
Lima hari kemudian....
Lima harus sudah David dalam kondisi koma, dua hari yang lalu setelah dokter memastikan kondisi David stabil, dan tidak adanya komplikasi pasca operasi, maka dokter menyuruh untuk memindahkan David ke ruang perawatan.
Alex meminta David di pindah ke ruang VVIP dengan fasilitas mewah, dengan ruangan yang besar, satu set sofa besar, televisi besar, kulkas besar dan juga tempat tidur
tambahan untuk tempat tidur orang yang akan menunggui David.
Alex ingin ruang perawatan David di buat senyaman mungkin seperti di hotel bintang lima.
David masih terbaring lemah tak berdaya dalam tidur panjangnya di ranjang dengan alat-alat yang masih menempel di badannya, hanya ruang perawatan saja yang berbeda.
Amel juga sudah mulai kembali bekerja, dia ingat perkataan David yang menyuruhnya bekerja secara profesional, tidak memanfaatkan posisinya sebagai kekasih dari orang nomor dua di Parvis Group tersebut.
Amel akan mengunjungi David setelah pulang kerja, begitu pun Alex, ia tidak mungkin meninggalkan perusahaannya terus menerus, ia tidak ingin mengecewakan David dengan mengabaikan perusahaan yang kini berkembang pesat akibat campur tangan David tersebut. Sehingga Alex tetap melanjutkan tugasnya sebagai Presdir di Parvis Group, namun ia tetap selalu memantau kondisi David.
Alex sudah menyiapkan dokter dan perawat khusus yang harus standnya 24 jam untuk memantau kondisi David, dan mereka harus sesering mungkin melaporkan kondisi David kepadanya saat dia sedang tidak ada di rumah sakit.
๐ผ๐ผ๐ผ
Hingga dua hari telah berlalu, itu artinya David sudah koma selama satu Minggu dan belum ada tanda-tanda dia akan terbangun dari tidur panjangnya tersebut.
Hari ini, seperti biasa sepulang kerja, Amel langsung menuju ke rumah sakit. Ia selalu berharap saat tiba di rumah sakit, ia akan menjumpai David dalam keadaan sudah bangun dari tidur panjangnya, namun, kali ini tetap sama saja seperti sebelumnya. Kekasih tercintanya masih enggan untuk membuka matanya.
"Hi Dav, aku datang. Maaf ya aku sedikit telat hari ini, biasalah jam pulang kantor membuat jalanan macet," ucap Amel yang baru saja masuk ke ruangan dan langsung menghampiri David di ranjangnya, ia menyentuh tangan laki-laki itu dengan lembut dan sebisa mungkin menyunggingkan senyumnya ketika berbicara.
Amel meletakkan tasnya ke sofa dan kembali ke samping David, duduk di kursi sambil terus menggenggam erat tangannya.
"Kamu tahu Dav, hari ini aku lelah sekali, pekerjaan numpuk banyak karena kemarin aku tinggal cuti dua hari, coba kamu di kantor tadi Dav, aku pasti udah minta bantuan kamu buat ngerjain pekerjaanku hehe," Amel terus bercerita tentang kegiatannya hari ini mulai dari bangun tidur hingga sekarang ia sampai di rumah sakit. Ya, Amel percaya kalau David memang memejamkan matanya, tapi di akan mendengar apa yang Amel bicarakan.
"Kamu nggak capek apa Dav, tidur terus begini? Kamu nggak kangen sama aku? Apa kamu udah punya firasat sebelumnya Dav sebelum kejadian ini, waktu itu kamu mewanti-wanti aku buat jaga diri, tapi kamu nggak akan ninggalin aku kan Dav, kamu udah janji loh sama aku, jangan jadi laki-laki pengecut yang ingkar janji Dave. Aku mau kamu yang jagain aku Dave!" Amel mulai emosional, air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya, namun sebisa mungkin ia tahan, ia tak ingin menangis di depan David.
