
"Ravel? emang kenapa?"
"Kayaknya pernikahan Ravel harus diubah," ucap mama.
"Kenapa emang?"
"Mama dapet telepon, dari Pakdhe kamu. Katanya dia salah ngitungin hari buat hari baik nikahannya adek kamu..."
"Lah terus? mau dibatalin? nggak lucu deh, Mah! persiapan udah 90%, undangan udah disebar semua..."
"Aduh, mama juga pusing ini. Kepala mama langsung nyut-nyutan dari siang. Mama sebenernya mau ngomong sama kamu, tapi ada Ravel, takutnya dia salah paham..." kata Mama.
"Dilan mama suruh ke rumah Pakdhe kamu, buat ngomong baiknya gimana. Tapi ya itu..."
"Itu gimana sih, Mah. Reva nggak ngerti deh," aku liat mama nggak tenang.
"Duduk dulu deh, Mah! mama tenangin diri dulu,"
"Gini loh, Va. Pakdhe kamu bilang kalau, kayaknya si Dilan salah ngasih weton. Ya maklum aja dia kan orang kota, mana inget dia masalah kayak gituan. Nah pas pakdhe kamu ngitung lagi, dan ngecek sesuai tanggal kelahiran Dilan. Bener, dia salah ngasih weton. Dan ya gitu lah, pengaruhnya ke tanggal nikahannya Ravel dan Dilan. Masih untung mereka wetonnya nggak tabrakan," jelas Mama.
"Masih percaya sama kayak gitu sih, Mah? bukannya lillahi ta'ala aja,"
"Tau sendiri pakdhe kamu orangnya kayak gimana, Va..."
"Mah, ini yang mau nikah itu si Ravel bukan Pakdhe. Jadi nggak usah ngadi-ngadi ngatur sebegitunya,"
"Hush, kamu kalau ngomong jangan sembarangan, Reva! gimana pun kalau kamu nikah, pakdhe kamu juga yang bakal jadi wali kamu," ucap mama.
"Tau, Mah. Tapi nggak gitu juga konsepnya. Sekarang, kira udah keluar uang banyak terus mau dibatalin atau diundur? iya kalau si Ravel setuju, kalau nggak?"
"Bukan diundur, Va. Tapi dimajuin!" ucap mama.
"Dimajuin? kapan?"
"Besok!"
"Jangan becanda deh, Mah!"
__ADS_1
"Mama nggak becanda, Va! kamu liat nggak muka mama udah kayak gini?"
Astogeeeh, ini gimana ceritanya. Udah jam segini, terus aku harus gimana coba. Emang sih rumah udah didekor sedemikian rupa, tapi nggak bisa juga disulap dalam waktu beberapa jam. Belum lagi soal penghulu, dan tamu.
"Kayak gini deh, Mah. Sekarang aku urus dulu soal penghulu, Dilan dan yang ngedecor rumah, catering, pokoknya semuanya deh. Kalau masalah Ravel, mama aja yang bilangin, gimana?" aku kasih solusi.
"Terserah kamu aja, Reva. Mama udah pusing banget,"
"Udah mama tenang aja, besok anak bungsu mama itu pasti nikah, oke? sekarang aku pergi dulu," kataku yang akhirnya punya alasan buat pergi.
Deeuh ada-ada aja itu acara kawinan. Aku jadi ikutan pusing karena aku harus ngehubungin banyak orang termasuk W.O yang pasti harus disumpel pake duit lagi. Lagian, kataku masalah yang kayak gitu mah harusnya nggak usah ribet-ribet gitu ya. Intinya kan si Dilan sama Ravel bisa nikah. Bukannya semua hari itu baik ya?
Aku rogoh hape, "Dho? bisa ketemu nggak?" ucapku saat telepon tersambung.
Selama di perjalanana, aku ngehubungin banyak orang termasuk si Dilan.
"Pokoknya malam ini kamu sama keluarga kamu udah harus sampai. Besok kamu sama Ravel harus nikah, kalau nggak lama lagi ditundanya. Nggak lucu, persiapan udah mateng kayak gini masa iya mundurnya sampai 1 atau 2 bln lagi? itu kembang di rumah aku nasibnya gimana? layu semua yang ada. Intinya kamu kesini, masalah yang lain lagi diurus!" kataku nggak mau dibantah sama Dilan.
