Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Bikin Emosi


__ADS_3

Paginya, uh hape bunyi mulu. Dari siapa lagi kalau bukan dari Mama dan Ravel yang gantian nelponin mulu.


"Jadi mbak masih hidup?" pertanyaan Ravel bener-bener bikin gedeg banget. Sengaja aku loadspeaker. Disini ada Ridho juga yang daritadi cengar cengir dengerin obrolan aku sama Ravel.


"Heh, kamu pengen mbak mati cepet apa gimana? kakak sendiri selamet dari musibah kok malah ditanya kayak gitu?" aku merong-merong.


"Ya bukan gitu maksud aku, Mbak. Aku cuma shock banget denger berita semalem,"


"Shocknya telat!"


"Ya kan kerjaan aku kuliah mbak bukan mentelengin tipi, itu juga pas banget liat breaking news, eh kok kenal sama mukanya mbak pas dislametin dievakuasi,"


"Emang yang kesorot muka siapa aja?" aku penasaran. Ridho naikin alisnya.


"Kayaknya cuma mbak aja, tapi diberita kok ada dua orang penyewa kapal ya yang dievakuasi. Emang mbak lagi sama siapa tuh di kapal?" Reva mencecar aku dengan pertanyaan.


"Sama temen," aku tempelin jari di mulut Risho pas mau protes. Aku gelengin kepala.


"Jauh amat mainnya sampai ke tengah laut segala?"


"Ya lah, duit mbak kan banyak. Lagi suntuk pengen liat laut, ya nyewa kapal pribadi, dong!" sahutku.


"Mahal-mahal nyatanya, bocor juga!? mending naik jukung aja sekalian yang murah meriah!" sindir Ravel.


Emang nih bocah nggak ada akhlaknya bener deh, mbaknya abis selamet dari maut malah diledek kayak gitu. Pengen aku plintir kupingnya


"Kamu nelpon kalau cuma mau bikin emosi mending mbak tutup deh!" aku mulai kesel ama nih anak.


"Yeeee, sabar dong! jangan marah-marah. Ntar cepet tua, Mbaaak. Berhubung aku adek yang baik, hari ini rencananya aku sama mama mau nengokin mbak..." kata Ravel.


"Nggak usah, kamu kesini malah bikin mbak tambah darting, udah kamu baek-baek aja di kosan. Nggak usah kesini, mama juga nggak usah. Mbak juga besok udah boleh pulang,"


"Dih mau dijengukin emak sama adek sendiri kok nggak mau, dasar aneh! pantes jadi perawan tua," gumam Ravel.


"Apaaa kamu bilaaaang...?!!!!!" dadaku naik turun, emosiiii jiwa dan raga.


"Nggak, nggak, mbak! ehm, ya udah deh, kalau mbak nggak mau dijenguk nggak apa-apa, mbak cepet sembuh ya, daaah!" Ravel nutup telpon duluan.


Tutt ... tuuuut!


"Dasar bocahhh naakaaaaal!" aku jitak hapeku sendiri.


Sedangkan Ridho ngambil benda yang tadi jadi sasaranku.

__ADS_1


"Hape mggak salah malah dijitak! kebiasaan jelek tau!" ucap Ridho.


"Abisnya tuh bocah tambah gede tambah nyebelin, tau nggak siiiih?"


"Ya emang bentukannya kayak gitu, mau gimana lagi?" kata Ridho.


"Daripada sebel mulu, mending kita pacaran, Va..." Ridho naik turunin alisnya.


Aku kruwes mulutnya, "Hiiiih, mikirnya kesitu mulu deeeeeehhhh!"


"Ya ampun, aku salah apa coba? ini tuh aset berharga," Ridho nunjukin bibirnya.


"Pwiiihhh, aset..." aku nahan ketawa.


"Ck, semalem aja kamu sosorin mulu! aku kan nggak bisa nolak ya, namanya orang lagi kangen kan..."


"Isssshh, nggak ya, cuma sekali dan itu khilafff!" aku mengelak.


"Nggak usah ngegas gitu dong, jadi ketauan kan ngebetnya!" kata Ridho.


"Ihhh, apaaan siiih? sana sana pergi, aku mau istirahat!" aku kibasin tangan ngusir nih orang.


