
Satu Minggu telah berlalu semenjak kedatangan Juna ke kantor Alex. Anes tampak sedang mengutak-atik ponselnya karena ia bosan hanya duduk-duduk saja sedari tadi tanpa ada pekerjaan yang menuntutnya untuk sibuk di kantor.
"Hah tumben hari ini pekerjaan tidak menumpuk seperti biasanya. Mas Alex sedang apa ya?" Anes menoleh ke ruangan suaminya, namun yang ingin di lihatnya tidak kelihatan tentunya.
"Loh, sekarang tanggal 14? berarti satu Minggu lagi ulang tahun mas Alex dong? kasih kejutan buat dia seru kali ya? tapi, bagaimana caranya ya? ah aku tahu pak David jawabannya," gumam Anes.
Saat berjalan melewati koridor kantor, Anes melihat David sedang berjalan ke arahnya.
"Ah itu pak David. Lebih baik ngomong di sini saja, biar mas Alex nggak tahu," Anes sedikit mempercepat langkahnya supaya cepat berpapasan dengan David.
"pak David!" panggil Anes sambil mengambil langkah panjang.
"Iya nona, ada apa?" sahut David yang kini sudah ada di depannya.
"Seminggu lagi kan mas Alex ulang tahun, dan saya mau kasih kejutan buat dia. Bisa minta tolong nggak buat ngumpulin teman-temannya di hari itu? itu tuh sahabat-sahabatnya yang waktu kuliah dulu. Pasti seru kalau mereka bisa ngumpul, termasuk siapa itu? Juna, ah iya Arjuna Wijaya," ucap Anes panjang lebar.
"Ulang tahun? apa nona Anes tidak tahu kalau bos tidak suka hal seperti itu?"
"Maaf nona, saya tidak bisa!" tolak David dengan tegas. Ia menyerong dan melangkah melewati Anes. Anes secepat kilat menghadap dan merentangkan tangannya di depan David.
"Tunggu! saya belum selesai bicara pak David. Main pergi gitu aja!" ucap Anes sedikit sewot.
"Maaf nona, saya masih banyak pekerjaan, permisi!" David kembali melangkahkan kakinya dan lagi-lagi Anes mencegatnya supaya berhenti.
"Ayolah pak David, saya mohon tolong bantu saya ya? saya hanya ingin membuat kejutan kecil buat mas Alex? Ya ya ya please?" Anes memohon.
"Tapi nona, bos tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Dia tidak akan menyukainya,"
"Apa nona tidak tahu kalau hari itu saat ulang tahun bos,,,,"
"Pokoknya pak David harus menolong saya titik, nggak pakai koma!" Anes memotong kalimat David sebelum ia selesai bicara.
"Nanti sederhana saja kok, kalau bisa cuma teman-temannya aja yang suruh datang, dan tidak melibatkan orang lain termasuk orang tua. Paling cuma Amel sebagai pengecualian karena dia sahabat saya. Yah, semacam acara reuni saja, tapi dengan sedikit embel-embel kejutan ulang tahun," imbuhnya.
"Kalau pak David nggak mau bantu, saya akan terus meneror pak David sampai mau menolong saya!" ancam Anes.
"Hah, merepotkan saja!" batin David.
"Baiklah, saya akan usahakan, tapi saya tidak bisa janji mereka akan datang karena kesibukkan mereka masing-masing. Dan juga resiko di tanggung penumpang kalau sampai bos marah nanti," David memperingatkan.
"Hah, seperti aku mau melakukan kejahatan saja! niatku kan buat kasih kejutan buat suami,"
__ADS_1
"Baiklah, saya tunggu kabar baiknya ok?"
๐ผ๐ผ๐ผ
Seminggu pun berlalu dengan cepat. David berhasil membujuk teman-teman Alex untuk datang ke Indonesia. Khususnya ke apartemen Alex dengan alasan Alex akan mengenalkan istrinya kepada mereka secara resmi.
Sejak bangun tidur, Anes sudah mulai melancarkan aksinya.
"Mas, hari ini aku nggak masuk kerja ya? aku sedikit nggak enak badan," Anes mencari alasan supaya bisa di rumah saja.
"Kamu sakit sayang? kalau begitu aku panggilkan dokter ya? aku juga nggak masuk kerja kalau kamu sakit," sahut Alex khawatir.
"Hah, please mas, kali ini bisa di ajak kerja sama,"
"Nggak usah mas, cuma sedikit nggak enak aja, mungkin karena mendekati hari menstruasi jadi agak kurang fit," Anes terus mencari alasan.
"Mas nggak usah khawatir. Ini biasa terjadi kok, hanya saja kali ini aku mau istirahat di rumah saja,"
"Semoga dia tidak ngeyel dan tidak curiga," batin Anes.
"Kamu yakin sayang?" Alex memastikan.
Akhirnya Alex menyetujui permintaan Anes dengan syarat, Anes harus selalu mengirim kabar kepadanya agar dia tidak khawatir.
