Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Mowning Smile


__ADS_3

Aku melihat Ridho sedang berbincang dengan seseorang yang berdiri di samping mobil hitam mevvah.


"Siapa?" aku berjalan mendekat ke arah ayang.


Ridho yang menyadari itu pun nengok dan kasih mowning smilenya. Beuuuhhh, nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan wahai kaum rebahan? Pagi-pagi gini udah dapet vitamin C, 'cenyum'.


Tak!


Tok!


Tak!


Tok!


Aku datang dengan bakiak bak supermodel yang lagi run away di atas paving block teras kontrakan pun tersenyum meong.


Ridho kedipin satu matanya 'ting' aw aw aw awwwwrrgggh, kalem Reva please.


"Ehem, siapa Dho?" aku selipin rambut di telinga sambil ngelirik orang yang sedari tadi diajak ngomong sama Ridho.


"Orang suruhan mantan bos kita!" jawab kangmas.


"Ada pelu apa emang?"


"Katanya kamu sama Sena disuruh ikut buat general check up! abis dari hutan takut ada yang konslet..." kata Ridho.


"Listrik kali konslet! aku baik-baik aja, ingatanku masih bagus apalagi otak, otak aku ini masih cespleng, nggak ada masalah. Aku nggak mau check up!" aku nolak.


Bukan perkara gimana-gimana, aku cuma atut disuntik, gaes.


"Kalau mbak Sena mah monggo, dia yang pelu kayaknya. Kan dia ilang udah lama banget tuh, iya kan? bisa tuh diteropong saluran pencernaannya dan yang lain-lain," ucapku.


Orang suruhan pak Karan ini nahan ketawanya, apa muka ku ini keliatan banget orang yang lagi panik karena takut dienjus sama dokter dan kawan-kawannya? nggak kan?


"Kenapa mukanya, Mas? Masnya kok ngetawain saya? nggak sopan!"


"Kita yang nggak sopan! ada tamu nggak disuruh duduk malah dituduh!" celetuk Ridho.

__ADS_1


"Hemm..." si tamu malah jadi keki sendiri, dia garuk tengkuknya.


Tumben ini Ridho nggak emosi ketika ngadepin sesuatu yang berhubungan dengan pak Karan. Nyatanya kangmas malah nawarin orang suruhan pak Karan ini buat duduk di ruang tamu. Aku juga disuruh bikin kopi segala. Ya ampun aing udah kayak bini yang lagi disuruh sama suami.


"Silakan diminum," Ridho ngangkat atau cangkir buat ngasih kode buat si tamu juga melakukan hal yang sama.


"Sini dulu, Sayang..." kata Ridho.


Orang suruhannya pak Karan auto nggak jadi minum, dia nengok ke arah Ridho.


"Maksud saya Reva!" Ridho nengok ke arahku.


"Masa saya manggil mas nya, Sayang kan nggak mungkin. Saya masih di jalan yang lurus kok!" ucap Ridho mengusir prasangka di pikiran orang yang ada di hadapan kita.


"Ayo diminum, keburu disrobot laler!" lanjut Ridho.


Mendengar kata laler, orang itu langsung cepat-cepat menyeruput kopinya. Lalu meletakkan kembali cangkir yang baru setengah diminumnya di atas meja.


"Jadi bagaimana, Nona Reva jadi ikut saya ke rumah sakit? karena ini perintah langsung dari bos," kata si mas badan keker yang rapi dengan setelan jas hitam.


"Oh ya saya Arjun, salah satu orang kepercayaan tuan Karan. Saya harap Nona segera bersiap dan bersikap kooperatif!" ucapnya lagi formal.


"Dho bilangin napa!" ucapku memelas.


"Reva nggak mau! bilang sama bosnya kalau kakak sepupunya yang cantik ini lagi pengen istirahat di rumah," kata Ridho dengan wibawanya.


"Lah, kalau kamu nggak mau kesana, itu mbak Sena periksa sendirian gitu?" Ridho auto nengok aku.


