
Malam ini aku beneran capek banget. Setelah mengganjal perut dengan ubi rebus yang panas-panas enyoy bikin aku lumayan ngantuk. Ubi dengan pisang goreng jadi kolaborasi di dalam perut aing dan kompak banget bikin aing jadi ngantuk.
Pak Karan mah lagi ngotak-ngatik hapenya, kayaknya dia lagi serius banget. Sedangkan Ridho lagi ngomong-ngomong sama pak Sarmin di luar. Kalau Bara dia mojok sambil senderan, dengan muka yang aku tebak pasti perih-perih legit. Bocel tuh muka akibat perbuatan Mona.
"Nak Reva mau tidur di dalam?" tanya bu Ratmi.
"Nggak usah, Bu. Biar saya glosoran disini saja, nemenin Mona..." ucapku.
"Oh ya, Bu. Ibu punya plester sama obat merah?" tanyaku.
"Ada sepertinya, sebentar ibu ambilkan..." bu Ratmi pergi ke dalam.
"Kamu nggak apa-apa, Bar?" tanyaku pada Bara.
"Nggak apa-apa sih, Mbak. Cuma baru kerasa perih-perih dikit kulitnya!" Bara ngelepas kemeja yang dia dia dobelin pakai kaos polos.
Nggak lama bu Ratmi kembali dengan obat merah, plester dan juga cotton bud.
"Ini nak Reva..."
"Terima kasih, Bu. Ibu istirahat saja, lagi pula ini sudah tengah malam..." ucapku yang melihat wajah lelah bu Ratmi.
"Ibu ke dalam kalau begitu..." ucap bu Ratmi.
Setelah bu Ratmi masuk ke dalam kamarnya, aku nyuruh Bara buat mendekat di tempat aku duduk sekarang.
"Kesini sebentar, Bar!"
"Ada apa, Mbak?" Bara mengernyit.
"Ck, udah kesini aja! nggak usah banyak cingcong!" aku tepok lantai karpet di depanku.
Nggak mau jadi adik ipar durhaka, Bara pun beringsut mendekat.
"Ada apa, Mbak?" tanya Bara lagi.
Aku buka tutup obat merah dan mulai tetesin dikit-dikit ke cotton bud.
"Mbak Reva mau ngapain?" tanya Bara.
"Mau nyangkul di sawah!"
"Udah, diem. Kamu tinggal terima beres!" kataku.
Keributanku dengan Bara memancing rasa penasaran mantan bos laknat. Pak Karan segera mendekat saat aku condongin badan ke Bara, mau nempelin itu cotton bud yang udah ditetesin obat ke luka cakar di mukanya.
"Kamu mau apa?" tiba-tiba pak Karan ngedorong jidatku ke belakang.
__ADS_1
"Mau bantuin Bara lah!" kataku sambil menepis tangan adek sepupu.
"Dia bisa sendiri!" kata pak Karan yang merebut cotton bud yang ada di tanganku.
"Gimana caranya buldoooozerrr?" aku rebut balik cotton bud itu dan mau nempelin ke muka Bara, tapi lagi-lagi direbut.
"Kamu ngatain saya buldozer?"
"Iya, kenapa?" aku balik nantangin pak Karan.
"Astaaaagaa, kalian ini kenapa?" Bara kayaknya udah nyut-nyutan ngeliat kita yang ribut.
"Saya bisa obatin luka saya sendiri, Mbak!" Bara yang kali ini mengambil plester beserta obat merah dan cotton bud. Lalu dia menyingkir dan duduk di pojokan.
"Ck, nyebelin!" mataku memandang kesal ke arah pak Karan.
Aku yang udah males pun akhirnya geser dan ngambil bantal yang dikasih sama bu Ratmi. Aku tepokin bantal sebelum kepalaku mendarat di atas benda empuk itu.
"Heh, kalau mau tidur di dalam!" kata pak Karan. Tapi aku masa bodo amat, aku ngeglosor aja udah di samping Mona yang sempet dikasih selimut sama bu Ratmi.
"Heh, Revaaa! pindah ke dalam!" suruh pak Karan lagi. Tapi aku pura-pura nggak denger aja udah, anggep itu radio rombeng yang lagi ngomong. Sama aja sama Bara yang nggak peduliin pak Karan dan sibuk pasangin plester ke mukanya sendiri yang pada luka.
Baru juga mau ngeliyep, aku denger Ridho dan pak Sarmin masuk dan mengunci pintu depan.
"Va?" panggil Ridho.
