MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Extra part 2


__ADS_3

Pemandangan yang bertolak belakang terlihat di kediaman David dan Amel. Dimana pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya Amel tidak melayani keperluan David. Ya, di kehamilan pertamanya ini, Amel benar-benar mabuk parah. Tak hanya di pagi hari, siang ataupun malam ia juga bisa mual-mual. Tak jarang apa yang sudah masuk ke dalam perutnya, keluar kembali hingga membuat Amel lemas kehilangan cairan.


Kondisi Amel yang lemah ini membuatnya terpaksa resign dari kantor atas permintaan David. Ia tak ingin Amel dan calon anak mereka kenapa-kenapa. Namun, kondisi janin dalam perut Amel sehat dan aktif kata dokter, hal itu sedikit membuat Amel dan David tenang.


David yang sudah berpakaian rapi karena sebentar lagi ia akan berangkat ke kantor, masuk ke dalam kamar dengan membawa sarapan untuk Amel.


Di bukanya pintu kamar pelan-pelan, Amel masih meringkuk di bawah selimut.


"Beb bangun, ini aku bawain sarapan buat kamu," David membangunkan Amel, tak lupa ia mencium kening istrinya tersebut.


"Hemmm, jam berapa ini yank?" tanya Amel dengan mata masih sayup-sayup.


"Udah jam 8, bangun sarapan dulu. Sebentar lagi aku berangkat," ucap David.


"Masih ngantuk Yank, emang kamu enggak ngantuk? udah mau berangkat," jawab Amel.


Ya, semalam Amel bergadang menonton drama kesukaannya dan meminta David untuk menemaninya.


"Enggak, mandi dulu gih, nanti kantuknya hilang,"


"Nanti aja mandinya," ucap Amel. Semenjak hamil ia jadi malas mandi, yang terkadang membuat David geleng-geleng kepala, kenapa Amel jadi takut air. Padahal David orang yang sangat suka kebersihan. Ia hanya bisa menghela napas ketika Amel sudah mulai drama urusan mandi.


"Hoek...hoek..." Amel langsung lari ke kamar mandi dan di susul oleh David. Di elus-elusnya punggung Amel dengan pelan. David sangat telaten mengurus Amel, apalagi ia sudah belajar saat Anes hamil dulu, bedanya kali ini yang mengidam bukan dirinya akan tetapi Amel. Ia lebih harus sabar dan sabar lagi menghadapi sifat Amel yang moodnya naik turun.


"Mau punya baby gini amat badan ya yank," bukan maksud Amel mengeluh karena kehamilannya, akan tetapi lebih kepada menyalahkan badannya yang tidak bisa sesehat perempuan lainnya, Anes misalnya.


"Jangan gitu beb, sabar. Bayangin aja gimana nanti kita sudah bertemu anak kita, pasti sepadan dengan perjuangan kamu saat ini. Dokter juga bilang kan, kalau ada yg lebih parah lagi ngidamnya, bahkan ada yang sampai usia kandungan 7 bulan tidak lepas infus,"


Ucapan David ada benarnya dan selalu dapat menyemangati Amel. David memapah Amek kembali ke kamar.


"Di minum obat dari dokter, terus makan ya," ucap David.


"Itu yang masak mbak atau kamu yank?" tanya Amel menunjuk makanan di atas nakas.


"Aku tadi yang masak, kamu makan sendiri ya, aku ada meeting jam 9 nanti,"


Amel mengangguk.


"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Amel sambil membenarkan dasi yang David pakai.


"Udah tadi selesai buat itu terus sarapan," jawab David.


Amel mengantar David turun ke lantai bawah.


"Aku berangkat," David mengulurkan tangannya untuk di salami oleh Amel kemudian ia mengecup kening Amel lembut. Tak lupa ia mengusap perut Amel yang masih terlihat rata.


"Hem hati-hati," pesan Amel.

__ADS_1


"Jangan lupa makan dan vitaminnya di minum," pesan David sebelum ia masuk ke mobil.


"Ya kalau makanannya bisa masuk ke perut," sahut Amel, karena memang ia sulit sekali makan, walaupun sudah di kasih resep anti mual oleh dokter, namun terkadang itu tidak mampu mengurangi mualnya.


"Di usahakan, atau mau di infus lagi?"


"Engga mau, enggak bebas," Amel menggelengkan kepalanya.


"Makanya sebisa mungkin ada sesuatu yang masuk ke perut, biar tidak dehidrasi,"


"Siap tuan August! Udah sana berangkat, kalau ceramah mulu kapan sampai kantornya," goda Amel.


"Hem, aku berangkat ya," David kembali pamit kepada Amel.


Amel mengangguk. David yang sudah masuk ke mobil, kembali keluar dan menghampiri Amel.


"Ada yang ketinggalan," ucapnya. Dia mencium bibir Amel.


Rasanya ia tak ingin meninggalkan istrinya tersebut, ingin selalu bersama setiap saat, mengingat mereka masih di bilang pengantin baru.


"Aku ikut ke kantor aja deh kalau gitu," ucap Amel dengan manjanya.


David hanya tersenyum. Dia membayangkan betapa repotnya dia nanti jika Amel ikut ke kantor. Saat David memegang handle pintu mobil, Amel memanggilnya.


