
Alex memapah Anes untuk duduk di sofa.
"Nggak nyangka aku mas, Rania bisa sejauh itu, bahkan mas lihat kan tadi? dia bawa surat untuk kita cerai mas, benar-benar nggak habis pikir, ada ya manusia seperti itu di bumi ini?" Anes menyenderkan kepalanya di dada Alex.
"Maafin mas ya sayang? semua gara-gara mas. Andai saja waktu bisa di undo, mas benar-benar tidak ingin mengenalnya, bertemu dengannya saja mas ngga mau," Alex mengusap puncak kepala Anes lalu menciumnya.
"Mas nggak salah, biar bagaimanapun ini skenario yang Tuhan buat untuk kita, dan Kita harus melewatinya. Yang penting kita tetap bersama apapun yang terjadi, jangan tinggalin aku mas," ucap Anes.
"Never sayang, mas akan selalu ada di sisi kamu," balas Alex.
"Ya udah sana mas lanjutin kerjanya, biar aku nunggu di sini sambil nonton drama," ucap Anes.
"Kamu ya, nggak di rumah, nggak di kantor, nontonnya drama terus," menoel hidung Anes.
"Hehe nggak apa-apa dong, dari pada mas nontonnya..."
Alex langsung membungkam bibir Anes dengan bibirnya.
"Jangan bahas itu lagi, oke?" Alex memegang dagu Anes.
"Hehe baiklah," jawab Anes santai.
"Ya udah mas lanjut kerja lagi ya, sayang Daddy kerja dulu ya," Alex mengusap-usap perut Anes.
"Oke Daddy!" Anes menirukan suara anak kecil.
๐ผ๐ผ๐ผ
David sudah menunggu Amel di koridor kantor.
"Ada apa lagi Dav? baru juga beberapa waktu lalu kita ketemu udah nyuruh aku ke sini, udah kangen lagi ya? Emang sih aku itu ngangenin. Tapi, nggak enak tahu sama yang lain, aku ngilang mulu," ucap Amel ketika sampai di koridor sambil mendekati David yang berdiri dengan badan bersandarkan dinding dan satu kakinya ia tekuk ke belakang.
"Aku cuma mau bilang, nanti nona Anes mengajak kita makan siang bareng Mel," jawab David.
"Ya elah aku kira ada apa Dav, kan bisa lewat chat ngomongnya, tinggal ketik doang, bilang aja modus mau ketemu aku, iya kan hayo ngaku!" mengacungkan jari telunjuknya dan tersenyum.
"Emang nggak boleh ketemu pacar sendiri?" David menarik pinggang Amel ke dalam pelukannya.
" Tapi ini masih jam kantor, lagian kenapa sih seneng banget kalau ngajak ketemu di sini. Nggak ada tempat favorit lain apa? hotel gitu misalnya," goda Amel tetap dalam pelukan David.
"Mulai nakal ya, maunya ngamar di hotel? Kamu mau kita sewa hotel beneran?" bisik David balas menggoda Amel.
"Bercanda yang, udah ah, lepasin! Nanti ada yang lihat kan berabe masa iya mau keciduk lagi, nggak lucu tahu!" Amel berusaha mendorong dada David supaya laki-laki itu melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Amel.
"Nggak mau!" balas David.
"Terus maunya apa Dav? Mau pelukan gini terus sampai kita berakar di sini?"
"Maunya ini," David langsung mencium bibir Amel.
"David! kebiasaan deh main sosor aja, aku kan belum siap. Sekarang ayo lagi, aku udah siap," ucap Amel tanpa malunya.
"Udah ah, sana kami kembali kerja!" sahut David sembari melepas pelukannya.
"Dasar! pacar ternyebelin seantero bumi Pertiwi!" Amel mencubit lengan David lalu memutar badannya untuk pergi.
David menarik tangan Amel dan gadis itu kembali ke dalam pelukannya.
"I love you, Ingat selalu tiga kata ini Mel. Kata yang mewakili perasaanku ke kamu, jangan pernah ragu akan hal itu," ucap David.
Amel diam tak menyahut, untuk beberapa saat suasana hening.
"Kok diam Mel?"
"Aku senang Dav, akhirnya tiga kata itu keluar juga dari mulut kamu. Untuk pertama kalinya kamu bilang cinta sama aku," ucap Amel merasa terharu.
"Benarkah?" David bahkan tidak menyadari kalau dia belum pernah bilang cinta kepada wanitanya tersebut.
