Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Nahan Malu


__ADS_3

"Kamu nggak sadar kalau dari tadi kita diikutin mobil warna hitam?" tanya Ridho.


Aku menggeleng.


"Hah, dari mall kita udah diikutin mobil. Nggak tau mobil siapa, yang jelas aku sih feelingnya saudara kamu!" ucap Ridho.


"Jangan nuduh sembarangan, Dho. Nggak baik," kataku.


"Sekarang dipikir aja, kenalan kita yang horang kaya siapa lagi selain Karan Perkasa? hem? karena itu mobil bukan sembarang mobil," ucap Ridho yang ngelipet tangannya di depan dada.


"Masa sih?"


Aku baru inget, di mall kan aku sempet ngeliat ada penampakan si mantan bos. Tapi masa iya sih dia mau ngintilin aku sama Ridho pacaran.


"Ya belum tentu juga pak Karamnya langsung yang ngikutin kita. Bisa jadi orang suruhannya. Jadi aku kerjain aja, masuk gang-gang sempit biar mobil dia nggak bisa ngekorin mulu!" kata Ridho.


Emang iya sih, satu jam mutar-muter nggak jelas ditambah slusap-slusup ke jalan sempit.


"Makan, ntar nasgornya keburu dingin!" suruh Ridho.


Nasi gorengnya enak, ditambah acarnya yang seger dan pedes. Bikin aku jadi kalap, kebetulan perut juga udah kelaparan.


"Pelan-pelan aja, Vaaa..." Ridho ngingetin.


"Laper, Dho!"


Ridho cuma gelengin kepalanya ajep-ajep, ngeliat calon istri yang solekha ini makan begitu beringasan.


Dia elapin iler, eh bukan. Dia elapin bibirku pakai tisu, beuh aku yakin si abang nasgor pasti mendadak males ngeliatin kita.


"Oh ya, seharian ini kenapa nggak ngabarin aku sama sekali?" tanyaku.


"Oh itu ... hari ini aku dapat job. Bukan job besar, cuma jadi supir mobil penganten. Ya sambil nungguin ada panggilan interview juga. Lumayan kan bisa buat jajan..." kata Ridho.


Dan seketika aku ngerasa bersalah, karena udah nganggep Ridho lupa sama aku.


"Kamu pasti cape?"


"Nggak juga. Aku malah seneng sih liat orang riweuh-riweuh begitu. Dan lucunya, si penganten lakinya itu mabok naik mobil. Jadi pas mau acara ijab qobul itu, si masnya tadi udah lemes sampe salah ucap nama calon istrinya, ngulang dia sampai 3 kali. Bengek aku liatnya..." ucap Ridho penuh antusias.


"Aku nggak tau deh kalau tadi yang terakhir salah juga, bisa digebukin tuh sama calon istrinya! Hahahahaha" lanjut Ridho.

__ADS_1


"Ya kan tinggal ngulang lagi, apa susahnya?"


"Yeeee, kalau udah salah 3 kali ya nggak bisa dilanjutin. Ijab qobul dinyatakan gagal dan harus nunggu besoknya baru bisa ijab lagi," ucap Ridho.


Hening.


Kita berdua fokus dengan makanan masing-masing.


"Kamu malu ya punya pacar supir dadakan?" tanya Ridho.


"Malu? nggak lah ngapain malu? orang itu pekerjaan halal, aku cuma ngerasa bersalah aja udah sebel-sebel seharian ini. Aku nggak tau kalau kamu lagi cari duit!" kataku.


"Tenang aja, aku tetep bakal nyari kerjaan yang lain kok. Aku bakal buktiin kalau aku emang serius ngejalanin hubungan ini, Va. Pokoknya kamu harus tungguin, kamu nggak boleh belok ke laki-laki lain yang lebih tajir dan bisa ngasih kamu kemewahan..." kata Ridho sambil menggenggam tanganku.


"Iya, Dho. Asalkan kamu juga setia sama aku dan nggak kecentilan ama cewek lain!"


Hidup itu nyaman kalau batin juga nyaman. Batin bisa tenang kalau kitanya ikhlas menerima keadaan. Kayak sekarang ini, cuma makan dipinggir jalan sambil ngobrol ngalor ngidul aja aku udah seneng banget.


Apalagi Ridho bukan tipe cowok galak, gahar, garang yang suka nyakitin secara fisik ataupun mental.


