
Baru juga kepala mau diangkat, tiba-tiba jas pak Karan mendarat di muka aing.
"Jangan berisik, pakai itu sebagai pengganti bantal!" kata pak Karan.
"Aaaihhh!" aku mengambil jas itu dengan muka bete. Gagal deh aing kremes-kremesan sama Ridho, mesra-mesraan maksudnya. Ridho yang tadinya nawarin tangan mendadak ngelipet tangannya lagi, liat aku sambil nahan ketawa.
Aku bangun dan ngelipet jas yang pernah aku pakai itu dengan kesal. dan menaruhnya buat nyangga kepalaku yang sangat berharga ini.
Sedangkan pak Karan tidur menyamping menghadap pintu tenda yang udah di tutup rapat.
Bantal udah dapet, walaupun nggak empuk, sekarang aku ngerasa dingin banget. Nggak ada selimut, aku lihat Ridho pkaia jaket, Karla juga. Nah aku pakai baju doang kayak gini.
Ngeliat aku yang gelisah mulu, Ridho jadi nggak bisa tidur kan, "Ada apa lagi?" bisik Ridho.
"Nggak bisa tidur..." jawabku yang juga berbisik.
"Kan udah ada bantal, terus apa lagi?" tanya Ridho yang udah gemes banget kayaknya.
"Dingiiiin!"
"Meremin matanya, jangan pikirin dinginnya..." kata Ridho.
"Nggak bisa, udah dicoba..." aku tidur nyamping kayak udah jumbo sambil ngeliat Ridho.
Dia julurin lagi tangannya terus dia bilang, "Jasnya buat kamu pakai selimutan, kepala kamu taro disini, terus cepetan tidur karena aku udah ngantuk," dia nepuk lengannya.
Aku pun menurut, aku ambil jas tadi terus buat nyelimutin sebagian badan aku dan aku jadiin lengan Ridho bantal. Aku yakin nih Karla kalau ngeliat bisa auto pingsan, secara kan dia ngebet banget sama Ridho. Ah, kasian sih. Tapi mau gimana lagi.
Baru juga mau merem, aku ngerasa ada orang yang lalu lalang disekitar tenda. Aku goyangin badan Ridho, nyoba bangunin nih orang.
"Dho, kayaknya ada yang lagi diluar tenda, deh!" aku takutbdan semakin mepetin badan aku ke Ridho. Badanku otomatis nyingkirin tas gede yang dari awal jadi pembatas.
"Dhoooo, aku takut, Dho..."
Ridho kayaknya udah capek banget, aku bangunin tapi nggak bangun-bangun.
Kresss.
Kreeees.
__ADS_1
Suara langkah kaki terdengar lagi, aku makin mepet bahkan aku sembunyi di dadanya Ridho yang anget. Kayaknya aku doang yang nggak bisa tidur, yang lain mah udah pada terbang ke alam mimpi apalagi si Karla.
Aku nyoba meremin mata, nggak mau juga aku ketemu yang aneh-aneh. Tapi semakin dimeremin, aku makin nggak bisa tidur bahkan aku denger namaku dipanggil.
"Revaaaaaa!" bisik seorang wanita dari luar tenda.
"Astaghfirllah, astaghfirllah ... hussh, hush, pergi..." aku nyoba ngusir supaya tuh makhluk jangan manggil terus.
Di tengah hawa dingin anyes dan menakutkan ini kok ya aku nggak bisa bangunin si Ridho. Aku berbalik, bangunin si karet nasi warteg.
"La! Karla! anterin aku pipis!" aku goyangin badan Karla.
"Aaah, apaan, sih!" dia menepis tanganku, tapi aku nggak nyerah gitu aja. Udah diujung banget inih.
"Karla, bangun temenin. Aku mau pipis, aku udah nggak kuat!"
"Sana pergi aja sendiri!" Karla nggak bisa diharepin, pengen aku getok itu palanya pake hape. Sebelum aku pergi, aku pindahin tas gedenya Ridho mepet ke badan Karla yang dipojok.
"Pepetin aja nih orang di pojok, biar jangan nyari kesempatan sama Ridho!" aku ganjel badan Karla pake tasnya Ridho. Setelah beres aku pun mulai mengatur napas.
