MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 103


__ADS_3

Alex bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang di katakan oleh para ibu-ibu itu. Seketika rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal.


"Apa yang mereka katakan? Berani-beraninya mereka bicara seperti itu pada istriku!" hardik Alex ketika ia mendengar percakapan Anes dan para tetangga orang tuanya tersebut.


"Sayang, jangan dengarkan apa yang mereka katakan. Mereka hanya omong kosong!" Alex berusaha bicara pada Anes, namun Anes tidak ingat jika ponselnya masih dalam panggilan video call dengan Alex.


Anes semakin mempercepat langkah kakinya supaya cepat sampai rumah.


"Ma, ini gulanya. Kalau begitu Anes mau ke kamar dulu ya? Mau telepon mas Alex," Anes menyerahkan gula yang tadi ia beli dan langsung meninggalkan ibunya. Bu Ratna merasa ada yang aneh dengan anak semata wayangnya tersebut.


Sesampainya di kamar, Anes sudah tidak bisa menahan air mata yang dari tadi ia tahan. Cairan bening itu lolos begitu saja dari kedua matanya. Namun, ia segera mengusapnya karena ia ingat, kalau Alex mungkin masih menunggunya untuk video call lagi.


Anes berusaha menetralkan suasana hatinya saat ini.


"Mas, maaf ya lama. Aku lupa kalau mas masih menunggu di sana. Hihi," ucap Anes memaksakan senyumnya.


"Sayang, jangan dengerin apa yang mereka katakan tadi," Alex tampak gelisah dan khawatir. Ia tahu hal ini pasti akan membuat Anes merasa sedih.


"Mas mendengarnya ya tadi?" tetap berusaha ceria.


"Iya, tadi mas mendengarnya dengan sangat jelas. Coba mas ada di sana, udah mas sumpal tuh mulut mereka!" kesal Alex.


"Aku enggak apa-apa kok mas. Mas nggak usah khawatir ya," lagi-lagi berusaha tersenyum, tidak ingin membuat suaminya khawatir.


"Mas, udah dulu ya. Aku mau bantu mama buat kue," alasan Anes karena sudah tidak bisa berpura-pura lagi untuk tidak menangis.


"Ya udah sayang, mas juga mau lanjut kerja lagi. Kamu hati-hati ya di rumah. Ia love you," ucap Alex.


"Love You too!" Anes tersenyum lalu mematikan ponselnya.


Alex tahu, walaupun istrinya bilang baik-baik saja, namun dalam hatinya pasti sangat sedih.

__ADS_1


"Ah sial! pasti Anes jadi kepikiran karena omongan mereka. Aku tidak bisa tenang kalau begini. Benar-benar keterlaluan! Arrrgghh brengsek!" umpat Alex.


"Ada apa bos?" tanya David yang baru saja masuk ke ruangan Alex dan mendapati bosnya tersebut marah-marah.


"Dav, pesankan tiket ke Jakarta sekarang!" perintah Alex.


"Tapi bos?"


"Aku harus pulang sekarang!" Alex meninggikan nada suaranya.


"Mungkin Anes sedang menangis sekarang," batin Alex, hatinya juga merasa sakit.


David tahu, pasti ada sesuatu yang membuat Alex marah, tapi dia tidak bertanya atau hanya akan menambah kemarahannya.


"Kalau sekarang masih ada yang harus Anda selesaikan bos. Saya akan usahakan sore nanti Anda bisa pulang,"


"Sial! Kapan selesainya semua ini? Baiklah akan aku selesaikan masalah utamanya, sisanya nanti kamu ya urus. Dan cepat cari tiket untuk nanti sore!"


"Baik bos!" sahut David, lalu pergi dari ruangan Alex.


"Shit! Aku harus cepat menyelesaikan ini dan segera pulang!" ucapnya lalu kembali fokus kepada pekerjaan di depannya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Setelah mematikan panggilan dari Alex, Anes langsung kembali menangis.


"Tahu apa mereka tentangku, sampai tega bilang seperti itu," gerutu Anes dalam hati sambil terisak.


