
"Menangislah! Tapi, setelah ini aku harap ini adalah air matamu yang terakhir dan tidak ada lagi air mata yang kamu keluarkan, apalagi hanya untuk laki-laki brengsek itu," batin David dengan tetap memeluk Amel menggunakan satu tangannya.
"Laki-laki seperti itu tidak pantas kamu tangisi!" hanya kata itu yang keluar dari mulut David, padahal dalam benaknya banyak sekali yang ingin ia katakan untuk menghibur gadis yang kini ia peluk dari samping tersebut.
"Saya tahu pak, tapi tetap saja rasanya sakit dan tidak bisa kalau enggak menangis. Kenapa hidup saya seruwet ini? bukan hanya masalah keluarga bahkan kisah cinta saya juga ruwet," keluh Amel yang sebenarnya juga tak ingin menangisi laki-laki yang sudah menipunya selama ini. Namun, air mata itu terus saja keluar untuk mewakili perasaannya.
"Hah, cinta memang merepotkan. Baru kali ini, untuk pertama kalinya aku mensyukuri kejombloanku selama ini," batin David.
"Saya kapok, tidak mau pacaran lagi!" Amel mengusap wajahnya menggunakan kaos olah raga yang di pakai oleh David. Ya, David masih mengenakan pakaian olah raga karena tadi ia tidak sempat ganti baju setelah bermain biliar bersama Alex. Ia langsung berlari menuju mobilnya tanpa mempedulikan bajunya yang penuh keringat. Ia hanya tambah memakai jaket yang ada di dalam mobilnya tadi. Namun, bau keringat David justru enak buat di cium menurut Amel. Wangi maskulin seorang laki-laki.
Kalau orang lain melakukan seperti apa yang Amel lakukan kepadanya, pasti David akan marah. Karena ia paling menjaga kebersihan. Tapi, kali ini dia hanya diam saja tidak protes sama sekali saat kaosnya Amel gunakan untuk mengusap air matanya bahkan ingusnya. Walaupun ekspresi David menjadi aneh dan ia mengernyitkan dahinya, tapi dia tetap diam tidak keberatan. Entah karena Amel yang melakukan itu padanya atau rasa empatinya kepada gadis yang sedang patah hati tersebut.
"Pak David kenapa dari tadi diam saja?" tanya Amel kemudian, karena laki-laki itu tidak mengeluarkan suara yang berati sejak kedatangannya tadi. Amel bisa merasakan kekakuan dari seorang David. Maklum, selama ini dia jarang sekali dekat dengan wanita. Sekalinya dekat dulu hanya alat untuk menjatuhkan Alex.
"Kalau begitu menikahlah denganku!" tiba-tiba David mengeluarkan kata-kata yang cukup mengejutkan buat Amel. Ia sendiri kaget dengan apa yang baru saja ia lontarkan dari mulutnya. Kalau bisa sih, David ingin menelan kembali kata-kata yang baru saja ia keluarkan.
"Bapak melamar saya?" tanya Amel yang masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. Ia langsung mengangkat kepalanya yang bersandar di bahu David dan memandang laki-laki yang kini di depannya dengan serius.
__ADS_1
"Bukannya tadi kamu bilang tidak mau pacaran lagi? makanya saya menawari kamu buat langsung menikah saja tidak perlu pacaran," jawab David datar dan tanpa basa-basi.
"Ini pak David melamar saya atau bagaimana?" Amel memastikan kembali, tiba-tiba air matanya langsung terhenti karena kaget tak percaya dengan penuturan David. Ia membenarkan posisi duduknya, sambil menunggu jawaban David atas pertanyaannya.
"Saya bilang saya menawari kamu, bareti itu sebuah penawaran, tapi kalau kamu menganggapnya melamar ya boleh saja," sahut David datar.
"Ih nih orang nggak ada romantisnya, kaku," batin Amel.