"Keluar, nggak, keluar, nggak, keluar, nggak, keluar..." aku ngitung kancing baju buat nentuin aku harus keluar atau nggak.
Sreeeeeettt.
Begitu tenda dibuka hawa dingin langsung menyapa tulang belulang.
"Punten, Reva yang cantik mau keluar tenda. Please jangan ngikutin, ya?" aku ngomong sendiri sambil bawa senter.
"Huuufh, dingin..." aku keluar antara takut dan butuh, tapi ya udah bismillah aja. Aku tutup pintu tenda lagi.
Pas aku keluar, aku ngeliat kayak ada tempat gitu, "Buat ngambil air deh!" aku ngambil kayak semacam wadah mirip batok kelapa.
Aku peluk badanku sendiri, mendekat ke arah air terjun buat ngambil air di tepian air terjun itu.
Bluuuupp!
Aku mengambil air buat mencuci wadah tadi, dan aku buang airnya. Setelah bersih aku ambil yang kedua buat aku bawa ke tempat yang dirasa aman.
"Disini aja udah," dan aku pun mengeluarkan air yang udah bikin penuh kandung kemihku.
__ADS_1
"Hah, leganya..." setelah selesai aku berniat ke tepian air terjun lagi, mau ambil air buat cuci tangan.
Dan ketika aku sampai di air terjun itu, aku ngeliat ada seorang perempuan dengan memakai kaos biru dan celana jeans yang sudah robek berjalan melewati air yang semakin dalam. Aku mendekat dan mengambil air satu batok buat mencuci tanganku sambil mataku tak lepas dari sosok wanita yang kini sudah menenggelamkan 3/4 tubuhnya di dalam air.
"Nggak mungkin Karla kan ya? dari bentukannya aja beda..." aku bergumam. Dan seketika wanita itu menoleh tepat mengenai cahaya dari senter yang aku pegang.
"Mbak Sena?" aku memekik nggak percaya.
"Nggak mungkin, aku pasti halusinasib lagi, nih!" aku kucek mataku, dan ketika aku buka nih mata aku masih bisa ngeliat sosok perempuan tadi yang aku kenal sebagai Mbak Sena. Dia tersenyum sambil terus bergerak bahkan berenang menuju air terjun itu.
"Mbaaaak, Mbakkk Sena!" aku teriak mencegah Mbak Sena untuk berenang lebih jauh.
Pas aku mau mendekat tiba-tiba ada tangan yang mencegahku. Tangan kecil yang dingin.
"Jangan dikejar," ucap suara anak perempuan.
"Hey, kamu!" aku nggak percaya ternyata yang disampingku ini hantu bocil.
"Itu curugna, kolamna aya dipeungkeureun curug eta..." ucap si bocil pakai bahasa sunda yang aku nggak ngerti artinya.
"Duh kamu ngomong apa, sih? aku nggak ngerti!"
"Itu air terjunnya dan kolamnya ada di belakang curug itu, Teh..." kata si hantu ini.
"Oh, maksud kamu aku harus berenang seperti tadi? seperti Mbak Sena tadi?" aku memastikan apa yang harus aku lakukan. Dan hantu perempuan itu mengangguk.
"Kolam itu ada jauh di bawah sana, Teh. Tidak mudah mencapainya, Teteh harus menyelam sampai menemukan satu batu yang cekung berbentuk seperti cangkang kerang, taruh disana dan lakukan dengan cepat..." kata si anak tadi, aku cuma melongo, mencoba mencerna apa yang dia omongin.
"Heh? kamu nggak lagi ngerjain aku kan? aku nggak bisa berenang, apalagi tahan napas!" aku ngomong jujur.
"Tidak bisa diwakilkan, kalian harus melakukannya bersama..."
"Kalian? kalian siapa maksudnya?" aku nggak ngerti nih ama si bocil.
"Salah satu keturunan dari Ilena," dan si bocil mendadak hilang gitu aja.
"Heh, ck kita kan belum kenalan bocil!" aku ngerasa nih bocil suka banget muncul dan ngilang seenaknya sendiri.
"Reva! kamu ngapain disini?" Ridho menepuk pundakku.
__ADS_1
...----------------...