MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 68


__ADS_3

"Sekarang kita mau kemana lagi mas?" tanya Anes bergelayut manja di lengan Alex.


"Pulang," jawab Alex singkat.


"Kok pulang?" Anes melepaskan tangannya dari lengan Alex. Ada guratan kecewa menghiasi wajahnya.


"Hehe bercanda, gitu aja ngambek!" kata Alex sambil mengusap rambut Anes pelan.


"Ayo kita shopping!" ajak Alex kemudian.


"Hah? buat apa shopping, baju ku sudah banyak, bahkan yang belum tersentuh sama sekali juga masih banyak. Nggak usahlah buang-buang duit," Anes menolak.


"Udah ayo cepat!" Alex menarik tangan Anes dan memasuki sebuah toko pakaian dalam di mall besar tersebut.


Sampai di dalam toko Anes diam mematung. Ia tak berniat membeli pakaian dalam sama sekali.


"Kok malah diam? ayo cepat pilih yang kamu suka, pilih yang banyak dengan model yang berbeda-beda dan seksi, biar bisa ganti setiap hari. Biar tambah semangat kalau sedang main, kalau sobek kan bisa langsung di buang," bisik Alex dengan senyum devilnya.


Anes tak menyahut, ia hanya menatap Alex dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ya, kalau aku nariknya terlalu nafsu kan bisa saja sobek. Atau mungkin sengaja di sobek biar sensasinya lebih dapat," ucap Alex vulgar.


Anes mengernyitkan dahinya sambil menatap Alex tajam. Ia tak habis pikir kenapa suaminya bisa menjadi mesum begitu.


"Huh, dasar mesum! Malu tahu kalau ada yang dengar!"


"Nggak masalah mesum sama istri sendiri. Cepat pilih atau mau mas yang pilihkan dan sekalian kalau mau mencobanya nanti mas bantu pakaikan, jangan lupa beli lingerie juga yang banyak!" ucap Alex dengan senyum liciknya.


"Nggak usah! biar aku pilih sendiri!" sahut Anes. Ia tak habis pikir dari mana suaminya itu belajar hal-hal seperti itu.


"Jangan bilang ini ide gila dari pak David, hasil dari konsultasi sama Mbah Google. Hah awas saja si jomblo itu kalau pengaruhi mas Alex yang enggak-enggak." batin Anes.


Kemudian, ia memilih beberapa model yang sebenarnya ia sendiri tidak percaya diri kalau harus memakai yang aneh-aneh modelnya seperti itu. Tak lupa juga Anes memilih beberapa lingerie dengan berbagai model juga. Selama ini memang ia tidak pernah memakai lingerie. Sesekali bolehlah untuk menyenangkan suaminya, pikirnya.


"Sayang, pilih ini juga. Pasti lucu," Alex menunjuk satu set lingerie seksi dengan motif loreng-loreng seperti macan.


"Yang benar saja, aku disuruh pakai model begitu, malunya mau di taruh dimana?" batin Anes


"Nggak mau, biar aku pilih sendiri atau nggak jadi beli sama sekali!" ucap Anes dengan nada mengancam.


"Ok ok baiklah tuan putri," sahut Alex sambil terkekeh. Padahal, tadi ia hanya iseng menggodanya. Ia senang sekali menggoda istrinya tersebut. Menurutnya, sangat menggemaskan kalau Anes sedang cemberut.


🌼🌼🌼

__ADS_1


"Kamu mau beli apa lagi? baju, tas atau sepatu mungkin?" tanya Alex setelah ia menyelesaikan pembayaran di kasir dan keluar dari toko pakaian dalam tersebut.


"Nggak mas, lain kali aja," tolak Anes


"Beneran?" tanya Alex memastikan.


Anes mengangguk mantab menjawab pertanyaan suaminya dengan senyum tulusnya.


"Ini aja, beli pakaian dalam juga kerena kamu yang maksa mas."


Kemudian, mereka menuju ke parkiran mobil.


"Mas aku lapar," ucap Anes sambil memegang perutnya setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Ya udah, kita cari makan. Lagian ini juga udah waktunya makan siang," sahut Alex sambil tersenyum.


"Di dekat sini ada sebuah Cafe, aku sering ke sana sama Amel. Kita makan di sana aja ya?" pinta Anes.


Alex mengiyakan permintaan Anes, mereka menuju Cafe yang di maksud oleh Anes.


Saat turun dari mobil, Anes seperti melihat seseorang yang ia kenal.


