Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ending


__ADS_3

5 Tahun Kemudian....


Time goes too fast, begitulah kira-kira apa yang aku rasakan. Kayaknya baru kemarin aku dengan susah payah ngeden dibantu bu bidan buat ngeluarin bayik yang aku kasih nama Arion Putra Menawan. Ya nama ke-7 yang bikin suamiku, Ridho yang selalu menawan di segala suasana pusing 7 keliling lapangan bola.


Dan rasanya baru kemarin, aku kejar-kejaran sama setan yang ngincer anakku buat dibawa ke alam mereka. Malam mencekam yang sampai kapan pun nggak akan pernah aku lupain. Aku pertaruhkan hidup dan matiku untuk Arion saat itu.


Dan perlu kalian tau, untuk sekarang ini hanya ada Arion ditengah-tengah aku dan Ridho. Dalam waktu dekat ini aku belum ada rencana buat punya anak lagi. Aku lagi fokus aja sama perkembangan Arion yang makin hari bikin nyut-nyutan kepala bapaknya.


Tepat setahun yang lalu, pak Karan ditinggalkan neneknya. Karena usia yang sudah semakin menua, nenek pak Karan pun berpulang ke pangkuan-Nya. Beruntung, dia pergi setelah taubat dari hal-hal mistis yang dulu pernah dia lakukan. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, dia sempat meminta maaf sama aku juga. Sebagai manusia aku hanya bisa mencoba menerima apa yang sudah terjadi, dan memaafkan apa yang sudah dilakukan nenek pak Karan.


Beralih ke adikku, Ravel. Dia melahirkan seorang bayi perempuan, namanya Thalitha. Biasa dipanggil telolet. Arion dan juga Thalitha hanya terpaut satu tahun, makanya kalau si telolet kesini, dia nyambung tuh main sama Arion. Walaupun jatohnya si telolet suka gangguin ya, apalagi kalau Rion lagi main lego. Nih bocah perempuan pasti ngerusakin yang berujung Rion yang nangis karena kesel mainannya dirusakin.


Kalau soal kabarnya si karet gelang, yang aku denger dia akhirnya udah nikah. Tapi nggak begitu paham aku sama siapa, aku cuma liat di sosmednya dia udah ubah statusnya jadi menikah. Dan ada fto pernikahannya juga, ya moga aja dengan begitu dia nggak ganggu-ganggu kita lagi.


Tapi katanya kangmas, bu Wati sempet ngabarin Ridho juga. Tapi karena waktu itu Rion mendadak ngamuk dan nggak bisa kita kendalikan, akhirnya dengan terpaksa kita nggak bisa dateng buat menghadiri pernikahan Karla.


"Rion lagi dimana, Mas?" aku tanya kangmas yang dia lagi nonton berita di tv ruang tengah.


Ada di halaman belakang kayaknya sama mbak Rina.


"Loh kok kayaknya, sih?" ucapku, duduk di samping kangmas dan ngusel.


"Mona jadi?"


"Kayaknya sih, aku belum dapat info lagi dari Barra. Kapan keluarganya akan dateng ke rumah," ucap kangmas.


Ya, Mona bentar lagi akan nikah sama Barra. Ujung-ujungnya Mona nggak bisa ke lain hati, butuh waktu bertahun-tahun buat Mona sadar kalau bagaimanapun dia berusaha, dia nggak bakal bisa mengusir Barra dari hatinya.


Apapun yang pernah terjadi di masa lalu, kita sepakat buat ngelupain itu. Dan menganggapnya sebagai bahan renungan aja. Supaya nggak terjadi suatu saat nanti. Lagipula saat itu Barra dalam pengaruh mistis. Jadi, nggak ada alasan buat Ridho nggak ngerestuin Mona dan juga Barra.


Sedangkan, Ridho sekarang mengelola perusahaan yang diberikan Karan untuk Arion. Nggak ada salahnya menerima perbuatan baik orang lain, itu nggak akan membuat haraga diri kita turun ataupun terlukai. Dan aku bersyukur memiliki suami seperti Ridho, dia membuatku lebih dekat dengan Tuhan.


Beberapa saat kemudian, ada yang mencetin bell rumah kita.


Ting Tong!


"Aku buka pintu dulu," ucap kangmas mau berdiri.


"Biar aku aja yang buka," kataku yang narik tangan kangmas supaya dia duduk lagi.


"Jangan lama-lama ya, ntar aku kangen!" ucap Ridho.


Ninggalin Ridho yang lagi keluar gesreknya, aku bukain pintu. Dan ternyata kita kedatangan tamu istimewa.


"Hai adek sepupu....!" kataku.


"Iishh, jangan panggil seperti itu,"

__ADS_1


"Ya kan emang kamu adek sepupu aku, iya kan?"


"Ayo, ayo, masuk!" aku nyuruh pak Karan dan gandengannya suruh masuk.


"Dimana Rion?" tanya pak Karan.


"Ada di taman belakang,"


"Aku baru membelikannya mobil remot controll terbaru, aku harap dia suka," ucap pak Karan yang nunjukin barang bawaannya. Aku ambil gitu aja dari tangan pak Karan, mastiin apa yang dia belikan sama apa nggak dengan yang diminta Rion ke bapaknya waktu itu.


