
David terus menarik tangan Amel hingga ke parkiran mobil tanpa memperdulikan teriakan-teriakan Amel yang memintanya untuk melepaskan tangannya.
"David lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!"
David menulikan telinganya, sampai di parkiran David langsung membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Amel serta memasangkan seat beltnya.
Sesaat suasana hening hingga David melajukan mobilnya. Dalam perjalanan David dan Amel tak bersuara, asyik dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba ponsel Amel berdering, Amel mengangkat ponselnya.
"Halo, do," ucap Amel sambil menempelkan ponselnya ke telinga.
"Mel, kamu di mana? Kamu baik-baik saja kan? Kakak tua itu tidak menyakiti kamu kan? Aku khawatir karena dia tadi mengerikan," ucap Aldo di seberang telepon.
David mengernyitkan dahinya, ia tahu yang menelepon pasti laki-laki tengil yang sudah berani mengajak kekasihnya berdansa.
"Aku baik-baik saja kok Do, maaf sudah buat kamu khawatir," jawab Amel.
"Syukurlah, tapi aku yakin kakak tua itu nggak akan menyakiti kamu, aku bisa lihat dari sorot matanya, dia mencintai kamu," ucap Aldo
"Ya, aku tahu. Maaf untuk yang tadi ya Do?"
Belum juga Aldo membalas ucapan maaf dari Amel, David merebut ponsel Amel dan melemparnya keluar, ke sembarang arah.
"David! ponselku!" teriak Amel kesal.
"Apa kamu sengaja melakukannya untuk membalasku Mel?" David mulai mengajak bicara Amel.
"Melakukan apa Dave?" tanya Amel tanpa menoleh ke arah David.
"Berdekatan dan bermesraan dengan laki-laki lain," sahut David.
"Bermesraan apa maksudnya? Aku dan Aldo cuma teman, dan tadi kali cuma berdansa," ucap Amel cuek.
"Aku nggak suka wanitaku di sentuh laki-laki lain!"
"Wanitaku? Siapa Dave?" Amel mencebikkan bibirnya.
"Mel, jangan menguji kesabaranku!" bentak David yang masih di kuasai api cemburu.
"Siapa yang menguji kesabaran kamu Dave? Emang aku melakukan apa? Aku cuma tanya siapa wanitaku yang kamu maksud itu?" ucap Amel tak kalah kerasnya dari David.
David menepikan mobilnya karena kebetulan mereka melewati sebuah taman. David meminta Amel untuk turun.
"Nggak mau! ngapain kesini! Ini tempat orang untuk pacaran!" tolak Amel saat David membuka pintu mobil dan meminta Amel turun.
"Amelia Karla Safira!"
__ADS_1
Amel masih diam tak mau bergerak. Dia ingin tahu sejauh mana David berusaha.
"Jangan keras kepala, cepat turun atau mau aku gendong? Kita perlu bicara Mel," David melepaskan seat belt Amel dan memegang tangannya. Amel hanya menurut tanpa berkata apa-apa. Ia pikir memang mereka perlu bicara berdua, sudah cukup acar hindar menghindarinya. Karena sebenarnya ia juga sudah tidak tahan.
David mengajak Amel duduk di bangku taman.
"Kenapa kamu malah datang ke acara itu dengan dia Mel?" David kembali memulai untuk bicara, Kali ini intonasinya sedikit merendah. David pikir semua harus lurus malam itu juga atau dia tidak akan bisa tidur nyenyak setelahnya.
"Tadi aku sudah bilang kan, dia bintang tamu Dave, kamu nggak sengaja bertemu di sana, aku datang bersama Anes ," sahut Amel tanpa merasa bersalah karena yang ia katakan memang benar.
"Tapi aku nggak suka dia menyentuh kamu Mel!"
"Jangan lebay Dave, kami hanya berdansa, itu juga karena aku tidak ingin dia malu di depan orang kalau aku menolak, bukan karena aku suka," jelas Amel.
"Apapun alasannya aku tetap tidak suka, kamu lebih memilih menjaga perasaan laki-laki itu dari pada aku Mel?" David mulai meninggikan suaranya kembali.
"Laki-laki itu punya nama Dave, Aldo namanya,"
"Aku tidak peduli Mel, yang aku pedulikan cuma kamu. Aku nggak rela kamu dekat dengan dia!"
"Emangnya kamu siapa Dave? Hak aku mau berteman dan dekat dengan saja," Amel mulai memancing emosi David.
Mendengar pertanyaan Amel, David langsung memegang dagu Amel dan memaksa Amel untuk menoleh ke arahnya. Di tatapnya wajah Amel dengan lekat.
"Apa sekarang kamu yang amnesia Mel? Kalau lupa, biar aku memperkenalkan diriku. Aku, David Sebastian August, kekasih satu-satunya Amelia Karla Safira," ucap David dengan penuh penekanan. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir Amel, namun Amel melengos, ia menolak untuk di cium David.
