
"Udah siap tuan putri?" tanya Amel yang melihat Anes turun dari tangga dan sudah mengganti pakaiannya dan juga membawa tas kecil bersamanya.
"Ayo cus berangkat sekarang!" lanjut Amel.
"Tunggu Mel, aku bilang sama mas Alex dulu kalau kita mau pergi," Anes mengeluarkan ponselnya. Ia berusaha menelepon Alex namun tak ada jawaban.
"Tidak di jawab," gumam Anes.
"Sudah nggak apa-apa, kirim pesan saja. Mungkin pak Alex sedang sibuk," ucap Amel.
"Iya, kamu benar," Anes langsung mengetik pesan singkat dan ia kirim ke suaminya.
Mereka berdua keluar menuju ke parkiran mobil.
"Kita mau pakai sopir atau bagaiman Mel?" tanya Anes.
"Nggak usah, aku nyetir sendiri kok tadi ke sini ya. Tuh mobilnya," Anes menunjuk mobil milik David yang berjajar rapi dengan mobil-mobil Alex yang lain.
"Bukannya itu mobil pak David?"
"Yupz! dan ini kuncinya, bukan cuma mobil, tapi...Tara..." Amel memperlihatkan kartu kredit yang di berikan oleh David kepadanya.
"Mel, kamu habis merampok pak David?,"
"Nggak lah ya, dia sendiri yang dengan senang hati memberikannya, eh ralat meminjamkannya padaku maksudnya. Karena aku baik hati dan tidak sombong makanya aku terima dong, kan sungkan juga menolak niat baik seseorang. Dan kamu tahu, katanya kartu ini meskipun tidak unlimited seperti punyamu, tapi aku akan kewalahan menghabiskannya, haha sombong sekali kan dia? Ayo kita buktikan seberapa kaya David itu, kalau perlu kita habiskan," ucap Amel sambil tertawa. Padahal ia hanya bercanda, karena ia tadi sengaja tidak menanyakan pin kartu kredit tersebut kepada David.
Tapi tiba-tiba ponsel Amel bergetar, ia membuka pesannya dan ternyata itu pesan dari David yang memberi tahu kode pin kartu kreditnya.
"Serius dia? kenapa PINnya tanggal lahir aku sih?" batin Amel. Mukanya langsung merah melebihi tomat. Segera ia menormalkan kembali perasaannya yang di penuhi emoticon love tersebut.
"Ih jahat kamu Mel, kalau benar-benar habis bagaimana? Nggak boleh gitu sama calon suami,"
"Deg!" mendengar kata calon suami membuat Amel tertegun.
"Ca calon suami siapa Nes?" tanya Amel.
"Ya calon suami istrinya lah," sahut Anes.
"Siapa?" selidik Amel.
"Ada deh!" sahut Anes sambil masuk ke dalam mobil.
"Beneran Nes, dia udah jadi calon suami orang?" masih penasaran dan penuh selidik.
"Hehem," ucap Anes sambil menganggukkan kepalanya.
"Huh dasar, pria semua sama saja, waktu itu aja dia minta aku buat nikah sama dia, tahunya udah punya calon istri. Apa sih maunya? mau mempermainkan perasaanku gitu iya? Sial bener hidupku! Aku tabrakan aja nih mobil nanti biar ringsek kayak hatiku," gumam Amel menggerutu.
"Ya iyalah calon suami orang, masak calon suami putri duyung, gimana sih?"
__ADS_1
"Ah sial kamu Nes, kirain beneran," sahut Amel merasa sedikit lega.
"What? Pak David ngajak kamu nikah? kapan? terus, terus kamu jawab apa?" Anes kembali mencerna omelan Amel yang terselip ucapan David mengajaknya menikah.
"Waktu itu pas aku lagi nangis bombai gara-gara si otak udang Dimas," Amel mengingat kembali rasa sakitnya waktu itu.
"Terus kamu terima?" tanya Anes penasaran.
"Aku tolak dong, gila apa, aku baru saja putus dan hati aku sedang kalut masak langsung diajak nikah. Ya, aku mau benerin hati aku yang sobek-sobek dulu dong. Kalau dia serius kan bisa jadi benang penjahit hati aku yang sobek-sobek itu. Baru deh kalau aku udah mantab kita bisa nikah, kalau nggak ya tetap nikah hahaha,"
"Apaan sih Mel, nggak jelas, sobek-sobek emang baju di jahit? Udahlah nunggu apa lagi sih, kalian sepertinya cocok kenapa nggak terima saja pak David waktu itu sih, gemes deh, ntar kalau pak David kepincut cewek lain amblas deh hati bukan cuma sobek," ucap Anes.
"Ah udahlah nggak usah di bahas, nggak penting. Kita nikmati aja alurnya bagaimana dari si pembuat cerita, kalau emang berjodoh sama David ya syukur kalau nggak ya harus," sahut Amel.
"Huh, sama aja itu namanya maksa,"
"Bodoh amat yang penting happy, lagian untuk sekarang aku masih trauma sama pernikahan mama papa Nes,"
"Em sudahlah, semua akan indah pada waktunya," ucap Anes.
"Yupz betul sekali!"