Buat aku, Ridho udah kayak kakak dan papa buat aku. Mungkin karena dia punya adik perempuan, jadi dia udah belajar gimana caranya mengayomi. Apalagi yang aku tau, dia jadi tulang punggung buat adik dan ibunya. Sungguh laki-laki ini warrrbiazaaah. Duh jadi pengen peluk!


Kelar makan kita balik lagi ke kontrakan, selama di perjalanan aku kekepin ini punggung beruang kutub aku yang super nyaman. Tapi seketika senyumku memudar saat aku inget, kalau kita harus pindah akhir bulan ini.


"Yaaaa!" seru Ridho.


"Kalau Mona belum balik, kamu temenin aku ya, Dhooo!" suaraku melengking.


"Kenapa? takut setan yang dibioskop ngintilin kamu sampai kontrakan?" tanya Ridho.


"Iiihhh, jangan bahas kayak gituan di jalan!" aku tepuk punggungnya kesel. Kan aku jadi inget kejadian di bioskop tadi.


"Hahahahhahahaha," Ridho ketawa nyaring.


Dasar pacar durjana, bisa-bisanya dia ngledekin masalah perhantuan. Awas aja, sampai dikontrakan aku cubit pinggangnya.


Setelah setengah jam membelah jalan raya, akhirnya kita sampai juga di kontrakan tercintah.


Aku turun dari motor dan lepasin helm, "Kayaknya Mona belum balik deh!"


"Aku telfon dulu bentar!" ucap Ridho yang buka hape dan nyoba buat menghubungi adeknya.

__ADS_1


"Nggak diangkat!" gumam Ridho.


"Nggak diangkat, Va. Mungkin lagi di jalan, dasar bocah nakal jam segini nggak inget pulang!" ucap Ridho yang mengantongi kembali ponselnya.


Ya udah aku buka pintu dan nyuruh Ridho buat nunggu aja di ruang tamu. Aku takutlah ditinggal sendirian, pokoknya Ridho nggak boleh balik ke kosannya sebelum Mona dateng.


"Kopi, Dho..."


"Kopinya, Sayang..." ucap Ridho menya-menye.


"Kopinyaaaa kuyaaaaang!" ucapku niruin nadanya Ridho tadi.


"Sayang kok jadi kuyang? sembarangan aja kamu, Va!" ucap Ridho.


Dia angkat cangkir dan nyeruput kopi cappucino sasetan harga serebuan yang lagi promo di minimarket.


Ridho genggam tangan aku yang kebetulan duduk disampingnya.


"Nggak nyangka ya, Va. Kita dari temen jadi demen..." ucap Ridho sambil menangkup satu pipiku dengan satu tangannya.


"Karena aku terlalu mempesona yang jelas!" ucapku pede.


Matanya bertemu mataku dalam satu garis lurus, kalau nggak percaya ambil penggaris dan cepet ukur. Sepasang mata yang bikin aku terhipnotis, buat nggak bisa kalau nggak mengagumi setiap inci yang ada di wajah kangmas.


Hidung yang mancung, bibir yang merah, mata yang teduh, dan alis yang tebal. Bikin jantungku belingsatan nggak mau diem. Eh kalau diem, berarti aku metong dong ya?


Berarti jangan diemlah, biarin ini jedag-jedug juga. Nggak sadar aku sentuh setiap bagian wajahnya yang aduhai itu. Pandangan kami terkunci dan tergembok dengan sendirinya. Tanpa meong-meong, Ridho nyosor.


"Mas Ridhooooo, Mbakk Revaaaaaaaaaaa! mataku ternooodaaaaaaaaaaahh!" teriak Mona.


Kita berdua kompak menoleh, dan Mona lagi tutupin matanya dengan jari jemari yang begitu renggang.


"Mo-Monaaaa?" aku kedap-kedip, ngeliat sosok Mona yang nggak tau kapan nongolnya udah ngejogrog aja di depan pintu dan dibelakangnya ada satu laki-laki yang bikin Mona patah hati.


"Ehem," Ridho langsung menjarak tubuh kami.


"Kenapa kamu pulang sampai malem begini? ayo duduk!" Ridho ngalihin situasi yang awakward ini.


Mona lepasin tangannya, dia masuk dikintilin sama Bara.


"Ngerjain tugas!" jawab Mona. Bara dan Mona duduk di depan kita.

__ADS_1


"Ini kenapa kita yang malah disidang? nggak kebalik?" tanya Mona.


Sedangkan aku, muka udah merah nahan malu.


__ADS_2