"Kekasih? itu dulu Dave, sebelum kamu melupakan aku! Dan aku masih menunggunya, bukan kamu yang sekarang!" Amel mulai menitikkan air matanya.
"Aku memang sempat berpikir, walupun kamu lupa tentang kita, aku akan membuat kamu jatuh cinta kepadaku untuk kedua kalinya Dave. Tapi ternyata itu tetap menyakitkan Dave, aku mau Davidku yang dulu, cintanya yang dulu. Bukan cintamu yang kedua, maafkan aku jika aku egois. Tapi di sini tetap sakit Dave meskipun kamu bilang cinta sama aku," ucap Amel terisak sambil menujnjuk dadanya sendiri.
Melihat Amel menangis, sungguh membuat David sakit di dadanya.
"Tapi ini aku David yang dulu Mel, Cintaku buat kamu dari dulu tidak berubah, tidak ada cinta yang kedua kalinya," David menarik tangan Amel dan menempelkannya ke dada David.
"Rasakan detak jantungku Mel, ini tidak pernah berubah sama sekali, dari dulu sampai sekarang, tetap seperti sedang takbiran kalau dekat dengan kamu," ucap David. Amel bisa merasakannya dengan jelas.
"Tapi kamu tetap tidak ingat kan Dave kenapa hati kamu bisa begitu? Sudahlah, ini sudah malam sebaiknya kita pulang saja Dave. Aku cuma mau bilang, aku sama Aldo tidak ada hubungan apa-apa, kamu jangan salah paham. Aku capek, antar aku pulang Dave," Amel beranjak dari duduknya, berjalan mendahului David yang masih duduk.
David langsung berdiri dan menarik Amel ke dalam pelukannya.
"Dave!" Amel mencoba lepas dari pelukan David.
"Aku sudah bilang buat bersabar dan tunggu aku Mel, tapi kenapa kamu malah menghindari aku? aku tidak bisa kamu cuekin terus begini, maafkan aku," ucap David terus memeluk Amel posesif.
"Aku juga nggak ingin menghindar Dave, tapi seperti yang aku bilang, aku hanya menginginkan Davidku yang dulu,"
"Aku sudah kembali Mel, aku sudah ingat semuanya," ucap David. Karena memang hal itu yang ingin ia katakan sejak kemarin.
__ADS_1
"Dave?" Amel mendongak, ia ingin memastikan kalau ia tak salah dengar.
David mengangguk tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya, aku sudah ingat semuanya. Dari kemarin aku mencari kamu dan ingin mengatakannya tapi kamu terus menghindar, bahkan nomorku kamu block. Maafkan aku karena terlalu lama menyakiti kamu, maafkan aku,"
Amel semakin terisak dalam pelukan David.
"Hiks hiks, kamu jahat Dave, kamu tega melupakan aku selama ini! kamu jahat Dave!"
"Maafkan aku,"
"Aku sedih tahu nggak selama ini, sakit Dave rasanya, Hiks!"
"Aku tahu, maafkan aku,"
"Aku takut kamu akan melupakan aku lagi hiks," ucap Amel sambil terus memukul-mukul dada David sebagai ungkapan perasaannya.
"Tidak akan! Aku tidak akan melupakan kamu lagi," David berjanji pada Amel dan juga dirinya sendiri. Dia membiarkan gadis itu terus memukuli dadanya.
"Kamu jahat Dave! aku benci sama kamu hiks!"
"Jangan benci aku Mel," sahut David.
"Tapi sialnya aku juga nggak bisa benci sama kamu Dave. Aku, aku mencintai kamu, aku senang akhirnya kamu ingat aku. Hua Hua Hua," tangis Amel semakin menjadi, ia tak tahu bagaimana harus mengungkapkan kebahagiannya. Justru ia malah menangis.
"Maafkan aku Mel, maafkan aku! Aku tahu aku sudah membuatmu menderita. Aku tahu kamu pasti berpikir kalau cintaku ke kamu tak seberapa bahkan mungkin tidak mencintai kamu, karena bisa sampai melupakan kamu. Tapi, percayalah aku sangat mencintaimu. Masalah amnesiaku kemarin bukan tidak ada hubungannya dengan kamu, itu karena hal lain yang berimbas kepada kamu, wanita yang aku cintai. Maafkan aku," David tidak berhenti meminta maaf kepada Amel.
"Kamu membuang ponselku!" tiba-tiba Amel ingat ponselnya yang sudah di buang oleh David.
David kembali mengernyit, sedang baper begitu malah bahas ponsel.
"Akan aku ganti," sahut David kemudian.
"Yang baru?"
"Hem, yang baru," balas David.
"Paling terbaru, paling bagus paling mahal,"
"Tidak masalah," ujar David.
"Jangan seperti kemarin lagi Dave, jangan cuek dan acuh lagi kepadaku, sakit Dave! sedih tahu!"
"Tidak akan!"
"Janji?"
__ADS_1
"Hem," sahut David, ia terus mengusap rambut Amel dan berkali-kali mencium puncak kepala Amel.
🌼🌼🌼