
Hari berikutnya bergulir begitu saja seperti biasa dan tidak ada yang spesial walaupun hari Minggu, Alex dan Anes hanya menghabiskan waktu libur mereka di rumah. Sampai waktu malam tiba lagi.
Alex sedang bersantai sambil menonton televisi. Tiba-tiba ada yang menepuk-nepuk pundaknya dari belakang. Alex menoleh ke belakang dan....
"Astaghfirullah!" seru Alex sambil mengelus dadanya sendiri, ia refleks langsung melompat ke atas sofa, karena terkejut melihat Anes dengan masker di wajahnya.
"....." ucap Anes tidak jelas karena sedang memakai masker jadi tidak bisa bicara sembarangan agar maskernya tidak retak.
"Ini kamu sayang? Mas kira hantu, habis muka kamu putih serem gitu. Itu muka di apain?" tanya Alex setelah dengan seksama memperhatikan ternyata yang membuatnya kaget adalah Anes.
Anes hanya mengangguk membalas ucapan Alex.
"......" ucap Anes tidak jelas.
"Kamu ngomong apa sih sayang? mas nggak ngerti. Yang jelas bicaranya jangan berdengung," sahut Alex yang tak mengerti sama sekali dengan apa yang di ucapkan oleh Anes.
"......" sahut Anes mulai kesal karena suaminya tidak mengerti kalau dia sedang memakai masker jadi tidak bisa bicara dengan jelas.
"Hah apa? Mas beneran nggak ngerti kamu ngomong apa sayang, please bicara pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar."
"Hah, gitu aja nggak tahu, aku bilang ayo cepat siap-siap kita akan ke rumah papa Arya buat makan malam di sana!" ucap Anes dengan keras. Yang membuat maskernya menjadi retak.
"Ah tuh kan! jadi rusak deh maskerku. Mas Alex sih nggak ngerti-ngerti di ajak bicara. Bagaimana coba kalau mukaku malah jadi keriput. Sebel sebel sebel," gerutu Anes sambil memukul-mukul dada bidang Alex.
Alex terkekeh mendengar omelan Anes. Ia langsung menangkap tangan Anes yang memukul-mukulnya itu.
"Hei dengerin mas! Walaupun kamu keriput mas tetap cinta sama kamu, apa yang kamu takutkan hem?"
"Ah tetap aja sebel. Tanggung jawab!" ucap Anes sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah muka Alex.
"Hah kamu hamil? kok minta mas tanggung jawab. Kan udah mas nikahin mau tanggung jawab gimana lagi Hem?" Alex malah menggoda Anes.
"Mas Alex! nggak lucu!" Anes mulai memasang wajah cemberutnya.
"Uuuuhh menggemaskan sekali sih my sweety duck!" Alex menelangkupkan kedua tangannya di wajah Anes yang masih ada masker yang retak tersebut.
__ADS_1
"Jangan panggil aku seperti itu, aku bukan bebek," protes Anes.
"Tapi kamu lucu kalau sedang manyun begitu, seperti bebek. My sweety duck hehe,"
"Iya iya mas tanggung jawab. Ayo sini duduk!" lanjut Alex sambil menuntun tangan Anes agar duduk di sofa.
Alex heran, sejak kapan istrinya itu menjadi peduli dengan penampilannya. Biasanya dia cuek, bahkan sangat jarang sekali ia pergi ke salon.
Dengan telaten Alex mengelap wajah Anes yang penuh dengan masker menggunakan handuk kecil yang di basahi menggunakan air hangat sampai wajah Anes kembali bersih. Ya, seperti itu lah bentuk tanggung jawab yang di berikan oleh Alex.
"Selesai tuan putri. Masih mulus tanpa keriput sama sekali," ucap Alex. Alex meletakkan handuk yang di buat untuk membersihkan masker ke dalam wadah kecil berisi air hangat. Yang airnya kini sudah berubah menjadi putih tidak bening lagi seperti tadi. *readers: nggak usah di jelasin sedetail itu kali Thor*
"Ya udah ayo sekarang siap-siap buat ke rumah papa Arya!" ajak Anes.
"Tunggu, memangnya kita ada rencana buat makan malam di sana? Memang papa udah tahu?" tanya Alex. Ia merasa tidak ada telepon atau pesan dari pak Arya yang menyuruhnya ke rumah. Ia juga belum ada rencana buat ke sana.
"Ada, papa udah tahu kok," jawab Anes.
"Kapan kita merencanakan buat ke sana? perasaan kita nggak ngomongin itu,"
" Hah kamu ini, kenapa nggak bilang dulu sih sama mas? lain kali saja lah ke sananya ya? Mas lagi malas nih," Alex mencoba mencari alasan.
