
Keesokan harinya....
Pagi-pagi sekali Amel sudah sampai di apartemen David.
"Dav, daaaaav apa kamu sedang mandi?" menempelkan telinga di pintu kamar mandi di dalam kamarnya David.
"Ceklek!" David membuka pintunya dan hanya memperlihatkan kepalanya sedangkan badannya masih bersembunyi di balik pintu.
"Pagi sekali dia datang," batin David.
"Iya, aku sedang mandi," ucap David.
"Kenapa kamu mandi sepagi ini, kamu kan sedang sakit? Apa nggak sebaiknya di lap aja badan kamu?"
"Enggak, aku semalam berkeringat banyak, mungkin efek obat jadi, lebih nyaman mandi," sahut David.
"Tapi pakai air hangat kan mandinya?" tanya Amel.
"Hem," sahut David.
" Ya udah sana, lanjutin mandinya, aku mau buatin sarapan buat kamu," ucap Amel.
"Mendengar dia mau masak, jadi nggak enak perasaanku," David mengerutkan dahinya.
"Kamu udah mandi belum?" tanya David kemudian.
"Kamu nggak lihat aku udah dandan cantik begini? Ya udahlah! Kenapa emang?"
"Kirain belum, mau aku ajak mandi bareng," canda David terkekeh.
"Dasar omes!" seru Amlel dan langsung meninggalkan David.
Beberapa saat kemudian,,,,
"Apa ini?" David mengernyitkan dahinya melihat omelette yang baru saja Amel taruh di piring di depannya.
"Omelette, cobain deh?" sahut Amel sembari duduk di kursi seberang David.
"Omelette? kenapa bentuknya abstrak begini? Ini kamu kasih kecap ya?" David sanksi untuk memakan makanan yang di sebut Amel sebagai omelette tersebut.
"Enggak kok, itu cuma sedikit gosong aja, tadi aku kelamaan baliknya," jelas Amel dengan entengnya.
"Sedikit dia bilang? hitam begini," mulai tidak yakin untuk memakannya, salah-salah bukannya cepat sembuh, malah tambah sakit dianya.
Kerena tidak ingin mengecewakan Amel yang sudah berusaha, walaupun hasilnya seperti dugaan David, akhirnya David mencoba memakannya.
"Mel, kamu tidak sedang berencana membunuhku kan?" selidik David, ia ingin sekali mengeluarkan apa yang baru saja ia telan dengan penuh perjuangan tersebut.
"Emang ada tampang kriminal di mukaku hah?" menunjuk mukanya sendiri dengan mata melotot.
"Coba deh kamu rasain sendiri," David menyuapi Amel.
"Wekkkk!" Amel memuntahkan kembali dan langsung meminim air putih untuk menetralkan lidahnya.
"Bagaimana? Enak kan?" sindir David.
"Yakin, rasanya persis seperti kamu Dav, susah di jabarkan dengan kata-kata," sahut Amel.
"Ck, dasar! ibunya pengusaha catering, tapi anaknya nggak bisa masak, tahunya makan doang," ledek David.
"Hehe ya maaf, kalau gitu nggak usah di makan, nanti kamu malah tambah sakit lagi,"
"Huh dasar, biar aku yang buat sarapan," memundurkan kursi yang ia duduki dan berdiri.
"Biar aku bantu," ucap Amel sambil berdiri.
"Tidak usah, kamu tunggu saja di sini,"
menekan bahu Amel supaya duduk kembali dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
__ADS_1
"Maaf ya, kamu yang akut malah kamu yang masak!" ucap Amel sedikit berteriak.
David hanya tersenyum mendengar teriakannya Amel.
tak berselang lama, David kembali ke meja makan dengan membawa sepiring pancake banana. Mereka berdua menikmati pancake tersebut sambil berbincang.
"Udah siang nih, aku harus berangkat kerja. Nanti sore aku mampir lagi, eh lupa kamu belum minum obat kan? mau aku bantuin lagi?"
"Enggak enggak! Makasih, nanti aku minum sendiri aja," David menyahut dengan cepat. Padahal ia sama sekali tidak berniat untuk meminum obatnya lagi.
"Udah bisa menelan obat sekarang?" tanya Amel.
"Aku akan berusaha," sahut David bohong.
"Ya udah, aku berangkat dulu ya?" Amel mengambil tasnya, meminum sisa susu di gelasnya dan ngeloyor keluar.
"Di rumah istirahat saja! jangan buat kerja! ini jaman modern, tidak ada kerja rodi!" teriak Amel sebelum membuka pintu.