"Nak Reva, tidur di dalam saja!" kata pak Sarmin.
"Tidak perlu, Pak. Saya nemenin Mona disini saja..." ucapku.
"Oh ya sudah..." kata pak Sarmin.
"Nak Ridho, Bapak tunggu di ruang tengah..." kata pak Sarmin.
"Iya, Pak!" kata Ridho.
Aku mengernyit, kenapa Ridho disuruh ke ruang tengah, ada apa?
Seakan bisa membaca pertanyaan di pikiranku, Ridho pun bilang, "Aku disuruh sholat," kata Ridho.
"Bar, ayo ikut!" ajak Ridho pada Bara.
"Oke, Mas!" Bara langsung bangkit. Bara nih tipe-tipe adik ipar yang manut dan nggak banyak ngebantah.
Sedangkan Ridho nggak nawarin pak Karan, mungkin sungkan atau bagaimana lah. Mereka berdua ke belakang buat ambil air wudhu.
Aku yang tadinya mau ngeliyep mendadak nggak bisa tidur dan milih buat duduk senderan tembok.
__ADS_1
"Kalau bukan karena cincin itu, saya nggak akan pernah nih ngeliat makhluk-makhluk begituan!" aku ngungkit masa lalu.
"Itu sudah takdir!" kata pak Karan nyautin. Fia taulah aku lagi nyindir cincin yang sengaja dia sasarin ke aku, dan karena memakai cincin itulah aku mulai bisa melihat hal-hal ghoib dan mengalami kejadian mistis.
"Kamu tidak bisa menyalahkan takdir yang sudah tuhan gariskan, mengerti?" lanjut pak Karan.
"Itu kan karena Bapak yang sengaja melakukan itu! jadi itu bukan takdir!" kataku nggak mau kalah.
"Sampai kapanpun berdebat masalah ini tidak akan pernah selesai, Reva!" ucap pak Karan.
Kita ngomong jauh-jauhan udah kayak orang yang lagi marahan, lagian aku emang lagi kesel sama ini orang. Tiba-tiba aja pengen nyalahin dia atas semua kesialan yang menimpaku selama ini.
Aku mending diem dan menikmati suara bacaan sholatnya Ridho. Debat sama pak Karan cuma bikin segala macam urat jadi tegang.
Ternyata setelah Ridho dan Bara sholat, Pak Sarmin nyuruh mereka buat ngumpul dan mulai dengan pengajian dadakan. Mendengar lantunan ayat suci, hati jadi tenang. Hati yang tadinya kesel mendadak jadi lebih adem.
Aku dan Pak Karan nggak ada yang ngomong. Kita berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Emang obat dari segala permasalahan yang kita alami itu ya mendekatkan diri pada Allah, penguasa segala yang ada di bumi dan di langit.
Aku yang lagi senderan di tembok, mulai merasa nyaman. Berbekal rasa lelah dan rasa kantuk yang nggak bisa ditahan akhirnya aku mulai memejamkan mata.
.
.
.
Suara adzan begitu jelas terdengar di telinga, membuatku sedikit membuka mata secara perlahan-lahan. Aku ngeliat pak Karan masih tertidur dengan berbantalkan lengannya sendiri, ngeringkuk kayak udang goreng.
Ngomong-ngomong udang goreng, aku mencium bau udang goreng. Mungkin asalnya dari rumah sebelah, rumahnya mbak Luri. Itu loh yang punya warung kopi yang femes diantara para kang ojek.
Aku nggak ngeliat Ridho ataupun Bara. Mungkin mereka lagi pergi ke mushola yang ada di dekat rumah ini.
"Hoammmmphh..." aku nguap.
Mona masih tidur pules, aku regangin badan ynag pegel-pegel karena tidur dengan posisi nggak semestinya.
Kreteeekkkk!
Bunyi suara sendi-sendi jari tangan yang aku bunyiin, "Pegel banget ya ampuuun!"
Aku bangun berniat ke kamar mandi, tapi aku harus ngelewatin pak Karan. Dengan mata yang masih kiyip-kiyip aku nggak sengaja kesandung kaki jenjang mantan bos.
Gabbbruuuuukkkkk!!!
Aku nyungsrukk, jatoh tepat diatas kakinya pak Karan, "Aaawwh!" pekik pak Karan yang kakinya nggak sengaja keinjek sama aku pas aku mau bangun.
"Revaaaaaaa!" pekik pak Karan setelah ngeliat pelakunya adalah aku.
__ADS_1