MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 75


__ADS_3

Akhir-akhir ini Alex terlalu sibuk dengan pekerjaan. Begitu pula dengan Anes, sebagai sekertaris Alex, ia juga ikut di sibukkan dengan segudang pekerjaan. Mereka sering telat makan dan juga pulang malam karena lembur.


Alex sudah berulang kali meminta Anes untuk tidak terlalu capek. Ia selalu meminta Anes buat istirahat yang cukup dan pulang lebih awal, dan pekerjaannya bisa di serahkan kepada David. Tapi, Anes selalu tidak mengindahkan permintaan suaminya dengan alasan kasihan pak David, karena pak David sendiri sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Alex membuka matanya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Di lihatnya Anes masih tidur di balik selimut.


"Tumben jam segini belum bangun. Pasti kecapean karena akhir-akhir ini sering lembur dan pulang larut malam," gumam Alex.


"Sayang, bangun ini sudah jam setengah tujuh," Alex menggoyang-goyangkan tubuh Anes. Namun Anes tidak bangun juga.


Kemudian Alex mencium kening Anes, dia merasakan sesuatu yang aneh.


"Kok panas?"


"Ya ampun! kamu demam sayang!" seru Alex ketika meletakkan tangannya di kening Anes untuk mengecek. Alex panik ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo, Anes demam bagaimana ini?" ucap Alex dengan khawatir.


"Kalau nona Anes demam, ya panggilkan dokter bos, kenapa malah telepon saya, saya tidak bisa mengobatinya, saya seorang asisten buka seorang dokter," sahut David di seberang telepon sambil menikmati sarapannya.


"Ah sial, kalau begitu cepat suruh dokter Andre ke sini. Ah jangan dia kan laki-laki, panggilkan dokter perempuan. Suruh kemari secepatnya!" perintah Alex dan langsung mematikan teleponnya.


"Hah dalam keadaan begini saja masih sempat-sempatnya posesif. Emang kenapa kalau dokternya laki-laki. Tunggu, kenapa juga dia tidak langsung menelepon dokter, malah meneleponku, bukankah sama saja harus kerja dua kali itu namanya buang-buang waktu. Hah panik boleh tapi jangan jadi bodoh bos," batin David. Ia meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan sarapan.


🌼🌼🌼


Alex tampak sangat cemas, ia berkali-kali menempelkan tangannya di kening Anes dan hasilnya masih sama. Lalu, ia mengompres Anes berharap bisa sedikit menurunkan demamnya sambil menunggu dokter datang.


"Kenapa dokternya lama sekali sih."


"Mas," Anes membuka matanya dan memanggil Alex lirih.


"Sayang kamu bangun, badan kamu panas sekali, tunggu sebentar ya dokter sedang dalam perjalanan ke sini," Alex duduk di samping Anes dan menggenggam tangan Anes erat.


"Aku nggakpapa kok, cuma demam aja," sahut Anes. Ia melihat kekhawatiran dari sorot mata Alex.


"Mas nggak bisa tenang sebelum dokter memeriksa kamu dan memastikan kalau kamu baik-baik saja."


Setelah beberapa menit menunggu dan dokter belum juga datang, Alex berinisiatif untuk membawa Anes ke rumah sakit.


"Sayang ayo kita ke rumah sakit saja, di sana perawatannya lebih baik," Alex memposisikan tangannya untuk membopong tubuh Anes.

__ADS_1


"Nggak perlu mas, aku cuma demam biasa, istirahat juga nanti pasti baikan, dokternya pasti juga sebentar lagi sampai "


Alex tidak mendengarkan ucapan Anes, ia mulai untuk mengangkat tubuh Anes dengan kedua tangannya. Tiba-tiba bel berbunyi.


"Ting tong!"


"Itu pasti dokternya sudah datang mas, cepat bukakan pintunya," ucap Anes.


Alex merebahkan Anes kembali dan bergegas menuju lantai bawah untuk membuka pintu.


"Selamat pagi tuan muda, saya di suruh pak David untuk memeriksa nona Anes," sapa dokter bernama Yulia tersebut.


"Silahkan masuk!" Alex mempersilahkan dokter Yulia untuk masuk dan mengikutinya ke kamar.


Sesampainya di kamar, dokter Yulia langsung memeriksa Anes.


"Bagaimana istri saya? apa dia baik-baik saja? apakah ada yang serius?" tanya Alex setelah dokter selesai memeriksa.


