
Usia pernikahan Alex dan Anes sudah 7 bulan, namun belum ada tanda-tanda hadirnya seorang malaikat kecil dalam perut Anes .
"Bagaimana hasilnya?" tanya Alex kepada Anes yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Anes menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menunjukkan hasil testpack kepada Alex. Ada guratan kecewa dari wajahnya. Alex melihat hanya ada satu garis di testpack tersebut.
"Sudah tidak apa-apa, kita baru menikah 7 bulan. Mungkin Tuhan masih ingin kita menikmati waktu untuk pacaran berdua," Alex memegang erat tangan Anes yang berdiri di depannya.
"Tapi mas,"
"Ssst!" Alex menempelkan jari telunjuknya di bibir Anes lalu memeluknya.
"Kita nikmati saja dulu waktu yang di berikan oleh Tuhan untuk pacaran. Tuhan tahu kapan waktu terbaik untuk mempercayai kita buat memiliki anak. Nggak usah sedih yang penting kita terus berusaha dan berdoa," Alex mencoba menenangkan hati Anes.
"Mas Alex benar, mungkin Tuhan masih ingin kita bermain-main dahulu, karena dulu kita langsung menikah tanpa pacaran. Makanya sekarang setelah menikah di beri kesempatan buat pacaran," sahut Anes.
" Nah itu tahu, udah jangan sedih. Mmm mumpung kita libur, sekarang mas mau ngajak kamu ke suatu tempat," ucap Alex.
"Mau kemana mas?" tanya Anes.
"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu,"
"Selalu deh, nggak pernah mau kasih tahu kemana kalau ngajak pergi," protes Anes.
"Namanya juga kejutan," Alex menyentil hidung Anes.
"Sebentar aku ambil tas dulu," sahut Anes dan langsung mengambil tasnya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sementara di rumahnya, Amel terus menangis dan mengurung diri di kamarnya. Ia terus mengingat kejadian semalam dimana ia mendengar dengan jelas kalau orang tuanya akan bercerai. Amel berharap itu semua hanya mimpi buruk. Tapi, kenyataannya itu adalah sebuah kebenaran.
Flash back on
Amel sedang memangku laptopnya, jari jemarinya asyik mengetik naskah novel online. Ya, ia memang suka sekali menulis sebuah novel online, terutama yang bergenre romantis. Samar-samar ia mendengar suara orang sedang bertengkar. Ia keluar untuk memastikan kalau pendengarannya masih normal.
__ADS_1
Benar saja, semakin ia mendekat ke arah suara, semakin jelas kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar. Amel mengintip dari balik tembok.
"Jadi ini keputusan akhir yang kamu ambil? benar-benar ingin berpisah denganku?" tanya ibunya Amel yang sudah berderai air mata.
"Apa? berpisah?" Amel membelalakkan matanya dan menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Pasalnya, selama ini ia tidak pernah mendengar kedua orang tuanya itu bertengkar. Mereka selalu menunjukkan sikap harmonis di depan Amel dan Aksa kakak Amel yang sekarang tinggal di luar negeri setelah menikah.
"Iya, aku sudah memantapkan keputusanku. Gugatan ku yang waktu itu sudah disetujui oleh pengadilan agama, Satu Minggu lagi kita akan melakukan sidang. Aku sudah mantab dengan keputusanku, jadi tidak perlu ada mediasi segala. Selama ini aku sudah mencoba yang terbaik. Berusaha menjadi ayah yang baik buat Aksa dan Amel. Tapi, aku tidak bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Aku sudah berusaha untuk mencintai kamu, tapi aku tidak bisa. Maafkan aku," ayah Amel mengacak rambutnya frustasi.
"Apa? tidak mencintai mama? mustahil! kalau tidak cinta kenapa bisa lahir kak Aksa dan aku? apa-apaan ini? omong kosong!" cairan bening mulai keluar dari sudut mata Amel. Aksa adalah kakak Amel yang memutuskan untuk tinggal di luar negeri setelah menikah.
"Aku tahu, dulu kita menikah karena di jodohkan. Apa sampai sekarang rasa cinta itu tidak bisa tumbuh sama sekali meskipun kini kita sudah memiliki Aksa dan Amel? Tidak bisakah kamu memikirkan bagaimana perasaan mereka, jika mereka tahu kalau orang tuanya tidak saling mencintai?"
"Jadi, selama ini mereka harmonis di depanku hanya bersandiwara?" Amel tak habis pikir, kedua orang tuanya menyembunyikan rahasia itu begitu lama. Bahkan sampai ia tumbuh dewasa. Bagaimana bisa mereka hidup bersama selama itu kalau tidak saling mencintai.
