
"Tersenyumlah, tidak ada permainan dengan muka kecut seperti itu," ucapnya mendekat, dan aku semakin mundur.
Nih setan masa kecilnya kurang bahagia, kok ya datengin orang, nakutin orang cuma mau ngajak main. Nggak banget sumpeeh.
"Pergilah, sekarang bukan waktunya untuk bermain," aku berjalan mundur.
"Kata siapa? bahkan kita bisa bermain bertiga dengan makhluk kecil yang ada di dalam perutmu," katanya.
"Jangan macam-macam...! atau aku binasakan kau saat ini juga," aku berjalan sedikit demi sedikit mencoba untuk kabur. Menghindari makhluk dengan rambut yang menjuntai ke lantai.
"Aku sudah menunggu waktu yang cukup lama untuk hari ini, hahahaha," kata si Etan nggak ada akhlak.
Gerakanku nggak sebebas dulu, aku harus berhati-hati. Bahkan saat ini perutku kerasa sakit, "Akkh,"
Tangannya yang pucat dan penuh bercak merah mencoba menyentuhku, "Akhhhh, pergiii! atau aku pelintir tanganmu itu!" aku menghindar dan mencoba untuk keluar dari rumah.
Ceklek!
Ceklek!
Kunci pintu berputar sendiri, "Nggak nggak boleh! aku harus keluar!" aku mencoba membuka lagi kunci pintunya tapi susah.
"Hantu sialan emang," aku mencoba membuka tapi kunci ini seperti nggak mau bergerak, meskipun aku berusaha sekuat apapun.
Dia mendekat, "Baiklah, kita akan bermain lagi. Bulan terang benderang, waktunya untuk ... bersenang-senang," ucapnya.
"Bersembunyilah, aku akan berjaga. Dan ketika aku berhasil menemukanmu. Kau dan bayimu akan selamanya bersamaku, hahahhaaha..."
"Jangan mimpi," aku setengah berlari menuju ruang dapur, disana ada pintu yang menuju keluar. Aku berharap aku bisa lewat situ buat keluar.
"Hiji..."
Ceklek?!
Ceklekk?!
"Astaga, kok susah banget sih?!! hhh ... akhh?!" aku dapet satu tendangan dari dedek bayi yang asa di dalem perutku.
"Tenang, Sayang. Mami bakal cari jalan keluar, supaya kita bisa selamat dari makhluk jahat itu. Ya allah, Mas. Kamu dimana sih?" aku masih mencoba buat ngebuka kunci yang nggak tau kenapa kayak nggak bisa diputer gitu.
"Duaaa," ucap si Etan.
Aku keluar dari dapur menuju kamar mbak Rina. Paling nggak aku harus bersembunyi sampai Ridho atau adek sepupu dateng.
"Tiluuuuuu..." ucap si Etan yang masih ngitung.
Nyampe di kamar mbak Rina aku langsung kunci pintu dengan pelan-pelan.
"Hhh, semoga tuh Setan nggak bisa nembus nih pintu," aku mundur dan mencari dimana aku bisa sembunyi.
Di kolong tempat tidur, "Nggak bisa, aku nggak bakal muat masuk ke sini," aku menyadari perutku yang buncit.
"Opaaaaat," seru si Etan dari arah ruang tamu.
__ADS_1
Aku ngeliat ada alqur'an kecil punya mbak Rina, "Rajin ngaji juga nih orang,"
Aku ambil alqur'an itu dan masuk ke dalam lemari pakaian, di bagian yang untuk menggantung pakaian. Masih untung nih lemari ada celah-celah udara jadi walaupun aku masuk nggak begitu engep. Aku peluk alqur'an itu di dadaku, "Ya Allah lindungi aku,"
"Limaa," ucap si Etan. Suaranya masih kedengeran walaupun cuma sayup-sayup.
Dan alhmadulillah ada suara adzan berkumandang, paling nggak aku bisa bernafas lega karena seketika rumahku terasa hening. Tapi aku masih bertahan di dalam sini, walaupun kakiku rasanya kram, "Awwwkh," aku mencoba menahan rasa sakit.
"Keluar nggak ya?" aku nggak mungkin ngumpet disini terus. Mumpung ada adzan magrib, mungkin tuh setan ngilang karena saking panasnya.
"Tapi kalau aku keluar, aku harus keluar dengan cepat, nggak boleh pake lama," aku udah nggak kuat banget dengan posisi jongkok kayak sekarang.
"Allahu akbar, Allahu akbar," suara adzan masih terdengar.
Aku keluar dari dalam lemari, "Hhh ... hh ... astaga, engep juga ternyata sembunyi di dalam,". Aku taruh kembali alqur'an mbak Rina di tempat semula. Aku takut kalau alqur'an ini nanti jatuh.
Aku buka pintu kamar dan ngeliat sekitar, "Oke kayaknya aman,"
Perlahan mataku menelisik keadaan sekitar, sementara kaki ku terus aja melangkah menuju ruang tamu, aku berusaha untuk kabur. Tapi kedengeran ada suara iqomah.