"Mereka pikir semua ini kemauanku? Aku juga pengen langsung punya anak, tapi kalau memang belum rejekiku mau bagaimana? Mau nyalahin siapa? Aku juga sudah sangat merindukan kehadiran seorang anak dalam rumah tanggaku. Sakit sekali rasanya mendengar kalian bicara seperti itu, mereka kan juga punya anak, bagaimana kalau ini terjadi sama anak mereka?" Anes meremas bantal yang kini sudah ada dalam pangkuannya.


Anes terus menangis, merutuki dirinya sendiri yang belum juga hamil sampai sekarang. Dalam hatinya juga takut kalau yang di katakan ibu-ibu itu benar, suaminya akan berpaling ke wanita lain jika dia tidak bisa memberinya keturunan.

__ADS_1


Bahkan yang paling menyakitkan ketika ada yang bilang jangan-jangan mandul. Sungguh, jika mengingatnya hati Anes seperti di sayat pisau. Baru mau satu tahun menikah sudah ada yang menjudge dia seperti itu, bagaimana yang bertahun-tahun menikah tapi belum juga memiliki anak? Seperti apa mereka akan menghinanya.


"Seandainya mas Alex ada di sini, pasti dia tidak akan membiarkan aku menangis. Atau setidaknya aku bisa menangis dalam pelukannya," Anes memandangi photo pernikahannya dengan Alex yang tergantung di dinding kamarnya menggantikan poster Lee Min Ho, sesuai permintaan Alex waktu itu.


Anes ingat, ibunya sedang membuat kue di dapur, ia cepat-cepat mengusap wajahnya dan merapikan diri. Anes tidak ingin ibunya curiga jika tahu Anes berlama-lama di kamar. Ia menuju ke dapur untuk membantu bu Ratna membuat kue.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Sore harinya...


"Sayang, kamu yakin mau pulang sekarang? Suami kamu kan belum pulang? Apa tidak sebaiknya kamu di sini dulu sampai dia pulang?" ucap bu Ratna sambil berjalan mengantarkan Anes ke mobil yang sudah menunggunya.


"Iya ma, Anes yakin mau pulang sekarang. Lagian di sana kan Anes nggak sendiri. Ada para pembantu yang menemani Anes. Anes juga kangen sama rumah itu. Biar bagaimanapun kan Anes harus menjaga rumah Anes di saat mas Alex tidak di rumah. Bukannya itu yang selalu mama ajarkan," sahut Anes.


Saya, alasan utama Anes pulang ke rumahnya adalah ia tidak ingin bertemu lagi dengan para ibu-ibu biang gosip itu jika ia masih tetap tinggal di rumah orang tuanya. Jadi lebih baik menghindari omongan-omongan yang hanya akan membuatnya sedih dan sakit.


"Pak, ayo kita pulang sekarang!" ucap Anes kepada Pak Anton yang sedang memasukkan koper milik Anes ke bagasi.


"Baik nyonya," sahut pak Anton lalu menutup pintu bagasi mobilnya Dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Anes.


"Ma, Anes pamit dulu ya? Nanti kalau papa pulang, sampaikan maaf karena Anes pulang nggak menunggu papa pulang dulu," pesan Anes karena pak Hari sedang dinas ke luar kota dan malam nanti baru akan pulang.


"Iya sayang, nanti mama sampaikan. Ini jangan lupa kuenya," bu Ratna menyerahkan kue yang tadi pagi mereka buat.


Anes menerimanya dan memasukkan kue tersebut ke dalam mobil. Ia memeluk ibunya dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Ayo pak jalan!" perintah Anes.


"Baik nyonya," sahut pak Anton langsung menyalakan mobilnya.


Bu Ratna melambaikan tangannya sampai bayangan mobil yang di tumpangi Anes menghilang dan ia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ Yang pengen Anes cepat hamil, please jangan bully author ya?๐Ÿ˜๐Ÿ™โœŒ๏ธ bukannya sesuatu yang tidak mudah kita dapat akan lebih kita syukuri jika nanti kita mendapatkannya. Iya kan ๐Ÿ˜๐Ÿ™โœŒ๏ธ. Jangan lupa votenya. Salam hangat authorโค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’ 


__ADS_2