"Wanita itu suka ngomong bertentangan dengan hatinya sendiri ya? nyuruh aku pergi, padahal dalam hati pengen banget aku tetep disini. Ck, kalian makhluk yang sulit dimengerti," kata Ridho.


Ridho sengaja mendekat, dan kedua tangannya bertumpu pada ranjang yang aku pasien yang aku tidurin.


"Aku cuma sedikit mencuri ilmunya, gimana caranya supaya perempuan yang aku suka bisa luluh dan balik lagi sama aku," ucapnya dengam sinar dan tatapan yang berbeda.


Aku cuma bisa menelan salivaku engan susah payah.


Ridho membelai lembut jidat nong-nongku yang dikasih korden, poni maksudnya.


Dan kemesraaan inii cepet banget berlalu, kenapa? karena si asisten seksoy itu nelpon ke hapenya Ridho, dia sempet nunjukin siapa yang ngehubungin dia pagi-pagi kayak gini.


"Aiiishhhhh! menyebalkan!" Ridho mengusap wajahnya kasar sebelum dia ngangkat panggilan itu.


"Ya, haloooo?" sapa Ridho dengan wajah suntuk.


"Sshhh, kamu aja sih, Mar! biasanya juga sendirian kan? nggak harus sama ku juga kan? yakin aja udah, mereka bakal nyetujuin tuh kontrak! gimana, gimana? pak Bagas yang minta? ck, aku masih sakit loh, Mar! masa harus aku juga sih yang kesana?" Ridho nego-nego sambil sesekali ngelirik ke aku.


"Iya iya udah! aku siap-siap dulu, kamu tunggu aja setengah jam lagi," ucap Ridho yang kemudian nutup telponnya.


"Kenapa?" aku nanya, padahal udah jelas Ridho disuruh nemuin client.

__ADS_1


"Biasa pak Bagas ngasih kerjaan mendadak!" ucap Ridho yang duduk di tepi ranjangku.


"Ya udah, cepetan pergi! jangan ngecewain bos!" kataku.


Ngeliat Ridho kayak gini, aku jadi inget si Arlin kalau lagi aku suruh-suruh.


"Ya udah, aku pergi dulu. Kamu jangan kabur dari tempat ini, karena nanti aku susah nyarinya," ucap Ridho yang langsung membungkam aku dengan congornya, nggak kasih aku waktu buat ngejawab.


Dan beberapa saat, dia memberi jarak wajahnya.


"Aku bakal cepet balik lagi," kata Ridho yang kemudian bangkit dan berjalan keluar. Dia ngelempar senyuman manisnya sebelum menutup pintu ruang perawatanku.


"Astagaaaaaa, belajar dari mana dia?" aku geleng-geleng kepala dengan kelakuan Ridho.


Dan hal yang paling membosankan, ya kayak gini rebahan kayak orang nggak guna. Mau nelpon siapa juga bingung. Karena aku kan nggak ada temen, nggak tau kenapa semenjak pertemanan aku udah berakhir sama Karla, aku jadi males buat deket sama orang. Maksudnya dalam artian, temen cewek yang buat haha hihi ngerumpi bareng gitu.


Kalau dulu kan ada Mona, jadi lumayan tuh ada temen ngobrol. Nah, sekarang? aku cuma bisa ngobrol sama tembok. Sekalinya kenalan, sama tetangga itu pun cowok.


Ya udah terima nasib kalau begini mah.


Drrrtt...


Drrrtt..


"Ya, halo?" ucapku saat aku daoet telpon dari pak Karan.


"Sedang apa?" tanya adek sepupu.


"Lagi rebahan sambil ngitungin utang, eh canda utaaang!" kataku.


"Sebentar lagi aku kesana. Aku bawakan makanan dan oleh-oleh yang sempat aku beli dari Jerman yabg belum sempat aku berikan," kata adek sepupu.


"Atuuur aja, Pak. Atuuur..." ucapku.


"Stop.panggil saya, Bapak! kamu ini susah sekali kalau dibilangin!"


"Tapi aku nyamannya mangg gitu, dari pada aku kamu malah aneh. Kalau nggak dedek sekalian, lebih nyaman..." ucapku.


"Terserah kamu lah! tunggu aku, aku akan kesana. Oh ya, apa ada yang kamu inginkan lagi?"


"Nggak ada,"


"Baiklah, sampai ketemu 30 menit dari sekarang," kata pak Karan.

__ADS_1


__ADS_2