MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 92


__ADS_3

"Mel, pulangnya sama siapa? aku antar yuk?" ucap Juna menawarkan diri untuk mengantar Amel setelah semuanya berpamitan kepada Alex dan Anes.


"Saya..."


"Maaf tuan Juna, Amel akan pulang bersama saya, karena tadi berangkat bersama saya jadi saya juga harus bertanggung jawab untuk mengantarnya kembali ke rumah," ucap David.


"Memangnya Amel mau pulang sama kamu? siapa tahu dia mau aku antar, iya kan Mel?" Juna mencoba memprovokasi.


"Mmm saya,,," Amel melihat ke arah David, tapi dia tidak bisa menebak bagaimana isi hati David. Karena dia datar dan acuh.


"Kalau kamu mau diantar tuan Juna juga tidak apa-apa," ucap David.


"Maaf pak Juna, saya pulang sama pak David saja," akhirnya Amel memutuskan akan pulang bersama David.


"Yaaahhh, kamu yakin menolak saya antar?" Juna masih berusaha.


"Udah ayo cepat balik, orang dianya nggak mau jangan di paksa!" Bryan merangkul dan mengajak Juna menuju mobilnya.


"Ya kan usaha Bray!" sahut Juna yang terdengar samar-samar oleh Alex dan lainnya.


"Ya udah bos, saya juga permisi, selamat malam!" pamit David.


Setelah memeluk Anes, Amel menyusul David yang sudah berjalan menuju mobilnya duluan.


Setelah semua pergi, Alex mengajak Anes untuk masuk ke dalam rumah. Ya, malam ini adalah malam pertama mereka akan tidur di rumah baru tersebut.


Beberapa pelayan tampak sibuk membersihkan sisa-sisa sampah yang di tinggalkan oleh teman-teman Alex dan Anes. Anes hampir saja lupa, kalau sekarang ada para pelayan yang akan melakukan hal itu, coba kalau di apartemen, pasti dia yang akan kerepotan membersihkannya.


Anes bersandar di sandaran tempat tidur sambil membolak-balik sebuah majalah di tangannya.


"Belum tidur sayang?" tanya Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke atas tempat tidur.


"Belum mas, nungguin mas," Anes menutup majalah yang ia pegang dan meletakkannya di atas nakas dan langsung memeluk pinggang Alex. Wangi maskulin dari tubuh Alex membuat Anes selalu nyaman dan betah berlama-lama jika dalam pelukan suaminya.


"Ya udah, ayo sekarang tidur, udah malam!" Alex mengelus dan mencium puncak kepala Anes.


"Nggak mau!" sahut Anes

__ADS_1


"Kenapa? kamu nggak ngantuk sayang?" tanya Alex.


"Aku kangen," Anes langsung meraih tengkuk Alex dan mencium bibir suaminya tersebut.


Terlepas dari obrolannya dengan Amel siang tadi soal solusi terbaik untuk minta ijin jalan berdua, Anes memang sangat ingin di sentuh oleh suaminya malam ini.


Anes terus mencium dan semakin memperdalam ciumannya. Hingga ia menepuk-nepuk dada Alex pertanda kalau dia kehilangan oksigen.


"Kenapa?" tanya Alex.


"Aku nggak bisa nafas tahu!" protes Anes.


"Bukannya kamu yang mencium mas terlebih dahulu, kenapa kamu yang protes?" tanya Alex tak mengerti dengan tingkah sang istri.


Anes mendorong tubuh Alex hingga jatuh ke tempat tidur. Anes terus menyerang Alex. Alex hanya diam menikmati serangan dari sang istri. Tapi, tentu saja dia merasa terkejut dengan sifat agresif Anes malam ini, karena tidak biasanya Anes yang menyerangnya duluan apalagi seagresif ini. Walaupun kadang Anes memang sedikit agresif di tempat tidur, tapi tentu saja Alex yang memulainya. Tapi kali ini? seolah-olah Alex sedang diperkosa oleh istrinya sendiri.


Bukannya menolak serangan dari Anes, Alex justru menikmatinya, kapan lagi bisa menikmati situasi seperti ini, ia tak perlu bersusah-susah tinggal menerima kenikmatan yang di berikan oleh istrinya.


