
Kok aku nyium bau singkong bakar lagi. Jangan-jangan ada yang jualan depan rumah. Buru-buru aku taruh nampan yang berisi cangkir jahe anget di meja ruang tamu dan aku ngeloyor mau buka pintu.
"Mau kemana?" tanya Ridho.
"Mau nyari kang singkong!"
"Ngaco, kang sikong dari mana coba?" Ridho nyamperin aku yang udah buka pintu depan dan celingukan nyari tuh abang-abang tapi nggak ada gaes!
"Kok nggak ada?" aku berbalik dan ngeliat ke Ridho.
"Udah maelm, jangan buka pintu, lagian di luar masih hujan..." kata Ridho, sambil mutup pintu.
Sedangkan Mona dan Bara ngeliat kita berdua kayak orang bingung.
"Kenapa sih, Mbak?" Mona nanya.
"Tadi aku nyium bau singkong bakar gitu, Mon!" kataku sambil duduk berhadapan dengan dua anak muda ini yang lagi saling pandang.
"Maaf, Mbak. Setau saya kalau cium bau singkong bakar malem-malem itu berarti ada makhluk halus yang berkeliaran," kata Bara, aku ciut langsung.
"Makhluk halus? masa sih?" aku mulai ngusap tengkuk. Ridho duduk disampingku dan ngusap punggungku perlahan.
"Dimana pun pasti ada makhluk kayak gitu, selama mereka nggak ganggu ya udah nyantai aja. Nggak usah terlalu dipikirin, yang penting jangan lupa berdoa..." kata Ridho yang kini malah nyeruput jahe anget.
Nggak lama, hujan berhenti. Bara pamit pulang. Sekarang di kontrakan ada aku, Ridho dan Mona. Sedangkan waktu sudah menunjukkan jam 12 malam, Mona masih ngerjain tugas di ruang tengah sambil nyalain tivi. Sedangkan aku sama Ridho lagi di dapur, kita lagi makan tengah malam.
"Jadi kita udah resmi pacaran kan?" tanya Ridho ditengah sesi makan mie instant.
"Hu'um..." aku jawab malu-malu. Ridho ngeliat aku sambil senyum, sedangkan aku udah nggak tau pipi udah panas karena asap dari kuah mie yang masih panas atau emang dasar nggak kuat liat muka Ridho yang bikin aing klepek-klepek. Udah ambigu ini mah!
"Ciyeeeee yang udaaaaah jadiaaaaaaaaan!" Mona tiba-tiba teriak dari ruang tengah.
"Berisik, Mon!" celetuk Ridho.
"Makan-makan, dong! jangan diem-diem bae! nggak berkah tuh," Mona gantian nyeletuk.
"Nih makan-makan, makan mie instant! kalau mau sini mas buatin!" kata Ridho.
Aku nggak habis pikir, ini kaka adek udah kayak temen akrab. Bisa-bisanya si Mona ngeledekin kangmasnya.
Dan ya malam ini, Ridho balik ke kosannya. Walaupun aku masih agak ketar-ketir tentang gangguan-gangguan yang harusnya udah nggak terjadi lagi.
"Aku balik, masalah Mbak Sena jangan kamu pergi sendirian ke rumah Karla. Inget, jangan nekat. Nanti aku anter kesana," kata Ridho waktu udah buka pintu depan.
__ADS_1
"Iya, iya ... lagian aku juga nggak tau pasti alamatnya dimana,"
"Maksudku jangan kesana sama pak Karan, dia kan pernah jemput kamu tuh..." Ridho nambahin.
"Iya iya nggak!"
"Eh tapi kalau mau benerin muka nggak apa-apa, kan? bocel kek gini mana cantik, dia juga kan udah janji mau benerin muka aku sampai balik lagi seperti semula," katalu nunjuk pipi.
Cup.
Ridho malah nyium.
"Boleh. Ya udah aku balik, kamu kunci pintunya..." kata Ridho yang lari kecil di luar rumah, dia nengok sebentar lalu pergi ke kosannya. Sementara aku yang dapet serangan mendadak cuma bisa senyam senyum dan nggak lupa buat langsung nutup pintu, pergi ke kamar.
Paginya, Mona udah bangun. Emang calon adek ipar kalau masalah bangun pagi udah the best banget lah. Nggak kayak aku sama Ravel yang kalau molor udah kayak beruang lagi hibernasi.
"Hmmm baunya udah ada makanan, rajin amat anak perawan!" kataku yang baru melek dan ngeloyor ke kamar mandi.
