MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 163


__ADS_3

"Saya dok, saya yang bertanggung jawab atas pasien David," sahut Alex.


"Anda..?" dokter melihat ke arah Alex memastikan status hubungannya dengan David.


"Saya saudaranya dokter, hanya saya yang dia punya. Katakan! Dia selamat kan dokter?" Alex meminta penjelasan.


"Begini Tuan, ada beberapa organ tubuhnya yang terluka parah, kami harus segera melakukan operasi, dan juga tuan David kehilangan banyak sekali darah, tubuhnya mengalami trauma akibat kehilangan darah dalam jumlah yang banyak. Kami membutuhkan darah yang cukup banyak, hanya saja di rumah sakit stok darah yang cocok dengan tuan David tidak cukup tuan," jelas dokter.


" Bagaimana bisa rumah sakit sebesar ini kehabisan stok darah?Apa golongan darahnya dokter?" tanya Alex.


"Golongan darahnya AB Rhesus positif tuan," jawab dokter.


"Ambil darah saya dokter, golongan darah saya B Rhesus positif," Anes yang mendengar percakapan dokter dan Alex langsung berdiri dan menghampiri mereka.


"Tidak sayang, kamu sedang hamil dan kondisi kamu lemah, kamu tidak bisa melakukannya," sahut Alex.


"Tapi mas, pak David seperti ini karena dia menolongku," ucap Anes.


"Benar nyonya, wanita hamil sebaiknya tidak melakukan donor darah," dokter membenarkan ucapan Alex.


"Tapi dok.."


"Ambil darah saya saja dokter, golongan darah saya sama AB Rhesus positif, bisa kan dok?" tanya Alex.


"Bisa tuan tapi, sepertinya itu tidak akan cukup kalau cuma donor dari tuan," jelas dokter.


"Ambilah sebanyak yang diperlukan dok, asal David bisa selamat," sahut Alex.


"Tidak bisa tuan, kami hanya bisa mengambil darah Anda sesuai prosedur," balas dokter.


"Saya tidak peduli dok, kalau perlu ambil seluruh darah saya dokter!" Alex memegang kedua bahu dokter, seolah memohon.


"Maaf tuan,,,"


"Beri saya waktu lima menit dokter, saya akan mencari orang yang akan mendonorkan darahnya, tolong selamatkan David apapun caranya, atau rumah sakit ini sebagai taruhannya," ancam Alex yang sudah putus asa.


"Tapi kami tidak memiliki banyak waktu tuan,," ucap dokter dengan nada rendah.


"Lakukan apapun dokter, cepat ambil darahku sekarang!" sarkas Alex, ia sudah kehilangan kesabarannya.


"Tapi, kami harus memeriksa kesehatan Anda terlebih dahulu Tuan,"


"Cepat ambil saja, saya jamin saya sehat dan bisa menjadi pendonor!" ucap Alex sudah tidak sabar.

__ADS_1


"Cepat dokter! katanya kita sudah tidak punya banyak waktu, lakukan apapun yang bisa untuk membuat David tetap hidup sambil menunggu donor darah yang lain!!" ucap Alex sarkastik.


"Baik tuan, akan kami upayakan semaksimal mungkin," dokter tahu betul siapa orang yang ia hadapi di depannya ini. Ya, dialah pewaris tunggal Parvis Group. Bahkan, pemilik saham terbesar di rumah sakit tersebut adalah almarhum pak Arya, yang sekarang otomatis menjadi hak Alex.


Alex akhirnya mendonorkan darahnya, dia mengumumkan kepada seluruh pengunjung rumah sakit yang golongan darahnya cocok dengan David untuk mendonorkan darahnya, dengan syarat tidak pakai lama, seluruh riwayat kesehatan dan juga kondisi si pendonor harus sudah jelas sehingga tidak perlu pemeriksaan lagi karena waktunya tidak banyak.


