
Anes tampak sedang sibuk dengan setumpuk dokumen di meja kerjanya, ia harus menyusun dokumen-dokumen tersebut dengan rapi sebelum di serahkan kepada bos sekaligus suaminya itu.
Setelah semua beres, ia segera ke ruangan Presdir.
"Pak, ini dokumen-dokumen yang harus Anda periksa dan tanda tangani," ucap Anes ketika sudah dipersilakan masuk oleh Alex.
"Baiklah, Kamu tetap disini, temani aku," sahut Alex.
"Tapi Mas, aku masih banyak pekerjaan."
"Sebentar aja, jangan membantah."
"Baiklah, Anda kan Bos, saya harus patuh, atau gaji saya akan dipotong," ucap Anes bergurau.
"Hah dasar!" desah Alex.
"Pak David mau kemana, tadi aku lihat dia sepertinya buru-buru," tanya Anes.
"Oh, dia ada urusan penting di luar," jawab Alex yang sedang fokus dengan dokumen-dokumen didepannya.
"Nanti jam 3 ada meeting sama perwakilan dari Perusahaan Suryatama, Mas nggak lupa kan?" Anes mengingatkan Alex.
"Iya, aku ingat, kalaupun lupa, tugas Kamu mengingatkaknku," timpal Alex.
"Hem" sahut Anes singkat.
"Tok tok tok" (pintu di ketuk).
"Masuk!" Sahut Alex dari ruangannya, Anes masih tetap berdiri di sampingnya, menemani Alex memeriksa dokumen.
"Permisi Pak, saya kesini untuk meminta tanda tangan Bapak," ucap wanita yang ternyata adalah kepala bagian perencanaan. Namanya Desi.
Desi melirik sinis terhadap Anes.
"Oh, jadi ini Sekretaris Pribadi Presdir yang diam-diam di gosipin itu," batin Desi.
Para karyawan, terutama karyawan perempuan memang masih suka bergosip tentang kedekatan Anes dan Alex, tanpa sepengetahuan mereka dan juga David tentunya. Mungkin kalau Alex masih bisa diajak kompromi kalau Anes yang membujuk, tapi kalau David? jangan harap, demi apapun dia akan melakukan yang terbaik untuk Alex, menurut versinya sendiri.
Desi maju lebih dekat kepada Alex dan menyerahkan berkas yang harus Alex tanda tangani. Pakaiannya yang sangat minim membuat Alex risih, apalagi Desi sengaja sedikit membungkukkan badannya, supaya belahan dadanya terlihat oleh Alex.
"Ya ampun, itu galon atau apa, besar amat, bahkan punyaku sangat kecil kalau dibandingkan," batin Anes ketika melihat dada Desi. Ia menunduk melihat punyanya sendiri. Ada rasa minder dihatinya, ketika membandingkan ukuran dada dengan Desi.
"Huh, mas Alex dikelilingi wanita-wanita cantik dan seksi, lihat aja, pakaian Nona Desi ini, sangat seksi sekali, lihat bibirnya sudah seperti habis makan darah aja," batinnya lagi.
"Anda Nona Desi, Kepala Bagian Perencanaan yang baru saja di mutasi dari kota X kan?" tanya Alex datar tanpa melihat kearah Desi, ia sibuk memeriksa berkas yang diberikan Desi.
"Iya Pak, saya baru beberapa hari pindah kesini," jawab Desi, dia semakin mendekat dan menggoda Alex dengan gelagat tubuhnya.
"Eh dia kenapa, mau menggoda mas Alex? hei istrinya ada disini woi!" Anes meremas tangannya sendiri karena kesal melihat Desi kini berada di samping Alex dan membungkuk, hingga belahan dadanya yang berukuran 36D itu terpampang jelas.
"Saya akan menjelaskan berkas ini secara terperinci Pak," ucap Desi dengan nada menggoda, seolah menganggap Anes tidak ada disana atau malah mungkin sengaja ia melakukan itu di depan Anes.
"Sepertinya dokumen-dokumen yang harus Bapak tanda tangani sudah selesai, kalau begitu saya permisi dulu Pak," ucap Anes sambil menahan kesalnya. Dia ingin segera pergi dari sana.
"Kamu boleh keluar!" ucap Alex dengan meninggikan intonasinya.
"Deg!" Anes kaget dengan nada bicara Alex.
