
Alex masih diam, ia hanya mengernyitkan keningnya berkali-kali mendengar ucapan David. Sebegitu tidak berartinyakah hubungan persahabatan dan persaudaraan mereka selama ini? Haruskah David mengundurkan diri hanya karena seorang adik angkat seperti Dila? Alex benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ada dalam otak sahabatnya tersebut, David yang biasanya selalu bisa berpikir dengan logis dan cerdas, mendadak kehilangan akalnya.
Alex tahu, David memang seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan menjunjung tinggi loyalitas, tapi hal ini bukanlah salah dia. Pastinya selama ini David sudah mendidik Dila dengan baik, hanya saja gadis itu yang kebanyakan tingkah. Dan hubungan Antara Alex Dan David bukanlah hanya sebatar pekerjaan, atasan dan bawahan, bahkan lebih dari itu.
Alex kembali menghela nafasnya panjang,
"Sudah omong kosongnya?" tanya Alex kemudian dengan wajah datarnya, menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.
"Bos," suara David terdengar lirih. Ia tahu, ini tidak akan mudah, Alex tidak akan langsung menyetujuinya.
"Sudah kamu pikirkan dengan matang-matang keputusanmu ini Dave?" tanya Alex dengan ekspresi Kecewanya.
"Sudah bos, saya sudah memikirkannya semalaman, dan keputusan saya sudah bulat," jawab David.
"Kalau begitu, sia-sia saja semalaman kamu bergadang memikirkannya," ucap Alex.
"Eh...?" David tak mengerti ucapan Alex.
Alex diam lagi, ia tetap sibuk dengan pekerjaannya, tak ingin menghiraukan permintaan David. Hal ini membuat David bingung, David memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sambil menunggu persetujuan Alex atas keputusannya.
🌼🌼🌼
Cukup lama menunggu, Alex tetap sibuk, lebih tepatnya menyibukkan diri karena tak ingin berdebat dengan David.
kemudian, David bangkit dari duduknya dan menghampiri Alex, ia memutuskan untuk pamit dan meninggalkan surat pengunduran dirinya lalu dia benar-benar membalik badan untuk melangkahkan kakinya keluar.
"Siapa yang suruh kamu meninggalkan ini?" kali ini suara Alex terdengar lebih tegas. Ia menunjuk amplop berisi surat pengunduran diri David tersebut.
"Bawa ini keluar bersamamu dan buang di tempat sampah!" Sambungnya.
"Tapi bos?"
"Kenapa? Kenapa kamu jadi bodoh seperti ini Dave? Kamu pikir semudah itu kamu bisa meninggalkan perusahaan? Hanya karena seorang wanita seperti Dila? Memangnya dia siapa? Berani membuatmu seperti ini," Alex tampak sangat kesal setiap kali mengucap nama Dila dengan mulutnya.
"Biar bagaimanapun ini salah saya bos, saya yang bertanggung jawab atas kelakuan Dila, dia tanggung jawab saya,"
"Kamu diam Dave! sekarang biarkan aku yang bicara. Setelah ini, jika memang kamu benar-benar akan resign, aku tidak bisa menghalanginya," ucap Alex, wajahnya kali ini terlihat sangat serius.
David hanya bisa diam dan mendengar Alex bicara dengan posisinya tetap berdiri di depan Alex.
" Sudah sering aku katakan, kalau kamu ingin resign karena ingin mengurus usahamu yang lain, silahkan! Aku tidak pernah menghalangi itu, tapi kalau kamu pergi dari paris Group hanya karena masalah sepele, apalagi masalah kemarin, Aku tidak bisa menerima alasan itu... " Alex berhenti sebentar untuk mengatur napasnya. Lalu, melanjutkan bicara lagi.
" Aku tidak pernah menghalangi kamu untuk berkembang, dan jika memang kamu sudah tidak ingin menemaniku di Parvis Group karena alasan yang masuk akal aku selalu berusaha terbuka menerimanya, karena tidak bekerja di sini pun kamu sudah kaya," lanjutnya.
"Tidak, bukan seperti itu bos, saya tidak pernah berpikir untuk meninggalkan bos sebelumnya, semua yang saya miliki itu semua berkat bos Alex," David dengan cepat menimpali ucapan Alex.
"Tapi, nyatanya sekarang kamu berpikir seperti itu," ucap Alex dengan nada kecewanya.
"Kali ini berbeda Bos,"
"Apanya yang beda? Justru kali ini kamu mengecewakan aku Dave. Apa persahabatan dan persaudaraan kita selama ini akan kalah hanya karena seorang wanita licik seperti Dila?
Kenapa kamu bisa merasa bersalah atas apa yang ia perbuat? Dia sudah dewasa Dave, sudah tahu mana yang salah dan mana yang benar, dan itu bukan salah kamu jika dia melakukan kesalahan terhadapku, kamu berpikir terlalu jauh. Bahkan, aku tidak pernah sediktpun berpikir ini salah kamu, jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri, dan bawa kembali surat pengunduran diri ini!" Alex mengakhiri kalimat panjangnya dengan kembali menghela napasnya kasar.
