Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Pendakian


__ADS_3

"Hantu bisa bego juga ternyata, Va! secara nggak sadar dia ngasih tau dimana letak cincin itu harus kita kembalikan. Kolam dibalik air terjun, yeah! kita udah dapet satu petunjuk baru," Ridho nangkup pipi ku pakai dua tangannya. Terus dia main peluk lagi saking senengnya.


"Tunggu tunggu, maksudnya kita bisa mengakhiri semua kesialan ini?" aku melepaskan pelukan Ridho dan kini aku menatap Ridho nggak percaya.


"Iya, Va! dan kita nggak boleh buang waktu. Sekarang kita harus berkemas dan pergi dari sini, kita akan mencari air terjun itu, mumpung belum kesorean..." kata Ridho bersemangat, dia segera berdiri begitu juga aku.


"Dho..." aku manggil Ridho.


"Ya?"


"Makasih ya udah nyariin aku sampai kesini, dunia ghoib!" kataku dengan tersenyum.


"Ya, karena semua ini terjadi juga gara-gara aku yang ngajak kamu ke rumah Karla. Dan karena aku yang biarin kamu pergi sama pak Karan. Jadi kamu nyasar-nyasar nggak karuan, ilang selama berhari-hari. Semua orang di kantor jadi geger, dan itu juga sampai ke telinga ibu kamu. Sebelum aku kesini, ibu kamu sampe nangis-nangis di kontrakan, dan aku janji sama ibu kamu kalau aku bakal nemuin anaknya dan ngajak dia pulang," Ridho ngelus kepala ku, mataku berkaca-kaca inget mama.


"Jangan nangis, aku yakin kita bisa pulang dengan selamat..." Ridho meluk aku sebentar, aku sih sabodo amat sama Karla yang melotot ngeliat Ridho yang dari tadi peyuk-peyuk akikah. Aku cuma diem, sedangkan pipi udah basah banjir air mata.


Ridho menjarak ngelepas pelukannya, "Sekarang aku mau bongkar tenda. Kamu duduk disini aja jangan kemana-mana, nanti aku minta Karla buat nemenin kamu," ucap Ridho sambil ngehapus air mata di kedua pipiku.


Dan.


Cup.


Ridho mencium keningku sekilas sebelum dia pergi mendekati tenda.


Aku cuma bisa menyentuh jidatku yang nong-nong ini sambil melongo ngeliatin Ridho yang sekarang lagi ngomong sama Karla sambil nunjuk ke arah aku.


Terakhir, aku lihat Ridho nepuk pundak Karla sambil kasih senyuman sekilas, ya mungkin bilang makasih kali ya. Terus Ridho masuk ke dalem tenda buat beresin barang yang ada di dalem. Nggak berapa lama pak Karan keluar dan disusul dengan Ridho. Mereka mengeluarkan dua tas besar dari dalam tenda. Mereka lanjut bongkar tenda parasut warna biru itu.


Sedangkan si lenjeh, dia lagi jalan kemari, ehm aing mending duduk dulu sambil pasang wajah kalem. Dan sekarang dia duduk manja di sampingku.


Aku diem aja, lagian bingung juga harus ngomong apaan. Padahal kita dulu kita nggak gini loh hubungannya. Dulu sih baik-baik aja, tapi semenjak dia boncengan sama Ridho pulang kantor, aku jadi nggak begitu suka sama Karla. Ya meskipun sekarang dia mau berbaik hati bantuin Ridho buat nemuin aku disini, tapi itu semua Karla lakuin atas dasar permintaan Ridho bukan murni keinginan dia.


Lagian, aku tuh ke rumah Karla diajak sama Ridho bukan aku ucluk-ucluk kesana sengaja buat minta bantuan sama biyungnya Karla soal cincin ini terkutil ini.


"Ehm," si Karet ngeluarin suara rombengnya.


"Reva..." dia manggil aku setelah sekian purnama duduk bareng disini.


"Ya, kenapa?"

__ADS_1


"Ada yang mau aku tanyain sama kamu,"


"Tanyain aja..." aku ngomong singkat, pengen tau apa yang dia mau omongin, aku yakin nggak jauh seputar Ridho.


"Kamu sama Ridho murni temen kan?"


"Kalau kamu sendiri gimana?" aku lempar balik pertanyaan itu, lagian apa hak dia nanya begitu sama aing.


