MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 132


__ADS_3

Amel menahan perasaannya yang gondoknya setengah hidup. Bagaimana tidak, ia kini duduk berhadapan dengan dua orang yang sedari tadi asyik mengobrol sesekali di bumbui canda gurau, siapa lagi kalau bukan David dan juga Evelyn. Walaupun David tetap dengan ekspresi datarnya dan sesekali melirik ke arah Amel yang pasang mode silent.


"Kenapa sih tadi jomblo kadaluwarsa ini ngajakin aku ke sini, kalau cuma buat di kacangin kayak gini. Cuma di jadikan obat nyamuk. Di kira Baygon apa?" batin Amel kesal. Ia kira, ialah wanita satu-satunya yang bisa di ajak bicara David, ternyata masih ada yang lain juga. Amel masih menerawang sebenarnya seperti apa hubungan kedua insan di depannya ini.


"Ini anak, kenapa dari tadi diam aja? biasanya kan seperti knalpot wor , apa dia sedang sariawan? atau sedang mau tumbuh gigi? " batin David saat ia sesekali melirik gadis yang menjadikan hidupnya yang abu-abu menjadi merah kuning hijau tersebut.


"O ya Mel, kamu udah kenal lama sama Dav?" akhirnya, Evelyn mengajak Amel bicara, walaupun mulut Amel sebenarnya alot sekali mau menjawab. Males!


"Em, belum terlalu lama nona Evelyn," sahut Amel bersikap seramah mungkin, padahal dalam hatinya mah, panas.


"Owh begitu, tahu nggak David tuh sebelas dua belas kayak Alex, paling susah loh bergaul sama perempuan, kecuali dia..."


"Ev, cukup! jangan bicara terus. Selesaikan makan dan kita kembali ke kantor," David memotong ucapan Evelyn.


"Aku lagi mau bantu kamu tahu nggak sih?" bisik Evelyn di telinga David.


"Aku tidak butuh bantuan kamu. Aku bisa melakukannya sendiri," balas David berbisik juga.


"Malah main bisik-bisik tetangga, woi di sini orang, bukan nyamuk!" batin Amel semakin panas.


"Owh, jadi nona Evelyn kenal juga sama pak Alex?" selidik Amel.


"Ya, kami bertiga teman waktu di Australia. O ya waktu itu aku nggak sengaja loh ketemu sama Alex dan istrinya di Maldives," sahut Evelyn ramah.


"Owh cuma teman toh, tapi kok aku tetap nggak suka ya dia nemplokin David terus," batin Amel.


"Owh begitu ya," ucap Amel.


"Aku ke toilet sebentar," David memundurkan kursi yang ia duduki dan melangkahkan kakinya ke toilet.


"Kami cemburu ya melihat aku sama David?" bisik Evelyn ketiak David di toilet sedang menikmati proses alamnya.


"Cemburu? ah nona bisa saja, tentu saja tidak. Saya dan pak David cuma rekan satu kantor," Amel ngeles kayak bajai.


"Udah, nggak usah bohong, jujur aja. Membohongi perasaan sendiri itu nggak baik loh," kata Evelyn.


"Emang kelihatan banget ya, kalau aku cemburu?" batin Amel.


"Aku kasih tau ya, David bukan tipeku, jadi kamu tenang aja. Aku sukanya sama Alex," jawab Evelyn jujur.

__ADS_1


"Presdir? dia sudah menikah, dan istrinya sahabat saya, tolong nona jangan macam-macam!" Amel sedikit emosi.


"Hehe slow aja kali Mel. Itu dulu, sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan, Alex hanya menganggap ku teman. Sekarang, aku udah move on. Aku bukan tipe orang yang suka masuk ke celah rumah tangga orang. Dulu sih waktu Alex belum punya pasangan aku masih saja menaruh harapan untuk bersanding dengannya, tapi setelah tahu ia sudah menikah aku mundur teratur," curhat Evelyn jujur, lalu memasukkan makanan terakhirnya ke dalam mulutnya.


"Ya ampun mikir apa sih dari tadi. Ternyata aku salah menafsirkan kedekatan mereka. Jadi malu. Tapi apa iya, laki-laki dan perempuan bisa murni bersahabat? tau ah gelap," batin Amel.


"Kalian sudah selesai? ayo kita kembali ke kantor, harus menuntaskan yang tadi Evelyn," Ucap David yang baru saja selesai dari toilet.


"Menuntaskan apa? emang tadi mereka ngapain? ah kan aku jadi ngeres mikirnya, biar bagaimanapun kan mereka laki sama perempuan, sama-sama jomblo lagi. Baru juga mau positif thinking, udah di buat negatif aja," batin Amel menerka-nerka ucapan ambigu dari David.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Mereka kembali ke pekerjaan masing-masing setelah sampai di kantor. Amel terus memikirkan kata-kata David tadi, pikirannya melayang kemana.