Desi tersenyum penuh kemenangan, dia pikir Alex tergoda dengannya dan menyuruh Anes keluar dengan kasar.
"Katanya, Anes suka menggoda Presdir, tapi lihat dia akan segera tersingkir olehku," batin Desi bangga.
"Nona Anes silahkan keluar, Pak Alex sudah mempersilakan, bukannya tadi Anda bilang sudah selesai urusan Anda disini?" ucap Desi tersenyum sinis.
"Eh, saya permisi Pak," ucap Anes dengan nada bergetar.
__ADS_1
"Tunggu, bukan kamu yang keluar Anes, tapi dia!" Alex menunjuk Desi dengan ekspresi mematikan diwajahnya.
"Saya Pak?" tanya Desi yang masih berdiri disamping Alex.
"Iya, Anda baru beberapa hari bekerja disini, kalau masih ingin tetap bekerja disini, jaga sikap Anda, perbaiki cara Anda berpakaian atau jangan pernah masuk keruangan ini lagi!" tegas Alex, ia risih dengan keberadaan Desi di sampingnya, bahkan meliriknya saja tidak.
" Dan Anda Nona Anes, saya masih ada urusan sama Anda, jadi tetaplah di sini sebentar," ucap Alex dengan intonasi lembut kepada Anes yang masih mematung diposisinya yang telah beranjak beberapa langkah dari meja Presdir.
"Sial, apa dia tidak tertarik dengan wanita cantik dan seksi sepertiku," umpat Desi dalam hati.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi," pamit Desi.
"Hem" jawab Alex singkat.
Desi berjalan dengan sewot, ia sengaja menyenggol Anes karena kesal, sampai Anes hampir jatuh namun masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga ia tidak jatuh.
"Kemarilah!" Alex menyuruh Anes mendekatinya.
Anes kembali mendekat kesamping Alex.
" Ada apa, katanya masih ada urusan sama aku, bukannya urusan dokumen sudah selesai?" ucap Anes masih kesal.
"kamu marah?" tanya Alex.
"Udah tahu nanya, lihatlah banyak sekali wanita cantik dan seksi di kantor ini yang sengaja menggoda kamu Mas,"
"Tapi aku tidak tertarik sama mereka,"
"Mas yakin tidak tergoda, hem?" goda Anes.
"Hem," jawab Alex singkat.
"Aku tidak akan tergoda dengan perempuan manapun, selain kamu," batin Alex.
Anes cemberut, ia tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Alex.
"Cemburu? nggak, siapa yang cemburu," jawab Anes bohong.
"Mas, jangan mulai deh, ini di kantor,"
"Kenapa emang kalau di kantor, siapa yang berani melarangku untuk berbuat sesuatu kepada istriku?" ucap Alex.
Anes memang tidak bisa menolak pesona dari suaminya, ia hanya diam saja ketika Alex menjatuhkan dagunya di ceruk Anes, nafasnya membuat Anes merinding.
"Hah yakin tidak tergoda dengan mereka, kucing mana ada yang menolak kalau di kasih ikan," ucap Anes.
"Kamu nggak percaya?" balas Alex.
"Kalau masalah hati aku nggak main-main, dan hati nggak bisa bohong kan?" lanjut Alex.
"Ya ya, aku percaya."
"Lalu apakah hatimu punyaku Mas?" tanya Anes dalam hati.
"Hatiku cuma buat kamu, tanpa ada yang bisa merebut," batin Alex, seolah ia mengerti isi hati istrinya.
"Ya udah, aku mau kembali bekerja Mas, biar bagaimanapun aku harus tetap profesional."
"Baiklah, nanti kita makan siang bersama, ini," ucap Alex sambil memberikan sebuah permen kepada Anes.
Anes menerima permen itu dengan menatapnya serius.
"Aku mau vitamin rasa Jeruk saat makan siang nanti," Alex tersenyum penuh arti.
"Kenapa dia selalu punya permen sih, kapan coba belinya, kok aku nggak tahu." batin Anes sambil melihat permen di tangannya.
__ADS_1
Anes melangkahkan kakinya keluar ruangan Presdir.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Bos, sepertinya ada masalah dengan perusahaan milik Pak Hutama," ucap David
"Masalah apa?" tanya Alex.
