MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 43


__ADS_3

Akhirnya, Alex dan Anes sampai di sebuah restoran yang cukup besar yang buka khusus jam 12 siang sampai jam 3 sore, sederhana menurut Alex, namun tidak menurut Anes, menurutnya restoran tersebut cukup mewah. Awalnya Anes malah mengajak untuk makan siang di warteg atau rumah makan Padang, tapi Alex tidak menyetujuinya.


"Nggak, kali ini aku yang pilih!" tegasnya ketika Anes meminta untuk pergi mencari warteg atau rumah makan Padang.


Tentu saja, pemilihan restoran tersebut harus melalui perdebatan yang cukup alot antara Alex dan Anes. Alex yang biasa hidup mewah sedang Anes yang biasa hidup sederhana. Hal itu menjadi tantangan bagi keduanya untuk bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing dan untuk lebih mengenal satu sama lain. Mengingat awal pertemuan mereka yang sangat singkat, hingga mereka belum punya cukup waktu untuk saling mengenal dan memahami karakter masing-masing.


Namun, dalam benak mereka masing-masing, bertekad untuk belajar memahami dan menyesuaikan karakter masing-masing sambil berjalan mengarungi bahtera rumah tangga yang baru saja mereka bangun.


Memang tidak mudah untuk menyatukan isi dua kepala dalam suatu hubungan, namun ego dari masing-masing yang harus sebisa mungkin di minimalisir.


"Kamu mau makan apa?" tanya Alex ketika seorang waitress datang dan menyerahkan menu list.


Anes masih bingung melihat menu makanan yang ada di list menu yang dipegangnya. Dia fokus melihat-lihat daftar harganya yang menurutnya cukup mahal.


"Mmm, tapi mending lah daripada restoran-restoran bintang lima yang harganya bisa buat aku makan satu Minggu bahkan mungkin satu bulan itu, suamiku kaya ini, bolehlah sekali-kali makan yang sedikit mahal, masa harus warteg dan nasi Padang terus, sekali-kali manjainlah cacing-cacing diperut ," batin Anes lalu tersenyum.


"Jangan bilang, dia minta pindah restoran dengan alasan cacing dalam perutnya tidak bisa menerima, itu pasti cuma alasan saja,ayolah aku tahu dalam pikiranmu harga pasti nomor satu, dasar wanita suka itung-itungan. Came on, suami kamu tidak akan jatuh miskin walaupun kamu makan di restoran bintang lima setiap hari setiap waktu sekalipun" batin Alex sambil memicingkan matanya menatap Anes yang terlihat fokus dengan menu list booknya.


"Malah diam, kamu mau makan apa?" tanya Alex lagi.


"Mmm terserah mas Alex saja," jawab Anes.


"Saya pesan appetizernya brokoli soup dan prawn salad, main coursenya chicken snithczel dan pizza, terus dissertnya coffe pannacotta dan green Apple sorbet. Semuanya untuk dua orang," ucap Alex kepada waitress.


"Minumnya jus strawberry 1 sama ice lemon tes 1" lanjut Alex.


🌼🌼🌼


Alex menarik nafasnya lega setelah ia menyelesaikan pekerjaannya, walaupun David bisa menghandle semuanya saat ia cuti namun tetap saja ada banyak pekerjaan yang harus ia sendiri yang mengerjakannya. Ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia melonggarkan dasi dan membuka kancing lengan kemejanya kemudian ia lipat kemejanya sampai siku.


David keluar dari ruangannya dan menghampiri Alex.


"Bos belum pulang?" tanyanya.


"Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku," sahut Alex. Kemudian ia melihat jam tangan yang melekat ditangannya.


"sudah lewat dari jam pulang kantor, Anes pasti sudah menunggu" gumam Alex.


"Ayo kita pulang!" ajaknya pada David.

__ADS_1


"Bos duluan saja, saya masih ada sedikit pekerjaan," sahut David.


"Baiklah aku pulang dulu, jangan terlalu lelah, kerjakan besok, jika tidak terlalu mendesak," ucap Alex.


"Baik Bos."


Kemudian, Alex mengambil jasnya dan segera keluar dari ruangannya. Dilihatnya Anes tertidur di meja kerjanya karena menunggu Alex.


"H**arusnya tadi aku menyuruhnya pulang duluan" batinnya ketika ia melihat istrinya tertidur.


