
Tak terasa, kini usia kandungan Anes sudah memasuki bulan ke sembilan. Itu artinya hanya tinggal menghitung hari, bahkan mungkin jam saja untuk menyambut kelahiran buah cintanya dengan Alex.
Sedangkan David dan Amel masih menikmati kehidupan baru mereka sebagai pengantin baru. Kini mereka tinggal di rumah baru yang di berikan oleh Alex sebagai hadiah pernikahan mereka.
Amel menikmati perannya sebagai seorang istri, begitupun David yang setiap hari selalu ingin menempel kepada sang istri.
Amel tampak sedang membuatkan kopi untuk David, merasa terkejut karena David tiba-tiba memelukany dari belakang.
"Beb,"
"Apa yank? Ngagetin aja, aku lagi buatin kopi buat kamu ini, tanganmu nyingkir dulu dong," sahut Amel sambil mengaduk-aduk kopi dalam cangkir.
David cuek, ia malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Aduh Dave, jangan mancing-mancing deh, masih pagi ini,"
"Emangnya kenapa kalau pagi? Malam pertama, kedua, ketiga dan malam-malam lainnya udah, tapi pagi pertama kan belum. Bagaimana mau coba?" goda David.
"Ya maulah, mana bisa aku menolak sih," jujur Amel, yang memang gayanya seperti itu, ia lebih agresif kepada suaminya.
"Astaga! Sepertinya aku salah ngomong!" seru David sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Pagi ini aku ada meeting, kalau kita bertempur sekarang, bisa-bisa telat ke kantor." lanjutnya.
"Nih kopinya, di minum terus siap-siap!" Amel menyodorkan kopi yang baru saja ia buat.
"Ngambek?"
"Enggak, udah aku mandi dulu!" jawab Amel.
"Mau mandi bareng?" tawar David.
"Yaudah ayo!" ajak Amel semangat.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Sementara itu, di kediaman Parvis...
Anes yang baru saja bangun tidak mendapati Alex di sampingnya. Tak berselang lama, Alex keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya, wajahnya tampak sedikit meringis seperti menahan sakit.
"Mas kenapa? sakit?" tanya Anes.
"Enggak tahu sayang, perut mas kayak mules, melilit," sahut Alex.
"Yaudah hari ini mas nggak usah ke kantor, istirahat aja di rumah, nanti biar aku panggil dokter buat periksa," ucap Anes, ia masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur.
Enggak sayang, mas ngappa kok. Mas harus ke kantor hari ini. Mulai besok mas akan cuti ke kantor, mas mau nemenin kamu menunggu kelahiran baby El.
" Terus kantor?"
" Kan ada David, mas bisa kerja dari rumah sayang," sahut Alex.
"Yaudah terserah mas aja kalau gitu. Sebentar aku buatin teh hangat biar enakan perutnya," Anes menyingkap selimut yang menutupi badannya sebelum kemudian ia turun dari tempat tidur.
Saat berjalan menuju ke pintu, Anes menyadari ada yang aneh pada kakinya, basah,.
Anes pikir itu mungkin ia tak sengaja buang air kecil karena memang semenjak kandungannya membesar, ia sering sekali buang air kecil.
Begitupun dengan Alex, ia juga berpikir hal yang sama dengan Anes.
__ADS_1
"Udah nggapapa, kamu mandi dulu saja sayang, habis itu baru buatin mas teh," ucap Alex lembut ketika melihat Anes tampak merasa malu di depan suaminya tersebut karena apa yang barusan terjadi.
Anes pun menuruti perkataan Alex, ia tak jadi keluar kamar namun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Di kantor, Alex tampak memeriksa beberapa dokumen sambil sesekali memegangi perutnya yang kadang terama mules.
"Bos kenapa?" tanya David yang baru saja kembali dari meeting dan ingin melaporkan hasilnya kepada Alex.
"Perutku kadang terasa aneh Dave, seperti mules. Tapi setiap kali ke kamar mandi nggak ada yang keluar, dan rasanya kadang hilang,"jawab Alex.
" Mungkin karena bos stres terlalu memikirkan nona yang sebentar lagi akan melahirkan," ujar David.
"Sepertinya kamu benar Dave, akhir-akhir ini malah aku yang terlalu stres daripada Anes, dia kelihatan tenang,"
"Wajar kalau bos kepikiran, namanya juga baru pertama kali. Jangan terlalu banyak- banyak browsing tentang wanita melahirkan bos, nanti malah bikn tambah stres,"
"Hemm," sahut Alex.
Tak berselang lama, David pamit kepada Alex, untuk menemui Amel setelah urusanjya dengan Alex selesai.
"Ck. Dasar pengantin baru, maunya nemplok mulu kayak cicak," hardik Alex.
"Mumpung masih anget bos, coba kalau dah hamil tua kayak nona, gerak aja susah kan," ledek David.
"Apalagi sebentar lagi melahirkan, puasa lama dah tuh," imbuhnya sambil berkacak pinggang meninggalkan Alex.
"Berisik! Pergi sana! Bikin tambah mules aja," cebik Alex.
"Ini yang bos siapa, kok dia yang enak kelayapan nggak jelas," gumam Alex.
Sekitar dua jam kemudian, ponsel Alex berdering. Alex langsung mengangkatnya karena yang menelepon adalah nomor istrinya.
