
Dan baru jalan beberapa langkah, pintu kamar yang tadinya sengaja terbuka kini langsung tertutup.
BRAAAAAKK!!!
Sontak, Barraq lari ke arahku dan mencoba ngelindungi aku.
"Kamu nggak kenapa-napa?" tanya Barraq.
Aku menggeleng. Barraq melihat ke sekeliling, begitu juga aku. Rania tiba-tiba hilang, gone gitu ajah. Dan aku tau tadi itu tiada lain tiada bukan ya perbuatan si Rania. Oke mungkin dia masih belom siap batin dan prepare buat nampakin dirinya.
"Huuufh, bikin kaget aja deh..." aku bergumam.
"Aku nggak kenapa-napa, udah sore, lebih baik aku mau balik ke unitku..." lanjutku yang mau ngebuka pintu.
Klak klek klak klek.
Pintunya terkunci.
"Ran ... Rania, nggak lucu! cepetan buka!" aku yakin ini ulah Ramia lagi.
Barraq yang mau ngomong, langsung aku serobot, "Aku nggak ngelindur, ngelantur atau ngawur! ini perbuatan makhluk yang namanya Rania, cewek yang bikinin kamu lukisan dan anak pemilik toko kembang 7 rupa yang sekarang lagi gentayangan..." ucapku tanpa memberi Barraq kesempatan buat nyautin.
"Lagian konyol banget, mau-maunya aku nurutin kemauan si Rania..." ucapku sendiri.
"Oke oke, anggap aja aku percaya kalau kamu bisa liat Rania. Anggap aja dia udah meninggal, pertanyaanku cuma satu. Kenapa Cherryl ngumpetin barang keramat di kamarku..."
"Yasssaaalaaaam, Barraaaaaq! d
yang jelas bukan buat ngusir tikus di kamar kamu ya!" aku gregetan banget.
"Huufhhhb, Barraq! Cherryl itu suka sama kamu, dia pengen miliki kamu dengan cara pelet!" lanjutku
"Tapi aku nggak ngerasa kalau aku dipelet!"
"Ya kaaagaaakkk dooong, Barraq! lama-lama aku emosi beneran deh ngomong sama kamu,"
"Object yang dipelet nggak bakal ngerasa, yang bisa ngeliat keanehan itu cuma orang lain. Dan kebetulan orang lain itu, orang yang udah beda alam sama kamu, Barraq..." ucapku.
Tapi tanpa sengaja mataku melihat ke ujung sisi kanan ranjang.
"Bentar deh, itu apaan..." ucapku sambil nunduk dan mulai ngerogoh.
Dan aku ngerasa kalau apa yang aku temukan ini merupakan barang yang Rania inginkan untuk segera dibuang.
Aku bangkit, berdiri berhadapan dengan Barraq.
__ADS_1
"Ini yang aku temukan..." ucapku sambil menunjukkan sebuah bungkusan putih pada Barraq.
Ada satu keris kecil yang dibungkus dengan satu bungkusan kecil lagi yang setelah dibuka ternyata isinya tanah. Mungkin tanah kuburan.
"Keris?" gumam Barraq. Dia mau ambil dari tanganku, tapi segera aku cegah.
"Jangan disentuh, kita nggak pernah tau apa daga magis barang beginian. Ya walupun aku antara percaya nggak percaya ya, tapi mending jangan kamu sentuh..."
"Lah itu tadi kamu malah pegang," kata Barraq.
"Kalau aku udah biasa berurusan sama makhluk kayak ginian, kalaupun diceritain nggak bakal selese sampai 300 episode," ucapku.
.
.
.
Dan sekarang aku dan Barraq muter cctv di ruang khusus yang mirip kayak ruang baca milik Barraq. Untungnya kita bisa keluar dari kamar ya, mungkin Rania lupa kalau kuncinya masih ngegantol di pintu, kan gueebleekk.
Oh ya, di dalam kamar Barraq sengaja nggak dipasang kamera pengawas, tapi di ruangan yang lain semua terpantau oleh kamera.
"Shiiiiit!" Barraq mengumpat saat melihat Cherryl mengeluarkan sebuah bungkusan kain putih kecil dari dalam tasnya kemudian mengendap ke dalam kamar Barraq.
"Gila, nggak masuk akal..." kata Barraq.