"Pasti Rion nelfon ya? minta dibelikan mobil ini?"


"Itu rahasiaku dengan dia,"


"Aiih kalian ini menyebalkan!" ucapku.


"Maaf ya mbak Luri, anakku jadi suka ngerepotin kalian..." kataku pada mbak Luri.


"Masih aja panggil, Mbak. Panggil nama aja, Va..."


"Iya ya, Luri..." ucapku.


Kita bertiga masuk ke ruang tengah, disitu ada Ridho yang setia dengan cemilannya.


"Kita kedatengan penganten baruuu, Masss!" aku jalan mendekat ke kangmas.


"Wah ada angin apa nih?"


"Tidak ada angin apa-apa, aku hanya ingin ketemu Rion," ucap pak Karan lempeng.


"Rion lagi main di taman belakang," jawab


"Aku panggil Rion dulu ya? kalian tunggu disini aja," kataku,


"Oh ya, ini. Kasihin aja sendiri ke anaknya," lanjutku pada adek sepupu, dan satu box mobil mainan pada adek sepupu.


Setelah itu aku bergerak ke taman belakang. Aku ngeliat Rion lagi berdiri sambil menutup matanya.


"Aku hitung yah, satuu ... dua ... tigaaaa..." ucap Rion.


Aku yang ngeliat Rion lagi main petak umpet, akhirnya berjalan ngendap-endap dan menutup mata Arion dari belakang.


"Mamiii? ini mamiii iya, kaaan?" Rion.


"Yaaaahhh, ketauan deh!" ucapku yang melepaskan tanganku dari Rion.


"Bau parfum Mami ini yang bikin Rion bisa menebak dengan mudah!"

__ADS_1


"Ooh ya, Rion lagi main sama siapa? mbak Rina atau mbak Martini?"


"Bukan, tapi sama temen Rion!"


"Temen? temen siapa?" aku mencari-cari keberadaan temen Rion. Soalnya aku nggak tau kalau Rion bawa temen ke rumah.


"Ada deh pokoknya,"


"Loh kok main rahasia-rahasiaan sih sama Mami?" aku masih penasaran sama temennya Rion.


"Emang kalian main apa?"


"Main cing ciripit, Mami...!" ucap Rion.


Seketika aku inget dengan lagu cing ciripit yang pernah dinyanyikan satu sosok makhluk halus.


"Rion, kita masuk ke dalam, ya? ada om Karan, dia ada bawa sesuatu buat Rion..." ucapku yang membawa Rion masuk ke dalam rumah. Aku takut teman yang dia maksud nggak termasuk dalam kategori manusia.


Setelah masuk ke dalam, Rion berlari kecil menuju ruang tengah.


"Ooom?!" Rion langsung memeluk pak Karan yang sedang duduk memegang cangkir teh.


"Hati-hati, Rion!" pekik Ridho.


"It's okay, Ridho..." pak Karan menaruh cangkirnya dan membalas pelukan Rion.


"Om mana mobilnya Om...?" Rion berbisik tapi masih kedengeran sama kita-kita.


"Ada. Sudah om belikan sesuai request Rion," pak Karan balas berbisik dan menunjukkan sebuah box mainan.


"Yeess! kita main disana saja, Om. Ayoo, Om..." Rion memaksa pak Karan untuk menjauh dari sofa.


Pak Karan pun memenuhi ajakan Rion. Mereka berdua duduk di lantai dan membuka kotak mainan.


Sedangkan pikiranku berkelana, teringat satu hal yang disampaikan bu Tiwi guru Rion di sekolah.


"Begini Bu Reva. Sebenarnya Arion ini anak yang cerdas, bahkan kemampuannya melebihi anak-anak yang lainnya. Dia menyenangkan dan juga selalu ramah dengan teman-temannya. Hanya saja, Arion ini tipe anak yang sulit sekali mengendalikan amarahnya. Emosinya suka meledak-ledak. Ketika dia senang, maka dia akan mengekspreksikan itu maupun ketika sedih dan marah. Mungkin ibu bisa mencoba bicara dari hati ke hati dengan Arion, supaya tidak melakukan hal-hal yang membuat dia semakin dijauhi teman-temannya..." ucap ibu Lula.


"Kenapa anak saya sampai dijauhi teman-temannya? bukankah dia anak yang menyenangkan?"


"Arion itu sering bicara bahkan tertawa sendiri, itu yang membuat Arion dianggap aneh oleh teman-temannya di kelas. Dan dia membalasnya dengan mencorat-coret baju temannya dengan spidol. Saya harap ibu bisa memberikan pengertian pada Arion," ucap bu Tiwi waktu itu.


Dan sekarang aku melihat Arion sedang seru bermain dengan pak Karan, beberapa kali dia melempar senyum ke arahku sambil menunjukkan mobil yang didapatkannya.


"Nggak mungkin Arion bisa melihat makhluk halus," gumamku.


Aku berbalik, berjalan kembali ke arah sofa. Kemudian aku duduk di samping Ridho yang menyambutku dengan senyuman, "Ya tuhan, aku mohon lindungi Arion..." ucapku dalam hati sambil melihat ke arah anakku yang tengah bermain dengan mainan barunya.

__ADS_1


----------Tamat----------


__ADS_2