
Beberapa Minggu kemudian....
Kini usia kehamilan Anes memasuki Minggu ke 15. Drama ngidam anti mainstream Alex pun sudah hilang. Ya, sepertinya David berhasil menikung ngidamnya Alex melalui doa-doanya karena drama mangga muda beberapa Minggu yang lalu menjadi ngidam terkahir Alex yang aneh. Selanjutnya masih di dalam batas akal manusia.
Namun, perubahan yang lumayan signifikan terjadi kepada Anes, hormon kehamilannya di usia 15 Minggu ini membuat moodnya lebih tidak stabil lagi dari sebelumnya.
Kadang ia bisa tiba-tiba menangis dan langsung tersenyum. Tiba-tiba dia juga bisa marah-marah tanpa sebab dan sebagainya. Hal itu membuat Alex terkadang kebingungan namun tetap berusaha sabar menghadapi istrinya.
Pagi hari di kediaman tuan muda Parvis, Anes tampak sedang berdiri di depan cermin sambil melihat perubahan perutnya yang mulai membesar. Dia berputar ke kanan dan ke kiri sambil senyum-senyum sendiri. Tangan satunya digunakan untuk menarik piyama yang ia pakai ke belakang perut, sementara yang satunya terus mengusap-usap perutnya.
Alex yang masih enggan untuk beranjak, hanya memperhatikannya dari atas tempat tidur sambil tersenyum melihat tingkah sang istri.
"Mas anak kita bergerak!" seru Anes girang, ketika merasa ada sedikit gerakan dari dalam perutnya.
Alex langsung menghampirinya dan memeluk Anes dari belakang, meraba perut Anes dari balik baju piyama yang Anes kenakan. Ia juga bisa merasakan gerakan calon anaknya walaupun masih belum begitu jelas.
"Anak Daddy, makin pintar ya," ucap Alex sambil melihat bayangannya dan Anes di balik cermin. Rona bahagia terpancar dari kedua insan tersebut. Alex berkali-kali mencium pipi Anes yang semakin berisi tersebut.
"Nanti mas antar aku ke rumah mama dulu ya sebelum ke kantor, nanti sore kan mama mau mengadakan syukuran buat kehamilan aku," ucap Anes.
"O iya, hari ini ya? Kenapa harus di rumah mama sih sayang? kenapa nggak di rumah ini aja," sahut Alex.
"Ya biarin dong di rumah mama, itu kan niat mama yang mau mengadakan syukuran. Emangnya mas Alex, tahu istrinya hamil bukannya syukuran malah dangdutan," sindir Anes.
"Iya sayang mas salah, maaf," ucap Alex.
"Aku mau mandi mas, biar segar. Mau mandi bareng?" tawar Anes.
"Mau mau mau!" sahut Alex antusias.
Akhirnya mereka pun mandi bersama.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Hiks hiks hiks," Anes menangis karena celana jeans yang akan ia pakai tidak muat lagi. Ia mencoba beberapa celana jeansnya namun tidak ada yang muat.
"Udah sayang, jangan nangis dong, kan masih ada baju yang lain, nggak harus pakai celana jeans, pakai dress aja ya?"
"Aku nangis bukan karena itu mas, tapi karena aku sekarang gendut, celana dah pada nggak muat, pasti jadi jelek huhuhu," ucap Anes.
__ADS_1
"Hei, siapa bilang istri mas jelek, biarpun tambah montok, istri mas tetap cantik," Alex mengusap air mata di pipi Anes.
"Tuh kan, mas aja bilang aku gendut," kesal Anes, ia memukul lengan Alex.
"Montok sayang, bukan gendut. Lagian ini kan karena ada anak kita yang tumbuh di perut kamu. Jangan nangis lagi ya?"
"Iya, mas benar itu artinya anak kita tumbuh dengan baik di dalam sana," tiba-tiba mood Anes kembali normal dan tersenyum.
"Sekarang pakai yang ini saja ya?" Alex mengambilkan baju untuk Anes dan Anes langsung memakainya.
