MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 56


__ADS_3

Alex yang melihat Anes keluar dengan berlari menyadari ada yang tidak beres. Dia segera menyusul Anes. Alex berhenti saat berpapasan dengan David.


"Berikan kunci mobilmu!"


"Anda mau kemana bos?" tanya David.


"Udah nggak usah banyak tanya, cepat mana kunci mobil?"


David langsung memberikan kunci mobilnya tanpa banyak bicara dan Alex langsung pergi.


"Ada apa dengannya, dia kan bawa mobil sendiri kesini, aneh. Eh tapi nanti aku pulangnya bagaimana? mana bos tidak memberikan kunci mobilnya padaku," David menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


🌼🌼🌼


Anes terus berlari sambil terisak,tanpa peduli dengan bunyi klackson dari mobil yang Alex kendarai.


"Dia tidak mencintai kamu, Alex masih mencintai mantan kekasihnya," kata-kata Rania selalu terngiang di kepala Anes. Hatinya merasa sangat sakit dan kecewa.


"Kenapa aku harus datang ke acara ini, hanya kenyataan pahit yang aku dapat. Mulai dari bertemu Jesica yang menghina aku, Reyhan yang dengan tanpa malunya mengungkit masa lalu yang menyakitkan hingga ucapan mama Rania yang sangat menyakitkan," batin Alex ambil terus berlari. Sesekali ia menyeka air matanya sendiri.


"Anes berhenti! Aku bilang berhenti!" Alex terus membunyikan klakson dan menyuruh Anes berhenti. Namun, Anes tidak memperdulikannya.


"Ada apa dengannya, kenapa dia berlari sambil menangis, seharusnya aku yang marah karena laki-laki tadi," Alex benar-benar tidak mengerti. Karena tidak tahan melihat Anes yang terus menangis, Alex turun dari mobil dan berlari mengejar Anes.


"Aku bilang berhenti Anes!" ucap Alex sambil meraih tangan Anes, namun di tepis oleh Anes.


"Lepasin mas!" Anes menepis tangan Alex, namun tidak berhasil. Alex langsung memeluk Anes. Melihat Anes menangis hatinya seperti dicabik-cabik.


"Kenapa kami meninggalkan pesta dan menangis, apa yang terjadi, katakan padaku, jangan buat aku khawatir," ucap Alex sambil memeluk Anes.


Anes memberontak, sampai berhasil lepas dari pelukan Alex dan langsung berjalan menjauhi Alex.


"ANESKA SALSABILA PUTRI, berhenti!"


"Apa hak mas menuyuruhku berhenti, sudahlah mas nggak usah peduli, pergi sana!"


"Aku suami kamu, makanya aku berhak atas dirimu, kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik, jangan seperti ini."


Ucapan Alex mampu membuat Anes berhenti, namun tetap diam dan mematung.


"Ayo kita masuk ke dalam mobil, kita bicara baik-baik," ajak Alex lembut, kemudian ia membopong Anes dan membawanya ke mobil.

__ADS_1


Di dalam mobil, suasana hening. Tidak ada yang bersuara.


"Kenapa?" Anes membuka suara.


Alex menoleh ke arah Anes.


"Kenapa selama ini mas Alex baik sama aku, kenapa mas Alex memperlakukan aku dengan sangat baik kalau akhirnya mas akan meninggalkan aku," lanjutnya.


"Maksud kamu apa, aku tidak mengerti,"


"Mas masih mencintai mantan kekasih mas kan?" Air mata kembali menghujani pipi Anes.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu, itu tidak benar," Alex mengusap air mata Anes dengan lembut.


"Nggak usah sok peduli, berhenti berbuat baik sama aku!" Teriak Anes sambil menepis tangan Alex.


"Kenapa? apa karena laki-laki yang bersamamu tadi?" tanya Alex.


" Kenapa malah mengalihkan pembicaraan, ini tidak ada hubungannya dengan dia. Mengaku saja mas memang masih mencintai mantan pacar mas, mas menikah sama aku cuma karena Almarhum kakek mas kan, nanti juga mas bakal ninggalin aku dan kembali ke mantan kekasih mas, jadi tolong berhenti memberiku harapan mas," Anes bicara sambil menyeka air matanya yang terus saja keluar.


"Kamu ini kenapa, kenapa bicara omong kosong seperti itu, aku menikah denganmu karena,,"


"Karena apa mas, karena kasihan sama aku, karena mas tidak ingin membuat Almarhum kakek, papa, mama dan semua keluarga kecewa, iya"


"Mengerti apa mas, apa yang harus aku mengerti, harusnya dari awal aku sudah mempersiapkan diri untuk akhir pernikahan kita."