"Tuan muda jangan khawatir, nona muda hanya demam biasa karena kelelahan. Istirahat yang cukup akan cepat memulihkan kondisinya," jawab dokter Yulia. Namun, dari raut mukanya sepertinya Alex masih belum puas dengan jawaban yang di berikan oleh dokter Yulia tersebut.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Istirahat yang cukup dan jangan lupa minum obatnya," Pamit dokter Yulia setelah membereskan peralatan medisnya.


"Iya, terima kasih dokter," sahut Anes lirih.


"Mas, anterin dokter Yulia keluar!" perintah Anes.


"Tidak, mas akan tetap di sini, dia tahu dimana letak pintu untuk keluar," jawab Alex yang kini sudah duduk di tepi ranjang samping Anes tidur.


Alex terus menunggui Anes sampai Anes kembali terlelap. Kemudian, ia menaikkan selimut yang menutupi tubuh Anes dan pergi menuju ke dapur.


Alex berencana membuatkan Anes bubur, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.


"Ah kenapa di saat seperti ini bibi malah sedang cuti sih, aku mau tanya siapa cara membuat bubur?" gumam Alex. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai browsing cara membuat bubur yang enak.


Akhirnya bubur ala Alex pun selesai dibuat. Ia naik ke ke kamar dan mendapati Anes masih tidur. Pelan-pelan ia meletakkan nampan berisi bubur tersebut dibatas nakas.


Tak berselang lama, Anes terbangun dan melihat Alex dengan setia menungguinya.


"Mas,"


"Kamu sudah bangun sayang? ayo makan dulu, mas udah buatin bubur buat kamu. Habis itu minum obat," Alex membangunkan tubuh Anes dan menyandarkannya ke dada Alex.

__ADS_1


Alex mengambil bubur yang tadi ia harus di atas nakas. Alex mulai menyuapi Anes.


"Ah!" pekik Anes.


"Kenapa sayang? apa tidak enak buburnya?" tanya Alex.


"Panas," sahut Anes singkat.


"Oh maaf-maaf! mas kira udah dingin, masih panas ya?" Alex mengambil sesendok bubur lagi ditiupnya berkalia-kali hingga suam-suam kuku dan menyuapkannya kepada Anes.


"Udah mas," Menolak untuk makan lagi setelah beberapa sendok berhasil masuk ke perutnya.


"Kenapa? apa buburnya tidak enak? maaf mas baru pertama kali buatnya, itu aja mas lihat dari internet,"


"Enak kok, cuma mulutku aja yang terasa pahit. Maaf ya?" Anes menjadi merasa nggak enak karena ia tahu Alex membuat bubur itu susah payah tapi ia tidak menghabiskannya.


"Ya udah, sekarang minum obat lalu istirahat ya? biar cepat sembuh," Alex meletakkan mangkuk berisi bubur yang ia pegang ke nampan dan meraih air putih serta obat.


Setelah meminum obat, Alex membaringkan tubuh Anes ke tempat tidur dan menyelimutinya.


"Sekarang tidurlah, mas mau telepon David sebentar,"


"Mas nggak ke kantor hari ini? bukannya hari ini ada dua meeting yang sangat penting?"


"Hari ini mas nggak ke kantor sayang. Mana mungkin mas ninggalin kamu sendirian saat sedang sakit begini."


"Aku udah baikan kok, mas pergi saja ke kantor. Aku nggakpapa hanya perlu sedikit istirahat saja, bukannya tadi dokter juga bilang begitu? aku hanya kecapean. Pergilah meeting hari ini sangat penting mas," Anes mencoba meyakinkan Alex kalau dia baik-baik saja.


"Tidak sayang, kamu jauh lebih penting dari apapun. Soal meeting bisa di undur. Udah nggak usah khawatir. David pasti akan menghandle semuanya dengan baik. Bukankah dia selalu bisa di andalkan?"


"Aku tidak mau mas Alex kehilangan klien gara-gara aku lagi,"


"Tapi mas?"


"Udah jangan bicara lagi, sekarang tidurlah! biar demamnya cepat turun!"


"Percuma juga debat sama dia, lagian aku juga tidak punya tenaga untuk berdebat,"


Anes mengangguk dan memejamkan matanya.


"Anak pintar," ucap Alex sambil mengusap-usap puncak kepala Anes. Pelan-pelan Alex berdiri dan keluar menuju ke ruang kerjanya untuk menghubungi David.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2