"Aku suka sama Ridho,"


"Bukannya kamu udah punya gebetan? siapa namanya? emmmmh, Hasan ya kalau nggak salah..." aku plesetin aja nama Ahsan jadi Hasan kang satpam di kantor, bete dong muka si Karla.


"Ahsan bukan Hasan. Beda nama beda orang, Va. Lagian aku sama Ahsan itu kan temen versi deket, belum pacaran..." Karla ngeles kaya bemo.


"Ohhhhh, gitu..." aku tanggepin seadanya.


"Va ... kamu tadi..." Karla ngomong nggak jelas.


"Ehm, aku sama Ridho tadi udah..." dia lanjutin omongannya yang nggak nyampe-nyampe.


"Bukan kamu sama Ridho, La..." aku serobot aja omongan si Karla, soalnya aing udah paham arahnya kemana.


"Maksudnya?" Karla nautin alisnya, nah loh spek otakku diatas Karla nih kalau soal beginian.


"Kalau itu kan kamu yang narik dia, jadi kamu nggak bisa nge-claim kalau yang terjadi atas dasar keinginan Ridho juga..." aku ngomong dengan pelan dan penuh wibawa.


"Soal aku punya hubungan atau nggak sama Ridho kamu tanya aja sama Ridho langsung. Tapi kayaknya nggak penting bahas itu disini, sedangkan waktu semakin menipis buat keluar dari hutan terlarang ini. Dan sorry banget kalau kamu harus ikut nyasar ke sini cuma buat nyariin aku padahal ini semua bukan keinginan kamu," aku ngomong sambil natap muka si Karla.


"Kamu udah denger semua, jadi aku nggak bisa ngelak..." ucap Karla.


"Suami aja bisa jadi mantan, apalagi temen? iya, kan?" aku tersenyum penuh arti.


Dan aku melihat pak Karan jalan ke arah kami, sedangkan Ridho lagi gendong tas ransel yang gede yang biasa dipake buat orang naik gunung.


"Reva tas kamu..." pak Karan ngasih aku tas selempang.


"Kita jalan sekarang,"


Sedangkan Karla ngeloyor pergi nyamperin Ridho, aku cuma tersenyum tipis.

__ADS_1


Aku liat Karla ngambil tas ranselnya, tapi keliatannya lebih ringan dari punya Ridho.


"Bisa jalan?" tanya pak Karan memutus pandangan aku dari Karla.


"Bisa, Pak..."


Aku dan pak Karan jalan ke arah Karla dan Ridho, aku yang habis jatuh dari ketinggian nggak bisa jalan cepet. Tapi aku coba sebisa mungkin biar nggak ngerepotin orang.


Aku berjalan diurutan ketiga, sedangkan di depan ada Ridho kemudian Karla. Sedangkan pak Karan paling belakang.


"Reva?" pak Karan manggil.


"Iya, Pak..."


"Cincinnya ada?" tanya pak Karan.


"Ada, di saku celana saya..."


"Jangan sampai hilang..." pak bos ngingetin.


"Atau saya pakai saja?" aku nanya sambil jalan.


"Tidak perlu, kamu hanya perlu menjaganya tetap ada..." kata pak Karan.


Aku udah mulai ngos-ngosan, maklum jarang olahraga dan sekarang medan yang kita lewatin itu nggak mudah.


"Istirahat dulu, gaes!" teriak Ridho.


Akhirnya ada waktu juga buat sekedar lurusin kaki di tanah.


Ridho lagi bantu Karla lepasin ranselnya, sedangkan aku dan pak Karan udah duduk duluan.


"Kamu masih kuat? wajah kamu pucat," tanya pak Karan.


Aku cuma ngangguk, nggak sanggup buat ngomong. Sepanjang perjalanan pendakian ini, aku ngerasa energiku semakin berkurang. Aku juga nggak tau kenapa.


"Bersandarlah," kata pak Karan, si beruang kutub nawarin bahunya. Aku yang ditawarin disaat nggak berdaya kayak gini otomatis nggak nolak.


Ridho yang ngeliat itu langsung nyamperin dan menarik kepalaku dari bahu pak Karan, "Kamu kenapa, Va?"

__ADS_1


"Lebih baik kamu ambilkan Reva minum dan biarkan dia beristirahat dulu," kata pak bos jutek yang melepaskan tangan Ridho dari kepalaku.


...----------------...


__ADS_2