Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Nggak Mau Ngelanggar Pamali


__ADS_3

Semakin malam, hawa dingin semakin menusuk kulit dan tulang. Sekarang mobilku diikuti mobil Ridho dari belakang. Karena kita masing-masing bawa kendaraan sendiri.


Sebelum perjalanan pulang, aku sempet ngasih tau pak Karan lewat chat. Gimana pun kita saudara, jadi ya masa dia nggak dikasih tau tentang nikahannya Ravel yang tiba-tiba dimajuin besok.


Di belum nelfon, tandanya dia belum baca chat dari aku, "Dah lah biarin," gumamku.


Aku fokus nyetir, jalanan udah lumayan sepi. Tapi tiba-tiba.


Braaaakkkk!


Ada syaithonirrojiiim yang nemplok tepat di kaca depan dengan mulut yang mengaga dan mata yang melotot, "Aarrrghhhhhh!" aku banting stir ke kiri.


Badanku sempet maju dan terhempas lagi ke belakang gara-gara aku ngerem mendadak.


"Arrrrrrrrrghhhhh!!" kepalaku kejedot.


Tok!


Tok!


Tok!


Aku ngerem mendadak


Ada yang ngetok kaca jendela, aku nengok. Ternyata Ridho.


"Kamu nggak apa-apa?" ranya Ridho panik. Aku liat ke belakang, makhluk bergaun putih tadi udah nggak ada, ilang gitu aja.


"Ssshhh, main nongol aja nggak bilang-bilang, nggak ada akhlak emang!" aku buka pintu mobil.


"Kamu kenapa? kenapa banting stir? ngantuk? apa gimana?" Ridho mencecar aku dengan banyak pertanyaan, sambil tangannya liat keadaan keningku yang aku tutupin tangan.


"Cuma tadi ada setan yang tau-tau nemplok di kaca mobil depan, aku kaget jadi banting stir ke kiri


"Ada yang luka?" Dia keliatan khawatir banget.


"Nggak ada, kejedot aja sih tadi. Masih untung aku pakai sabuk pengaman!"


"Coba aku liat," Ridho ngusap jidatku, "Nggak ada luka, cuma merah sedikit. Nanti diolesin obat aja ilang nanti merahnya..." lanjut Ridho.


"Ya udah aku anter aja," Ridho nunjuk mobil dengan dagunya.

__ADS_1


"Nanti mobilku? gimana? masa aku tinggalin disini?"


"Ya daripada kamu celaka, mending mobilnya kamu tinggal disini, Va..." kata Ridho.


"Bentar lagi juga nyampe rumah, aku bawa mobil sendiri aja," kataku yang mau masuk lagi ke mobil.


"Udah aku anter aja,"


"Aku bisa kok, Sayang!" ucapku.


"Apa? tadi, kamu bilang apa?" mata Ridho berbinar.


"Hihihihihi," tiba-tiba ada satu sosok di samping Kanan Ridho.


"Jangan ganggu, dulu!" Ridho dorong sosok berbaju putih tadi yang suaranya sempet melengking. Setan nggak ada harga dirinya ditangan Ridho.


"Tadi kamu bilang apa?"


"Ehm, Sayang? kenapa? nggak boleh?"


Dia langsung meluk aku, "Bolehlah, aku malah seneng dengernya,"


"Hihihihih..." suara makhluk tak beradab tadi semakin lama semakin jauh, kayaknya dia males liat orang lagi peyuk-peyukan di pinggir jalan. Atau dia lagi nyari wowo atau ochong buat ikutan mojok.


"Iya, ya udah kamu pelan-pelan nyetirnya. Aku ikutin dari belakang," ucap Ridho, aku ngangguk dan lepasin pelukan Ridho.


Aku masuk lagi ke dalam mobil, "Huufhhh, semoga nggak nongol lagi, masih untuk aku nggak nabrak apa-apa!" ucapku sambil nyalain mesin.


Ridho juga masuk lagi ke dalam mobilnya buat ngikutin mobilku dari belakang. Dan alhamdulillah, nggak ada gangguan lagi. Aku bunyiin klakson, tanda aku mau masuk ke dalam rumah. Sesanfkan mobil Ridho berhenti sampai di depan gerbang rumah aja. Lagian udah terlalu malem buat bertamu juga. Walaupun nih walaupun situasi rumahku malah lagi rame, karena banyak orang yang sibuk ngerjain ini itu.