"Ya begitulah,"
"Pantesan, aku kayak tertarik gitu sama Cherryl. Padahal sebelumnya biasa-biasa aja. Aku anggap dia cuma partner kerja..." kata Barraq.
"Eh, tapi aku kok ngerasanya kalau hanya saat-saat tertentu aja aku kayak pengen deket terus sama Cherryl," ungkap Barraq.
"Mungkin peletnya kurang manjur, makanya kamu masih bisa keinget Rania, masih nggak begitu terpengaruh..."
"Dan juga kalau ketemu sama kamu," tambah Barraq.
"Mungkin aku punya bakat ngusir pelet," jawabku ngasal.
Beuh untung Rania nggak ada, kalau ada. Udah ngamoook dia denger si Barraq ngomong barusan. Ya mungkin Barraq cuma heran aja, kenapa kalau pas ketemu aku dia nggak begitu inget-inget banget sama Cherryl gitu. Bukan berarti si Barraq suka sama aing, kayaknya itu nggak mungkin. Karena tatapan mata Barraq aja kayak sendu banget sekarang, mungkin kepikiran cinta beda alamnya.
Kembali lagi ke topik awal, aku menunjuk keris yang kini tergeletak di meja dengan dialasi kain.
"Lalu apa yang harus kita lakukan dengan benda ini?" tanya Barraq.
"Benda ini harus dibuang di tengah lautan, itu kata Rania..." ucapku.
__ADS_1
"Ke lautan?" Barraq mengernyit.
"Ya, itu yang aku tau..."
Dan Rania kembali muncul, air mata Rania menetes. Aku bisa ngerasain lah, gimana sih nyeseknya cinta tapi nggak bisa memiliki. Nggak jauh beda lah sama aku dan Ridho waktu itu yang terpisah selama 2 tahun.
"Barraq, ada Rania disini..." ucapku.
"Rania?" Barraq menelisik ke semua sudut ruangan.
"Dimana dia?" lanjut Barraq.
"Disamping kamu..." ucapku menunjuk sisi kanan Barraq.
Kebetulan disitu ada secarik kertas dan juga pena. Rania mencoba menggerakkan pena itu, Barraq yang melihatnya pun terkejut terkecuali aku.
"Aku Rania ... senang bisa bertemu denganmu..." ucap Rania sambil menggerakkan pena itu diatas kertas dan membentuk kalimat yang sama seperti yang dia ucapkan.
"Apa benar kamu Rania? tapi aku belum bisa percaya, kalau aku belum melihatmu dengan mata kepalaku sendiri," ucap Barraq.
"Baiklah, tapi kamu jangan kaget dengan penampilanku saat ini..." ucap Rania dalam bentuk tulisan.
"Nggak akan. Percaya sama aku..." ucap Barraq.
"Baiklah, kita coba..." jawab Rania dengan tulisannya.
"Hadeuuh si Barraq, beneran dia mau liat muka si Rania? Kalau pingsan siapa yang gotong coba?" batinku
Rania bilang ke aku supaya Barraq berdiri dan sedikit menjauh dari meja dan kursi.
"Dia nyuruh kamu buat berdiri," ucapku pada Barraq.
Dia pun menurut tanpa banyak pertanyaan. Rania kasih instruksi buat Barraq meremin mata dan buka setelah dikode lagi.
"Tutup mata kamu, sekarang..." ucapku, Barraq pun mulai memejamkan matanya.
Tangan Rania terangkat, dia menutup mata Barraq menggunakan kedua telapak tangannya. Setelah beberapa saat, Rania menyuruh Barraq buat buka mata. Rania yang tadinya berdiri di belakang Barraq, perlahan bergeser dan memposisikan dirinya tepat di depan laki-laki yang selama ini menyukainya diam-diam.
"Sekarang coba buka mata kamu..." ucapku.
Perlahan Barraq membuka matanya sedikit demi sedikit. Aku bisa merasakan kalau Barraq sekarang sudah bisa melihat wujud Rania yang berdiri tepat di depannya.
"Rania?" ucap Barraq yang ingin menyentuh Ramia namun tidak bisa. Rania kini seperti angin yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa disentuh.
Rania tersenyum, "Akhirnya aku bisa bertemu secara langsung dengan kamu..." ucap Rania.
__ADS_1