"Aku juga berat mengambil keputusan ini, tapi kamu tahu sendiri dari dulu aku mencintai wanita lain, dan sekarang anak kami sudah tumbuh semakin dewasa. Aku ingin fokus terhadap mereka. Bukankah kamu juga tidak mencintaiku?" ucap ayah Amel berterus terang.
" Ya, aku memang tidak mencintai kamu mas, tapi aku masih memikirkan perasaan anak-anak kita. Karena simpanan dan anaknya itu, kamu tega menyakiti hati anak-anak kita mas?jawab!" ibunya Amel sudah mulai kehilangan kesabarannya.
"Wanita lain? anak? jadi, selama ini papa memiliki istri dan anak lain? kenapa selama ini mama bertahan dengan laki-laki seperti itu?" Amel benar-benar kecewa dan marah. Pekerjaan sang ayah yang mengharuskannya sering meninggalkan rumah, membuat Amel tidak pernah curiga kalau ayahnya memiliki wanita lain di luar sana.
"Tidak! Amel tidak mengerti sama sekali! apa-apaan ini? omong kosong!" teriak Amel yang sudah tidak bisa bersembunyi lagi. Wajahnya nampak penuh dengan amarah dan kekecewaan.
"Sayang dengarkan papa dulu! papa akan menjelaskan semuanya,"
"Tidak perlu! aku sudah mendengar semuanya! Kalau kalian mau cerai, cerai saja! Toh percuma hidup harmonis kalau hanya sandiwara. Kalian pantas mendapatkan penghargaan atas akting kalian selama ini!" Amel berlari menuju ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Ia terus menangis sampai lelah hingga akhirnya tertidur.
Flashback off
"Percuma nangis terus kalau keputusan mereka sudah bulat," Amel mengusap kasar air mata pada wajahnya.
Amel bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil tasnya.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya ibunya yang melihat Amel keluar kamar dengan membawa tasnya.
"Cari angin, di rumah ini rasanya sesak karena penuh drama sampai aku rasanya nggak bisa bernafas lagi!" sahut Amel ketus dan langsung pergi.
__ADS_1
"Amel tunggu!" ibunya mencoba mencegah Amel pergi namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Amel. Ia terus melangkah tanpa mempedulikan ibunya yang terus memanggil namanya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Mobil yang di tumpangi oleh Alex dan Anes memasuki ke pekarangan sebuah rumah mewah dan besar.
"Ayo turun sayang!" ajak Alex.
"Ini rumah siapa mas? besar banget!" ucap Anes yang merasa takjub dengan kemewahan dan besarnya rumah yang kini ada di hadapannya.
"Rumah kita," jawab Alex.
"Ru rumah kita? maksudnya rumah mas Alex?" Anes memastikan.
"Rumah kamu juga sayang, dulu waktu mengajak kamu tinggal di apartemen kan mas udah bilang, kita tinggal di sana hanya untuk sementara sampai mas menemukan rumah yang layak untuk kita tinggali," Alex mengingat ucapannya dulu waktu Anes pertama kali menginjakkan kaki di apartemen mewahnya.
"Tapi, apa ini nggak terlalu besar buat kita mas?"
"Tentu saja tidak, nantinya kan tidak hanya kita berdua yang tinggal di sini, tapi juga anak-anak kita. Mas mau kelak anak-anak kita akan memiliki tempat tinggal yang nyaman. Ayo masuk!"
Alex mengajak Anes masuk dan Anes benar-benar terpana.
"Semua perabot sudah di isi lengkap, kita tinggal menempati saja rumah ini. Dua Minggu lagi kita akan pindah ke sini," ucap Alex.
Anes mengangguk mendengar ucapan Alex.
"Apa kamu suka?" tanya Alex sambil melihat-lihat berkeliling rumah. Semua furnitur yang ada di rumah tersebut sangat mewah.
"Iya mas, suka banget!" jawab Anes dengan girang.
"Nanti di sini kamu bisa membuat taman bunga sendiri," Alex menunjuk area yang masih kosong di belakang rumah. Alex tahu kalau Anes memiliki impian jika ia memiliki rumah sendiri, ia akan membuat sebuah taman yang penuh dengan bunga dan ia sendiri yang akan menanam dan mengurusnya. Tentu saja Anes sangat senang mendengar ucapan Alex.
"Ya udah kita lihat yang lantai atas yuk!" ajak Alex. Lalu mereka menuju lift menuju ke lantai atas. Ya, rumah tersebut di lengkapi dengan lift, jadi jika malas menggunakan tangga, mereka bisa menggunakan lift khusus tersebut.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1