
Alex yang baru saja membuka matanya langsung pergi mencari keberadaan istrinya, dan benar dugaannya, istrinya berada di dapur sedang memasak. Kenapa harus sibuk mencarinya, bukankah memasak di dapur merupakan rutinitas yang selalu dilakukan Anes setiap pagi? entahlah, mungkin Alex pikir istrinya akan kabur atau di culik mungkin? hah lagian siapa yang mau menculiknya dari apartemen yang super ketat penjagaannya tersebut. Kecuali, Anes sendiri yang kabur karena menemukan laki-laki yang lebih segala-galanya dari sang suami, secara dia kan cantik, baik hati dan tidak sombong, wajar kalau Alex takut kehilangan. *hehehe.
Alex memperhatikan Anes yang sedang memotong sayur dengan posisi membelakangi Alex yang bersandar di pintu dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Alex tersenyum bahagia, berapa beruntungnya dia memiliki istri yang selalu memperhatikan urusan perutnya, jadi dia tidak perlu khawatir akan kelaparan maupun kekurangan gizi.
"Bagaimana kamu bisa konsentrasi masak dengan rambut tergerai bebas seperti ini?" ucap Alex yang kini sudah berada tepat di belakang Anes, ia gemas melihat Anes yang kerepotan dengan rambutnya yang tergerai bebas saat memotong sayur dan sesekali ia harus menyibakkan rambutnya yang mengganggu aktivitas potong memotongnya tersebut.
"Mas Alex?" ucap Anes ketika sadar akan kedatangan suaminya.
"Harusnya, rambut kamu diikat biar nggak mengganggu." Alex merapikan dan menjadikan rambut Anes menjadi satu dalam genggamannya, dan mengikatnya menggunakan karet gelang yang ada di meja dapur. Tidak tahu juga itu karet bekas atau baru yang penting bisa buat mengikat.
"Tadi aku buru-buru jadi lupa mengikat rambutku," sahut Anes tetap fokus memotong sayur.
"Kemana bibi, kenapa tidak membantumu masak, apa mereka belum datang?" tanya Alex sambil memperhatikan aktivitas sang istri.
"Oh itu, bi Ani sedang membersihkan ruang keluarga, kalau bi Ina hari ini dia tidak datang, nggak tahu kenapa, lupa nggak tanya tadi, atau biar aku tanya pada bi Ani kenapa bisa Ina nggak datang?"
" Nggak perlu, nggak penting!" sahut Alex.
"Sini biar aku bantu," lanjutnya lagi berusaha mengambil alih pisau yang sedang dipegang Anes.
"Nggak usah mas, biar aku saja," tolak Anes.
"Yakin nggak mau dibantu?"
"Iya, mas duduk aja dan lihat aku masak, jangan recokin, ok?"
"Lagian emang situ bisa apa motong sayur, yang ada nanti malah berantakan!" batin Anes.
Alex tak menjawab. Namun, dia menuruti perkataan istrinya, ia duduk di kursi yang ada di dapur dengan terus memandangi Anes.
"Mas jangan liatin aku kayak gitu, aku jadi nggak konsen nih!" protes Anes.
"Kenapa, tadi kamu cuma bilang nggak boleh recokin dan nggak bilang nggak boleh liatin kamu kan?"
"Terserahlah, malas juga pagi-pagi kalau harus berdebat!" kesah Anes dalam hati.
"Aw!" pekik Anes, jarinya mengeluarkan darah akibat terkena pisau saat memotong wortel.
Alex langsung bangkit dari duduknya. Ia langsung meraih tangan Anes dan menghisap jarinya yang terluka dan berdarah.
"Mas jangan!" Anes berusaha menarik jarinya namun ditahan oleh Alex. Ia terus menghisap darahnya yang tidak terlalu banyak itu, namun, sukses membuat Alex panik.
"Tunggu sebentar," Alex pergi untuk mengambil kotak p3k dan cepat kembali ke dapur.
"Kenapa bisa sampai terluka begini sih? ceroboh!" ucap Alex sambil meneteskan obat merah dan membalutnya dengan plester.
"Aku nggak konsen juga karna kamu lihatin aku kayak gitu, risih tau!"
__ADS_1
"Nggakpapa mas, cuma luka kecil aja, udah biasa kalau lagi masak kena pisau sedikit, nggak perlu sekhawatir dan sepanik itu."
"Apa? memang kelihatan ya kalau aku panik, eh tunggu bukannya aku takut melihat darah, tapi kenapa tadi malah menghisapnya" batin Alex.
"Lain kali nggak usah masak. Kita delivery aja."