" Halo sayang, ada apa? Kangen ya? Baru juga tiga jam mas tinggal, udah kangen aja," ucap Alex.
"Ini bibi Tuan muda. Itu, nyonya muda sepertinya akan melahirkan," sahut bi Ina.
Mendengar istrinya akan melahirkan, membuat perut Alex semakin mules.
"Sekarang di mana istri saya?"
"Ini ada Tuan, sedang jalan mondar-mandir tuan," jawab bibi, membuat Alex semakin panik.
"Saya akan segera pulang bi, tolong cegah baby El untuk tidak lahir dulu," ucap Alex, ia langsung mematikan panggilannya dan meraih jasnya dari sandaran kursi.
Sangking paniknya, Alex tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa mondar mandir untuk sesaat, sebelum akhirnya ia mencari keberadaan David. Alex mencari David di kubikel Amel, tapi baik dia mauoun Amel tidak ada di sana.
Ia mencoba menelepon David, namun tidak diangkat.
"Di mana Amel?" tanya Alex kepada teman Amel, dengan wajah yang sudah semakin panik.
Setelah mendapat jawaban kalau Amel sedang ke pantry, Alex langsung pergi menuju ke sana.
"Brak!" di tendangnya pintu pantry.
Di lihatnya David dan Amel sedang asyik berciuman.
"Astaga Dave! Aku udah kasih rumah segede itu, tapi malah mau melakukannya di sini, nggak k ada akhlak emang," umpat Alex, sesaat ia melupakan perutnya yang sakit dan alasan kenapa ia mencari David.
__ADS_1
"Bos mencari saya?" tanya David dengan santainya.
"Ah kan sampai lupa! Anes mau melahirkan, ayo cepat antar aku pulang!"
"Melahirkan? Bukannya HPLnya masih beberapa hari lagi?" tanya Amel.
"Mana aku tahu, mungkin anakku udah nggak betah di dalam perut Anes dan pengen cepat keluar, di dalam kan sempit. Pengap!" jawab Alex.
"Kenapa malah mencari saya bos? Cepat pulang dan bawa nona ke rumah sakit," ucap David yang seketika ikut panik.
"Aku panik Dave, makanya cari kamu,"
"Melahirkan ya cari dokter kandungan bos, bukan mencari saya, saya nggak bis bantu nona buat melahirkan,"
"Tapi kamu bisa mengantarku pulang," jawab Alex. Mereka berdua terus berdebat untuk beberapa saat.
"Woi! Malah debat di sini! Ayo cepat, keburu brojol anaknya, gimana sih," teriak Amel yang gemas melihatnya.
Akhirnya mereka bertiga pun menuju ke kediaman Parvis.
Begitu sampai, Alex langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Anes.
"Di mana istriku?" tanyanya kepada salah satu asiten rumah tangganya.
"I itu tuan muda, nyonya muda sudah tidak ada," jawab bibi.
"Nggak ada bagaimana makasudnya?" tanya Alex panik.
"Ma maksud saya, nyonya muda berangkat ke rumah sakit duluan bersama bi Ina, karena tuan muda tidak kunjung pulang," sahut bibi dengan menunduk, ia tak berani menatap majikannya.
"Dasar nggak jelas!" umpat Alex kepada bibi.
"Mana nona bos?" tanya David, yang melihat Alex keluar rumah sendiri tanpa istrinya.
Alex hanya diam tak menjawab, ia langsung masuk kembali ke mobil. Pikirannya benar-benar sudah kacau.
David dan Amel hanya saling mengangkat bahu mereka dan ikut masuk ke dalam mobil.
"Cepat ke rumah sakit Dave, Anes sudah ke sana duluan. Aku takut dia kesakitan, cepat!"
"Sabar bos, tenang dulu jangan panik, nona dan bos kecil akan baik-baik saja, banyakin doa bos," David mulai melajukan mobilnya.
"Dari tadi juga aku udah berdoa Dave, tapi tetap saja khawatir," sahut Alex.
"Kapan berdoanya, saya tidak dengar," balas David.
"Dalam hati dodol! Pertanyaanmu ngeselin Dave! Cepat jangan banyak tanya, ini juga gara-gara kamu sih, tadi pakai berdebat dulu di kantor, jadi lama kan sampai rumah,"
"Kenapa jadi saya yang salah, kenapa juga tadi bos nggak suruh nona ke rumah sakit duluan dan kita langsung menyusul ke sana, kenapa malah kita pulang duluan, emangnya nona mau melahirkan di rumah? Enggak kan tetap di rumah sakit kan?" bantah David tidak mau di salahkan.
" Terus salahku gitu?" Alex tetap tidak terbantahkan.
" Tidak bos, salah saya. Mel ambilkan tisu!"
" Buat apa yank?"tanya Amel.
" Kasih ke bos. Bos lap dulu keringatnya, nanti nona nggak mau dekat kalau bos berkeringat segede-gede kelereng begitu,"
" Berisik, cepat saja nyetirnya!" cebik Alex, ia menerima tisu yang di sodorkan Amel kepadanya. Dan benar saja, tisu tersebut langsung basah, karena selain panik, Alex juga menahan mules pada perutnya.
__ADS_1
๐ผ ๐ผ ๐ผ