Aku buru-buru mandi, ketemu air dan sabun. Biar wangi kayak bunga setaman.
Pas mau ambil baju aku baru nyadar, " Hari ini kan udah resmi jadi beban negara dan keluarga, kok bisa lupa sih!"
Aku taruh lagi blazer dan blouse yang biasa aku pakai buat ngantor dan keluar kamar dengan pakaian santai.
"Masak apa, Mon?" aku nanya, tapi yang aku temui di dapur bukan Mona tapi abangnya.
"Loh, aku kira Mona yang lagi masak," aku samperin itu abang pacar yang lagi nuangin kecap ke nasi gorengnya.
"Udah keburu ngampus, tadi cuma makan roti sama susu. Katanya mau ada presentasi kelompok, jadi harus berangkat pagi-pagi..." kata Ridho yang matiin kompor.
"Kita sarapan dulu," kata Ridho. Aku inisiatif ambil piring, dan ternyata di meja udah ada dua mug teh panas.
Nasi udah di piring, masih keluar asapnya yang wangi dan bikin kruyukan. Kalau tiap hari begini mah bisa sejahtera hidupku nggak perlu mikirin makan apa hari ini.
"Pagi banget kesininya," aku mulai menyendokkan nasi.
"Doa dulu, Va! biar setan-setan nggak ikut makan nasi yang ada di piring kamu itu!" Ridho ngingetin.
Bener juga apa yang mas pacar bilang, emang kalau udah kruyukan dan liat nasi bawaannya nggragas dan pengen langsung ngembat aja gitu.
Selesai doa, kita berdua makan dengan tenang. Eh, tapi baru juga berapa suap. Itu pintu ada yang ngetok, udah gitu nggak sabaran lagi.
"Biar aku yang buka. Siapa sih yang pagi-pagi dateng, kayak nggak ada kerjaan aja!" Ridho ngomel sambil jalan ke depan.
__ADS_1
"Yang nggak ada kerjaan mah kita, Dho..." ucapku lirih nyautin omongannya Ridho.
Nggak lama, Ridho balik lagi ke ruang makan. Tapi dia nggak sendiri, ternyata dibelakangnya ada mantan bos kita.
"Pagi-pagi nyatronin kontrakan mantan karyawan, memangnya ada apa Pak?" aku nanya waktu nih bos gahar udah duduk di salah satu kursi.
"Mau bawa kamu benerin muka, sesuai janji saya..." kata pak Karan.
"Sepagi ini?" aku ngelirik Ridho sekilas yang mukanya mendadak bete.
"Memangnya tidak boleh?" pak Karan balik nanya.
"Ya aneh aja gitu, Pak!"
Dan ya sebagai tuan rumah, nggak enak dong ya kita berdua makan tapi yang atu melongo.
"Sudah sarapan belum, Pak? kalau belum saya ambilkan nasi..." kataku nawarin.
"Saya sudah sarapan. Kalian saja, saya tunggu di luar. Selesaikan sarapanmu dan cepat bersiap," pak Karan bangkit dan berjalan keluar.
"Astaga, tiap hari galaknya konsisten!" gumamku, sedangkan Ridho natap aku yang ngeliat kemana arah pak Karan jalan.
"Kenapa?" aku nanya ke Ridho.
"Nggak ada. Lanjutin makannya, biarin dia nunggu!" kata Ridho.
Sarapan udah selesai, aku bantuin Ridho beres-beres perkakas dapur yang kotor. Baru aku ganti baju dan moles dikit wajah yang emang dari sononya paripurna tiada tara.
Dan saat aku buka pintu, ternyata ada Ridho yang berdiri di depan kamar.
"Astaga, ngagetin tau, nggak sih?" aku ngelus dada.
"Udah siap?" tanya Ridho.
"Udah," aku jawab agak bingung soalnya nih orang main narik tangan aing buat ngikutin dia jalan.
Kita berdua keluar dan pak Karan udah berdiri dengan gagahnya di samping mobil. Kita berjalan mendekat.
"Masuk!" pak Karan gerakin kepalanya nyuruh aku buat masuk. Pak bos jalan muterin mobil dan duduk di kursi kemudi. Dan ketika aku mau buka pintu depan, tangan Ridho ngalangin.
"Kamu duduk belakang," dia narik aku dan bukain pintu bagian belakang. Aku cuma melongo.
"Saya ikut nemenin Reva! tidak apa-apa, kan?" Ridho main duduk aja di kursi depan, sementara pak Karan ngelirik dia antara suka dan tidak suka.
__ADS_1
...----------------...