
Keesokan harinya, Anes yang merasa seluruh tubuhnya terasa remuk redam gara-gara kebuasan suaminya, pelan-pelan menggerakkan badannya turun dari tempat tidur.
"Gila, efek obatnya bisa sampai kayak gitu, mas Alex sampai lupa kalau istrinya ini sedang hamil, mainnya kasar," gumam Anes yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat permainan panas Alex.
"Untung anak mommy pintar dan kuat ya dex?" lanjutnya sambil mengelus perut bulatnya. Hati Anes cukup lega karena ia tidak terlambat dan keputusannya untuk kembali dan tidak jadi ke rumah orang tuanya bisa menyelamatkan keutuhan keluarganya terutama nama baik sang suami.
Anes berjalan perlahan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Di lihatnya dari pantulan cermin ada begitu banyak jejak kepemilikan Alex pada tubuhnya, Anes hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak di bayangkan kalau semua tanda ini ada pada tubuh wanita lain," gumamnya, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik jika hal yang ia bayangkan benar-benar terjadi.
"Eh tunggu, bagaiman dengan Dila? Aku akan buat perhitungan dengannya. Semalam aku sampai lupa dengannya karena Harau melayani mas Alex, urusan kita belum selesai Dila," gumamnya lagi yang kini sudah masuk ke dalam bath up untuk berendam sejenak, merilekskan tubuhnya yang terasa pegal karena pertempuran semalam.
Setelah itu ia menuju ke dapur untuk membuat sarapan untuk Alex dan dirinya seperti biasa.
"Selamat pagi nyonya muda," sapa Bi Ina.
"Pagi Bi, Dimana Dila bi?" tanya Anes, ia ingin meminta pertanggung jawaban dari Dila atas perbuatannya kemarin.
"Anu nyonya, nona Dila sudah pergi, bibi sudah berusaha mencegahnya tapi dia mendorong bibi sampai terjatuh dan kabur nyonya," jawab bibi merasa tak berguna.
Anes menghela nafasnya panjang.
"Ya udah nggak apa-apa Bi, Tolong siapkan bahan-bahan yang ada di kulkas ya Bi, saya mau buat sarapan untuk mas Alex," ucap Anes. Ia tetap tidak akan melepaskan Dila begitu saja.
"Itu nyonya muda, tuan David sedang di dapur, beliau sedang membuatkan sarapan untuk nyonya dan tuan muda," jawab bibi dengan cepat.
"Abang di sini?"
"Iya nyonya, semalam tuan David menginap di sini nyonya muda,"
"Apa Abang tahu apa yang terjadi?" batin Anes.
__ADS_1
"Ya udah bi, bibi lanjutkan saja pekerjaan yang lain. Saya akan menemui Abang," pinta Anes.
"Baik nyonya," Bi Ina langsung pergi, sebenarnya ia penasaran sebenarnya apa yang terjadi, tapi ia sadar posisinya, tidak pantas jika ia terlalu ikut campur dengan urusan majikannya.
Anes langsung menuju ke dapur, di lihatnya David dengan cekatan memasak. Anes tertegun sesaat, tidak di sangka ternyata laki-laki itu juga pintar memasak seperti suaminya. Beruntung sekali Amel yang tahunya hanya makan bisa mendapatkan laki-laki seperti David jika sampai mereka menikah, pikir Anes.
"Nona, kenapa senyum-senyum sendiri di sana?" tanya David yang menyadari kedatangan Anes di dapur.
"Eh Abang, ternyata bisa memasak juga ya?" Anes mendekat ke arah David yang sedang memegang spatula di tangannya.
"Sedikit nona, meski tak semahir bos," jawab David jujur.
David ingin sekali menanyakan perihal apa yang terjadi di rumah itu kemarin tapi ini bukan waktu yang tepat menurut David. Ia akan menanyakannya nanti saat Alex juga sudah bangun.
"Apa ada yang bisa aku bantu bang?" tawar Anes.
"Tidak nona, nona duduklah saja,"
"Baiklah bang, kalau begitu aku buat teh aja, buat mas Alex,"
"Baik nona silahkan,"
Dan mereka berduapun melanjutkan pekerjaan masing-masing.