🌼🌼🌼
Seharian Amel mengajak Anes jalan-jalan, berharap sahabatnya tersebut bisa sedikit terhibur. Kini, tangan mereka sudah menjinjing beberapa paper bag berisi barang belanjaan dan juga camilan. Karena habis dari mall, mereka berencana ke rumah Amel untuk menonton drama yang sedang trending di sosial media.
"Oh, mama lagi ke luar kota Nes," sahut Amel sedikit berteriak sambil membuka kulkas untuk mengambil air dingin.
"Nih minum dulu," Amel menyodorkan segelas air putih dingin kepada Anes.
"Makasih," Anes menerima dan langsung menghabiskannya karena ia memang merasa sangat haus dari tadi.
Mereka pun melanjutkan menonton drama di kamar Amel sambil memakan camilan yang sudah mereka beli tadi. Asyik sekali mereka menonton drama tersebut sampai lupa waktu.
"Eh ini jam berapa Mel? kayaknya udah sore banget, aku pulang aja kali ya? takutnya mas Alex udah pulang,"
"Nggak di lanjutin nih nontonya? padahal pas lagi seru-serunya ini, tanggung," sahut Amel.
"Lain kali aja ya?" tolak Anes.
"Nggak penasaran akhir cerita dari kehidupan dari perselingkuhan mereka?" ucap Amel.
"Nggak ah, aku lebih penasaran apa suamiku udah pulang atau belum," sahut Anes. Ya mungkin kalau Amel, nonton drama nanggung begitu, dia nggak akan bisa tidur nyenyak, Bahakan mungkin drama itu akan mengikutinya sampai ke mimpi. Tapi tidak dengan Anes, ia hanya sebatas suka sebagai hiburan tidak sampai seheboh Amel.
"Em oke deh, yuk aku antar!" ucap Amel.
"Nggak usah, aku naik taksi aja, daripada kamu bolak-balik," sahut Anes.
"Yakin?"
__ADS_1
"Yakin," sahut Anes.
🌼🌼🌼
Anes buru-buru masuk ke dalam rumah, ia berharap suaminya sudah pulang dan sedang menunggunya untuk memberikan pelukan hangat kepadanya seperti sebelum-sebelumnya.
"Nyonya muda sudah pulang?" sapa Bi Ina.
"Iya bi, mas Alex sudah pulang belum Bi?" tanya Anes, matanya ia edarkan ke seluruh penjuru rumah, berharap menangkap sosok yang ia rindukan di salah satu sudut rumahnya.
"Belum nyonya, tuan belum pulang," sahut Bi Ina.
"Belum ya Bi, ini tolong bawa ke atas ya Bi, saya mau ke dapur dulu. Mau masak buat makan malam nanti, siapa tahu mas Alex nggak sampai malam pulangnya," Anes menyododorkan beberapa paper bag yang berisi barang belanjaan tadi di mall.
"Baik nyonya," Bi Ina menerima paper bag tersebut dan segera membawanya ke lantai atas, ke kamar utama.
"Akhir-akhir ini mas Alex kurang makan dan istirahat. Aku akan masak yang banyak untuknya," Anes mulai membuka kulkas untuk mengeluarkan bahan-bahan makanan yang akan ia buat.
Saat ia memotong sayur, tiba-tiba ia teringat saat dia tadi mengecek ponselnya, berharap pesannya di balas oleh Alex. Namun ternyata statusnya masih sama, centang dua abu-abu.
"Seharian ini, apakah kamu sesibuk itu mas? membuka pesanku saja tidak apalagi membalasnya," batin Anes dalam lamunannya.
"Ahh!" pekik Anes. Ia merasakan perih pada dua jarinya yang ternyata terkena pisau dan sudah mengeluarkan darah segar.
Anes langsung menyuruh bibi untuk mengambil kotak p3k untuk mengobati lukanya.
"Nyonya kenapa bisa sampai terkena pisau begini? ini lukanya cukup dalam," ucap bi Ina khawatir.
"Iya, tadi saya melamun bisa, jadi bukanya mengiris sayurnya tapi malah mengiris jari saya, untuk nggak putus ya Bi," sahut Anes sambil tersenyum getir. Ia ingat dulu waktu ia hanya tergores pisau sedikit, Alex begitu panik bahkan akan membawanya ke dokter. Tapi, kali ini lukanya cukup dalam malah Alex tidak mengetahuinya.
"Apa bibi panggilkan dokter saja nyonya?"
"Tidak usah Bi, di obati dan di balut aja nanti juga sembuh, cuma luka kecil kok," sahut Anes sambil memaksakan senyum di bibirnya.
"Kasihan nyonya, sepertinya tadi beliau melamin karena memikirkan tuan muda," batin bisa Ina.
"Udah selesai kan bi? Anes mau lanjut masak lagi, takutnya mas Alex keburu pulang nanti," ucap Anes.
"Tapi tangan nyonya?"
"Tidak apa-apa Bi, tidak sakit kok,"
"Kalau begitu saya bantuin ya nyonya?" tawar bisa Ina.
"Boleh bi," Sahut Anes. Ia meneruskan masak meski merasakan sakit karena memang lukanya cukup dalam.
🌼🌼🌼
💠Jangan lupa like n votenya, yang komen lanjut jangan lupa votenya juga ya😁 salam hangat author❤️❤️❤️💠
__ADS_1