
Sementara itu, di waktu yang sama, di belahan bumi yang lain. Lebih tepatnya di kediaman tuan muda Parvis, Alex tampak sedang duduk bersila di atas tempat tidur, menyandarkan badannya di sandaran tempat tidur dan memainkan benda pipih canggih yang tak lain adalah notebooknya. Ia tampak sedang mengecek beberapa perusahannya tersebar di Indonesia. Ia tampak lega karena semuanya berjalan dengan sangat baik meskipun bukan dia sendiri yang mengelolanya secara langsung.
Sementara Anes sedang berdiri di bawah shower sambil membersihkan rambutnya yang sangat lengket. Ia sangat kesal jika mengingat kejadian di cafe tadi.
Selesai mandi, Anes langsung meraih handuk kimono dan memakainya.
Alex melirik ke arah pintu kamar mandi yang baru saja dibuka oleh Anes, ia langsung menaruh notebooknya dan bangkit dari tempat tidur untuk mendekati Anes.
"Sini mas bantu keringkan rambutnya!" Ucap Alex sambil menarik pelan tangan Anes supaya duduk. Laki-laki itu tahu kalau saat ini suasana hati Anes sedang bad mood.
Anes hanya diam dan menurut saja tanpa bilang iya ataupun protes ketika Alex membantu mengeringkan rambutnya. Alex pun tidak mengajaknya bicara hingga ia selesai mengeringkan rambut Anes.
"Sudah selesai, cepat ganti baju!" ucap Alex sambil mengusap rambut Anes pelan. Dan Anes langsung menunjukkan walk in closet.
Selesai ganti baju, Anes menghampiri Alex yang sedang berdiri di balkon kamarnya.
"Mas," panggil Anes.
Alex menoleh dan tersenyum. Ia menuntun tangan Anes untuk masuk ke dalam dan duduk di atas ranjang.
"Sekarang cerita sama mas, apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai tadi nyonya muda Parvis ini pulang dalam keadaan berantakan seperti itu?" Alex bicara pelan-pelan sambil menggenggam tangan Anes yang duduk di depannya.
Anes menghela nafasnya panjang dan mulai bercerita tentang apa yang terjadi tadi secara detail dari A sampai Z.
Mimik muka Alex langsung berubah seketika mendengar cerita dari Anes.
"Kurang ajar! berani sekali dia mempermalukan istriku di depan umum seperti itu. Benar-benar cari mati mereka! Berani menyinggung nyonya muda Parvis sama saja menggali lubang mereka sendiri!" Alex langsung mengambil ponselnya dan menghubungi David.
"Mas mau ngapain?" tanya Anes.
"Mau buat perhitungan sama mereka," sahut Alex.
"Pasti mau telepon pak David," batin Anes.
"Sial! Kenapa tidak diangkat," umpat Alex.
"Pak David pasti sedang bersama Amel sekarang,"
"Mas tenang dulu, sekarang yang penting biarkan pak David menenangkan Amel terlebih dahulu. Kasihan Amel, bagaimana bisa nasibnya begitu buruk. Baru saja orang tuanya pisah, eh sekarang malah ada masalah lagi. Heran juga, kenapa ada laki-laki macam Dimas itu di muka bumi ini. Hah menyebut namanya saja aku muak rasanya!" Anes kembali memasang wajah kesalnya jika menyebut nama Dimas.
"Mas nggak bisa tenang sayang, mereka sudah menyakiti kamu, mas akan kasih mereka pelajaran!"
"Terserah mas ajalah, tapi jangan sekarang. Kalau nanti terserah mau mas apakan tuh si Dimas. Aku juga benci laki-laki macam dia, asal jangan di bunuh,"
"Haha kamu berlebihan sayang berpikirnya. Mas bukan seorang pembunuh, kamu tenang aja," Alex menarik Anes ke dalam pelukannya.
"Kalau ada yang berani menyentuh dan menyakiti kamu, menjadi seorang pembunuh pun mas rela sayang," batin Alex.
"Mas sekarang kita ke taman yuk!" ajak Anes.
__ADS_1
"Mau ngapain sayang? lebih baik kamu istirahat saja," sahut Alex.
"Aku nggak tenang mas, kepikiran Amel terus. Aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Lagian aku nggak yakin dengan sikap pak David yang kaku itu dia bisa menghibur Amel. Ayolah mas please?" rengek Anes dengan gaya imutnya.
"Baiklah ayo!" Alex tidak bisa menolak jika Anes sudah mengeluarkan jurus rengekannya.
"Tapi mas mandi dulu dong, bau tahu!" Anes menutup hidungnya.
"Eleh! bau tapi kamu nempel terus sama mas kayak perangko," balas Alex lalu mengecup sekilas bibir Anes dan langsung menuju kamar mandi.
"Benar juga sih, keringatnya aja aku suka apalagi bau badannya yang maskulin itu, bikin selalu kangen pengen nempel terus, hihi," gumam Anes.
🌼🌼🌼
Alex mengemudikan sendiri mobil mewah yang baru saja ia beli beberapa hari yang lalu.