Namun, lama-lama Alex juga tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Nafsu yang sudah memuncak, membuatnya ingin segera menuntaskan hasratnya yang sudah sangat tinggi akibat serang bertubi-tubi yang di lakukan oleh Anes. Dengan sekali gerakan, Alex membalikkan membalikkan posisi Anes menjadi di bawahnya.


Suara desahan panjang keduanya mengakhiri kegiatan panas mereka malam ini.


"Mas," Anes memastikan apakah Alex sudah tidur atau belum. Kini posisi Alex memeluk Anes dari belakang tanpa sehelai kain dan hanya tertutup selimut.


"Hem," jawab Alex singkat.


"Belum tidur?" tanya Anes


"Kenapa hem? mau lagi?" Alex membenamkan wajahnya di leher Anes.


"Nggak, aku capek!" sahut Anes.


"Baru berapa ronde udah capek. Bukannya tadi kamu yang begitu semangat?" ledek Alex.


"Ih mas Alex!" Anes berbalik badan dan memukul-mukul dada bidang Alex.


Ya, walaupun awalnya memang Anes yang semangat menyerang Alex terlebih dahulu, tapi pada akhirnya dia sendiri yang kewalahan meladeni nafsu sang suami.

__ADS_1


"Sayang jangan menggoda mas lagi, nanti yang di bawah sana bisa-bisa memberontak minta jatah lagi. Mau, besok kamu nggak bisa jalan karena harus menina bobokkan Alex junior kalau bangun lagi?"


"Nggak, nggak mas, besok aku mau pergi sama Amel, kalau nggak bisa jalan kan repot," Anes menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pergi? sama Amel? mau kemana?" selidik Alex.


"Mmm itu, besok kan hari Minggu, jadi aku mau jalan sama Amel, boleh ya?"


"Nggak boleh!"


"Nggak boleh ya?"


"Padahal udah aku kasih jatah juga malam ini, tetap aja posesif," gumam Anes lirih.


"Oh, jadi kamu agresif malam ini karena ada maunya to?" Alex menatap Anes penuh curiga.


"Nggak, bukannya begitu, aku memang sedang ingin melakukannya kok. Memang kangen banget sama mas Alex," sahut Anes jujur tanpa menyaring omongannya, alhasil ia malu sendiri dengan jawabannya.


Alex terkekeh mendengar ucapan polos dari sang istri. Tidak biasanya Anes seperti itu, tapi ia sangat menyukainya.


"Nggak di ijinin ya mas? cuma sama Amel doang kok, kalau nggak boleh ya nggak papa. Aku nggak akan pergi, toh seorang istri harus ijin suaminya kalau mau keluar rumah," imbuh Anes dengan nada lesu.


"Nggak boleh kalau tidak di antar sopir maksudnya sayang. Mas juga tahu kali, kamu pasti butuh kebebasan, butuh waktu sama teman. Mas nggak mau terlalu mengekang kamu. Ya, walaupun mas akui, terkadang mas memang posesif. Tapi itu karena..."


"Karena mas sangat mencintai aku kan?" Anes memotong kalimat Alex.


"Cerdas sekali istriku ini," mencubit dengan gemas pipi Anes. Anes hanya nyengir mendapat perlakuan seperti itu.


"Tapi, ingat! kamu nggak boleh macam-macam, jaga mata dan jaga hati. Awas kalau macam-macam," mulai posesif lagi.


"Siap tuan muda Parvis!" sahut Anes senang.


"Ck, dasar! ayo tidur udah malam, kalau masih ngajak ngobrol lagi, mas nggak janji buat nggak memakan kamu lagi," Alex memeluk erat Anes.


Akhirnya mereka menutup hari yang melelahkan tersebut dengan menyambut mimpi yang indah.


💠Setelah membaca, jangan lupa like, komen dan votenya ya, serta pencet ❤️nya. Dan yang minta kedok Dimas terbuka, nantikan chapter selanjutnya, salam hangat author❤️❤️💠

__ADS_1


__ADS_2