"Opppaaaaaa..." panggil Amel dengan nada manjanya. David pun menoleh. Sebenarnya ia sangat geli di panggil seperti itu oleh istrinya.


"Sarangheo!" seru Amel dengan kedua tangannya ia naikkan keatas membentuk simbol hati. Terlihat imut dan menggemaskan bagi David, namum juga dalam hati ia ingin tertawa melihat tingkah sang istri.


"Korban drama," gumam David, tersenyum sendiri mengingat hal-hal aneh yang Amel lakukan akibat sering menonton drama. Ya, walaupun menurut David yang sedang di mabuk cinta tingkah Amel sangat manis, tai terkadang jika ia sedang berpikir pakai logika bukan perasaan, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.


Akhirnya David benar-benar masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.


Sementara Amel menunggu sampai bayangan mobil yang di kendarai oleh David menghilang, barulah dia masuk dan kembali ke kamarnya.


🌼🌼🌼


Di kantor...


Dua orang laki-laki yang satu baru menyandang predikat sebagai daddy dan yang satu masih berproses untuk mejadi seorang ayah, tampak saling memandang heran satu sama lain karena mereka terlihat kurang tidur.


"Bergadang lagi?" Tanya Alex dan David bersamaan.


"Hem," ucap mereka bersamaan lagi. Bahkan menghela napas pun mereka bersamaan.


"Drama lagi?" tanya Alex yang sudah paham.


"Hem," David mengangguk.

__ADS_1


"Kadang saya bingung, dia kadang tiba-tiba tidak mau dekat-dekat saya, maunya dekat oppa-oppa Korea katanya, itu kan anak saya bukan Lee min ho. Tapi giliran saya menjauh dia nangis, katanya saya cuek, gak peduli, enggak peka," curcol David.


"Sabar, wanita hamil memang suka aneh-aneh ngidamnya. Tapi Anes dulu enggak aneh-aneh sih, kayaknya dia enggak ngidam malahan," ucap Alex.


"Ck. Bos sok amnesia, nona memang tidak aneh-aneh, tapi Bos yang aneh-aneh ngidamnya, posisi saya sekarang mirip sekali dengan waktu itu. Rasanya seperti de javu," ucapan David kembali membuka memory Alex ketika dulu awal-awal Anes hamil. Betapa malunya dia jika ingat hal itu.


"Aih! malah diingatkan, semua kan berproses dan berlalu Dave, sekarang aku sudah menikmati hasil dari keanehan ngidamku waktu itu, seorang pangeran tampan dan menggemaskan," ucap Alex.


"Ya, tapi kan sejarah tidak boleh dilupakan bos, saya ikut berjuang juga waktu itu," David tak mau kalah.


"Intinya, semua mengalami fase ngidam walaupun dalam porsi berbeda-beda Dave, nikmati saja momennya yang mungkin tidak akan datang ke dua kalinya. Saat anakmu sudah lahir nanti, kamu mungkin akan merindukan saat dimana Amel sedang ngidam. Saat anakmu tumbuh menjadi remaja, kamu pasti akan rindu momen ketika dia bayi, ketika dia beranjak dewasa, kamu akan merindukan momen saat dia masih kecil," ucap Alex dengan bijak.


"Wah super sekali kata-kata Anda Tuan Parvis," ujar David.


"Ck. Serius ini Dave,"


"Iya Bos, saya juga serius. Menghadapi kekonyolan Anda saja saya sabar, apalagi menghadapi istri saya sendiri,"


Alex hanya mencebik.


David bangun dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Alex.


"Mau ke pantry," jawab David. Ia melihat jam mewah yang melingkar di tangan kirinya.


"Masih ada 15 menit lagi sebelum meeting, bisa buat ngopi ganteng dulu, biar enggak ngantuk," lanjut David, lalu berbalik badan dan berjalan menuju pintu.


"Tunggu, aku ikut!" Alex menyusul langkah David.


"Tumben bos mau ke pantry,"


"Ini kantor punyaku, jadi suka-suka aku mau nongkrong di manapun!"


Para karyawan wanita yang melihat dua penguasa Parvis Group tersebut berjalan bersamaan, menatap kagum kepada keduanya.


"Lihat deh, yang satu hot daddy, yang satunya hot husband, makin berkharisma aja," bisik salah satu dari mereka.


"Emang ya, punya orang lain tuh lebih menggoda," sambung lainnya.


"Suamimu biasa aja, tidak menggoda," ucap yang lainnya.


"Ck, kalau suami aku setampan dan sekaya mereka, aku juga enggak akan melirik laki-laki lain kali," balasnya.


Alex dan David mendengar bisikan mereka, namun keduanya memilih tetap berjalan dan jaga image, stay cool dan keep calm.


🌼🌼🌼

__ADS_1


πŸ’ Selamat membaca para kesayangan author, babang David menyapa kalian lagi πŸ€—πŸ€—. Jangan lupa mampir juga ke novel author yang berjudul "Ibu untuk anak-anakku". Klik saja profil author, pasti deh ketemu. Jangan kupa tinggalkan jejak kalian di sana juga.. Terima kasih πŸ™πŸ™


Salam hangat author 𝓔𝓢𝓫𝓾𝓷 πŸ€—πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ 


__ADS_2