"Saya belum memastikannya, tapi sepertinya itu masalah internal Perusahaan, kabar yang beredar, terjadi perebutan kekuasaan dalam perusahaan tersebut yang menimbulkan penurunan kinerja perusahaan karena para karyawan terpecah menjadi beberapa pihak. Dan kemungkinan besar adanya banyak tindak korupsi dalam perusahaan itu," jelas David.
"Selidiki secepatnya, kalau benar demikian, putuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan itu, aku tidak mau menjalin kerja sama dengan perusahaan yang punya banyak masalah, apalagi ada ketidakjujuran mereka dalam bekerja, jangan sampai perusahaan kita kena imbasnya karena ulah mereka," perintah Alex dengan tegas.
"Baik Bos, akan segera saya selidiki," sahut David.
" O ya, menurutmu bagaimana perasaan perempuan kalau melihat suaminya di goda perempuan lain didepan matanya?" tanya Alex.
"Mana saya tahu Bos, saya bukan perempuan," jawab David polos.
"Ya seumpama saja kamu perempuan, dan suami kamu di goda perempuan lain, bagaimana reaksi dan perasaan kamu?"
David tidak menjawab, dia malah sibuk memainkan ponsel pintarnya.
"Apa yang kamu lakukan, bukannya menjawab malah mainan HP, buang itu HP!" kesal Alex.
"Tadi kan Bos tanya, makanya saya browsing lewat ponsel Bos, karena saya tidak tahu harus menjawab apa," jawab David.
"Hah, ada juga yang dia tidak bisa selain tidak bisa lepas dari jomblo, " batin Alex.
"Terus, apa jawaban yang kamu dapat?"
"Di sini katanya, perempuan akan marah dan cemburu kalau melihat orang yang dicintainya digoda oleh perempuan lain, dan menurut sebagian besar perempuan, perempuan yang sengaja menggoda laki-laki, yang dia tahu bahwa laki-laki itu sudah memiliki istri, sama saja wanita itu tidak memiliki harga diri," David membaca artikel yang ada di ponselnya.
"Cemburu kalau melihat orang yang dicintainya digoda, apakah Anes tidak mencintaiku, dia bilang dia tidak cemburu," ucap Alex setelah mendengar penjelasan David.
"Tentu saja Nona Anes berbohong, dia tidak mungkin jujur mengakui kecemburuannya, wanita emang seperti itu, suka bilang tidak padahal iya," sahut David dengan terkekeh.
"Sok tahu kamu, darimana kamu tahu, kamu kan jomblo?"
"Biar jomblo, gini-gini termasuk dalam kelompok Ijo Tomat Bos,"
"Ijo Tomat?" Alex tidak mengerti.
"Ikatan Jomblo Terhormat, itu istilah yang di gunakan anak muda sekarang," jawab David percaya diri.
"Tahu dari mana kamu istilah itu?" Alex penasaran.
"Di televisi bos, itu istilah yang sering di ucapkan oleh kaum milenial jaman now. Bahkan ada yang di tunjuk sebagai Presidennya, ah saya lupa namanya siapa," jelas David.
" Hah dasar! nggak penting! sadar umur!" Alex melempar sebuah kertas kearah David. Ia tak habis pikir, kenapa David bisa jadi lebay begitu.
"Apakah Bos sudah bilang kalau Bos mencintai Nona Anes?" tanya David penasaran.
"Belum,"
"Sama sekali?"
"Hem."
"Hah lambat! nunggu ubanan?" batin David.
"Waktu di Maldives aku hampir bilang padanya, aku sudah menyiapkan momen romantis untuk menyatakan cinta padanya tapi gagal,dan sampai sekarang, aku belum bilang," desah Alex lesu, iya mengingat waktu itu di Maldives.
"Kasihan," batin David.
"Cepat katakan Bos, sebelum Nona Anes meragukan cinta dan ketulusan Anda, lama-lama dia bisa berpindah ke hati laki-laki lain," saran David.
__ADS_1
Alex diam tidak menjawab, tapi ia kelihatan sedang berpikir keras sambil memainkan bolpoin di tangannya.
๐ Pada up selanjutnya, mereka akan saling mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain, jadi tunggu up selanjutnya ya, tapi di chapter berapa? makanya ikutin terus kisah Alex dan Anes biar tahu hehe ๐. Jangan lupa like, komen, dan tipnya, serta masukkan cerita Anes dan Alex ini ke dalam list favorit kalian, terimakasih ๐๐