📱Aku balik ke hotel ya?


Aku langsung balas chat dari kangmas.


📱Iya, Sayang. Makasih udah dianterin.


Aku ngetik ini sambil cengar cengir sendiri, lupa ama jidat yang kerasa pusing.


Aku masuk ke dalam rumah, dan beneran lagi pada riweuh dengan persiapan dadakan pernikahan buat Ravel dan Dilan.


"Astagaaa, kamu darimana aja, Reva! Mama sampai khawatir," kata Mama yang pertama kali liat aku.

__ADS_1


"Ya ada urusan, Mah! Gimana? orang-orangnya dah pada dateng? mereka sih pada bilang oke. Masih untung yang dateng di akad nikah cuma orang terdekat, jadi aku gampang ngabarinnya," aku gantian nanya.


"Udah, udah. Makasih ya, Va! kalau nggak ada kamu, mama nggak tau deh harus gimana," kata mama ngusap kepalaku.


"Jidat kamu kenapa, Sayang? kok merah?"


"Oh ini? kejedot pintu mobil, Mah. Nggak ati-ati pas keluar tadi," ucapku bohong.


"Ya udah, kamu pasti capek. Kamu istirahat aja di kamar," kata mama.


"Mama juga istirahat, Mah. Besok bakalan capek banget. Paling nggak malam ini mama bisa tidur cukup," aku ngingetin.


"Iya, bentar lagi mama juga naik ke lantai atas," kata Mama.


"Ya udah, Reva ke kamar dulu ya?" aku tersenyum dan menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua.


Aku nggak sempet buat ketemu sama Ravel. Dari raut wajah mama yang udah nggak panik, aku menebak Ravel nggak ada masalah. Maalah mungkin lagi jejingkrakan di kamarnya, karena semakin cepet jadi Nyonya Dilan.


Tapi sayup-sayup aku denger suaranya Ridho, "Nggak mungkin ah, pasri aku salah denger. Ridho kan langsung pergi tadi,"


Dan, ya aku terpaksa mandi lagi, karena habis ketemu sama syaithonirrojim. Aku nggak mau tidurku jadi nggak tenang karena aku nggak bebersih dulu.


"Ya ampuun capek bangettt," aku rebahan dan mencoba buat tidur dengan rambut yang habis di cuci.


.


.


.


Tapi di jam 12 malam, tiba-tiba aja aku terbangun. Padahal aku baru tidur selama 2 jam. Aku yang ngerasa rambutku masih agak basah pun bergerak ke arah cermin dan duduk di meja rias.


"Tadi udah keburu ngantuk banget sih ya, jadi ngeringinnya nggak sempurna!" ucapku yang baru pegang sisir dan hairdryer. Baru juga mau nyolokin kabel ke sumber listrik. Tapi mendadak aku keinget sesuatu.


Tapi taukah kalian? ada yang pernah bilang, pamali ngaca dan nyisir rambut tengah malam. Katanya itu semacam ritual buat manggil mbak kun buat dateng nyamperin kita. Ntar dia bisa dateng dan nemenin kita ngaca gitu.


"Nggak usah deh," aku taruh lagi sisir dan hairdryer. Besok mau ada acara, terlepas pantangan itu bener atau nggak, yang jelas aku lagi ngehindari ketemu sama mereka-mereka. Nggak usah dipanggil aja, mereka pada suka nyamperin. Jadi mending nggak usah nyari penyakit.


Aku ambil anduk dan gosokin rambut biar nggak lembab-lembab amat. Biar nggakasuk angin aku juga balurin badan pake munyak katu putih kesukaan aku.


"Tidur lagi, Reva! besok acara padat merayap," aku ngomong sendiri dan matiin lampu utama.

__ADS_1


Sekelebat aku ngeliat ada yang lewat di jendela, kayak bayangan aja gitu. Tapi ya udahlah, aku nggak mau kepo. Mungkin mereka pada ngerasa terpanggil karena rumahku ini dominan bau melati.


Aku tarik selimut dan mencoba buat tidur lagi. "Semoga kita emang beneran bisa bersatu ya, Dho? semoga kamu bisa ngeluluhin hati mama," ucapku sambil bayangin muka Ridho.


__ADS_2