"Tidak usah berpikir aneh-aneh. Aku sama Evelyn murni cuma teman. Dan sekarang lagi membahas kerja sama perusahaan, kamu lebih tahu perasaanku," sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Amel. Amel senyum-senyum sendiri setelah membacanya.


"Siapa peduli!" balas Amel, pura-pura acuh tapi hatinya Jedag jedug sedang berdisko ria.


"Aku peduli," balas David. Amel semakin meleleh di buatnya. Lilin kali ah meleleh.


"Balas!" David mengirim pesan lagi.


"Perasaanku!" balas David.


"?????" balas Amel.


"Amel!" balas David gemas dengan tingkah knalpot wornya tersebut. Ia senyum-senyum sendiri di hadapan Evelyn.


"Woi fokus! orangnya masih di kantor kan? Kalau kangen nanti samperin setelah meeting kita selesai. Dasar jomblo akut, sekalinya jatuh cinta overdosis!" celetuk Evelyn memukul lengan David dengan dokumen di tangannya.


"Jomblo akut, jomblo kadaluwarsa, jomblo abadi, terserahlah suka-suka kalian," kesal David.


"Haha gitu aja baper. Jadi gimana nih, mau lanjutin ngomongin kerja sama, atau mau ngecengin gebetan? Aku nggak mau badan kamu di sini tapi otak jalan-jalan kemana-mana. Kita sedang bahas proyek penting Dav, serius kenapa. Emang ya, benar yang di katakan orang. Selayar dan sedingin apapun laki-laki kalau udah jadi bucin lupa daratan. Hati-hati nanti kalau di tolak, jatuhnya nyungsep, meskipun nggak berdarah sakit tahu!" ocehan Evelyn.


"Curhat?" sahut David singkat namun mengena sampai ke jantung Evelyn.


"Sial kamu Dav!" timpal Evelyn.


"Lihat aja, cepat atau lambat aku akan dapat ganti Alex, laki-laki nggak cuma dia man," lanjutnya.

__ADS_1


"Asal nggak ganggu bos aja, atau mau berurusan denganku," gumam David.


"Ih serem, hahaha. Udah ayo lanjutkan meetingnya, kapan keluarnya kalau begini terus,"


Akhirnya meeting antara David dan Evelyn tuntas dengan sukses. Evelyn pamit kepada David setelah selesai dengan urusannya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Malam harinya di rumah Alex..


"Sayang," panggil Alex manja. Ia duduk mepet-mepet kepada Anes.


"Hem," sahut Anes yang sedang asyik nonton drama yang di mainkan Lee min ho. Akhir-akhir ini, dia jadi suka menonton drama. Ketularan Amel kali ya.


Alex melirik sekilas ke laptop di depan Anes.


"Itu kan laki-laki yang photonya di pajang di kamar kamu, siapa dia?" mengeluarkan aura kecemburuan yang sebenarnya tidak perlu.


"Ingatan mas tajam ya? Dia Lee min ho mas, kenapa emang?" tanya Anes, matanya tak beralih dari layar.


"Mas nggak suka," Alex merajuk.


"Lee min ho di cemburuin, cemburulah pada tempatnya wahai suamiku sayang," ucap Anes dalam hati.


"Terus?" sahut Anes cuek.


"Matiin, lihat mas aja!" menarik dagu Anes supaya melihat ke arahnya dan pasang wajah tanpa dosanya.


"Sabar Nes, sabar. Itung-itung belajar merawat bayi," batin Anes, mencoba menetralkan moodnya yang baru saja anjlok gara-gara sang suami. Tapi melihat wajah tanpa dosa suaminya membuat Anes menurutinya.


Anes menutup laptopnya dan memandang wajah Alex serius.


"Udah? sekarang mau apa hem?" tanya Anes.


"Mas minta tolong, nona boboin Alex junior dong. Dari tadi bangun terus. Mas udah minta bantuan sabun mandi tapi lagi-lagi bangun. Sepertinya pengen kamu yang menidurkan," ucap Alex manja.


Anes hanya mampu menghela nafasnya panjang dengan tingkah suaminya yang semakin hari semakin absurb. Dan dengan ikhlas hati, karena kalau nggak ikhlas dosa, Anes menuruti kemauan sang suami tercinta. Pertempuran sengit namun membuat mereka ketagihan pun tak terelakkan lagi. Terjadi beberapa babak, hingga akhirnya Alex mengakhirinya dengan sebuah tembakan yang tidak mematikan.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


๐Ÿ’ Cieee David, Amel kode-kodean terus, kapan resminya? ๐Ÿ˜ jangan lupa vote ๐Ÿ˜๐Ÿ™โœŒ๏ธ salam hangat author โค๏ธโค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’ 


__ADS_2