Bagi siapapun yang bersedia dan cocok akan mendapat imbalan yang tidak sedikit, 200 juta per orang. Dan halaman rumah sakit mendadak ramai seperti sedang mengadakan sebuah audisi pencarian bakat.


Anes merasa tidak berguna, saat kondisi darurat seperti ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terus merutuki dirinya sendiri sambil terus menangis.


"Nes, jangan begini. Benar kata pak Alex, kamu sedang hamil, tidak bisa melakukan donor darah mengingat kamu sendiri anemia kan, kalau saja darahku sama dengan David. Aku juga rela jika seluruh darahku harus di ambil demi keselamatannya," ucap Amel yang terus berpelukan dengan Anes. Iya juga merasa tidak berguna. Tak bisa membantu menyelamatkan kekasihnya.


"Dav, kamu harus kuat. Demi aku, demi kita semua, terutama pak Alex," batin Amel. Hatinya terasa teriris, kalau saja bisa menggantikan posisi David di dalam, akan ia lakukan. Tanpa hentinya Amel terus berdoa dalam hatinya, menangis meraung-raung dalam hati dan memohon kepada Tuhan agar kekasihnya bisa di selamatkan.


🌼🌼🌼


Pak Anton yang tadi meninggalkan Anes setelah mengantarkan nyonyanya tersebut ke kantor, langsung menjemput bu Ratna dan pak Hari begitu mendengar kabar insiden tersebut.


"Ma.. pa..." Anes langsung lari memeluk kedua orang tuanya begitu pak Hari dan Bu Ratna tiba di rumah sakit.


Mereka sangat khawatir karena mendengar cerita dari pak Anton bahwa Aneslah yang menjadi sasaran orang itu, dan di halangi oleh David, sehingga David yang harus berakhir seperti ini.


"Anes takut ma,,," ucap Anes sambil terus sesenggukan menangis.


Kemudian, bu Ratna menghampiri Amel yang duduk terkulai lemas dengan berseberangan dinding rumah sakit.


"Mel,,,"


Tanpa bicara Amel langsung menubruk tubuh Bu Ratna, ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan bu Ratna.


"David ma,, David,," ucap Amel dalam tangisnya.


Bu Ratna mencoba terus menenangkan Amel.


"Sabar sayang, kamu harus yakin dan kuat, pak David akan baik-baik saja, percayakan sama Tuhan, tuhan pasti akan memberikan yang terbaik, banyaklah istighfar sayang," ucap Bu Ratna dengan terus mengusap-usap punggung Amel.


Ya, Amel yang sedari tadi berusaha kuat dan tegar di depan Anes dan Alex, akhirnya meluapkan kesedihan dan ketakutannya pada bu Ratna. Ia bisa melihat sikon yang ada, seandainya dari tadi ia tidak menahannya, bagaimana dengan Anes sahabatnya, siapa yang akan menguatkannya. Sedangkan Alex sendiri sudah tidak bisa di jelaskan bagaimana perasaannya sekarang.


Pak hari menghampiri Alex yang kini mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.


"Lex,,"


"Pa.." Alex langsung memeluk ayah mertuanya tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya?" tanya pak Hari.


"Belum tahu pa, dokter masih melakukan operasi di dalam. David begini karena menyelamatkan istri dan anak Alex pa," ucap Alex menahan matanya terasa panas karena menahan tangisnya.


"Papa tahu bagaimana perasaan kamu sekarang, David orang baik, tuhan pasti akan menyelamatkannya," sahut pak Hari.


Lama menunggu, operasinya tidak selesai-selesai juga, ingin rasanya Alex menendang pintu ruang operasi tersebut karena tidak sabar menunggu. Hingga akhirnya dokter keluar dari ruangan tersebut setelah beberapa jam.


"Bagiamana dokter?" tanya Alex sudah tidak sabar.


"Begini tuan, tuan David benar-benar kuat, dalam kondisi seperti ini, beliau masih bisa bertahan, sungguh sangat jarang terjadi. Tapi..."


"Tapi apa dokter? katakan dengan jelas!" Alex meninggikan intonasinya.