__ADS_1
" Tapi bos,, " David tetap merasa sedikit atau banyak ia ikut bertanggung jawab atas Dila, karena Dila berada di bawah pengasuhannya.
Alex menatap tajam ke arah David, kenapa asisten pribadinya itu bermental tempe sih, sampai segitunya ia mencintai Alex, sehingga rasa bersalahnya mengalahkan logikanya.
"Apa aku harus menyuruh kamu memb*nuh Dila, baru kamu merasa lega dan tidak menyalahkan diri kamu sendiri seperti ini Dave?"
David kembali terdiam. Kali ini laki-laki itu tidak seperti biasanya yang selalu tegas dan menggunakan otaknya dalam bertindak dan bicara. Dia yang selalu menjadi tempat konsultasi Alex, mendadak seperti kehilangan rasa percaya dirinya di hadapan bos kesayangannya tersebut.
"Baiklah kalau kamu masih tetap belum sadar dan ingin resign, tapi hadapi dulu amukan calon macan," Alex mengeluarkan jurus terakhirnya. Ia benar-benar tidak ingin David resign.
" Nona?" David mengerti maksud Alex.
"Hem, silahkan kamu bilang sendiri sama dia jika kamu ingin resign dan alasan kamu adalah karena Dila. Jika istriku alias adik angkat kesayangan kamu itu bilang yes, aku juga yes!" ucap Alex.
Giliran David yang mengernyitkan keningnya, ia tahu tidak mungkin Anes akan menyetujuinya, apalagi dengan mengatakan yes! Dengan cerianya, mustahil! Yang ada, dia akan memarahi dan menguliahinya tiga hari tiga malam non stop.
" Bagaiamana? Siap menghadapi macan yang satu itu? Tega membuatnya semakin sedih? Kamu tahu Dave, betapa Anes juga sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi kemarin, karena dialah yang pertama kali membawa Dila masuk ke dalam rumah kami, hingga gadis itu terus berusaha menggodaku. Aku sudah berkali-kali bilang padanya kalau Dila tidak sepolos itu, tapi dia selalu bersikukuh tidak percaya. Dia sangat respect sama kamu, sampai saat dia menyadari kelakuan aneh Dila, ia memilih untuk tidak memberi tahu kamu karena dia tahu, pasti bakal seperti ini, kamu akan menjadi tidak enak hati dan merasa bersalah. Hingga kemarin kelakuan Dila yang sudah kelewat batas makanya kami memberitahu kamu, tapi itu bukan kami bermaksud untuk menyalahkanmu apalagi meminta kamu bertanggung jawab seperti ini,,," Alex Kembali menghela napasnya, ia butuh sedikit pelumas di tenggorokannya dengan menelan ludahnya sendiri karena di mejanya tidak ada minuman yang bisa membasahi tenggorokannya yang kering seperti musim kemarau tersebut.
" Anes merasa ini semua salahnya karena sudah tidak mendengarkan aku dan juga kamu, bukankah waktu itu kamu juga sudah melarangnya? Setelah kemarin itu, dia terus menangis merasa bersalah dan meminta maaf padaku. Jadi, jika dia mendengar kamu ingin resign, bisa di bayangkan bagaimana reaksinya? Bukan hanya marah tapi juga sedih dan kecewa, sama sepertiku. Kalau kamu merasa bersalah dan bertanggung jawab dengan mengundurkan diri, apa Anes juga harus mengundurkan diri menjadi nyonya muda Parvis atau aku harus memecat dia menjadi istriku?" lanjut Alex.
Mendengar ucapan Alex, hati David seakan tertohok. Ya, dia sibuk memikirkan perasaan bersalahnya tanpa berpikir perasaan Alex dan Anes yang begitu menyayanginya layaknya saudara. Apalagi ia ingat kalau Anes sedang hamil dan tidak boleh stres. Membuat David menjadi bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang. Secara, David tidak pernah m*njil*t ludahnya sendiri, ia selalu memegang teguh prinsipnya. Jika dia bilang resign ya resign, tapi kali ini hati nuraninya ingin ia melanggar prinsip tersebut, namun logikanya masih tetap ingin egois.
"Kenapa diam? Apa sekarang kamu tidak hanya bodoh, tapi juga tidak bisa bicara? Bukan hanya rasa percaya dirimu yang hilang? Tapi juga pita suaramu lenyap? Benar-benar bukan Dave yang aku kenal!" Alex menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak.
"Bukan begitu bos, kalau sudah menyangkut nona, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi,," jawab David.
"Jadi...?" Alex sedikit senang, sepertinya David akan berubah pikiran, pikirnya.
"Biar saya telepon nona, saya akan bilang kepadanya sendiri," ucap David, lalu merogoh ponsel di saku celananya.