๐ผ๐ผ๐ผ
Alex dan Anes tiba di rumah sakit. Sesuai jadwal yang sudah di tentukan, hari ini mereka akan berkonsultasi kepada dokter.
"Mas aku takut, bagaimana kalau nanti hasilnya tidak sesuai harapan kita?" ucap Anes yang kini tengah berjalan menuju ke ruang dokter, ia menggandeng lengan Alex posesif.
"Ada mas di sini, apa yang perlu kamu takutkan?" Alex menyentuh tangan Anes yang melingkar di lengannya, untuk sedikit menenangkan hatinya.
Setelah masuk ke ruangan, mereka langsung melakukan pemeriksaan. Alex di periksa oleh dokter laki-laki, sementara Anes di periksa oleh dokter perempuan.
"Pemeriksaan selesai, sebaiknya dokter Irene saja nanti yang menjelaskan nanti hasilnya kepada tuan muda dan nyonya muda Parvis, saya permisi dulu, masih ada pekerjaan lain yang menunggu saya," Pamit dokter laki-laki.
"Baik dok, terima kasih," sahut Anes.
"Kenapa dokternya harus dua sih mas?" bisik Anes di sela-sela menunggu hasil pemeriksaan.
"Mas nggak mau ya, kamu di sentuh dokter laki-laki, dan juga sebaliknya mas juga nggak mau di sentuh dokter perempuan, mas cuma mau di sentuh kamu. Jadi jalan tengahnya ya dokternya dua," balas Alex berbisik juga.
"Bagaimana dok hasilnya? semua baik-baik saja kan? Tidak ada masalah pada kami berdua kan dok?" tanya Anes yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan dokter.
Dokter Irene yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi itu memeriksa kembali hasil pemeriksaan dengan teliti. Ia tersenyum lalu berkata," Tidak ada yang perlu di khawatirkan Tuan, Nyonya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda berdua tidak ada masalah dalam hal kesuburan dan lainnya. Jadi kemungkinan untuk memiliki anak sangat besar,"
Anes dan Alex merasa sangat lega mendengar penuturan dari dokter. Anes menghela nafasnya dengan perasaan lega.
"Kalau tidak ada masalah, kenapa istri saya belum hamil juga dok? Padahal hampir setiap malam kami mendesah dok. Ah apakah saya salah teknik ya dok?" ucap Alex tanpa malu.
"Mas," Anes merasa malu dengan ucapan suaminya yang menurutnya memalukan tersebut.
Dokter Irene tersenyum mendengar ucapan Alex.
"Mungkin tuan kurang bersungguh-sungguh saat melakukannya," canda dokter.
"Tentu saja saya sangat berniat dan sungguh-sungguh, buktinya istri saya sampai ketagihan, kalau tidak percaya tanya saja," jawab Alex dengan polosnya.
Anes tersipu Malu mendengar suaminya yang terang-terangan.
"Mas apaan sih?" Anes semakin gemas dengan kelakuan suaminya. Ingin rasanya ia menyumpal mulut suaminya.
"Em begini Tuan, Nyonya, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi sulitnya seseorang untuk hamil meski semuanya sehat. Salah satunya adalah siklus haid yang tidak teratur dan juga stres, sedangkan untuk pria sendiri terlalu sering melakukannya mungkin setiap hari atau bahkan sehari bisa beberapa kali akan mengurangi jumlah benih. Untuk meningkatkan kembali kualitas benih, perlu beberapa hari. Jika ingin meningkatkan peluang hamil, di anjurkan setiap 2 hari sekali Atau lebih, untuk berhubungan intim di minggu-minggu pertama sebelum masa subur dan seminggu setelahnya. Mungkin sekitar 3 atau 4 kali bercinta dalam seminggu," Jelas dokter.
" Jadi kalau setiap hari tidak boleh dok? yah penonton kecewa," memasang tampang menyedihkan.
"Bukannya tidak boleh tuan muda, hanya di anjurkan saja," jawab dokter sembari tersenyum.
"Tapi kalau istri saya minta jatah setiap hari bagaiman dok? saya kan tidak bisa menolaknya,"
"Sah-sah saja kalau ingin melakukannya setiap hari jika Anda punya energi dan waktu, tidak masalah," jawab dokter tersenyum lagi.
"Tentu saja punya dok, sesibuk apapun saya, saya selalu meluangkan waktu untuk begituan, dan kalau masalah energi, jangan di ragukan, saya selalu fit, iya kan sayang?" menyenggol lengan sang istri.