"Ih apaan sih, mas mau makan delivery terus? nggak mau!" tegas Anes.
"Iya juga sih, aku juga maunya makan makanan yang di masak Anes, tapi kalau harus terluka seperti itu aku juga nggak mau"
"Pada, kamu nggak usah masak lagi, dari pada nanti kena pisau lagi."
"Mulai deh drama!" desah Anes
"Tuan Alex Abraham Parvis, istri Anda cuma tergores pisau sedikit, bukan tertusuk pisau, jadi tolong jangan berlebihan!" ucap Anes dengan penuh penekanan dalam intonasinya.
"Kenapa kamu nggak ngerti sih, aku nggak mau kamu terluka sedikitpun, meskipun kamu bilang nggak sakit, tapi aku yang sakit," batin Alex.
"Malah bengong, udah sana mas mandi dulu aja, aku mau lanjutin masak."
"Tapi tangan kamu?"
"Kenapa? karena luka sekecil ini aku harus bed rest gitu?iya? hah? udah sana cepetan mandi!" Anes mulai sedikit kesal.
"Iya iya aku mandi, bawel!" ucap Alex sambil menyentil jidat Anes.
"Kamu! berani sekali menendangku!" kesal Alex.
Anes juga tidak tahu, memiliki keberanian darimana dia sampai menendang pantat suaminya tersebut.
"Maaf maaf refleks," ucap Anes.
" Berani sekali dia menendang pantatku, tapi itu artinya dia masih punya tenaga meskipun tangannya terluka kena pisau. Kenapa kadang jadi galakan dia sih, hah benar-benar aku gila dibuatnya, gila karena cinta" gumam Alex yang sambil menikmati guyuran air dari shower. Ia tak mengerti kenapa bisa menjadi bucin begitu. *author juga nggak ngerti kenapa Lex ๐๐
๐ผ๐ผ๐ผ
Karena ini hari Sabtu jadi mereka libur tidak bekerja, dengan santai sepasang suami istri tersebut menikmati sarapan mereka tanpa merasa dikejar waktu untuk berangkat kerja. Mereka bisa menikmati makanan yang masuk ke mulut mereka dengan santai.
"Gimana lukanya? apa sakit? mau aku panggilkan dokter?"
Anes tidak menjawabnya, ia hanya menatap tajam suaminya.
"Sakit ya? biar aku telepon dokter Andre!"
"Sekalian saja rumah sakitnya pindah kesini!" sewot Anes.
"Ni orang kenapa sih, pagi ini kenapa lebay begitu, salah minum obat atau bagaimana?"
__ADS_1
Memahami situasi yang ada, Alex mengurungkan niatnya menghubungi dokter Andre dan dia terkekeh.
"Aku cuma bercanda, jangan marah," ucap Alex kemudian.
"Nggak lucu!"
"Aku emang nggak lagi ngelawak."
"Tau ah!"
"Mmm, sepertinya kamu emang baik-baik saja, karena masih punya tenaga buat marah," goda Alex.
"Udah jangan marah, jelek tau kalau marah," lanjut Alex.
"Ya udah, sana cari yang cantik meskipun sedang marah."
"Nggak mau, maunya kamu aja satu untuk selamanya!" jawab Alex. Jawaban Alex tersebut mampu mencerahkan wajah Anes.
"Tapi kan aku jelek kalau lagi ngambek."
"Makanya jangan ngambek."
"Tu kan, berati benar aku jelek!" Anes kesal, kenapa suaminya tidak mencoba untuk memujinya untuk sekedar menyenangkan hatinya.
"*S*alah lagi, dia kenapa sih, apa lagi datang bulan, sensi amat," hati kecil Alex bersuara.
"Tadi aku cuma bercanda," ucap Alex datar.
"Kamu lagi datang bulan ya?" tanya Alex
"Enggak, emang kenapa?" Anes balik tanya.
"Nggakpapa, tanya aja!" jawab Alex datar.
"Ck, dasar aneh" gumam Anes lirih.
"Cepat lanjutkan makan, habis itu siap-siap, kita ke rumah papa Hari."
"Mau ngapain mas kesana?"
Alex meletakkan sendoknya dan menatap Anes.
"Apa kamu tidak ingin kesana, malah tanya kenapa, emang kamu nggak kangen sama mereka? emang harus ada alasan berkunjung kerumahnya orang tua?" ucap Alex tegas.
"Yee biasa aja dong mas, aku kan cuma tanya!"
"Jangan banyak tanya, cepat lanjutkan makan."
__ADS_1
๐ jangan lupa like, komen n votenya ya sayang biar author tambah semangat upnya, tambahkan ke dalam list favorit kalian juga ๐๐๐