Dan ketika aku berjalan juga beberapa langkah suara si wanita kembali terdengar.
"Hayu urang neruskeun kaulinan ieu (ayo kita lanjutkan permainan ini). Genep ... tujuh ..."
"Sialan emang, dia masih aja ngelanjutin permainan konyol itu?!!" aku jadi agak gugup.
"Huufh," aku atur nafas dan usir ragu dan tetep jalan menuju ruang tamu . Udah terlanjur aku keluar juga.
"Bodo amat lah, aku harus cepat keluar dari rumah sebelum dia nangkep aku,"
"Anjir, dia masih aja ngitung," aku percepat langkahku walaupun aku harus menyanggah perutku yang besar ini dengan tangan.
"Salapan ... sapuluh..."
"Dimana anjeun ayeuna? (Dimana kamu sekarang?)" ucapnya lagi dengan suara yang menakutkan.
Aku nggak begitu ngrewes apa yang dia ucapin. Sekarang aku udah nglewatin ruang tengah dan sekarang kakiku melangkah ke ruang tamu. Tapi tiba-tiba aja dari arah belakang aku ngeliat ada bayangan yang lewat.
"Hahahahha," wanita itu tertawa, suaranya mirip-mirip wanita sikopet.
Aku berhenti dan nengok ke belakang, keringat udah mengalir dari keningku, "Huufhh," aku madep ke depan lagi, dan lanjut jalan.
Tapi bayangan itu lewat lagi, tapi kali ini aku nggk mau nengok.
"Kita harus cepet keluar dari sini," aku ajak ngomong calon anakku di dalam perut. Mungkin efek jongkok terlalu lama, sekarang perutku rasanya sakit banget.
Aku yang ngerasa nih hantu bakalan muncul dam bikin onar maksain diri buat jalan cepet sambil tanganku nyanggah perut.
Ceklek
ceklek
Suara kunci pintu dibuka.
__ADS_1
"Itu pasti Ridho udah pulang," aku mempercepat jalanku.
"Mau kemana? permainan kita belum selesai," Ada satu tangan yang menyentuh pundakku.
Aku cuma diam mematung, "Huufhh, hhh ... hhh," rasa dingin dari tangan itu menjalar ke pundak dan leherku.
Ceklek!
Ceklek!
"Revaaa," Ridho memekik, saat melihat aku yang berdiri nggak jauh dari pintu.
"Ri-dho..." ucapku lirih, aku geleng kepala.
Ridho yang datang bawa martabak pesenanku pun langsung naruh bungkusannya di meja dan datang menghampiriku, dengan mulut yang mat komat kamit.
"Pergi makhluk jahanam?!" dia tarik tangan yang tadi nempel di pundakku.
"Aaaaakkkkhhh," wanita itu memekik.
"Aku akan datang lagi, hahahhaha," ucap wanita itu sebelum menghilang.
"Revaaaa?!!" seru suara dari pria yang datang dari arah pintu depan.
"Pak Karan," gumamku lirih.
"Reva kamu, kamu tidak apa-apa? dimana makhluk itu?" ucap adek sepupu yang pegang kedua bahuku.
"Dia sudah pergi," kangmas nyingkirin tangan adek sepupu.
"Lagi pula kenapa anda bisa kesini?" Ridho natap pak Karan sinis.
"Reva menelfonku dan minta aku datang kemari, ada satu sosok yang mengganggunya," kata pak Karan.
"Bagaimana bisa kamu meninggalkan istrimu yang sedang hamil sendirian di rumah, Ridho?!!!" lanjut pak Karan.
"Akkh," aku memekik, perutku sakit, "Udah deh, nggak usah pada ribut sekarang,"
"Aku yang minta tolong ke pak Karan buat dateng kesini, karena apa? kamu nggak pulang-pulang. Sementara aku cuma berdua sama tuh setan," aku emosi.
"Bukannya ada mbak Rina?"
"Mbak Rina pulang kampung. Dan aku nggak bisa ngehubungin kamu, karena hape kamu ada sama Rimar," aku kasih hape ke tangan kangmas.
"Maaf, Sayang. Aku---" Ridho yang mau ngomong aku hentikan dengan angkat tangan kanan. Aku lagi nggak mau denger penjelasan.
"Akkh," aku jalan memegang perutku.
"Kamu nggak apa-apa? kita ke rumah sakit," kata pak Karan yang nahan aku yang baru jalan beberapa langkah.
"Nggak usah, aku cuma butuh istirahat aja," ucapku yang melepaskan tangan pak Karan.
Ridho yang melihat aku yang kesusahan langsung ngegendongku, "Aku anter ke atas," katanya.
__ADS_1
Aku no komen, nggak ngeiyain dan nggak juga nolak. Sementara pak Karan cuma ngeliatin aku yang semakin menjauh.
"