Ya udah Dilan manut aja, dia katanya langsung mau tancap gas. Padahal dia baru aja balik dari rumah pakdheku yang letaknya di luar kota. Nggak tau lah riweuhnya dia sama emaknya nanti. Yang jelas sekarang aku lanjut ngehubungin W.O yang ngurusin nikahannya si Ravel.
"Tapi---"
"Nggak ada tapi-tapian, nanti saya kasih kompensasinya. Pokoknya saya nggak mau tau, urus sampai beres!" ucapku tegas.
Emang the power of duit, ngena banget di situasi kayak gini. Nggak ada waktu buat acara adat sebelum nikah, wes bubar jalan.
Otak lagi suntuk banget, dan sekarang aku lagi otewe ke tempat janjian aku sama Ridho. Nggak jauh dari pusat keramaian kota, lebih tepatnya di cafe.
"Cepet banget? ngebut?" tanya Ridho saat aku nyamperin ke mejanya.
Aku menggeleng, "Nggak, siapa yang ngebut! kebetulan lagi sepi aja jalannya, jadi cepet nyampe..."
"Aku udah pesenin makan sama minum, nggak apa-apa kan?" tanya Ridho lagi.
"Kebetulan, aku udah laper..." kataku ngusap perut.
Ridho naikin satu alisnya, "Kenapa? ada yang lagi kamu pikirin?"
__ADS_1
"Bukan ada lagi, tapi banyak!" kataku yang mulai cerita nih soal nikahannya Ravel yang dimajuin besok. Ridho manggut-manggut aja jadi pendengar yang baik, sesekali dia ngusap lenganku ngasih aku ketenangan.
"Kenapa kamu nggak telfon aku aja? biar aku bantu urus," ucap Ridho.
"Bantu urus gimana? ya nggak lah, lagian yang tau seluk beluk acara itu kan aku, Dho..." kataku.
Makanan kami udah dateng, Ridho nyuruh aku buat makan dulu. Dan di tengah acara makan malam aku baru inget belum ngehubungin adek sepupu mengenai perubahan jadwal nikah Ravel.
"Mau nelpon siapa?" tanya Ridho yang liat aku udah mau nempelin hape ke kuping.
"Pak Karan," jawabku. Ridho ngambil hape dari tanganku dan meng-cancel panggilan yang memang belum terhubung.
"Nanti aja, kamu makan dulu. Baru nanti kamu telfon, lagian kamu mau ngasih tau dia nanti jam 10 malam juga tuh orang bakal bisa dateng kok besok pagi," ucap Ridho.
"Iya..."
Mungkin karena aku laper atau makanannya yang enak. Rasanya aku pengen nambah lagi. Ridho yang menyadari itu ngarahin satu sendok berisi makanan ke mulutku.
"Makan yang banyak, kamu keliatan banget capeknya. Aku nggak mau kau sampai sakit," ucap Ridho.
Aku menerima suapan itu, lumayan ada tambahan asupan makanan yang digiling di lambung.
"Dho...?" aku panggil dia saat isi piring kita udah sama-sama ludes.
"Ya...? kenapa?"
"Mama ngomong apa aja?" tanyaku ragu.
"Ngomong apa? nggak banyak sih..." Ridho menatapku dengan satu senyuman di bibirnya.
"Maafin sikap mama ya? aku nggak nyangka kalau mama bisa bersikap kayak gitu, padahal aslinya nggak gitu loh, Dho..."
"Iya iya aku paham, Va. Aku juga berusaha memahami situasi sekarang yang lagi nggak kondusif. Mungkin aku juga salah tiba-tiba muncul ditengah keruwetan acara nikahnya adek kamu..." kata Ridho.
"Sebenernya, Mama cuma salah paham. Mama nggak tau cerita yang sebenernya, apa yang terjadi sama kita..." ucapku serius.
"Kamu nggak usah mikirin itu. Yakin aja, cepat atau lambat kita bakal bersatu," Ridho nggebelai lembut pipiku.
__ADS_1