
Dan suara air mengalir dari kran akhirnya berhenti. Aku langsung bernafas lega, "Siapapun kamu, terimakasih..." kataku entah pada siapa.
"Mungkin setannya udah nembus ke kamarnya si bos! aku pengen denger jejeritannya pak bos kalau diganggu syaithonirrojim kayak gimana,"
"Aku harus nelpon si Bos galak," aku mengeluarkan hape dan nempelin di kuping.
"Ya ampun? apa dia udah molor? atau lagi ngumpet di selimut? maap ya bos, aku transfer hantunya ke kamar situ, siapa suruh tadi marah-marah mulu sama aku," ucapku yang masih mendengarkan suara nada tunggu.
"Aku nggak akan berhenti sebelum dia ngangkat telfon aku!" aku masih berusaha men-dial nomor pak bos.
"Astaga nggak diangkat juga! giliran dia yang nelfon terus nggak aku angkat aja, pasti marah-marah!" aku sebel banget pak Karan nggak mau angkat panggilanku. Gagal sudah mendengar suara teriakan pak bos.
Aku berdiri sambil mondar-mandir, seketika perutku kruyukan.
Perasaan dulu aku nggak begitu sering laperan, tapi semenjak gabung sama Mona kok selera makanku semakin meningkat. Kalau kayak gini terus, gimana mau daftar jadi model dan melepas tittle karyawan dari perusahaan Perkasa Group? Wis wis angel angeeeel.
Dan...
Drrrrrrt...
Drrrrtttt...
Hapeku bergetar dan berbunyi, aku swipe tanpa melihat siapa yang menghubungiku saat ini.
"Halo, pak Karan! Pak, kita pergi aja yuk, Pak..." aku nyerobot aja.
"Pak Karan? kamu dimana, Va? kamu lagi nggak sama pak bos?" suara pria lain yang ternyata bukan pak bos.
"Ridho?" ucapku lirih nggak percaya. Aku lihat layar hapeku, iya bener nomornya Ridho. Senyumku mengembang paripurna.
"Kamu dimana sekarang, Va? udah sampai kontrakan apa belum?"
"Aku di hot-"
"Dho? tolongin, rambutku nyangkut di anting-anting!" sayup-sayup suara si siluman boneka mampang kedengeran manja banget, sedangkan senyumanku langsung pupus.
"Bentar ya, Va! nanti aku telfon lagi!"
"tunggu, Dhooooooo!" aku teriak mencoba menghentikan Ridho agar jangan menutup panggilan itu.
__ADS_1
Namun...
Tuuuuuuuut tuuuut tuuuuuut
Panggilan sudah terputus. Aku menjauhkan hape dari telingaku.
"Karla lagi Karla lagi..." aku terduduk lesu, mataku berembun.
Dan aku jedotin hape di jidat nong-nongku, "Dasar guuuoooblook, tolol, pekokkk! kenapa aku angkat telfon dari Ridho. Reva Reva ... mbok otak jangan kamu taruh di dengkuuuuul!" aku jelas memaki diriku sendiri.
"Segitunya banget Ridho sama Karla. Sebenernya hubungan mereka sejauh apa, sih? aku tuh mendadak jadi nggak suka sama Karla tau, nggak? jadi sebel kalau denger suaranya manggil Ridho!"
Rasanya ada kembang api yang jedar-jedor daritadi di dalam sini, di hatiku. Aku duduk di ujung tempat tidur, air mata mendadak keluar. Nggak bisa lagi aku tahan.
"Ternyata sesakit ini ya diabaikan teman sendiri? Pak Karan emang galaknya ampun-ampunan, tapi lumayan aja kalau ada dia. Ya walaupun mulutnya itu sepedes cabe carolina reaper tapi kan seenggaknya aku nggak sendirian kayak gini... huhuhuhuhu..." aku nangis.
Tapi ternyata ada suara lain yang menjadi backsound pengiring tangisanku kali ini.
Krrruuuuuuuuuuuukkk
Krrruuuuuuuuuukkkk.
Suara itu berasal dari cacing di perutku yang nggak tau diri. Bisa mendadak kruyukan gitu gaes. Kan nggak tau sikon banget.
"Aku coba telfon aja apa ya? minta makanannya dianterin kesini,"
Aku melangkah dan mengangkat gagang telepon dan aku pencet ext. 01 untuk restoran.
