
"Vaaaa? Revaaaa?" Ridho gedor-gedor pintu kamar mandi.
"Lagi mandi!" jawabku dari dalem.
"Jangan lama-lama, cepetan bilas!" kata Ridho yang berisik banget.
Udah dibanguninnya kayak prajurit yang disuruh perang, sekarang mandi juga nggak tenang. Astagaaa, cobaan apalagi ini. Tapi ya udah, mungkin dia pengen pake nih kamar mandi. Jadi aku cepetan basuh badanku supaya ilang segala busa yang nempel di rambut.
Pas keluar, aku liat Ridho berdiri di depan pintu.
"Aku mandinya jadi nggak khusyuk tau?!" kataku. Aku kira Ridho bakal masuk ke kamar mandi, ternyata nggak. Dia malah narik aku dan nyuruh aku duduk di meja rias.
"Kamu tau ini jam berapa?" tanya Ridho yang ngambil satu anduk lagi, terus dia gosokin kepalaku yang rambutnya masih basah habis keramas.
"Subuh, kan?" aku mastiin.
"Awalnya aku kira juga ini udah subuh karena kamu tau-tau uda ngebangunin tapi ternyata masih jam 2 pagi!" ucap Ridho yang ngasih aku jam weker yang ada di kamarku ini.
"Makanya, pas aku liat jam ternyata masih dini hari. Aku cepetan nyuruh kamu buat udahan mandinya!" lanjut Ridho.
"Kalau ini masih jam 2 pagi, nggak mungkin juga mama gedor pintu buat bangunin aku. Katanya mbak salonnya udah dateng..." kataku.
"Ya coba aja pastiin, itu mama yang beneran ngetok kamar ini atau bukan..." ucap Ridho yang lagi ngeringin rambutku dengan mesin pengering rambut.
Takut masuk angin, aku juga pakai minyak kayu putih. Walaupun Ridho jadinya ngekek mulu, katanya baunya kayak bocah SD yang mau berangkat sekolah. Lagian ini juga sekalian penolong badanku yang remek banget, maklum habis adu taekwondo sama Ridho.
"Aku ke kamar mandi bentar," ucap Ridho yang nglepas kaosnya sebelum masuk ke kamar mandi. Sekilas aku liat bekas kuku macan di punggung kangmas, badannya pada merah-merah. Perih-perih enyoy pasti. Seketika aku merasa malu dan bersalah, udah bikin badan dia pada baret.
Hadeuh itu kotak-kotak di perut bikin salah fokus dan bikin keinget sesuatu yang lain lagi.
"Ya ampun mikirnya apa sih, lupain lupaaaiiinnnn, Reva?!" aku gelengin kepala.
Aku bangkit dan keluar kamar. Nggak bisa buat jalan seperti biasanya, aku berdiri aja kaki kerasa getar, niatnya mau ngecekin keadaan rumah. Tapi baru juga ngebuka pintu dikit...
"Kamu mau kemana?" tanya Ridho yang belum pakai kaosnya lagi.
__ADS_1
Ya ampun Dho mbok ya keluar kamar mandi kaos dipakai lagi, jangan kayak gitu doang. Bikin kita susah napasnya.
Aku yang ditanya cuma melongo, apalagi saat dia mendekat.
"Mau kemana? ini masih tengah malem," Ridho nutup pintunya lagi.
"Emnh, aku ... mau lagi..."
"Mau lagi?" Ridho naik turunin alisnya.
"B-bukan! kok mau lagi, sih? bukan, bukan itu. Maksudnya aku mau keluar ngecek mama, bener nggak mama yang manggil..." kataku.
"Logika aja, Reva Sayang. Masa iya mama bangunin kita tengah malem? mama pasti paham apa yang sedang diperbuat anaknya yang pastinya lagi sibuk buat memproduksi bayi-bayi lucu!" kata Ridho.
Ridho narik aku pelan-pelan, aku nggak bisa lepas dari tatapannya yang begitu meneduhkan. Dia bawa aku menuju balkon. Dia buka tirai, menggeser pintu kaca yang tadinya tertutup.
Angin malam menerbangkan rambutku, dan dengan tiba-tiba dia memelukku dari belakang.
"Kamu tau nggak, kalau langit nggak ada bintangnya itu sepi banget," Ridho nunjuk ke atas.