"Kenapa kamu bicara seperti itu, apa kamu tidak bisa merasakan ketulusanku selama ini, apa kamu tidak paham dengan perasaanku, sudah berapa kali aku bilang aku sudah tidak memiliki perasaan apapun dengan mantanku,percayalah padaku,"


"Ya aku bisa merasakan kebaikan dan ketulusanmu mas, tapi aku tidak ingin terlalu percaya diri menyimpulkan bagaimana perasaan mas yang sebenarnya." Anes merasa sudah lelah karena menangis.


"Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak mencintai kamu."


"Tapi mas juga tidak pernah bilang kalau mas mencintai aku," protes Anes. Alex diam sejenak dan mengambil nafas dalam.


"Apakah kata-kata begitu penting, melebihi sebuah tindakan?apa sikapku selama ini tidak bisa dianggap mewakili bagaiman perasaanku padamu Anes? Tanya Alex. Anes hanya diam, kemudian berbicara lagi.


"Ya, bagiku kata-kata juga penting mas, untuk meyakinkan hati kalau aku benar-benar di cintai oleh seorang laki-laki. Bukan hanya sekedar harapan palsu yang pada akhirnya akan menyakitkan."


"Kamu tahu, bagaiman perasaanku tadi ketika aku melihat kamu akrab dengan laki-laki lain?rasanya sesak disini," Alex menyentuh dadanya sendiri.


" Bahkan dia berani memegang tangan kamu, rasanya aku ingin mematahkan tangan laki-laki itu," Alex mengeluarkan unek-uneknya.

__ADS_1


"Dia bukan siapa-siapa, dia hanya kakak kelasku dulu waktu sekolah, kenapa mas harus marah?"


"Karena aku cemburu," Jawab Alex.


"Kenapa, kenapa mas cemburu, seharusnya aku yang cemburu terhadap mantan mas, yang masih memiliki tempat di hati mas itu," protes Anes.


"Karena aku mencintai kamu Anes, sangat mencintai kamu! Kenapa kamu selalu tidak percaya kalau aku sudah tidak peduli dengan masa laluku lagi, kenapa kamu tidak bisa merasakan kalau aku mencintai kamu? Apa kamu benar-benar ingin aku kembali ke masa laluku hah? Apa kamu tidak peduli dengan perasaanku hingga kamu tidak bisa melihat cintaku yang begitu besar. Bahkan jauh sebelum kamu mengenalku aku sudah mencintai kamu. Bagaimana bisa kamu menuduhku ingin kembali ke masa laluku." Alex benar-benar sudah frustasi.


Sesaat Anes diam sambil mencerna omongan Alex. Intinya yang dia tangkap adalah bahwa Alex mencintainya. Itu poin utama yang ingin dia dengar saat ini. Ia seperti mendapatkan oase di gurun pasir.


"Kenapa diam, jawablah Anes, apa kamu yang sebenarnya tidak mencintaiku hem?"


Anes tidak menjawab pertanyaan Alex, namun dia langsung menempelkan bibirnya ke bibir Alex.


"Cup"


"Aku juga mencintai mas Alex, sangat mencintai mas Alex," ucap Anes kemudian. Alex langsung meraih tengkuk Anes dan menciumnya dengan penuh gairah. Mereka merasa sangat bahagia karena akhirnya mereka tahu perasaan masing-masing. Mereka seperti mendapat energi baru dalam hubungan mereka. Dan Anes menarik kata-katanya tadi uang bilang hanya mendapat kenyataan pahit, karena akhirnya dia mendapatkan sebuah kenyataan yang amat manis.


"Ck. Dasar bodoh, bagaiman bisa kamu berpikir sedangkal itu, siapa yang bilang kalau aku masih mencintai masa laluku hem?" Alex mengusap bibir Anes lembut.


"Habis tadi mama Rania yang bilang mas, jadi aku percaya," jawab Anes polos.


"Rania, beraninya dia."


"Apa yang wanita itu katakan, jangan pernah percaya orang lain, apalagi wanita seperti Rania, percayalah apa kata hatimu," Alex memeluk Anes.


"Ayo kita lanjutkan di rumah," ucap Alex lalu menjalankan mobil milik David.


"Apanya mas yang mau di lanjuti?" tanya Anes.


"Nanti kamu juga tahu," Alex memasang senyum devilnya dan terus melajukan mobilnya.


"Mas kenapa pakai mobil pak David," tanya Anes.


"Aku juga tidak tahu, aku panik melihat kamu lari sambil menangis, reflek aku minta kunci mobilnya David,"


"Terus nanti pak David pulang bawa mobil mas Alex?"


"O iya, kunci mobilku ada sama aku, ini," Alex menunjukkan kunci mobilnya sendiri."


Mereka saling menatap dan tertawa, sama-sama membayangkan bagaimana wajah David saat pesta usai dan ingin pulang.

__ADS_1


💠Jangan lupa like, komen dan votenya ya. Serta masukkan cerita Alex dan Anes ini ke dalam daftar favorit kalian, terima kasih🙏 dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan😊💠


__ADS_2