Tuuuut tiiiuuuuut.
Eh, kok malah kayak bunyi kentut!
Eh, maap kelepasan pemirrsah, habis kujanan mungkin aing masuk angin. Okeh, sekarang aku ini beneran nih nelponin itu restoran hotel, tapi kok daritadi bunyinya tat tut tat tut mulu, ya.
"Baru jam segini, masa iya udah nggak bisa pesen? kalau pun nggak bisa kan minimal dijawab gitu loh! dasar pelayanan burukkk! nltar aku kasih bintang satu baru nyaho nih hotel!" aku ngedumel dan menutup gagang telepon dengan kasar.
Dan tiba-tiba lampu kamar, kedap dan kedip kayak mau mati gitu, fix hantunya marah aku mau kasih bintang satu buat nih hotel.
"Eh, aku tadi canda doang, kok! peace, ya? mana tega aku kasih bintang satu, aku kasih 5 bintang kalau perlu. Udah, dong! Jangan kayak gini, serem tau!" aku sebenernya udah merinding disko, tapi disini aku cuma sendirian, pilihanku itu aku cuma bisa bertahan sampai pak bos minta kita buat pulang.
__ADS_1
Dan sepertinya hantu di kamar ini memang sangat pengertian ya. Tau banget omongan aku, apa kita jangan-jangan sehati? Oh, No! Aku masih suka manusia, tapi kalau gantengnya kayak mas ichang mungkin masih bisa dipertimbangkan, ya.
"Thank you banget, aku janji nggak ngomong asal-asalan lagi. Tapi please, biarin aku disini. Pokoknya kamu jangan nongol, ya? nanti aku bisa ngompol. Kalau ngerti tolong mainin saklar lampu dua kali," ucapku nego.
Dan dia pun memainkan saklar lampu sebanyak dua kali. Ternyata dia memang mengerti ucapanku.
Walaupun dia ngerti tapi kan bisa aja dia khilaf dan nampakin wujudnya di depanku. Aku melirik jam di hapeku, sudah jam 9 malam. Itu artinya pak bos sudah istirahat selama satu jam tanpa ada gangguan dari aku. Perutku masih konsisten kruyukan, udah tau majikannya lagi susah malah minta jatah.
Pak bos itu tipe orang yang seenaknya udel sendiri, bukan udel orang lain apalagi udel aku. Kalau dia nggak mau diganggu ya nggak mau.
"Laper banget asli! nggak kuat nih," aku memegang perutku yang terasa perih.
"Apa aku keluar aja, ya? nanya di receptionist situ,"
Nggak ada pilihan, aku harus keluar atau cacing diperutku semakin menggila dan benar-benar anarkis.
Sebelum pergi, aku ke toilet dulu. Walaupun sebenarnya takut, tapi daripada nanti aku nggak kuat terus pipis di celana kan nggak banget.
Setelah aku mencuci tangan, aku membuka pintu dan mengambil kartu. Ketika aku mencabut kartu akses dari tempatnya, lampu kamar otomatis mati.
Setelah menutup, aku mencoba memencet bel yang ada di depan kamar pak bos.
Ting tong!
Ting tong!
"Nggak dibuka juga, apa dia sebegitunya nggak mau diganggu? katanya mau bayarin? dih, janjimu janji palsu, Pak!" aku misuh-misuh depan kamar yang di pesan pak Karan.
"Masa aku nyari resto sendirian, sih?" aku memutar badan, membelakangi kamar pak Karan
Krrruuuuukkk...
Kruuuuuuukkk
"Ya udahlah, aku cari sendiri..."
Aku meninggalkan lorong kamar hotel dan berjalan menuju ruang receptionist yang ada di lobby, kebetulan banget kamarku itu nggak jauh dari lobby depan, agak menjorok ke dalam melewati lorong sekitar 15 meteran.
"Mbak! Mbaaaakkkkk," aku menekan bel yang ada di meja receptionist, tapi si mbak-mbak yang memakai baju semacam dress orang jaman dulu itu diam saja, dengan kerah baju menutupi sampai leher, rambutnya rapi dicepol, sedang menunduk di mejanya.
__ADS_1
"Lah, bukannya tadi pada pakai baju jawa? loh kok sekarang pakai baju kayak gini, sih? apa mereka ganti kostum?" aku bergumam dalam hati yang paling dalam.
...----------------...