"Tuan David kehilangan lebih dari dua perlima darah dalam tubuhnya, membuat jantungnya kesulitan menjaga tekanan darah, memompa darah dan sirkulasinya sehingga organ-organ dalam tubuhnya berhenti bekerja, oksigen yang menuju ke otaknya juga terhambat dan sangat menyesal kami katakan sekarang tuan David dalam fase koma," jelas dokter dengan hati-hati.


Tubuh Alex menjadi sangat lemas, tulangnya serasa lolos dari tubuhnya. Ia bersimpuh di lantai, mendengar kata koma dari dokter mengingatkannya pada saat pak Arya koma waktu itu yang akhirnya nyawa pak Arya tidak tertolong. Alex memikirkan hal terburuk yang akan terjadi pada David. Alex menjambak rambutnya frustasi. Ia benar-benar tidak sanggup kalau harus kehilangan orang terdekatnya lagi.


"Tapi dia masih bisa sadar dan sembuh kan dok?" tanya Alex berharap jawaban dari dokter ada secercah harapan walaupun sedikit.


"Kami akan memindahkan tuan David ke ruang ICU tuan, di sana akan kami pantau terus kondisinya, sambil terus memeriksa apakah ada komplikasi yang diakibatkan kehilangan darah dalam jumlah yang banyak tersebut. Karena kemungkinan tidak adanya komplikasi itu kecil, semoga tuan David bisa segera melewati fase komanya, kita perlu banyak berdoa tuan," ujar dokter.


"Lakukan yang terbaik dokter, apapun kalau perlu datangkan tenaga medis atau alat-alat medis yang paling canggih dari luar negeri, dan juga siapkan ruang ICU yang terbaik dan senyaman mungkin," ucap David.


"Baik tuan akan kami upayakan yang terbaik," kemudian dokter pamit dan David akan segera di pindahkan ke ruang ICU.


Mereka yang ada di sana, terutama Anes dan Amel sudah tidak tahu lagi bagaimana menjabarkan perasaan mereka saat ini.


"Semua gara-gara Anes ma, kalau saja Anes tidak mengajak makan siang di sana semua ini tidak akan terjadi, dan kalau pak David tidak melindungi Anes dan anak Anes, pasti orang yang sekarang koma itu adalah Anes ma, dan Anes tak sekuat pak David, kalau Anes di posisi pak David sekarang, mungkin Anes sudah mati ma,,hiks hiks hiks," Anes terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri atas insiden tersebut.


Sedangkan Amel lari ke sudut rumah sakit yang sepi dan meluapkan seluruh tangisnya di sana.


"Aaaaaarrggh! Aaaaaarrhh!" Amel berjongkok dan memeluk lututnya sambil terus menangis histeris. Hanya dalam hitungan jam, laki-laki yang ia cintai, yang pagi tadi baru saja bilang cinta kepadanya kini koma.


Sementara Alex terus meninju dinding rumah sakit sebagai luapan amarahnya.


"Akan aku pastikan pelakunya membusuk di penjara, Kamu harus kuat Dave, biar bisa melihat orang itu menerima akibat perbuatannya," Alex mengepalkan tangannya kuat-kuat dan kembali menghantam dinding rumah sakit.


Pak Hari dan Bu Ratna, juga pak Anton juga ikut sedih, tapi mereka terus berusaha menenangkan ketiga orang tersebut.


🌼🌼🌼


**💠 kalau misal ada yang salah dan juga terbalik atau apalah namanya dalam penanganan pasien, dan juga salah dalam menulis istilah, author mohon maaf, karena memang author bukan ahlinya. Ini saja author harus browsing terlebih dahulu dan tentu saja kemungkin salah itu pasti ada.

__ADS_1


Jangan lupa like n votenya ya... Siapa tahu kalau votenya banyak David segera sembuh atau malah sebaliknya..hehe ngarep.com😁 salam hangat author❤️❤️💠**


__ADS_2