"Hehem, tapi seharusnya kamu mengucapkannya dalam suasana romantis Dav, seperti candy light dinner misalnya," sahut Amel tersenyum sambil melepas pelukan David.
"Oke, kalau begitu lupakan! Aanggap saja aku belum mengatakannya, dan aku berhutang makan malam romantis sama kamu," ucap David.
__ADS_1
Cup! Amel mencium pipi David dan berbalik badan.
"Aku lanjut kerja dulu," ucap Amel.
"Di bibir kenapa Mel, kok cuma di pipi," gumam David sambil mengelus-elus pipinya sendiri sambil melihat Amel melangkah semakin jauh.
๐ผ๐ผ๐ผ
Alex yang masih sibuk dengan laptopnya, melihat Anes tertidur di sofa tanpa beralaskan bantal.
Kemudian, ia menghampiri Anes dengan membawa laptopnya. Diangatnya pelan kepala Anes dan diarahkan ke atas pangkuannya.
"Pasti masih capek dan ngantuk karena semalam," gumam Alex membelai rambut Anes.
Kemudian, Alex melanjutkan kembali pekerjaannya dengan laptopnya ia pangku di kaki kirinya karena kaki kanannya ia gunakan untuk bantalan kepala Anes.
Beberapa saat kemudian Anes membuka matanya.
"Mas.." melihat ke atas, ke wajah serius Alex yang sedang bekerja.
"Tidurlah lagi, kamu pasti capek," ucap Alex sambil membelai pipi Anes, lalu mencium pipi Anes. Tidak lupa ia menyertakan senyum manis di sudut bibirnya.
Anes mengubah posisinya menjadi miring dan membenamkan wajahnya di perut Alex mencari posisi tidur ternyaman saat ini. Anes kembali memejamkan matanya.
Sebenarnya ada ruangan khusus yang Alex sediakan untuk tempat istirahat, tapi Anes lebih senang jika ia menunggu Alex bekerja di sofa tersebut karena dengan begitu ia tetap bisa melihat suaminya saat bekerja. Ruangan tersebut mungkin akan ia manfaatkan nanti jika anaknya sudah lahir dan sesekali ikut Alex ke kantor bersama dengan anaknya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Jam makan siang pun tiba, Anes sudah bangun beberapa saat yang lalu. Ia dan Alex sudah siap untuk ke luar makan siang bersama David dan Amel. Untuk pertama kalinya setelah David dan Amel sah sebagai sepasang kekasih, mereka berempat makan siang bersama, bisa di bilang Double date. Walaupun cuma makan siang sih.
Mereka telah sampai di tempat tujuan. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berempat ngobrol dan bercanda bersama. Tak jarang tawa kecil keluar dari bibir mereka. Hingga akhirnya pesanan datang.
"Gila Nes, itu makanan pesanan kamu banyak amat. Habis tuh semua Nes?" tanya Amel, matanya terbelalak melihat pesanan yang memenuhi meja mereka.
"Jangan bilang istriku gila. Kamu yang gila! pacarmu Dav," hardik Alex.
"Mas apaan sih, Amel nggak bermaksud ngatain aku begitu, bukan itu maksudnya Amel," ucap Anes.
Saya hanya kaget melihat porsi makan Anes pak," sahut Amel santai.
"Aku juga nggak tahu kenapa nafsu makan kita meningkat begitu drastis Mel, tapi mungkin karena aku sedang hamil kali ya, jadi Bawaannya lapar terus," balas Anes.
"Udah ayo kita makan, nggak baik ribut di depan makanan," ucap David.
Mereka pun memulai makan siang. Sesekali Alex menyuapi Anes. Setelah menyuapi Anes, ia akan menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri, membuat Amel baper dan iri melihatnya.
Sedangkan David tetap stay cool. Ia udah biasa melihat dua orang di depannya ini bermesraan.
"Dav," Amel menarik ujung kemejanya gambar David kenakan.
David menoleh, "Apa Mel?" tanya David.
"Pengen juga di suapin," rengek Amel dengan. manjanya.
"Kamu udah gede Mel, bisa kan makan sendiri, jangan manja!" Sahut David datar.
Alex yang mendengar ucapan David langsung memicingkan matanya.
"Biarin manja, yang penting udah halal, iya kan sayang?" sindir Alex sambil mengusap makanan yang bertengger di sudut bibir Anes dengan jempolnya.