Dengan segera Amel memalingkan wajahnya dan mengusap matanya yang mulai merah.
Amel terus memegang dan mengusap-usap tangan David.
"Sekarang aku yang menggenggam tangan kamu Dav, biasanya kamu yang menggenggamnya duluan, cepat bangun sayang, aku sudah sangat merindukan kamu, bahkan ciuman bibirmu ketika di restoran masih teringat jelas di benakku Dave, dan kau tahu, itu sungguh sweet sekali, kamu sangat gentle, tanpa malu menciumku di depan umum. Banyak yang iri denganku Dave. Aku tidak pernah berpikir ucapanmu yang mengatakan mungkin besok tidak bisa menciumnya lagi menjadi kenyataan," Amel menarik nafasnya dalam, ia menarik tangan David hingga menempel di pipinya.
"Bangunlah Dav, bukankah kamu berjanji akan menikahiku? Bangunlah dan ayo kita menikah Dav, rasa trauma ku akibat perpisahan kedua orang tuaku tak sebesar rasa takutku kehilangan kamu Dav," lanjut Amel.
__ADS_1
Tetap saja tak ada perubahan pada kondisi David. Amel kembali menghela nafasnya panjang. Di pandanginya terus tanpa berkedip wajah David yang kini lebih tirus.
"Lihatlah, dagumu mulai tumbuh berewoknya Dav, biar akun bersihkan ya?" ucap Amel.
Dengan telaten Amel mencukur rambut jenggot David yang mulai tumbuh.
"Udah selesai! kan jadi lebih fresh, dan ganteng lagi, kalau badan kamu nanti biar pak Alex ya yang bersihin? Dia nggak ijinin aku buat ngompres badan kamu Dav, posesifnya bukan cuma ke Anes doang, tapi ke kamu juga, Belom mahrom katanya, takutnya aku macam-macam sama kamu. Hah kadang aku merasa dia lebih mencintaimu dari pada aku, hihi," curcol Amel.
Ya, Alex selalu mengompres David dengan tangannya sendiri, ia tidak mengijinkan Amel untuk melakukannya dengan alasan dia dan David belum menikah, bisa bahaya, padahal apa yang bisa mereka lakukan, toh David juga masih belum sadar. Ada perawat laki-laki juga, tapi ada aja alasannya untuk melarang mereka melakukan tugas mereka. Alex merasa itu tanggung jawabnya sebagai sahabat, ah tidak lebih tepatnya saudara dan juga rasa terima kasihnya karena sahabatnya tersebut rela mempertaruhkan nyawanya demi Anes dan anaknya yang ada dalam kandungan Anes.
Amel juga memotong kuku David yang mulai agak panjang dengan telaten, ia tahu kekasihnya tersebut paling menjaga kebersihan dan penampilannya, jadi kuku-kukunya juga selalu bersih dan terawat, tidak pernah di biarkan panjang.
"Wah nona Amel, sangat perhatian sekali sama suaminya, beruntung tuan David memiliki istri seperti nona," ucap perawat yang baru saja masuk untuk mengecek infus, dan alat-alat lain yang masih setia menempel di tubuh David.
"Ah suster bisa saja, tapi kami belum menikah Sus," sahut Amel sambil menyelesaikan memotong kuku David yang terakhir.
"Oh maaf, saya kira sudah menikah,"
"Nggak papa sus, lagian kalau sudah menikah saya pasti bebas membersihkan tubuh David kan sus, tapi suster tahu sendiri bagaimana sikap tuan muda Parvis, Posesif seperti kepada istrinya saja hihi,"
"Iya benar nona, waktu itu saja saya mau membersihkan luka di keningnya ia tolak dengan alasan alergi kalau di sentuh wanita lain,, padahal itu alasan saja alergi," sahut suster tersebut yang teryata dia adalah sister yang waktu itu akan mengobati luka Alex.
