MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 58


__ADS_3

Anes mendengarkan cerita Alex dengan seksama. Ia tidak menyangka kalau dirinya pernah menolong Alex sebelumnya. Bahkan, dia sudah melupakan kejadian waktu itu, karena memang ia tulus menolong laki-laki yang ternyata adalah suaminya.


"Ya, begitulah kira-kira ceritanya, aku sudah berusaha mencari kamu, tapi tidak tahu kenapa sulit sekali. Kamu seperti hilang di telan bumi. Bahkan, David yang selalu bisa diandalkan untuk urusan apapun, tidak berhasil menemukan kamu. Entahlah mungkin dia tidak sungguh-sungguh mencari kamu, makanya nggak ketemu. Kalau benar begitu, awas saja nanti. Hahaha," Alex mengakhiri ceritanya.


"Tapi keberuntungan berpihak kepadaku setelah aku kembali ke Indonesia, ternyata gadis yang selama ini aku cari bekerja di Parvis Group, dan lebih beruntungnya lagi, aku tidak perlu bersusah-susah untuk mendapatkan kamu, karena wasiat dari Almarhum kakek yang menjodohkan kita. Hah beruntung sekali kan aku? Hahaha." Alex kembali tertawa.


"Ngomong-ngomong sejak kapan kamu mencintai mas?" tanya Alex penasaran.


"Nggak tahu sejak kapan, yang pasti rasa itu semakin hari semakin bertambah. Aku juga nggak nyangka bisa jatuh cinta sama mas. Padahal, mas kan orangnya nyebelin," jawab Anes.


"Hahaha nyebelin kata kamu? hah itu karena kamu belum menyadari pesonaku," sahut Alex percaya diri.


"Hah, dasar kamu mas."


"Terus kenapa mas nggak pernah bilang sebelumnya, kalau mas mencintai aku?" lanjut Anes.


"Aku sudah sering kali ingin bilang sama kamu. Tapi, entah kenapa lidahku selalu kelu untuk mengatakannya."


"Huh dasar gengsian!" sahut Anes.


"Hah, kamu juga nggak peka jadi orang, selama ini aku tidak pernah memperlakukan wanita seperti aku memperlakukan kamu, tapi kamu tidak pernah bisa merasakannya kan. Waktu di Maldives aku juga udah memprsiapkan diri untuk menyatakan cinta ke kamu, tapi gagal gara-gara sahabat kamu itu," lanjut Alex.


Anes mengingat kejadian waktu itu di Maldives, ketika mereka makan malam romantis dan berakhir dengan kemarahan Alex, yang membuatnya harus bersusah payah merayu suaminya tersebut.


"Pantas, waktu itu mas kelihatan kesal sekali."


"Sebenarnya, aku juga berencana mempersiapkan moment romantis lagi untuk menyatakan cinta sama kamu, hanya menunggu waktu yang tepat, tapi gagal lagi gara-gara kamu."


"Kok aku sih mas?," Anes bingung.


"Kalau kamu nggak marah, nggak nangis dan nggak buat aku khawatir, pasti aku belum mengatakannya," Alex tampak lega karena telah mengeluarkan uneg-unegnya selama ini.


"Terus mas menyesal gitu, udah bilang cinta sama aku?" tanya Anes mengintimidasi.


"Nggaklah sayang, justru mas merasa senang dan lega, bahkan sekarang mas akan bilang i love you, i love you, i love you, i love you," ucap Alex sambil menghujani pipi Anes dengan


ciuman karena gemas.


Anes merasa kegelian akibat ulah suaminya tersebut.


"Udah, udah mas aku geli kalau mas kayak gini terus, sekarang aku akan buatkan mas sarapan, terus kita siap-siap buat bekerja," ucap Anes.

__ADS_1


"Hari ini kita nggak usah ke kantor, kita lanjutin lagi yuk," sahut Alex yang seperti tidak ada puasnya.


"Maunya!" seru Anes sambil beranjak hendak ke kamar mandi.


"Emang mau! lagi ya ya ya?" ucap Alex dengan senyum menyeringai.


"Tau ah!" sahut Anes. Kemudian, ia meninggalkan Alex yang masih berada di bawah selimut.


Alex hanya tersenyum melihat istrinya. Kemudian, ia menyusul Anes ke kemarin mandi.


🌼🌼🌼


Di kantor, David tampak gelisah. Ia sedang menunggu kedatangan bosnya.


"Huh semoga mereka tidak benar-benar bertengkar, karena hari ini bos ada meeting yang sangat penting dengan klien, kalau mereka bertengkar, mood bos Alex pasti kacau, bisa-bisa meetingnya berantakan," batin David sembari menunggu.