Begitu Alex sudah berangkat ke kantor. Anes langsung menuju ke dapur untuk membuat kue ulang tahun dengan tangannya sendiri.
Seharian ia sibuk menyiapkan semuanya. Mulai dari membuat kue, menghias ruang tamu dan juga masak beberapa menu makanan untuk menjamu teman-teman Alex nantinya.
"Bagaiman ini Bi? nanti kali tidak berhasil dan tuan muda malah marah bagaimana? tuan kan tidak pernah suka ulang tahunnya di rayakan, apa non Anes tidak hal itu?" bisik bi Ani yang sedari pagi juga ikut sibuk membantu Anes.
"Nggak tahu bi, aku juga khawatir kalau pak Alex justru akan marah. Nona muda pasti akan kecewa. Lihat saja tuh, bagaimana semangatnya nona mempersiapkan semuanya," sahut Bu Ina lirih, takut-takut kalau di dengar oleh Anes. Ia menggidikkan bahunya membayangkan bagaimana marahnya Alex dan bagaimana kecewanya anes. nanti kalau semua gagal.
"Ssst kita tidak usah ikut campur aja bi, yang penting kita sudah membantu nona,"
"Iya sih bi, tapi apa nona hari ini tidak menemani tuan muda ke makam nyonya besar? pasti kan hari ini tuan muda menghabiskan sebagian waktunya di sana, seperti dulu waktu belum ke Australia."
"Nggak tahu lah bi," bi Ani menghela nafasnya sambil mengangkat ke dua bahunya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Seperti yang di katakan bi Ina, sekarang Alex sedang berada di makam ibunya di temani oleh asisten tercinta. Tentu saja David, siapa lagi kalau bukan dia?
__ADS_1
Alex hanya diam sejak kedatangannya ke makam ibunya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Tampak jelas guratan kesedihan dari wajahnya. Ia berharap hari ini Anes berada di sampingnya, menemaninya ke makam ibunya. Tapi, karena Anes beralasan tidak enak badan, Alex memutuskan untuk pergi sendiri ke sana.
David hanya memperhatikan bosnya dari agak jauh. Ia tahu, Alex butuh waktu sendiri sekarang. Dia tidak ingin mengganggunya. David hanya menunggu dan menunggu di bawah teriknya matahari.
"Halo nona," ucap David setelah mengangkat ponselnya yang dari tadi bergetar.
"Halo pak David. Mas Alex sedang sibuk ya, aku kirim pesan kok tidak di balas?" sahut Anes di seberang telepon sambil memasang balon-balon berbentuk hati.
"Bos, sedang di makam nyonya besar nona," David melihat ke arah Alex yang masih setia di depan pusara sang ibu.
"Harusnya aku menemani kamu mas di sana. Maafin aku," batin Anes.
"Halo nona?"
"Ah iya pak David, saya masih di sini. Hem pasti mas Alex merindukan mama Widya apalagi di hari ulang tahunnya seperti sekarang ini. Aku tidak akan mengganggunya. O ya, nanti kalau sudah di jalan mau pulang kabari saya ya, biar saya siapkan semuanya,"
"Baik nona," jawaban singkat dari David.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku ketika Anes sudah mematikan panggilannya.
"Dasar keras kepala, setidaknya saya sudah memperingatkan Anda nona," David menghela nafasnya kasar.
David terus berdiri dan mengamati Alex dari kejauhan. Sampai ia merasa ngantuk, mungkin karena semalam ia bergadang karena pekerjaan. Ia jongkok dan menyangga dagunya dengan satu tangannya.
Karena hari sudah mulai sore dan ia masih ahrus kembali ke kantor sebelum pulang, Alex meninggalkan makam ibunya dan mendekati David.
"Ayo Dav!" ajak Alex.
Ia terus berjalan melewati David hingga ia sadar kalau David tidak mengikuti langkahnya. Alex menoleh, dan ternyata David masih dengan posisinya berjongkok. Alex balik badan dan menghampiri David.
"Allahu Akbar! dia tidur?" Alex berdecak heran. Bisa-bisanya David tidur dengan posisi seperti itu.
"Banjir woi banjir!" Alex sedikit berteriak di telinga David. Membuat pria itu gelagapan karena kaget.
"Banjir? di mana yang banjir?" ucap David setengah panik karena kaget. Ia melepas kacamata mata hitamnya dan mengucek matanya.
"Bos?"
"Air ilermu tuh yang bikin banjir! bisa-bisanya kamu tidur begitu. Di kira ini hotel?"
"Maaf bos," mengusap sudut bibirnya memastikan apakah memang ada air liurnya di sana, dan ternyata itu hanya candaan Alex.
__ADS_1
"Ck. Dasar! Ayo balik ke kantor!" ajak Alex. David mengikuti langkahnya.
๐ผ๐ผ๐ผ