(Source: pinterest)
Sesampainya di taman, Anes langsung menuju ke tempat di mana tadi Amel berada. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan yang indah di depan matanya, dimana kini Amel berada dalam pelukan David.
"Ayo sayang, kok malah berhenti?"
"Sssst!" Anes menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Alex. Kemudian matanya menggiring mata Alex untuk melihat ke arah Amel dan David.
"Huh nggak peka amat sih mas jadi orang, nggak lihat apa mereka sedang apa?" bisik Anes.
"Ya mereka sedang duduk dan David memeluknya dari samping, apa lagi?"
"Makanya kita jangan ganggu mereka, ayo kita pulang!" ajak Anes sambil berjalan mendahului Alex.
"Udah gitu aja? tadi ngeyel buat ke sini, sampai sini langsung pulang?" gumam Alex sambil berjalan menyusul langkah kaki Anes.
"Sayang, yakin mau pulang?"
"Iya, aku udah lega sekarang, ternyata pak David bisa di andalkan," Anes tersenyum menyeringai.
Tiba-tiba ada bola yang mengarah ke kaki Alex saat ia dan Anes berjalan.
"Om, tolong bawa cini bolanya om!" pinta seorang anak laki-laki kecil.
Alex tersenyum lalu mengambil bolanya dan mendekati anak kecil tersebut. Ia menyerahkan bola tersebut sambil berjongkok di depannya agar tingginya bisa sejajar dengan anak tersebut.
"Kamu bermain bola sendiri?" tanya Alex sambil mengelus-elus kepala anak kecil tersebut.
"Iya om, Falel bermain Cendili," sahut anak itu yang masih cedal.
"Emang mama Farel kemana?" tanya Alex.
__ADS_1
"Itu di cana!" Farel menunjuk keberadaan ibunya.
"Ayo om, main cama Falel," Farel menarik tangan Alex meminta laki-laki itu untuk bermain dengannya. Alex menoleh ke arah Anes yang dari tadi hanya memperhatikan mereka.
Anes mengangguk dan tersenyum.
"Tante, ayo ikutan aja Tante jangan cuma liatin doang!" ajak Farel.
"Farel main saja ya sama om Alex, tante nggak bisa main bola soalnya," sahut Anes lembut.
"Ok, tapi kalau mau belajal, nanti Falel ajalin tante,"
"Lain kali saja ya ngajarin tantenya? Sekarang Farel main aja sama om,"
"Okelah kalau begitu," sahut Farel dengan imutnya.
Alex pun menemani Farel bermain bola. Laki-laki tersebut tampak senang sekali. Mereka begitu akrab padahal ini kali pertama mereka bertemu.
"Mas Alex kelihatan senang sekali, coba aja yang bermain dengannya itu anak kita sendiri, pasti akan lebih menyenangkan. Mas Alex pasti sudah sangat menantikan seorang anak, walaupun dia tidak pernah bilang secara langsung," batin Anes, ia menghela nafasnya panjang. Mengingat sampai detik ini belum ada tanda-tanda kehamilan dalam dirinya.
"Farel, udah yuk mainnya, kita pulang udah mau sore ni," tiba-tiba ibunya Farel, menghentikan permainan seru mereka untuk mengajak anak itu pulang.
"Yah, om mama udah manggil tuh, Falel pulang dulu ya?" ucap Farel.
Alex hanya tersenyum lalu memberikan bola yang ia pegang kepada anak itu.
"Makacih Om, becok kita main lagi ya?" Farel melambaikan tangannya kepada Alex dan di balas dengan senyuman oleh Alex.
"Mama kan udah bilang, jangan asal bicara sama orang asing. Bagaiman kalau orang itu jahat?" bisik ibunya Farel. Alex yang mendengarnya pun hanya tersenyum, ia bisa memahami kekhawatiran orang tua Farel.
Alex menghampiri Anes yang masih berdiri di tempatnya.
"Sayang, ayo pulang!" ajak Alex.
"Anak itu lucu ya mas, gemesin banget," ucap Anes sambil bergelayut manja di lengan Alex.
"Ah enggak juga," sahut Alex.
"Kok enggak sih, tadi buktinya mas senang sekali bermain sama dia,"
"Tetap enggak! Tetap akan lebih lucu dan gemesin anak kita nanti," Alex tersenyum membayangkan.
"Kalau itu sih pasti! Tapi kapan ya kita di percaya sama Tuhan untuk memiliki seorang anak?" Anes merendahkan nada suaranya.
"Sabar, anggap saja kita sedang ujian. Kalau lulus pasti di kasih bonus sama Tuhan," sahut Alex yang sebenarnya juga sudah sangat menantikan hadirnya buah hati dalam rumah tangga mereka. Mereka terus berjalan menuju ke mobil.
🌼🌼🌼
💠Jangan lupa like, komen dan votenya. Mohon maaf kalau author belum bisa crazy up karena kesibukkan author sebagai seorang mama muda yang anaknya sedang aktif-aktifnya. Baru pegang hp sebentar saja sudah di rebut. Tapi author selalu berusaha up setiap hari walaupun cuma 1 chapter tapi itu selalu 1000 kata bahkan sering lebih. Salam hangat author.❤️❤️💠
__ADS_1