"Nggak! Harus sekarang! Aku udah janji sama papa mas. Kasihan papa pasti kecewa kalau kita nggak jadi datang,"
"Bukannya mas nggak mau ke sana sayang, mas hanya nggak mau makan semeja dengan wanita itu. Tapi, kamu benar papa pasti akan kecewa kalau kita tidak jadi datang."
"Baiklah kita ke sana sekarang," akhirnya Alex setuju.
Anes tampak senang sekali. Karena sejak mereka menikah, mereka belum pernah sama sekali berkunjung ke rumah mertuanya tersebut. Ia juga sudah menyiapkan oleh-oleh yang waktu itu di belinya di Maldives.
Setelah bersiap-siap, mereka langsung berangkat.
🌼🌼🌼
__ADS_1
Sampai di rumah pak Arya, Alex dan Anes di sambut hangat olek pak Arya. Rania juga ikut menyambut mereka, walaupun sebenarnya ia malas melakukan itu.
"Sayang kalian sudah datang," sambut pak Alex sambil memeluk Alex dan Anes bergantian.
"Iya pa, maaf ya kami baru sempat ke sini setelah menikah," balas Anes dengan ramah.
"Nggak papa sayang, yang penting sekarang kalian sudah dagangan. Papa senang sekali,"
"Ma," Anes menyapa Rania.Kemudian, Anes memeluk Rania tanpa ragu. Rania membalas pelukannya dengan senyum terpaksa.
Alex kembali menggenggam tangan Anes posesif. Rania hanya melirik sinis ke arah tangan mereka.
"Ayo masuk, bibi sedang menyiapkan makan malam untuk kita," ajak Rania. Dan merekapun masuk ke dalam.
"O ya ma, ini ada oleh-oleh dari Maldives. Maaf baru sempat memberikannya. Semoga mama dan papa suka," ucap Anes sambil menyodorkan paper bag yang ia siapkan tadi.
"Oh, tidak perlu repot-repot sayang, mama terima ya? terima kasih banyak kamu sempat memikirkan untuk membeli oleh-oleh buat kami," ucap Rania sebisa mungkin terlihat ramah, baik hati dan tidak sombong.
"Dasar wanita rubah!" batin Alex yang melihat kepalsuan dari Rania. Ia tahu kalau Rania hanya berpura-pura baik kepada Anes.
Sambil menunggu para pelayan menyiapkan makan malam, mereka berbincang-bincang di ruang keluarga. Pak Arya terlihat sangat bahagia sekali. Apalagi melihat kemesraan yang di tunjukkan oleh Alex dan Anes. Ia yakin kalau mereka saling mencintai. pak Arya sangat bersyukur karena ia tidak salah menjalankan wasiat dari Almarhum ayahnya yaitu menjodohkan Alex dan Anes.Terlihat jelas raut bahagia dari putra semata wayangnya tersebut.
Pemandangan yang sangat langka sekali melihat mereka bisa duduk bersama dan sling berbincang. Dulu, untuk bertemu saja mereka sangat sulit karena Alex lebih memilih tinggal di kos-kosan waktu kuliah karena Alex tidak ingin membawa nama besar Parvis pada dirinya waktu itu. Ia hidup mandiri dengan kerja kerasnya sendiri. Apalagi setelah pak Arya menikah dengan Rania, dia semakin menjauh dengan pergi ke Australia. Pak Arya hanya sesekali mengunjungi Alex di sana sekalian perjalanan bisnis. Itupun hanya sebentar, mungkin bisa di bilang hanya dalam hitungan menit.
Alex tidak melihat ke arah Rania sama sekali, jangankan melihat melirik saja tidak. Ia hanya fokus kepada Anes dan sesekali membalas ucapan pak Arya. Berbeda dengan Anes, yang tetap ramah dan mengobrol dengan Rania.
"Kalian lanjutin ngobrolnya ya, aku mau mengecek apakah semuanya sudah siap," pamit Rania yang tak ingin berlama-lama di sana.
"Biar aku bantu ma," tawar Anes.
"Tidak udah sayang, mama hanya mengecek saja kok. Kamu duduk saja di sini dan temani mereka ngobrol," tolak Rania.
"Baiklah kalau begitu," sahut Anes.
"Cih sok baik pake nawarin bantuan. Aku pergi juga karena tidak ingin lama-lama ngobrol sama kamu, dan aku risih lihat kamu nempel terus sama Alex. Bikin sakit mata," batin Rania.
__ADS_1
🌼🌼🌼