"Ya sudah nona, semoga tuan David segera bangun dan segera menikahi nona, biar tuan muda Parvis ada saingannya, saya permisi dulu nona," pamit suster.
"Iya sus terima kasih," sahut Amel.
๐ผ๐ผ๐ผ
Malam harinya di rumah Alex...
Alex baru saja pulang dari kantor, ia kelihatan sangat lelah sekali, apalagi akhir-akhir ini di kantor ada sedikit masalah yang mengharuskannya lembur dan pulang malam. Ia hanya pulang untuk menemui Anes sebentar, setelah itu ia ke rumah sakit untuk menunggui David. Keesokan harinya ia akan kembali ke rumah pagi-pagi sekali untuk kerja, begitulah aktivitas Alex akhir-akhir ini.
"Mas sudah pulang?" sapa Anes yang sudah menunggu kepulangan Alex sejak tadi.
"Iya sayang, maaf mas pulangnya malam lagi," ucap Alex sambil mencium puncak kepala Anes.
"Nggak papa mas, mas mandi dulu gih, lalu makan malam aku udah masakin tadi buat mas," ucap Anes sembari mengambil alih jas yang di tenteng Alex.
Setelah membersihkan diri, Alex makan di temani Anes.
__ADS_1
"Kamu nggak makan sayang?" tanya Alex.
"Tadi aku udah makan duluan mas, maaf ya nggak nungguin mas, soalnya udah lapar tadi,"
"Nggak papa sayang, kasihan dedek bayi kalau sampai kamu menahan lapar, sekarang nggak mau makan lagi?"
"Enggak mas, paling nanti kalau kebangun tengah malam baru makan lagi," sahut Anes.
"Maaf ya, mas jarang ada di samping kamu kalau kamu kebangun tengah malam," Alex merasa bersalah kepada Anes karena setiap malam ia menginap di rumah sakit dan kurang memberi perhatian kepada Anes.
"Nggak papa mas, aku ngerti kok. Habis ini ke rumah sakit lagi kan? Bawain Amel makan sekalian ya mas, pasti dia lupa untuk makan kalau tidak di ingatkan,"
"Iya sayang, suruh bibi buat nyiapin, nanti mas bawa. Nanti mas juga akan suruh Amel pulang, kalau mas udah sampai sana," ucap Alex.
Selesai makan Alex tidak langsung ke rumah sakit, ia masih ingin berlama-lama dengan Anes karena akhir-akhir ini ia jarang memiliki waktu untuk istrinya yang sedang hamil tersebut.
"mas belum berangkat?" tanya Anes ketika keluar dari kamar mandi dan melihat Alex masih rebahan di ranjang.
"Sebentar lagi sayang, kamu udah mau tidur? Biar mas kelonin kamu dulu," Alex tahu istrinya itu paling tidak bisa tidur kalau tidak ia kelonin terlebih dahulu.
"Iya mas, nggak tahu baru jam segini udah ngantuk nih," sahut Anes.
"Ya udah sini," Alex menepuk tempat kosong di sampingnya.
Anes langsung naik ke atas tempat tidur dan menyusup ke dalam pelukan Alex.
"Suruh pak Anton buat antar Amel pulang mas, jangan biarkan Amel pulang sendirian,"
"Iya sayang, seperti biasa, mas selalu meminta ok Anton untuk mengantarnya pulang. Kamu nggak papa kan mas tinggal lagi nanti,"
Anes mengangguk sambil tersenyum.
"Ya udah kamu tidur gih, katanya udah ngantuk, nanti kalau kebangun pengen sesuatu bilang aja sama bibi, mas akan suruh mereka standby terus,"
Anes menggeser badannya dan mengecup pipi Alex sebelum akhirnya kembali menyusup ke dalam pelukan Alex dan memejamkan matanya.
Setelah Anes terlelap, Alex segera mengambil makanan untuk Amel dan meminta pak Anton untuk ikut serta dengannya dengan mobil yang berbeda, supaya nanti dia bisa mengantar Amel pulang.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1