" Keras kepala! Malah mau menelepon Anes sekarang juga, dan mau bilang kalau dia mau resign begitu? Aku kira nama Anes akan cukup berhasil mengalahkan kekonyolannya kali ini, dasar kepala batu!" batin Alex, ia menatap David yang berusaha menelepon Anes dengan marah, kecewa dan sedih menjadi satu.
" Jangan di angkat sayang," batin Alex harap-harap cemas. Tidak ia bayangkan kalau David beneran bilang sama Anes, dia juga asti aja kena imbas amukan macan, mending ngamuk, kalau sedih dan stres yang serius? Lebih gawat itu, asti bikin Alex kelimpungan.
" Halo nona," ucap David, yang artinya telepon ya di angkat oleh Anes, hal itu membuat Alex mengusap wajahnya kasar.
"Ya bang, ada apa?" tanya Anes yang sedang ngemil buah strawberry kediamannya di kediaman parvis sambil menonton drama.
"Em... Begini nona, ada yang mau saya bicarakan dengan nona, apa sekarang nona sedang sibuk?" tanya David.
"Bicara apa bang? Enggak kok, aku lagi santai saja sambil nonton drama dan ngemil strawberry,"
"Istiku sedang apa Dave?" tanya Alex yang penasaran.
"Nona sedang ngemil strawberry bos," jawab David.
"Hati-hati Dave ngomongnya, awas kalau sampai istriku terkejut dan keselek strawberry!" Alex memperingatkan. Kening David berkerut mendengarnya.
"Em.. Kalau nanti siang apa sibuk nona?"
"Tidak bang ada apa emang, emang mau bicara apa sih?"
"Benar-benar ngajak ketemu dan mau bilang secara langsung kepada anes? Resign, resign ajalah daripada jadi panjang urusan dengan calon macan, nanti aku juga kena imbasnya," batin Alex yang mulai kesal, kenapa dia, bahkan Anes tidak bisa membuat David mengurungkan niat konyolnya.
__ADS_1
" Saya hanya mau mengajak nona makan siang, bersama bos dan juga Amel, double date," ucap David. Ia ingat terakhir makan bareng terjadi insiden tidak mengenakkan waktu itu, dan ia ingin kali ini mereka benar-benar menikmati double date mereka, mungkin tidak hanya makan siang tapi juga acara ngedate lainnya.
Alex yang sudah merasa tegang, mendadak memiringkan kepalanya dan keningnya mengernyit dengan sempurna.
"What the hell! Aku kira beneran mau bilang resign dan nggak peduli dengan Anes, ternyata malah mengajak double date," Alex melempar bolpoin ke arah David.
David hanya tersenyum melihat ekspresi Alex,
"Mana tega aku menyakiti hati nona," David tersenyum dan masih menempelkan ponsel di telinganya.
"Maksud abang?" tanya Anes yang tidak mengerti kemana arah ucapan David.
"Ah, itu bukan apa-apa nona. Nanti minta pak Anton mengantar nona ke sini ya?"
"Istriku itu Dave, jangan lama-lama ngobrolnya," posesifnya Alex mulai kambuh.
"Tapi dia adik saya," balas David tanpa mengindahkan tatapan cemburu Alex.
Alex langsung merebut ponsel David dan mematikan panggilannya.
"Cemburuan!" ledek David.
Alex masa bodoh dengan ledekan David, ia melempar ponsel David ke sembarang.
"Ponsel saya bos! Rusak ganti!"
"Ponselmu tahan banting seperti yang punya kan?"
David memungut ponselnya dan hendak keluar.
"Mau kemana?" tanya Alex.
"Ketemu Amel," jawab David santai.
"Kerja! Ngapel mulu!"
"Sudah beres semua ya pekerjaan saya," ucap David dengan santainya.
"Kalau begitu, kerjakan pekerjaanku, ini masih banyak," perintah Alex.
"Kala begitu, saya tidak jadi mengambil amplop ini," David menyentuh amplo di meja.
" Ck. Dasar! Ya udah sana ngebucin aja nggak apa-apa, tapi bawa amplop itu, merusak mood saja," Alex mencebikkan bibirnya.
Dengan senyum kemenangan David mengambil amplop tersebut dan membuangnya di tempat sampah yang ada di luar ruangan Alex.
"Dasar sahabat nggak ada akhlak emang!
Kenapa tidak pernah mempan sih dengan bujukanku? Waktu koma, Juna yang berhasil, sekarang nama Anes. Jadi curiga, kayaknya dia nggak beneran sayang deh sama aku," batin Alex.
🌼🌼🌼
💠Kayak tikus dan kocheng ya mereka berdua? Tapi tetap ada mesra-mesranya gitu, itulah sahabat sejati 🤗🤗🤗
__ADS_1
Maaf ya readers kesayangan author baru bisa up 🙏🙏 jangan lupa like, komen dan votenya terima kasih🙏 salam hangat author❤️❤️💠