"Aku nggak lagi ngegombal atau membual, aku ngomong tentang apa yang aku rasain," Ridho semakin mengeratkan pelukannya. Emang nih orang pinter banget ngerubah suasana. Padahal kan tadi udah horor dan penasaran perkara malam-malam ada suara mama, tapi kenapa sekarang malah jadi kayak gini.
Dia membalik badanku, mengusap lembut pipiku, "Kamu tau nggak? sampai saat ini aja aku kayak nggak percaya kalau salah satu staff yang suka banget ngrepotin dan ngaku-ngaku temenku karena kebetulan suka ada kerjaan bareng, sekarang udah jadi istriku..."
"Jadi aku ngrepotin?"
"Semua orang juga merasakan itu, Reva. Tapi tenang aja, aku suamimu yang siap direpotin kamu kapan aja..." kata Ridho yang membuai aku dengan tatapannya. Bukan hanya dengan tatapannya, tapi juga dengan sentuhan bibirnya.
Namun tiba-tiba...
"Lingsirrrrr wengiiiiiiii...." ada backsound dari satu sosok yang ada di depan balkon kamar kita. Kita yang lagi adu ikan lohan pun nengok.
"Iishhh, apaan lagi sih!" Ridho kesel banget, "1 jam baru kesini lagi, kita lagi ada penting!"
Ridho bergerak nutup pintu dan juga tirainya, "Lanjut yuk, Vaaa..."
__ADS_1
"Tapi---"
"Biarin ajaaaah!" Ridho angkat badanku dan matiin lampu biar etan jangan pada ngintip kali ya.
Demi apa, badanku sakit semua. Jangankan buat geser. Buat melek aja kayaknya nggak sanggup.
Tapi lagi-lagi makhluk itu dengan nggak sopannya gedor-gedor pintu balkon. Masih untung sih, daripada dia nembus pintu dan melihat Ridho lagi buka sesuatu. Buka paketan hadiah, maksudnya.
"Dhooo! dia nagih janji tuh!" ucapku pada suami.
"Biarin aja sih, Vaaa..." Ridho malah meluk aku. Badan kita ketutup selimut tebel.
"Lingsiiiiirrr wengiiiiiii..." suara makhluk tadi kedengeran lagi. Astaga, Ridho masih aja merem, dia kayaknya masa bodo amat.
"Dhoo, dia nyinden lagi untuk kesekian kalinya. Lingsir wengi katanya..." aku nyoba bangunin si Ridho.
"Biarin aja, lingsir wengi kek, lingsir pagi, siang, sore, nggak usah digubris. Biarin aja, aku ngantuk Va..." kata Ridho.
Dia mah enak kayak nggak keganggu, nah aku tuh jadi nggak bisa tidur gara-gara suara wanita itu makin lama makin kenceng dan bikin kupingku sakit.
Aku bangkit dengan pakaian yang layak.
"Brisikkk, tau nggak?!" aku buka pintu dengan mata yang kiyip-kiyip nggak jelas. Aku mastiin Ridho masih molor, karena dia pasti nggak suka kalau aku keluar dan nemuin itu makhluk nggak beradab.
Wanita itu menoleh dengan air mata berwarna merah, "Lingsiiiiirr wengiii---" ucapnya dengan suara bergetar.
"Iya iya aku tau lingsir wengi! ininmasih malem, jadi mending kamu pergi dan jangan ganggu aku maupun keluargaku. Karena besok disini bakal ada acara, ngerti?" aku ancem aja.
"Dilan ... Dilan..." ucapnya dengan air mata yang terus mengalir, ngeri juga aku lama-lama liatnya. Sekarang kebayanya yang putih berubah warna jadi kemerahan karena ketetesan air mata.
"Tolong..." katanya lagi.
Kan kan kan kesini cuma mau ngrepotin kita yang masih hidup.
"Astaga, ada apa lagi? ada apa dengan Dilan? Dilan itu calon suami adikku, jadi jangan coba-coba kamu jadi pelakor! karena aku nggak akan tinggal diam siapapun mengusik kebahagiaan adikku!" aku tunjuk memperingati wanita yang udah beda alam sama aku.
__ADS_1
"Adikmu yang merebutnya dariku! dan aku yang tidak akan tinggal diaaaamm!" matanya berubah menjadi merah, melirikku dengan penuh kebencian.