"Oh iya yah? nggak mungkin dia sendirian ya?" gumamku. Aku mempertimbangkan gimana baiknya, yang intinya aku nggak mau diperiksa darah atau apapun ituuuh.


Lagian masih terngiang kejadian aneh-aneh di rumah sakit dan sejenisnya, jadi aku males buat kesana. Aku lagi pengen menikmati kehidupan seperti orang normal pada umumnya.


"Kalau begitu Nona sendiri saja yang bicara dengan tuan!" ucap Arjun nggak mau kalah.


"Gimana nih, Dhooo?" aku senggol Ridho.


"Kita kesana tapi buat nganter mbak kos kamu aja. Kamu nggak usah takut ntar babang Ridho Menawan yang ngadepin dia!" kata Ridho nepuk dadanya.

__ADS_1


"Ya sudah, tunggu disini. Biar kita siap-siap..." kataku yang sebenernya masih pengen rebahan di kasur. Pokoknya lagi pengen glosoran di kontrakan.


Aku dateng ke kamar buat bilang secara pelan-pelan sama mbak Sena. Dia sih kayaknya masih belum begitu baik ya keadaannya. Mungkin kalau mbak Sena lebih tepat kalau nggak general check up tapi harus dirawat biar bisa dipantau keadaannya.


Mbak Sena sih kayaknya setuju-setuju aja gitu mau diperiksa kesehatannya. Ya udah kita mulai bersiap. Betewe si Mona ternyata udah berangkat dari jam 7, ada kelas pagi dia. Emang adik ipar aing yang satu itu anaknya rajin banget. Gimana nggak rajin dia siapin dulu makanan buat abang dan calon kakak ipar yang cantik jelita. Mona paham banget kalau aku gratakan di dapur, yang ada bukan makanan yang tersaji tapi bencana yang terjadi.


Si Arjun nungguin di depan, sambil kebal kebul. Mungkin dia sekalian lagi nyiapin batin buat ngangkut penumpang yang ajaib ini.


Ridho nyuruh aku buat sarapan dulu sebelum pergi. Nggak enak juga kan mau pergi tapi perut kosong. Di meja makan juga bubur buat mbak Sena, kalau itu sih Ridho yang beli kayaknya. Kan bikin bubur itu lama.


Sat set sat set setelah aku sarapan bareng ayang dan mastiin kalau mbak Sena juga udah makan barang sesendok dua sendok.


Aku pun langsung tancap lenongan sana sini, biar keliatan tambah seger gitu. Dan akhirnya aing udah siap buat nganterin mbak Sena ke konser musik, eiits ke rumah sakit.


"Mbak Sena, kita ke rumah sakit ya?" ucapku pelan.


"Iya," ucap mbak Sena singkat.


"Ya udah, berdiri pelan-pelan ya. Aku bantu..." ucapku.


"Makasih..." ucap mbak Sena.


Kalian yang nggak paham jangan ngehujat mbak Sena, dia begini kan karena kondisinya belum stabil. Jadi ngomongnya dikit-dikit, maka dari itu kita ke rumah sakit buat ngecek semuanya. Syukur-syukur mbak Sena baik-baik aja dan cuma butuh istirahat.


Aku ikhlaskan kangmas ngebantu aku buat mapah mbak Sena, lebih tepatnya pegangin tangannya aja sih. Sedangkan badannya aku yang nanggung.


Baru juga nutup pintu kontrakan, langkah kita terhenti saat satu mobil datang menuhin teras yang luasnya nggak seberapa.


"Siapa, Dho?" tanyaku pada kangmas tercintaaaah.


"Nggak tau. Kamu nggak ada sangkutan sama pinjol kan?" Ridho liatin muka aing.


"Nggak, yah! enak aja! aku mah idup seadanya, gaya juga karena ada duit. Cuma sekarang aja lagi kere..." kataku membela diri.


Mbak Sena sampe geleng-geleng kepala. Mungkin kuping dia mendadak sakit abis denger suaraku yang cetar membahenol.


Pintu mobil terbuka. Dan menampilkan satu sosok yang bikin aku dan Ridho naikin alis bersama-sama.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2