"Tok tok tok" Alex sedikit membungkuk dan mengetuk keras meja kerja Anes tepat di samping telinga Anes. Anes merasa kaget dan langsung membuka matanya, dan gelagapan. Setelah menyadari bahwa Alex yang membangunkannya, ia menatap tajam suaminya tersebut.



"M**engagetkan saja, hei tuan, anda tu membangunkan istri bukan kerbau, nggak bisa halus sedikit apa?" gerutu Anes dalam hati.


"Kenapa melihatku seperti itu? ayo pulang!" ucap Alex tanpa merasa bersalah.


Anes hanya diam dan mengambil tasnya dan berjalan mendahului Alex. Ia kesal dengan Alex, bagaimana tidak, cara Alex membangunkannya membuatnya pusing, sedang enak-enaknya tidur malah dikagetkan. Untung saja Anes tidak langsung lari karena berpikir ada kebakaran atau banjir karena biasanya orang tidur kalau kaget akan bertingkah aneh.


"Tunggu!" ucap Alex, namun Anes tidak menghiraukannya. Dengan segera Alex meraih tangan Anes dari belakang dan menariknya hingga Anes berbalik badan dan jatuh dalam pelukan Alex.


"Pak lepasin, ini di kantor!" pinta Anes


"Bangun tidur tu di lap dulu, siapa tau ada ilernya kalau tidurnya nganga kayak gitu," lanjutnya.


Mendengar ucapan Alex, sontak membuat Anes malu setengah mati.


"Y**a ampun, Anes bikin malu aja," batinnya, mukanya langsung memerah karena malu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Maaf mas, tapi kenapa pakai tangan sih ngelapnya, kan jijik, sini aku lap tangannya pakai tisu basah," Anes merasa nggak enak hati, ia segera mengeluarkan tisu basah dari tasnya dan meraih tangan Alex untuk membersihkannya.


Alex tersenyum melihat tingkah istrinya, padahal ia hanya mengerjainya saja, karena ia tahu kalau Anes sedang kesal dengannya. Sebenarnya saat tidurpun Anes kelihatan sangat cantik, manis dan menggemaskan menurutnya.


"Ting" pintu lift terbuka dan mereka segera masuk.


"Memang beneran mas, ada air liur di bibir aku tadi?" tanya Anes masih penasaran.


"Hem" jawab Alex sambil menahan tawanya.

__ADS_1


"Tu kan, mas pasti ngerjain aku, udah ngagetin tambah ngerjain, tadi aku malu banget tahu! sebel deh!" kesal Anes langsung memasang mode bete.


"Maaf maaf aku cuma bercanda tadi," ucap Alex.


"Ting" pintu lift terbuka dan mereka langsung keluar menuju mobil yang sudah menunggu di depan kantor.


Di dalam mobil, Anes masih diam tidak mau bicara. Alex jadi bingung di buatnya.


"Masih marah?"


"Hem" jawab Anes singkat dan manyun.


"Maaf, kan aku cuma bercanda, nggak diulangi lagi, janji!" ucap Alex sambil mengangkat dua jarinya.


"Mas sih, hal kayak gitu tuh sensitif buat perempuan tau! salah satu hal yang memalukan bagi perempuan kalau sampai ada iler dan dan terlihat orang lain terutama dilihat oleh lawan jenis."


"Iya iya aku minta maaf."


"Ya."


"Beneran maafin?"


"Iya."


"Senyumnya mana?"


Kemudian, Anes menatap wajah Alex dan tersenyum. Alex langsung mencium bibir Anes dengan penuh nafsu.


"Mas Alex!"


"kenapa?"


"Malu tau sama Pak Anton," ucap Anes lirih sambil melirik kearah sopir di depannya.


"Kenapa memangnya, pak Anton tidak melihat dan mendengar kalau kita bermesraan ,berciuman atau yang lain, iya kan Pak?"


"Ih mas Alex!" Anes mencubit pinggang Alex.


"Aw! emang bener kan Pak, cepat jawab iya Pak!" Alex meminta penjelasan dari pak Anton.

__ADS_1


"Iya nona, saya tidak mengetahui apa-apa," jawab sang sopir bohong namun tersenyum penuh arti.


"Ish bohong banget sih Pak Anton!" dengus Anes.


__ADS_2