijaksana. Aky aja nggak ngerti perasaanku saat ini, ya antara siap nggak siap dengan segala kemungkinan yang ada. Labil emang!
Nggak butuh waktu yang lama kita berdua nyampe di rumah sakit.
Setelah nunggu beberapa saat di ruang tunggu, akhirnya namaku dipanggil juga. Dokternya cewek, namanya Dokter Nadia.
Aku ditanya-tanya dulu seputar terakhir dateng bulan kapan, dan ya mau nggak mau aku bilang kalau tadi pagi aku nemu ada bercak merah. Ridho naikin alisnya, aku yang diliatin suami sendiri pun agak nggak enak karena udah nggak jujur dari awal.
"Banyak atau sedikit?" tanya dokter Nadia.
"Baik, kita cek dulu saja ya, Bu..." kata dokter.
Aku nurut aja, dan ada rasa dingin saat perutku diolesin gel dan mulai ditempelin alat buat mendeteksi kondisi yang ada di dalam.
Aku sih nggak paham apa yang terpampang dilayar, tapi dokter Nadia senyum-senyum dan kemudian bilang, "Selamat, di dalam rahim ibu sekarang tumbuh janin yang usianya kira-kira 7 minggu,"
"Wait, gimana? janin? di dalam perutku?" aku nggak percaya.
"Tapi nggak mungkin, Dok. Kan tadi pagi saya sudah datang bulan, mana mungkin kalau---" aku menggantung ucapanku.
"Itu bukan tanda datang bulan, Bu. Mungkin yang ibu alami hanya flek. Dan itu memang tanda awal kehamilan. Lihat, ini kantong kehmailannya..." ucap dokter Nadia.
"Jadi istri saya beneran hamil, Dok?" tanya Ridho yang nggak bisa melepaskan tatapannya dari layar yang menampilkan kondisi rahimku.
__ADS_1
"Betul, Pak. Dan karena usia kandungannya masih sangat muda, bu Reva harus lebih berhati-hati dan jangan terlalu lelah," kata dokter Nadia yang bangkit dari kurainya dan menuju meja konsultasi.
"Kamu hamil, makasih ya," Ridho sontak meluk aku kenceng banget.
"Aku nggak bisa napaaass, tauuukh?!" aku tepokin pundaknya.
"Maaf, aku terlalu seneng, Va..." ucap Ridho.
Sedangkan aku, menggalau seketika. Aku emang jadi manusia nggak ada rasa syukurnya ya. Pas di rumah ngira kalau udah dateng bulan, takut banget bikin Ridho kecewa. Sekarang udah dipastiin hamil, eh malah galau.
Dokter Nadia sekali lagi menjabat tangan kami secara bergantian dan ngucapin selamat buat yang kedua kalinya. Setelah dapet resep vitamin, aku dan Ridho keluar dari ruangan dokter Nadia.
"Kamu duduk disini aja, biar aku yang taruh ini di bagian farmasi," ucap Ridho.
Aku ngangguk.
"Ya udah aku kesana dulu, ya?" kata Ridho.
Aku masih agak bingung dengan informasi yang aku dapet saat ini. Perasaanku acakadul banget rasanya, tapi yang jelas ngeluat raut wajah bahagia dari kangmas bikin aku juga ikut bahagia.
Dia yangblagi nungguin obat nengok ke arahku, dan tersenyum. Aku balas senyuman itu.
"Huuufhhh, bismillah aja udah," ucapku dalam hati.
Ridho balik ke aku dengan membawa beberapa obat atau vitamin yang ada ada di dalam pastik berwarna putih.
Aku nggak yakin bakal minum semua vitamin yang Ridho tebus itu. Satu biji aja aku nelennya susah, apalagi banyak.
Ridho ngajak aku pulang. Di dalam mobil aku ngeliatin hasil foto USG yang dikasih dokter Nadia. Belum berbentuk, cuma buletan kecil yang katanya itu yang bakalan nanti jadi bayinya aku sama Ridho.
"Alhamdulillah ya, Sayang? akhirnya hasil kerja keras kita selama berbuah juga," kata Ridho. Aku auto nengok kangmas.
"Kerja keras apaan?"
"Tiap malem kan adu jurus, kamu nggak mungkin lupa kan?" ucap Ridho nggak tau malu.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas? udah deh nyetir aja yang bener," aku ngerasa pipiku langsung panas.
Ridho bykannya marah, dia malah nowel pipiku dengan satu tangannya.