"Ya ampun nih orang, mulut nggak di saring. Kenapa bisa jadi sevulgar ini sih di depan dokter, biasanya dingin dan datar di depan orang, kehabisan obat nih kayaknya," batin Anes, ia menepuk jidatnya sendiri. Benar-benar pengen menghilang dari tempat itu secepatnya.
__ADS_1
"Minta jatah gundulmu mas! Orang kamu yang sering memintanya kok, nggak kenal tempat dan waktu," sungut Anes.
"Mas yang mulai, tapi kamu yang mendesah enak kan sayang?"
"Huh kayak mas nggak keenakan aja," sahut Anes jutek.
Alex dan Anes pun terus berdebat manis.
Dokter Irene hanya tersenyum mendengar perdebatan antara suami istri tersebut.
Anes menyadari ada yang salah dengan perdebatannya dan Alex, ya di depan mereka masih ada dokter yang mendengar mereka berdebat.
"Ya ampun, maaf dok. Jangan dengarkan suami saya, dia hanya omong kosong. Tidak seperti yang dia katakan kok," Anes merasa malu sendiri.
"Mas sih, kan nggak setiap hari setiap saat juga," menabok lengan Alex.
"Intinya tidak ada masalah kan dok dengan kesehatan kami berdua? jadi kami bisa memiliki anak kan?" Anes mulai bertanya dengan suasana yang lebih serius lagi.
"Dok, apa..."
"Mas diam, biar aku yang ngomong sama dokter," Anes memotong ucapan Alex.
"Oke oke, nyonya muda Parvis silahkan lanjutkan," sambil menopang dagunya di atas meja dengan tersenyum semanis mungkin sambil memandangi istrinya.
"sepertinya memang sedang konslet nih otak mas Alex,"
"Bagaiman dok? di luar masalah keintiman suami istri tersebut apakah ada hal lain yang harus diperhatikan? makanan misalnya?" lanjut Anes.
"Ya, menjaga pola makan dan hidup sehat bisa juga menjadi salah satunya nyonya muda. Saya rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan kok, hanya masalah waktu saja. Memang terkadang wanita membutuhkan waktu satu tahun atau lebih untuk bisa hamil, jangan khawatir. Yang jelas harus lebih berusaha dan berdoa," jawab dokter dengan ramahnya.
"Baiklah dok, saya akan lebih berusaha lagi buat menghamili istri saya," ucap Alex dengan mantab dan percaya diri.
Lagi-lagi dokter tersenyum mendengar ucapan Alex.
"Saya akan memberikan asam folat untuk di konsumsi nyonya muda. Ini akan menambah kesuburan pada masa program hamil," ucap dokter.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dokter," pamit Anes.
"Dokter, apakah ada kiat dan trik khusus misalnya posisi dan gaya saat sedang berolah raga malam supaya cepat hamil?" tanya Alex sebelum meninggalkan ruangan dokter.
"Kalau itu senyaman ya tuan saja," sahut dokter ramah.
"Lama-lama di sini bisa kebuka semua nih rahasia urusan ranjang," batin Anes.
"Udah ayo mas!" membungkam mulut Alex dan mengajaknya keluar.
"Ih mas kok menjilat tangan aku sih? jadi kena air liurmu kan," protes Anes ketiak sudah keluar dari ruangan dokter.
"Siapa suruh membekap mas mulut mas, kan mas masih ingin berkonsultasi, malah di ajak pulang,"
"Ih jorok sekali, lagian mas terlalu polos tapi mesum sih, kayak bukan mas Alex tau nggak?" Anes mengambil tisu basah dan mengelap tangannya serta menyemprot antiseptik ke tangannya. Entahlah apa maksudnya polos tapi kok mesum?
"Ya enggak apa-apa dong? namanya juga konsultasi, kalau malu ya nggak usah konsultasi, lagian mas saking senangnya sayang, karena kita ada peluang besar buat punya anak,"
"Serah dah serah!" seru Anes sambil ngeloyor.
"Maaf sayang, tadi mas emang berlebihan di dalam," batin Alex tersenyum.
๐ผ๐ผ๐ผ
Malam harinya..
"Sekarang udah tenang kan? Dokter sendiri yang bilang kita nggak ada masakh," ucap Alex kepada Anes sambil menyelipkan rambut Anes ke belakang telinganya. keduanya duduk bersila saling berhadapan.
"Iya mas, tapi kenapa sampai sekarang belum juga berhasil?"
"Em berati yang kurang tok cer nih, kalau gitu kita coba lagi yuk?" Alex langsung mendorong tubuh Anes dengan senyum smirknya ia memulai aksinya.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1