"Itu seperti Dimas, pacarnya Amel," ucap Anes agak ragu takut kalau penglihatannya salah.


"Mana?" tanya Alex.


" Tapi, dia sama siapa, sepertinya dia tidak sendiri. Atau mungkin sama Amel? mungkin mereka dari Cafe ini juga kali ya. Sebentar biar aku kirim pesan ke Amel untuk memastikan."


Kemudian, Anes mengirim pesan singkat kepada sahabatnya tersebut.


"Mel, sekarang kamu lagi di mana? apa lagi jalan sama Dimas?"


"Aku di rumah Nes, Dimas katanya sedang sibuk jadi aku nggak pergi sama dia. Kenapa memangnya?" Amel segera membalas pesan Anes karena kebetulan ia sedang memainkan ponselnya.


"Oh, nggak papa, soalnya tadi aku kayak lihat kamu sama Dimas. Mungkin aku salah orang," balas Anes.


"Iya mungkin salah orang Nes." balas Amel tanpa curiga.


"Ya udah, aku mau makan siang dulu sama mas Alex. Kamu jangan lupa makan juga emmmuachh 😘😘," balas Anes.


"😘😘," Amel membalas dengan dua emoticon kiss.


"Apa iya aku salah lihat ya? tapi kayaknya emang benar itu Dimas," gumam Anes mencoba mengingat lagi wajah yang sekilas tadi dia lihat.

__ADS_1


"Sayang hei, malah bengong," lambaian tangan Alex membuyarkan lamunan Anes.


"Eh ini mas, Amel bilang dia ada di rumah terus tadi itu Dimas bukan ya? kalau Dimas sama siapa ya?" Anes jadi bingung.


"Udahlah nggak usah dipikirin, mungkin itu bukan Dimas. Kalau pun Dimas, mungkin lagi sama saudaranya. Ayo katanya udah lapar!" Alex mengajak Anes masuk ke Cafe.


"Iya mas Alex benar, mungkin aku yang salah lihat," Anes menghela nafasnya panjang kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas.


🌼🌼🌼


Mas dulu kalau kencan juga sering ya nonton di bioskop?" tanya Anes penasaran.


"Uhuk-uhuk!" Alex tersedak mendengar Anes yang tiba-tiba membahas mantan pacarnya.


"Ini minum dulu, pelan-pelan makannya. Aku kan cuma tanya sampai tersedak begitu," Anes menyodorkan minum kepada Alex.


"Mas hanya kaget aja kenapa tiba-tiba kamu membahasnya," ucap Alex setelah meneguk minumnya.


"Ya nggakpapa, pengen tahu aja, ayolah jawab," rengek Anes.


"Tidak, mas tidak pernah mengajaknya nonton," jawab Alex datar.


"Ohh, terus kalau kalian kencan, kalian kemana dong?"


"Itu sudah masa lalu. Sudah tidak penting lagi. Sekarang mau bahas masa lalu atau mau makan?" tanya Alex tegas.


"Makan," jawab Anes. Sebenarnya Anes penasaran dengan kehidupan Alex di masa lalu. Tapi, Alex tidak pernah mau menceritakan kehidupannya sebelum bertemu dengan Anes. Padahal, Anes seringkali menceritakan perihal kehidupannya dulu sebelum mereka bertemu. Tidak cerita pun Alex juga sudah tahu. Rasanya tidak adil bagi Anes. Ia hanya tahu sedikit tentang suaminya tersebut.


"Kalau mau makan, tidak usah membicarakan hal itu lagi!" tegas Alex.


"Iya iya," sahut Anes.


"Kenapa sih, kalau bahas mantannya sensi banget. Huh, kenapa masa lalu mas Alex tak tersentuh sama sekali olehku?"


Kemudian, mereka makan dengan khidmat tanpa suara.


"Habis ini kita ke taman hiburan ya mas?" Anes membuka suaranya kembali setelah keheningan yang tercipta beberapa saat lalu.


"Taman hiburan?" tanya Alex.


"Iya, mau ya ya ya?" rengek Anes.


"Baiklah, terserah kamu saja, mas akan turuti," sahut Alex yang kini sudah kembali menebar senyumnya untuk Anes dan itu membuat Anes senang.

__ADS_1


Anes tahu, membahas mantan adalah hal paling sensitif yang paling Alex benci. Suaminya itu seolah ingin mengubur dalam-dalam kisah kasih masa lalunya. Mungkin kekecewaan yang sangat mendalam hingga ia enggan menoleh ke belakang sedikitpun.


🌼🌼🌼


__ADS_2