"Pak David! Enggak peka amat sih jadi orang! Ini saya baru saja putus loh Pak, masa maen langsung di ajak nikah gitu aja. Di kira saya perempuan gampangan yang dengan mudahnya move on dalam sekejap. Hah lagian ngelamar kok kayak gitu, nggak ada romantis sama sekali,. Sebuah lamaran juga harus di persiapkan dengan baik dan matang dong Pak, tidak bisa asal," Amel benar-benar tak mengerti dengan sikap ajaibnya David ini.
"Tapi mungkin aku bisa belajar seperti yang kamu mau," lagi-lagi kata-kata yang ingin ia utarakan hanya mampu tercekat sampai batas tenggorokannya saja.
"Ya, tapi nggak segitu terus terangnya dong pak, nggak lihat sikon saya yang sedang patah hati apa? setidaknya tunggulah sampai saya move on, dan siap. Kalau begini kan saya juga nggak ada persiapan sama sekali. Untung saja saya tidak jantungan!" kesal Amel.
"Kok dia jadi marah sama aku sepertinya. Ada yang salah sama aku?" batin David tak mengerti. Tapi, David senang karena Amel sudah kembali cerewet. Itu artinya, suasana hatinya sudah tidak seburuk tadi.
"Justru karena kamu sedang patah hati, makanya aku ingin mengobatinya. Aku akan mengobatinya dengan cintaku dan membuat kamu tidak takut lagi jatuh cinta," gumam David lirih yang hanya terdengar seperti mendengung. Tapi, Amel samar-samar mendengarnya.
__ADS_1
"Pak David bilang apa? Bapak mencintai saya?" Amel memastikan pendengarannya yang mungkin saja tidak normal karena baru saja menangis.
"Si siapa yang bilang aku mencintai kamu? Kalau begitu lupakan apa yang aku katakan tadi, anggap saja aku tidak pernah bilang apa-apa,"
"Baiklah kalau begitu. Sebenarnya bukannya saya tidak menghargai ucapan bapak tadi, saya juga tidak bilang menolaknya, hanya saja untuk saat ini saya," Amel menggantungkan kalimatnya.
"Aku tahu. Biarkan waktu yang menjawabnya. Sudahlah jangan di pikirkan!" sahut David. Tangannya reflek meraih kepala Amel agar bersandar di bahunya lagi.
"Dan aku akan berusaha mewujudkan lamaran seperti impian kamu. Suatu saat nanti aku akan mewujudkannya, aku berjanji,"
batin David. Pandangannya lurus ke depan membayangkan sebuah lamaran yang romantis. Namun, segera ia tepis bayangan tersebut. Menurutnya lamaran yang ada dalam bayangannya barusan terlalu lebay dan itu bukan dia banget.
Suasana pun menjadi hening. Amel sudah tidak menangis lagi, walaupun tidak di pungkiri rasa sakit di hatinya masih ada. Tapi, keberadaan David di sampingnya benar-benar membuat dia merasa nyaman dan merasa kalau dia tidak sendiri.
Kalau saja dulu Amel mengenal David terlebih dahulu, mungkin dia akan jatuh cinta sama laki-laki tersebut sebelum jatuh cinta sama Dimas. Dan mungkin dia tidak harus menanggung sakit dan malu seperti sekarang ini. Itulah yang kini ada dalam benak Amel. Dia sangat-sangat menyesal telah mengenal laki-laki bernama Dimas tersebut. Ia bersumpah tidak ingin lagi berurusan dengan laki-laki itu, kalaupun terpaksa tidak sengaja bertemu, Amel ingin sekali memberi pelajaran kepadanya. Tamparan yang bertubi-tubi mungkin akan sedikit mewakili rasa sakit dan kecewanya. Atau mungkin menendang aset masa depan laki-laki tersebut biar tidak bisa bangun dengan tegak lagi.
💠Setelah membaca jangan lupa like dan votenya kak, biar author lebih semangat lagi menulisnya,💠
__ADS_1