🌼🌼🌼
Di dalam kamarnya, Alex mulai membuka matanya, kedua tangannya memegangi kepalanya yang masih sedikit terasa pusing.
Ia mengingat kejadian kemarin, dimana Dila mencoba menggodanya di kamar itu. Alex terkejut ketika menyadari tubuhnya tanpa sehelai benangpun yang menutupinya kecuali selimut tebal.
"Apa yang terjadi? Di mana Anes? Semalam itu dia kan? bukan wanita itu?" gumam Alex, ia takut kalau semalam hanya halusinasinya saja yang menganggap perempuan yang ia tiduri adalah Anes, karena sebelumnya Dila yang memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Sudah bangun mas?" suara Anes membuat Alex menoleh ke raja pintu di mana Anes baru saja masuk.
"Sa sayang, mas bisa menjelaskan semuanya, " ucap Alex, ia takut Anes akan marah, lebih-lebih ia takut kalau wanita yang semalam ia tiduri benar-benar bukan Anes.
Anes mendekat ke arah Alex yang wajahnya sudah berubah menjadi sendu dan merasa bersalah.
"Ini minum dulu tehnya, biar enakan badannya," Anes menyodorkan teh kepada Alex dan di terima oleh Alex.
Alex meminumnya sedikit lalu kembali memberikannya kepada Anes, Anes meletakkannya di atas nakas lalu ia duduk di tepi tempat tidur.
Anes menunduk dan dari sudut matanya keluar cairan bening.
"Maafkan aku mas," ucap Anes sambil terus menunduk dan terisak.
Deg! Alex kaget kenapa Anes yang meminta maaf, bukankah seharusnya dia yang meminta maaf, atau Anes meminta maaf karena ingin meminta cerai setelah apa yang Alex lakukan? Tapi ia yakin, wanita itu adalah istrinya, jika itu bukan Anes, seperti apapun keadaanya Alex pasti akan menolak. Belum Alex membalas ucapan Anes, Anes sudah melanjutkan kalimatalnya lagi.
"Maafkan aku karena tidak mendengarkan ucapan mas, karena tidak percaya dan tidak mengindahkan kata-kata mas, kalau saja aku mendengarkan ucapan mas, pasti kemarin tidak akan terjadi hal seperti itu, maafkan aku hiks hiks hiks. Untung aku datang tepat waktu mas, kalau nggak mas dan dia mungkin sudah..." tangis Anes semakin pecah.
Alex langsung menarik Anes ke dalam pelukannya, ia terus mencium puncak kepala istrinya tersebut.
"Jadi benar wanita yang semalam mas tiduri adalah istri mas sendiri, mas lega rasanya. Terima kasih karena sudah menyelamatkan harga diri mas sayang, terima kasih sayang," Alex semakin mengeratkan pelukannya dan menghujani pipi Anes dengan ciumannya.
"Mas nggak marah sama aku?" tanya Anes bingung.
"Enggak sayang. Tapi lain kali tolong kamu dengarkan apa yang suami kamu ini katakan. Jangan keras kepala, patuh dan jangan membantah," ucap Alex tegas.
"Hiks maafin aku mas, aku tahu aku bodoh dan keras kepala, aku tidak mendengarkan, padahal mas sudah berkali kali mengatakannya. Bahkan mas sudah memperingatkan aku, kalaupun terjadi sesuatu di antara kalian, aku tidak bisa menyalahkan mas, ini semua salahku,"
"Ssst jangan menangis lagi, mas tahu kamu seperti itu karena kami itu terlalu baik, sampai kebaikan kami di manfaatkan orang kamu tidak sadar. Dan kalau sampai terjadi sesuatu antara mas dan wanita jal*ng itu, mas yang tidak bisa terima sayang, mas tidak bisa memaafkan diri mas sendiri. Udah ya jangan nangis lagi," Alex mengusap air mata yang keluar dari mata indah Anes.
Mereka bersyukur, rumah tangga mereka tidak ternoda, Gadis tidak tahu diri itu tidak berhasil merusak rumah tangga Alex dan Anes.
__ADS_1
🌼🌼🌼