Tak berselang lama, Alex dan Anes datang bersamaan, tidak seperti biasanya. Walaupun terlihat keintiman dari mereka, tapi terlihat jelas rona bahagia dari keduanya.


Mereka berjalan beriringan meski masih ada jarak di antara keduanya.


"Selamat pagi pak David?," Anes menyapa David dengan ramah dan senyum.


"Selamat pagi nona Anes, selamat pagi bos?" sahut David yang kemudian menyapa Alex.


Mereka terus berjalan memasuki kantor dan diikuti oleh David. David merasa aneh dengan bos dan istrinya tersebut.


"Mereka tidak seperti habis bertengkar, gelagat merek justru mengatakan sebaliknya. Hah, sepertinya kekhawatiran ku semalam sia-sia. Lalu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?" batin David yang masih tak mengerti.


"Mas tunggu!" Anes menghentikan langkah Alex.


"Semoga tidak ada yang mendengar aku memanggilnya mas," batin Anes.


"Ada apa sayang?" tanya Alex ketika berhenti.


"Sayang?" David semakin bingung.


Anes mengeluarkan foundation dari dalam tasnya.


"Menunduk sedikit!" sahut Anes.


"Apa sih sayang, baru juga sampai kantor udah mau minta cium aja. Katanya masih mau main rahasia?" ucap Alex sambil menunduk sesuai permintaan Anes.

__ADS_1


"Apaan sih mas, aku cuma mau nutupin ini, sebelum ada yang lihat," balas Anes sambil berbisik.


Anes mengoleskan foundation ke leher Alex untuk menutupi tanda kissmark yang di ciptakan oleh Anes tadi malam.


"Ah, sepertinya aku mengerti apa yang terjadi tadi malam. Aku pusing-pusing mikirin mereka, eh mereka malah enak-enak," batin David. Ia hanya diam di tempatnya tak bergeming, sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah, memastikan tidak ada yang melihat adegan di depannya.


"Kenapa harus di tutupi, biarkan saja. Ini adalah karya dari istriku yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi di hatiku,"



"Hah, dasar bos bucin, sabar-sabar yang jomblo." David mengelus dada.


"Lagian, ini sebagai tanda keliaran kamu tadi malam, selama kita menikah baru kali ini aku menerima tanda cinta di leher," bisik Alex di telinga Anes. Sontak, pipi Anes memerah seketika.


"Nggak lucu tau mas, o ya, jangan panggil aku begitu, nanti kalau ada yang mendengar bagaimana?" Anes selesai mengoleskan foundation dan tanda kissmark di leher Alex sudah tidak kelihatan.


"Aku tidak peduli, sayang, sayang, sayang," goda Alex.


Anes tidak membalas, ia hanya menatap Alex geram. Alex hanya menanggapi kekesalan sang istri dengan senyuman.


Rupanya para resepsionis yang berada di lobby, melihat adegan itu dari lobby.


"Eh eh lihat tu, mereka lagi ngapain? kelihatan dekat banget, kayaknya gosip yang beredar itu benar ya, mereka ada main secara diam-diam. kalau cuma sebatas bos dan sekretaris, nggak mungkin seintim itu," ucap penjaga resepsionis bernama Rahma dengan lirih.


"Iya ya, kasihan istrinya pak Alex, baru juga menikah, udah di khianati," sahut Dewi, yang juga seorang resepsionis.


"Sst, udahlah, itu urusan mereka, dari pada kita di pecat. Aku nggak mau berurusan sama pak David."


"Iya, aku juga. Ssst mereka kesini."


"Selamat pagi Presdir," sapa kedua resepsionis tersebut.


Alex tidak menjawab, ia hanya sedikit menganggukkan kepalanya. Anes dan David mengikutinya dari belakang.


"Tumben, pak Alex mau membalas sapaan kita, walaupun cuma menganggukkan kepala sih. Tapi, itu sebuah kemajuan, apa itu karena Anes?" bisik Rahma.


"Iya, mungkin pak Alex sedang dalam mood yang baik hari ini, di kasih jatah kali sama Anes, hihihi," balas Dewi juga berbisik.


"Ehem!" David mendengar yang diucapkan kedua resepsionis itu.


Mendengar suara deheman David, Rahma dan Dewi langsung diam menunduk.

__ADS_1


"Untung suasana bos sedang baik, aku juga ikut senang, kalau nggak, habis kalian."


🌼🌼🌼


__ADS_2