Anes hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Ih romantis tahu Dav," Amel memukul lengan David.
"Ini baru romantis," ucap David dan langsung mencium bibir Amel dan Mel****nya sebentar.
Refleks Alex langsung menutup mata Anes menggunakan matanya.
"Jangan lihat sayang, ada adegan dewasa, tidak baik untuk mental anak kita," ucap Alex.
Anes menepis tangan Alex,
__ADS_1
"Apaan sih mas, kalau lihat begitu nggak boleh, terus bagaimana dengan yang lebih? berati nggak boleh dong kita berolah raga bareng, itu jauh lebih dewasa adegannya," sindir Anes.
"Bercanda sayang," ucap Alex nyengir.
"Pak David keren! berani mencium Amel di tempat umum," puji Anes.
"Sekali-kali nona, buat memacu adrenalin, lagian siapa tahu besok saya tidak bisa menciumnya lagi," sahut David.
"Ih pak David, jangan bicara seperti itu, kalau malaikat dengar dan mencatatnya bagaimana?" ucap Anes
"Hehe bercanda nona," sahut David.
"Oh, jadi kamu mau mas cium di tempat umum biar kata keren itu kamu ucapkan ke mas sayang?" Alex iri karena istrinya
memuji David.
"Tidak perlu mas, tidak harus sama untuk menjadi keren. Buatku mas selalu keren," ucap Anes.
"Apalagi kalau sedan olah raga, mas sangat keren!" bisik Anes di telinga Alex. Membuat suaminya tersebut melayang sampai ke langit ke tujuh.
"Hoek, Dav sebaiknya kita pindah ke planet lain aja yuk, dunia ini hanya milik mereka berdua," ucap Amel.
"Iya Mel, dari pada di dunia ini kita ngontrak, kita cari planet lain buat kita miliki berdua yuk," timpal David.
"Eleh gitu aja pada baper, udah lanjutin makannya," ucap Anes.
"Aku ke toilet sebentar ya," ucap Anes sambil menggeser kursinya.
"Perlu mas temani sayang?" tawar Alex.
"Tidak perlu mas," tolak Anes sembari memegang bahu Alex.
Anes berjalan menuju ke toilet dengan santai karena dia memang tidak kebelet, hanya ingin mencuci mukanya.
Dari tempat duduknya, David melihat gerak-gerik mencurigakan dari seseorang yang duduk di sudut restoran. Ketika Anes melangkah semakin dekat, orang itu berdiri dan berjalan dengan pelan, sambil menyembunyikan sesuatu di balik jaket yang ia kenakan.
Semakin lama orang itu dan Anes semakin dekat jaraknya, semakin David curiga. Pikiran David langsung tertuju pada benda yang di sembunyikan orang tersebut di balik jaketnya.
Dengan cepat David berlari menuju ke arah Anes.
"Awas nona!!" David menarik tubuh Anes dan...
Jleb! sebuah benda tajam tertancap di perut David.
"Arrrgghh, pak David! teriak Anes histeris.
Alex dan Amel langsung berlari ke arah mereka.
"Dav!!!!"
Orang tersebut dengan cepat mengambil benda tajam tersebut dan kembali menusukkannya.
JLEB! JLEB! JLEB!
Kemudian orang tersebut langsung kabur, karena semua orang hanya fokus terhadap kondisi David dan tidak ada yang mengejar pelakunya.
David meraba perutnya yang sudah penuh dengan darah.
"Nona baik-baik saja kan?" ucap David lemah, pandangannya mulai memudar.
"Pak David!!! arggahh!! Arrrgghh! Anes memangku kepala David sambil menangis histeris.
"David!!! arrrgghh David!" terik Amel tak kalah histerisnya. Air matanya sudah membanjiri wajahnya. Amel duduk bersimpuh sambil menggoyang-goyang tubuh David yang mulai tak sadarkan diri.
Alex yang tak kalah shocknya terus berusaha membuat David tetap membuka matanya.
"Cepat panggilan ambulan!" teriak Alex.
"Kenapa kalian hanya melihat, security cepat kejar orang brengsek itu! Dan tolong panggilkan ambulan! cepat!!!" perintah Alex geram ketika melihat orang-orang hanya melihat ke arah mereka tanpa berbuat sesuatu.
"Dav, bertahanlah! jangan tutup mata kamu Dav, bertahanlah, aku mohon!!!" ucap Alex dengan frustasi..
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