Selesai memakai bajunya, Anes langsung memeluk Alex.
"Maafin aku mas," ucap Anes terisak.
"Kok minta maaf?"
"Karena aku rewel, suka marah nggak jelas, jadi seperti ABG labil, mas pasti sebel kan sama aku? benci sama aku, iya kan? aku juga nggak tahu kenapa bisa jadi seperti ini. Udah mau jadi mommy malah akunya seperti anak kecil begini hiks," ucap Anes mengingat akhir-akhir ini moodnya benar-benar kacau, bahkan Alex sering harus meninggalkan rapat di tengah jalan dan pulang untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Sssst kenapa kamu berpikir seperti itu sayang, mas nggak sebel nggak benci sama kamu, justru mas sangat mencintai kamu?" Alex mengeratkan pelukannya.
"Bohong kan, aku pasti menjengkelkan, mas pasti berpikir mau cari istri baru kan yang nggak menjengkelkan masuk aku ini, hiks. Jangan tinggalin aku, aku nggak mau jadi janda.
"Jangan bilang seperti itu, mas nggak akan ninggalin kamu dan anak kita, apa kamu meragukan cinta yang mas punya buat kamu dan anak kita?"
"Tidak, bukan begitu, tapi lihatlah, sekarang saja aku mulai gendut, jelek, aku takut mas menyesal dan akan kembali sama mama ran..."
Belum Anes menyelesaikan ucapannya, Alex sudah mendaratkan bibirnya di bibir Anes dan melum*tnya.
"Jangan sebut wanita itu dengan bibir manismu ini sayang, atau mas tidak akan mau menciumnya lagi," Alex mengusap bibir Anes menggunakan jempolnya.
"Maafin aku mas hiks hiks,"
"Sudah jangan menangis, percayalah dengan cinta yang mas punya buat kamu dan anak kita, kalian adalah segalanya buat mas. Jangan pernah ragu untuk hal itu," Alex kembali memeluk Anes.
Alex sudah biasa dengan sikap istrinya yang moodnya sering berubah-ubah dengan tiba-tiba tersebut, namun juga terkadang kepalanya sampai pusing memikirkannya. Kenapa istrinya menjadi seperti itu.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sebelum ke kantor, Alex mengantar Anes ke rumah mertuanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sudah sampai, mas langsung aja ya?" ucap Alex.
"Hem, mas hati-hati ya. Aku turun dulu," sahut Anes.
"Ehem!" Alex berdehem ketika Anes ingin membuka pintu mobil. Anes menoleh.
"Apa lagi mas?"
Alex menunjuk pipinya sendiri, Anes paham maksud dari Alex.
"Sini mendekat," ucap Anes.
Alex pun medekatkan wajahnya ke Anes dan mencium pipinya kanan kiri, kening, hidung dan berakhir di bibir.
"Udah ya?" ucap Anes lalu turun dari mobil.
"Sayang," panggil Alex sambil membuka kaca mobilnya.
"Apalagi mas, kurang? nanti di rumah," sahut Anes.
"Kamu lupa ini," Alex menyodorkan paper bag berisi baju yang akan Anes kenakan di acara sore nanti.
"Hehe makasih suamiku, jangan lupa nanti acaranya jam 3 ya, ajak pak David dan Amel sekalian," ucap Anes.
"Hem, jangan lupa ceknya kasih ke mama buat ganti biaya acara syukuran nanti," sahut Alex,
"Kalau mama menolak bagaimana?"
"Bilang aja, menantunya ini tidak suka di tolak,"
"Kalau tetap di tolak bagaimana?"
"Bilang sama mama, kalau tetap menolak mas akan tambah angka nol di belakangnya,"
"Makin banyak dong,"
"Masuklah, mas pergi dulu," ucap Alex.
kemudian melajukan mobilnya, ia melihat dari kaca spion, Anes masih berdiri di tempatnya dan melambai-lambaikan tangannya. Ia tersenyum lalu melajukan mobilnya semakin cepat hingga bayangan Anes dari spionnya tak lagi terlihat.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